Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 107: Perjalanan menuju UEA


__ADS_3

Daniel menerima pesan dari Rita, tentang keberangkatannya ke UEA bersama Andi, disaat bersamaan, Radian memanggilnya.


“Daniel, kamu tahu Rita dan Andi akan pergi ke UEA?”


“Belum pak!” Daniel terpaksa berbohong, karena ia tidak mau bosnya mengetahui keakrabannya dengan Rita.


“Tadi ada telepon dari kedutaan besar UEA, tentang permintaan visa sementara, aku sebagai wali mereka belum menyetujuinya” ujar Radian berpikir


“Bapak diangkat sebagai wali mereka?”


“Iya, selama Om Darmawan pergi, aku yang bertanggung jawab atas mereka, Aku dianggap telah dekat dengan Andi dan Rita”


“Ooo begitu”


“Kamu tahu orang yang bernama Kiano Abdulah?”


“Kiano Abdullah?, sepertinya pernah dengar”


“Coba kamu cari tahu tentang dia, menurut Andi, Kiano ini teman dan tetangga Rita sewaktu mereka di Jakarta. Ayahnya meninggal pagi ini, ia mengajar Rita dan Andi untuk menemani dia melayat. Coba cari tahu tentangnya, kalau perlu hubungi teman kita yang di kedutaan!”


“Baik pak segera!” Daniel segera melaksanakan seperti yang diperintahkan. Satu jam kemudian ia kembali menghadap Radian


“Informasi apa yang kamu dapat Daniel?”


Daniel membuka catatannya


“Kiano Abdullah, terlahir dari ibu yang bernama Eva Rosmayati , beliau dulu bekerja di kedutaan besar UEA sebagai penerjemah, beliau telah meninggal 5 tahun yang lalu. Ayah Kiano bernama Abdullah Ahmed, beliau putra sulung keluarga Ahmed Alamin. “


“Ahmed Alamin? Dia yang punya perusahaan pengilangan minyak Alamin’s Oil?”


“Betul pak!, Kiano ini anaknya dari istri pertamanya, mereka bercerai setelah 6 bulan menikah, pak Ahmed kembali ke UEA untuk menikah dengan Alyameera, mereka memiliki 3 orang anak perempuan.”


“Alamin’s Oil ya? apa kita pernah bekerjasama dengan mereka?”


“Setahu saya pernah pak, 3 tahun yang lalu. Kalau gak salah penghubung kita di sana Faizul Ahmed, beliau adik dari pak Abdullah”


“Kamu bisa cari nomor teleponnya? Masih ada kan filenya?”


“Saya akan cari pak!” Daniel bergegas melakukan perintah Radian, beberapa menit kemudian ia kembali


“Ini pak nomornya!”


Radian melihat nomor tersebut kemudian menghubunginya, mereka terdengar akrab. Setelah ngobrol sebentar, Radian menutup percakapannya.


“Daniel, kamu ikut mereka!”


“Saya pak? Bapak bagaimana?”


“Besok Saya ke Singapura mungkin kembali hari Rabu depan, kamu tidak begitu diperlukan di sana, tapi saya perlu kamu menjaga Andi dan Rita. Aku khawatir kalau mereka hanya berdua saja di sana, mereka masih remaja”


“Baik pak!”


“Kamu ingat alasan kita tidak memperpanjang kontrak dengan perusahaan itu?”


“Saya tidak ingat pak!”


“Persaingan disana sangat ketat, seringkali terjadi konflik, aku takut kedua keponakanku ikut terseret, kamu kan tahu, Rita punya keanehan, ia bisa menarik konflik menjadi urusannya.”


“Baik pak!” Daniel beranjak dari tempatnya


“Tunggu dulu Niel!, kamu duduk dulu!”


“Ya pak?” Daniel menuruti perintah Radian


“Sudah berapa lama?”


“Saya? Berapa lama? Berapa lama apa pak?”


“Kamu dan Rita akrab?”


“Bapak tahu?”


“Aku sibuk tapi aku gak buta, sikap kalian selama pertandingan kemarin kelihatan jelas!”


“eeee???” Daniel merasa tidak enak


“Simon dan Charles juga menceritakan kedekatan kalian di gunung. Aku pikir Om Darmawan juga mengetahui kedekatan kalian!”


“Pak Darmawan? Apa beliau marah?” tanya Daniel cemas


“Kami pikir tidak ada gunanya melarang kalian, karena dengan watak Rita, melarang justru akan membuatnya semakin menjauh, jadi kami sepakat membiarkan, toh Rita masih 17 tahun, belum tentu hubungan kalian berlangsung lama”


Daniel hanya terdiam mendengarkan


“Kamu orang kepercayaan kami Niel, kalau kelak kalian berjodoh, apa yang kami bisa mencegah? Tapi sekarang ini, kami minta kamu menjaganya, kamu mengerti maksud saya kan Niel?” nada suara Radian terdengar lebih tegas dari biasanya


“Baik pak!”


“Kamu boleh keluar kantor sekarang, persiapkan keperluanmu, aku juga sudah mentransfer untuk kebutuhan kalian selama di sana!”


“Kami naik penerbangan apa pak?”

__ADS_1


“Aku sudah menghubungi Simon, dia bisa menyediakan pesawat jet untuk kalian, kalau naik umum akan terlalu lama, aku dengar pemakamannya menunggu kedatangan Kiano. Sampai di sini kamu yang urus ya Niel?”


“Baik pak terimakasih!” Daniel segera meninggalkan kantor, dan bergegas mempersiapkan keberangkatannya.


Di bandara..


“Gue sudah menghubungi om Faizul, beliau bilang kita disuruh tunggu di sini”


“Nunggu apaan?” tanya Andi gak sabar


“Odong-odong kali!” ujar Kiano ngasal


“Naik odong-odong masa pakai paspor?” Rita menimpali


Beberapa saat kemudian seseorang menghampiri mereka


“Rita, Andi!” panggilnya


“Eh Pak Simon? Rita menghampiri dan menyalami Simon


“Sudah lama di sini?” tanya Simon


“Yaa sekitar 15 menit!, oh iya, pak kenalkan ini Kiano teman saya!” Rita menarik lengan Kiano yang berada di dekatnya.


“Oh Kiano, turut berduka atas kepergian Ayah tercinta!” ujar Simon menyalami Kiano


“Terimakasih!” Kiano membalasnya ramah, ia agak heran , kenapa Simon bisa tahu tentang ayahnya


“Pak Simon ini teman kami” ujar Rita , ia memperkenalkan Simon sebagai temannya dengan nada riang.


“Kamu baik-baik saja Rit?” tanya Simon


“Alhamdulillah pak, selalu baik!”


“Pertandingan bulan lalu sangat seru, Charles sampai berpesan kepada pak Radian, dia akan ikut mensponsori untuk pertandingan tahun depan.”


“Hah? Pertandingan akan ada lagi?” tanya Rita heran


“Kamu gak tahu? Pak Darmawan, pak Sugiyono, pak Radian dan pak Charles sepakat untuk mengadakan acara itu secara rutin, kali ini melibatkan banyak atlet, jadi tidak hanya cucu-cucu dari pak Sugiyono”


“Oooo begitu” Rita mengangguk, ia sedikit kesal karena harus bertanding lagi tahun depan


Kiano menarik Andi mendekatinya


“Dy itu gak salah, Rita berteman sama bapak-bapak?” bisik Kiano dengan bahasa Indonesia


“Ceritanya panjang No, nanti kapan-kapan gue ceritain” bisik Andy


“Iya, sebentar aku juga sedang menunggu seseorang!” ia membuka ponsel untuk menghubungi seseorang


Tak berapa lama seseorang bersetelan Denim biru, bertubuh tinggi, berambut pendek kecoklatan , berkacamata hitam dan berbadan tegap melambaikan tangannya ke arah Simon, dan Simon membalasnya


“Daniel?” tanya Rita heran, Daniel tampak lebih keren dari biasanya


Daniel mendekati Simon dan mereka pun bersalaman akrab, sambil berbincang sejenak, Kiano kembali menarik lengan Andy dan berbisik


“Simon juga kenal sama Daniel?” bisik Kiano


“Iya, mereka juga teman lama!” jawab Andy


“Berarti Daniel ikut kita?” tanya Kiano lagi


“Sepertinya begitu!”


Raut wajah Kiano berubah menjadi agak kesal,


“Eh, kita naik penerbangan umum saja yuk!” ajaknya tiba-tiba


“Kalian sudah dijadwalkan naik penerbangan Charles Air” ujar Daniel, ia memberikan visa sementara Andy dan Rita


“Kamu ikut kami Daniel?” tanya Rita senang


Daniel mengangguk, dengan naik mobil bandara, mereka menuju hangar pesawat jet Charles Air, sesampainya di sana, ia celingukan melihat hangar pesawat jet untuk pertama kalinya


“Wahhh!!!”


“Jangan terlalu terbuka mulutnya, nanti masuk laler!” ledek Andy, ia senang menganggu Kiano


Kiano segera menutup mulutnya. Mereka pun segera menaiki pesawat


“Anda tidak ikut pak?” tanya Rita ke Simon


“Tidak, saya cuma mengantar sampai di sini, Semoga Selamat Sampai tujuan!” ujarnya


Daniel mendahului Kiano, ia duduk di samping Rita. Kiano kesal , ia duduk di samping Andy. Pramugari menginfokan lama penerbangan selama 20 jam dan meminta mereka untuk memasang seat belt. Kiano perlu dibantu memasangnya


“Perut lo buncit sih!” ledek Andy


“ Ini tanda kemakmuran tahu!” jawab Kiano membela diri


“Bukan, itu sumber penyakit!, coba lo lihat Daniel, perutnya rata, kalau dibuka kayak roti sobek! Lo jangan mau kalah!” ujar Andy memanasi,

__ADS_1


Kiano memperhatikan Daniel yang sedang berdiri menaruh tasnya di bagasi atas. Tubuh Daniel memang sangat bagus, ditambah wajahnya yang menarik. Kiano mengakui, sebagai lelaki ia pun mengagumi Daniel, tetapi ia juga menyadari Daniel sebagai pesaingan terberatnya. Ia menyalakan musik di headsetnya untuk menghilangkan kekesalannya melihat Daniel dan Rita akan bersama selama 20 jam ke depan, sementara itu...


“Kamu gak apa-apa ikut dengan kita?” tanya Rita


“Kamu gak senang aku ikut?” tanya Daniel


“Senang banget, Cuma aku takut om Radian marah kamu melalaikan tugas!”


“3 hari ini weekend, pak Radian ke Singapura besok, beliau akan kembali hari Rabu, ia meminta aku menjaga kalian selama di UEA”


“Menjaga? Memangnya kami anak kecil harus dijaga?”


“Pak Darmawan meminta pak Radian menjadi Wali kalian selama beliau pergi, jadi aku utusannya, jadi mohon kerjasamanya!” ujar Daniel sedikit menunduk


“Hmm...jadi kamu disini karena diminta Om Radian? Bukan karena Aku?” tanya Rita


“Ya karena kamu juga lah!, ini kan seperti pepatah: Sambil menyelam minum air!”


Rita tertawa kecil, ia senang Daniel menemaninya, ia memegang lengan Daniel erat dan meletakan kepalanya di bahu Daniel, Daniel juga merebahkan kepalanya di atas kepala Rita dan juga memegang tangan Rita.


Kiano melihat adegan itu dari sela-sela kursinya, ia betul-betul kesal, ia memilih lagu metal di headsetnya dan mulai berteriak ikutan bernyanyi. Suara Kiano yang serak-serak hancur, mengagetkan seluruh penumpang, terlebih lagi Andy yang duduk di sampingnya


“Heh! Kalau ayan jangan di sini!” ujar Andy, ia menarik headset Kiano, Rita dan Daniel menoleh ke arah keduanya,Kiano cuek.


“Gue bosen nih, 20 jam lho!, biarin gue nyanyi!” Kiano merebut headset dari tangan Andy


Daniel paham tingkah Kiano yang cemburu, ia mengambil headset di depannya dan memasangnya di telinga Rita, ia sendiri menyalakan headset yang ia bawa sendiri.


Rita memiliki kebiasaan unik, ia selalu tertidur dalam perjalanan, Daniel merebahkan kursi Rita dan memberikan bantal di kepalanya sehingga Rita bisa tidur dengan nyaman. Ia sendiri duduk di sampingnya dan membuka tablet. Andy dan Kiano memperhatikan tingkah Daniel dari belakang


“Tuuh..Daniel sayang banget kan sama Adek gue!” ujar Andy memanasi


“Gue juga sayang Dy!” jawab Kiano gak mau kalah


“kalau ngomong doang sih semua juga bisa!” ujar Andy lagi


“Terus Lo mau gue buktiin apaa?” tanya Kiano, mereka berbicara dengan bahasa Indonesia, agar Daniel tidak mengetahuinya


“Yaa Lo pikir sendiri lah!” ujar “ Andy, ia membuka ponselnya untuk bermain game online


“Game apaan tu Dy?”


“Ini game online besutan temen, gue disuruh mereview, jadi gue mainin sampai ketemu kekurangannya, nanti gue kasih tahu ke dia!”


“Gue bisa ikutan main gak?”


“Boleh, ini kan online, lo download aplikasinya” Andy memberikan nama aplikasi game ke Kiano, beberapa saat kemudian merekapun asyik dengan permainan mereka sendiri.


Beberapa jam kemudian, Rita terbangun ia melihat jamnya


“Eh belum sholat Ashar!”ia pun bergegas ke belakang untuk mengambil air wudhu, Daniel menggeser tempat duduk untuk memberikan tempat kepada Rita untuk Sholat


“Eh Dy, Daniel gak sholat juga?” bisik Kiano


“Dia non muslim!” jawab Andy


“o ya?” tiba-tiba mata Kiano berbinar, ia meletakan ponselnya, kemudian mengambil air wudhu, ia pun melaksanakan sholat. Daniel memperhatikan Rita dan Kiano yang melaksanakan sholat, sebelumnya ia sering melihat Rita sholat, bahkan ketika mereka di gunung.


“Lo gak sholat Dy?” tanya Kiano setelah ia selesai


“Iya ini mau”,Andy pun beranjak, ia melakukan hal yang sama.


Daniel tertarik, diam-diam ia membuka website tentang agama Islam, ia membacanya dengan serius, sementara Rita di sampingnya kembali tidur.


“Eh Dy, si Rita molor terus ya? gue liatin dari tadi, makan enggak, minum doang, terus sholat, eh molor lagi!” bisik Kiano


“Rita itu gampang mabok, gak di darat, laut, udara. Jadi dia lebih memilih tidur dibandingkan aktivitas, tapi nanti setelah turun dari pesawat, biasanya dia aktif banget tuh!, lihat saja nanti!” jawab Andy, matanya masih focus dengan permainannya


“Kamu baca apa?” tanya Rita


“Ini!” Daniel memperlihatkan artikel yang ia baca


“Kamu lagi mempelajari ini?” tanya Rita , Daniel mengangguk, aku ingin tahu kenapa seorang muslim itu harus Sholat, puasa, zakat. Ingin tahu saja!”


“Aku gak perlu tahu tentang agama kamu kan?” tanya Rita tiba-tiba


“Ya terserah, kalau kamu tertarik!” jawab Daniel


Rita hanya terdiam, matanya kembali melihat ke jendela.


“Berapa jam lagi kita sampai?” tanyanya


“ 10 jam lagi, ini sudah larut malam, Andy dan Kiano sudah pada tidur, kamu juga tidurlah!”


Rita menarik selimutnya, kursi yang direbahkan Daniel betul-betul seperti ranjang baginya, beberapa saat kemudian Daniel pun merebahkan kursinya, lalu ia tertidur lelap. Rita memiringkan tubuhnya ke arah kursi Daniel, ia menatap wajah Daniel yang tertidur pulas


“Mirip anak-anak!” gumamnya tersenyum, ia meluruskan kembali tubuhnya, kali ini wajahnya menghadap ke langit-langit pesawat, ia memikirkan hal lain tak lama ia pun terlelap. Di dalam mimpinya ia melihat seseorang berjalan mendaki di kegelapan, tangannya memegang sebatang kayu sebagai tongkat, suara nafas orang itu terdengar sangat berat dan terengah, Rita ingin mengetahui wajah orang itu, tetapi ia mendengar suara Daniel membangunkannya


“Rit! Rita! Sudah jam hampir jam 5, kamu sholat subuh kan?”


Rita beranjak dari kursinya, ia mengambil pasta, sikat gigi serta handuk. Ia juga membawa baju ganti. Toilet di pesawat pribadi memang berbeda, toilet itu lebih luas layaknya kamar mandi di hotel. Beberapa menit kemudian Rita kembali dari toilet dengan tubuh lebih segar dan sudah berganti pakaian. Ia tampak segar, setelah itu ia melaksanakan sholat subuh, sementara Daniel kembali tidur.

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2