
Tubuh Rita mengejang, dokter kembali menyuntikan obat ke tubuhnya melalui infus, setelah obat masuk detak jantung Rita menurun drastis, hingga dokter berusaha memberikan rangsangan listrik ke dadanya. Ratna menangis histeris, ia takut Rita tidak selamat. Daniel terus memeganginya agar tidak jatuh. Ia pun sangat bingung dan sedih. Kondisi Rita kembali stabil, tetapi dalam keadaan vegetatif atau koma. Untuk bernafas ia dibantu oksigen dan alat agar jantungnya terus berdetak.
Dokter menghampiri Daniel
( Dalam bahasa Inggris)
“Anda yang pertama kali membawanya kemari?”
“Betul dokter”
“Apa ia ada meninggalkan jarum suntik atau apapun?”
“Tidak ada dokter”
“Sebenarnya anak saya sakit apa dokter?” tanya Ratna memotong pembicaraan
“Ia memang radang usus buntu bu, tetapi entah zat apa yang ada ditubuhnya sehingga tubuhnya seperti menolak obat dari kami”
“Jadi kami harus bagaimana dokter?” tanya Daniel dengan suara tak kalah paniknya
“Kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya, dari darah, rambut, urine dan hormon”
“Baik dokter!” ujar Daniel
Dokter meninggalkan Daniel dan Ratna di ruang VVIP. Mereka menatap Rita yang dalam keadaan antara hidup dan mati.
Keadaan Rita yang gawat, tentunya mengagetkan Andi juga kakeknya.
Andi mengabarkan kakek Sugiyono. Tak lama Kakek Sugi turut bergabung dengan mereka.
“Dek Darmawan, apa perlu Rita kita bawa lagi ke luar negeri? Dulu dia pernah seperti ini kan?” tanya Sugiyono
“Tapi kak, menurut dokter, karena operasi usus buntunya yang belum sembuh, dokter takut jika dinaikkan ke pesawat akan bermasalah dengan tekanan udara “
“Kalau lewat laut saja bagaimana?”
“Lebih lama kak, saya sudah berinisiatif membawa dokter dari luar negeri kemari.”
“Oh iya, begitu juga bisa!” ujar Sugiyono, Ia sangat prihatin dengan keadaan Rita. Ia duduk di ruang tunggu VVIP dengan wajah cemas. Ratna dan Daniel yang baru bertemu dokter, tiba di ruang VVIP, Ratna menyalami ayahnya. Daniel juga memberikan salam kepada Sugiyono
“Apa kabar Pak?” sapanya ramah
“Oh Daniel!” tiba-tiba Sugiyono memeluknya, Daniel sangat kaget
“Terima kasih sudah merawat cucuku!” ujar Sugiyono tersenyum. Darmawan dan Ratna terpana melihat senyum Sugiyono yang ramah dan tulus, selama ini mereka hanya melihat senyuman biasa
Keesokannya, Daniel kembali ke NZ untuk membereskan pekerjaannya, ia meminta ijin pada Radian untuk merawat Rita. Radian memahami perasaan Daniel.
“Niel, untuk sementara kamu bekerja di kantor Jakarta saja, biarkan Aku di sini selama Rita sakit.”
“Bagaimana dengan kantor di London pak?”
“Aku bisa mengontrolnya dari NZ, lagi pula yang basic-basic sudah diset-up semuanya kami tinggal mengawasi dan mengontrolnya”
“Baik Pak, terima kasih banyak atas pengertiannya”
“Oh iya, perjanjian di Singapura itu, kerja yang bagus sekali Niel!, untuk itu kamu yang akan memegang proyek itu. Kamu bisa mengawasinya dari kantor di Jakarta!”
Daniel tersenyum senang, “Terima kasih banyak Pak!”, ia pun segera pulang ke apartmentnya dan segera membawa pakaiannya untuk tinggal di Jakarta selama beberapa bulan.
Sementara itu di rumah kediaman keluarga Sugiyono, keadaan Rita membuat satu rumah menjadi panik, mereka terus membicarakan tentang kondisi Rita
“Kasihan Rita” ujar Deasy
“Iya, sepertinya ujian tidak henti-hentinya menerpa dia!” ujar Maia
Robby datang ke ruang keluarga, ia turut nimbrung pada percakapan mereka
“Ada apa ini? Kog sejak tadi aku lihat semua pegawai rumah ini pada murung?”
“Lo gak tau Rob?” tanya Maia
“Enggak?”
“Rita Koma!”
“Hah?” Robby kaget, kedua sepupunya tidak menyangka reaksi Robby akan seperti itu, setahu mereka Robby dan Rita selalu menjadi musuh sejak kecil.
__ADS_1
“Tumben reaksi lo kayak gitu?” tanya Maia kaget
“Lho, ada orang koma, masa gue harus senang? Apalagi sepupu sendiri!” ujar Robby tegas
“Eh Kalau Rita meninggal bagaimana ya?” ujar Deasy tiba-tiba
“Lo jangan doain yang enggak-enggak! “ tiba-tiba Robby marah, ia meninggalkan kedua cewek yang masih ngerumpi tentang Rita.
“Dasar bego! Bukannya mendoakan yang bagus-bagus malah doa yang jeleeekkk melulu!” gerutu Robby
Ia memanggil pak Umar supir pribadi keluarga
“Pak Umar tahu Rumah Sakit tempat Rita dirawat?” tanya Robby dengan nada ramah. Pak Umar kaget mendengar ucapan Robby yang sopan dan ramah padanya. Selama ini Robby selalu memanggil namanya saja dan memerintah seenak perutnya.
“Saya tahu Den, kemarin saya mengantarkan tuan ke sana”
“Kakek masih di sana pak?”
“Iya, katanya beliau akan menelpon jika minta di jemput”
“hmm...pak Umar mmm,.aku bisa minta tolong?” tanya Robby dengan suara pelan
“Tentu Den, apa ya?”
“Antarkan saya ke RS tempat Rita dirawat Pak, saya ingin menemuinya” ujar Robby
“Baiklah Den, Saya akan menyiapkan mobil, Aden siap-siap dulu saja!”
“Terima kasih pak!” ujar Robby dengan suara riang, ia kembali ke dalam rumah, berganti pakaian dan mengambil beberapa buah dari dapur.
“Aku minta ya??” ujarnya sambil memasukan buah jeruk dan mangga ke dalam plastik, kemudian ia segera meninggalkan dapur dan masuk ke mobil yang langsung melaju menuju rumah sakit.
Sementara orang-orang dapur mulai membicarakannya
“eh akhir-akhir ini Den Robby baik ya?”
“Iya betul, biasanya kalau ngomong membentak terus, sekarang ramah sekali”
“iya, kalau ramah kelihatan gantengnya ya?”
“Iya betul, aku saja kaget, tadi pagi ia mengucapkan “selamat Pagi!” Aku pikir, aku lagi ada di mini market!”
“Eh jangan-jangan Den Robby sekarat!”
“Hah? Masa?”
“Ya buktinya jadi baik? Biasanya orang menjelang meninggal itu tobat, jadi dia ramah”
“Gak mungkinlah, tapi aku sangat sedih dengan kondisi mba Rita, Semoga ia baik-baik saja ya?”
“Aamiin, Aku juga sangat kangen sama mba Rita. Aku ingat waktu pertama kali di sini ia bangun lebih pagi dari kita. Ia juga membantu mengangkat jemuran seprai, ketika aku lupa mengangkatnya.Wah aku akan sangat kehilangan kalau dia meninggal”
“Hush! Gak boleh ngomong begitu! Sebaiknya kita doakan yang baik-baik tentangnya!”
“Iya betul!”
Beberapa menit kemudian, Robby telah sampai di RS, ia langsung menuju ruang VVIP. Kedatangannya tentu mengejutkan semua orang di situ, tak terkecuali kakek Sugiyono
“Robby? Ngapain kamu di sini?” tanya Kakek Sugi
“Bagaimana keadaan Rita Kek?” tanya Robby setengah berbisik
“Belum ada perubahan!”
“Ooo, apa mereka tidak berbuat sesuatu untuk membangunkannya?” tanya Robby, matanya memancarkan kekhawatiran yang tidak bisa dibuat-buat
“Mereka sedang berusaha Robby!” Ratna mengusap punggung Robby untuk menenangkannya, sedangkan Andi menatap Robby dengan pandangan curiga.
“Apa kamu menyembunyikan sesuatu Rob?” tanya Andi dengan nada menyelidik
“Andi, jangan memulai keributan di sini!” larang Ratna
“Habis aneh ma, ngapain dia di sini, apa kamu mengetahui sesuatu yang kami gak tahu?” tanya Andi
Semua mata menatap Robby dengan tajam, kemudian Robby berlutut dihadapan kakek Sugiyono
“Kakek, maafkan aku, ini semua salahku!” ujar Robby menangis
__ADS_1
“Tuh kan benar!!” teriak Andi histeris, ia menarik kerah baju Robby dan ingin memukulnya, tetapi Daniel menahannya
“Andi, jangan ribut di sini, nanti Rita terganggu!” bisik Daniel. Ia mengenakan translator elektronik di telinganya, walaupun bahasa indonesianya tidak tepat, setidaknya ia dapat mengerti sedikit.
“Apa yang kamu sembunyikan Robby?” tanya kakek Sugiyono dengan suara tajam dan menusuk. Ratna paham, jika ayahnya sudah berbicara keras, ia tidak segan-segan membuat orang dihadapannya babak belur, meskipun itu darah dagingnya sendiri.
Robby menceritakan awal mula kisahnya
“beberapa minggu lalu, tanpa sengaja Aku bertemu Rita di suatu cafe, ia sedang dalam perjalanan pulang sekolah, Ia melihat Aku dengan teman akrabku”
“Cewek?” tanya Andi, Robby mengangguk malu,
“Terus?”
“Cewekku itu punya dua orang kakak laki-laki, kakak pertamanya seperti Andi, kutu buku sedangkan kakak yang kedua sangat galak dan kasar,juga ketua genk. Mereka tidak menyetujui Aku dekat dengan adiknya”
“Tentu saja!” celetuk Andi sebal
“Andi diam! Dengarkan dulu!” perintah Ratna
“Kakak pertama memintaku mengerjakan soal matematika setiap aku mengunjungi adiknya, kalau aku tidak bisa mengerjakan, kami tidak boleh bertemu. Aku sangat bingung dengan soal-soal itu, aku tidak pernah serius bersekolah. Aku pikir untuk apa sekolah, toh kakekku sudah sangat kaya!” ujarnya, kakek Darmawan dan kakek Sugiyono menggeleng-geleng mendengar ucapan Robby yang terus terang
“Jadi aku tidak bisa mengerjakan soal-soal itu, tapi aku ngotot untuk bertemu dengan teman cewek itu. Singkat cerita kakak kedua mengetahui hubungan backstreet kami, ganknya menyeretku ke gang sempit. Aku bisa melawan mereka, tetapi terlalu banyak. Aku dibuatnya tak berdaya, tiba-tiba Rita datang membantu, tak tanggung-tanggung ia tidak melawan semua anak buah ketua gank itu, ia justru menyerang ketua genk itu dan menyanderanya hingga kami bisa keluar dari kepungan mereka”
“Cerdik! Ia langsung menyerang kepalanya” gumam kakek Sugi
“Ketika kami bertiga, ternyata ketua gank itu tidak bisa apa-apa tanpa anak buahnya, Aku bisa saja menghajarnya hingga babak belur, tapi Rita mencegahku. Ia bilang aku akan diserahkan ke genk itu lagi. Ketua genk itu kaget, karena Rita melindunginya dari amukanku. Setelah berbicara baik-baik, ya sebenarnya penuh dengan saling ancam.” Robby menceritakan secara detail, bagaimana ucapannya, ucapan Rita dan ucapan ketua gank itu. Semua yang mendengar dapat membayangkan apa yang terjadi, mereka seperti menonton dan mendengar suatu pertunjukan. Gaya Robby yang menirukan ucapan Rita dengan sangat mirip, membuat Daniel tak bisa menahan senyum, Daniel ingat sekali nada suara Rita ketika kesal.
“Lalu bagaimana?” tanya Kakek Sugi
“Kamipun bersepakat, aku tidak akan menemui adiknya diam-diam, kecuali aku bisa menyelesaikan soal matematika dari kakak pertama. Kemudian Rita memberiku les privat di rumah kontrakannya. Awalnya aku kaget, selama ini aku kasar padanya, tetapi ia justru membantuku. Tetapi ia agak kurang sabar mengajari, maklumlah Aku jarang hadir di sekolah sehingga agak susah menangkap pelajaran, tetapi didikannya yang keras dan kemampuan bela dirinya yang berkembang pesat, membuat kepala ku berkali-kali berada di bawah kakinya!”
“Ia menginjakmu begitu?” tanya kakek Darmawan, Robby mengangguk pelan
“Tetapi setelah beberapa hari, Aku jadi terbiasa belajar dengannya, kami tidak lagi belajar dengan kontak fisik. Aku juga mulai menyukai matematika, ternyata menyenangkan. Aku bisa menyelesaikan soal yang diberikan kakak pertama cewekku dengan mudah, kami juga bisa berkencan dengan leluasa."
"Aku bahkan berniat untuk kuliah di jurusan matematika Kek, Rita berjanji akan membantuku belajar agar bisa lulus tes masuk ke universitas yang aku mau Kek!” ujar Robby tiba-tiba
“huh?” kakek Sugi bingung dengan perubahan Robby yang tiba-tiba
“Lalu kenapa kamu bilang salahmu pada Rita?” tanya Andi tidak sabar, ia cemburu Robby dekat dengan adiknya
“Kakaknya yang nomor 2, ketua genk itu ternyata menyimpan dendam pada Rita, Suatu hari, Kakak kedua dan genknya menyergapku, mereka membawaku ke suatu tempat. Aku sangat takut tempat gelap dan sempit aku sering sesak nafas. Dulu papa sering mengurungku di tempat seperti itu. Ketua genk itu memaksaku menelepon Rita untuk meminta bantuannya.”
“So you called her?” tanya Daniel tiba-tiba, suaranya berubah galak, Robby mengangguk, ketakutan
“Mereka mengancam akan meninggalkanku di tempat yang sempit dan pengap itu. Aku sesak tidak bisa bernafas, lalu aku menelpon Rita untuk datang”
“Apa Rita datang?” tanya Andi, Robby mengangguk
“Rita sangat baik, ia bilang mendengar suaraku yang ketakutan, sehingga ia segera datang.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku tidak tahu selanjutnya karena aku pingsan karena berada di ruang sempit itu, tapi sebelum pingsan aku mendengar seseorang berteriak, aku berhasil menyuntiknya, kemudian ia berteriak kesakitan karena jari tangannya patah, sepertinya Rita mematahkan jari tangannya kemudian aku tidak sadarkan diri”
“Lalu bagaimana kalian selamat?”
“Rita mengantarku pulang, Aku juga bingung saat itu ia tampak baik-baik saja!. Aku berhenti menemui cewek itu. Aku tidak mau berurusan lagi dengan keluarga gilanya”
“Apa yang disuntikan orang itu ke Rita?” tanya Andi
“entahlah! Aku juga tidak tahu, sepertinya zat yang berbahaya kan? Buktinya Rita jadi seperti itu”
“Apa mungkin mereka menyuntikan sesuatu?” tanya Ratna
“Kakak kedua itu menjual obat-obatan yang dilarang beredar di luar negeri , Ia sering tertangkap ketika razia tetapi kemudian di lepaskan karena obat-obatan yang ia jual tidak termasuk obat yang dilarang dalam hukum Indonesia” ujar Robby menerangkan
Semua yang berada dalam ruangan menarik nafas panjang, mereka bingung harus bagaimana, dokter datang menghampiri mereka
“Kami tidak menemukan zat apapun di darah Rita, tapi kami sedang menunggu hasil dari urine dan helai rambutnya”
Daniel keluar dari ruangan itu, dan menghubungi beberapa teman lamanya di interpol. Ia mencari informasi tentang obat berbahaya yang beredar.
Kakek Sugi menghampiri Robby dan memeluknya
“Robby cucuku, aku senang kamu telah berubah Nak!, dulu aku pikir kamu akan keluar masuk penjara”
__ADS_1
“Kakek kok ngomong begitu, Robby memang kasar kek, tapi Robby tidak jahat!” ujarnya, ia menangis dan memeluk kakek Sugiyono. Suasana di ruangan itu, penuh rasa haru.
_Bersambung_