Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 280 : Earth Day di Sekolah


__ADS_3

Pada bazar Earth Day di sekolahnya Rita membuka booth masakan timur tengah, ia menjual nasi kebuli.


“Hai Rit!”


“Hai War!, wah gue kok baru tahu ada acara gini? Perasaan waktu gue sekolah di sini gak banyak acara ye?” tanya Rita pada Anwar yang menyapanya


“Banyak bu, cuma lo itu jarang ikutan, seinget gue habis sekolah selesai langsung pulang, habis ujian aje lo langsung menghilang!”


“Hahaha..masa sih? Kok gue gak nyadar ya?”


“Eh, bos Daniel kapan datang?” tanya Anwar


“Nanti jam 9, kan acaranya gak sekarang, dia ke kantor dulu bawa anak buah”


“Oh, Rit, buntut lo sama siapa?”


“Ada Uwa dan kakeknya di rumah, mereka benar-benar senang main bersama, tumbenan gue pergi gak ditangisin”


“namanya juga bocah” ujar Anwar tersenyum


“Lo buka booth juga War?”


“Buka dong, itu di sono, samping panggung”


“Masakan Jepang?”


“Yoi! Sushi ekonomis, ada okonomiyaki, takoyaki, tepanyaki”


“wah enak tuh, gue boleh beli gak?”


“Gak boleh!”


“Lho kenapa?”


“Lah ini buat para murid, lo kan penjual, lagi pula lo bakal beli banyak kan?”


“Cuma 1 porsi masing-masing War, nanti lo gue kasih nasi kebuli gue gratis deh!”


“Beneran nih? isinya selain nasi apaan?”


“Ayam suwir rempah sama telur mata sapi”


“Berapaan lo jual?”


“Murah, gak sampai jual rumah! Cuma 20 ribuan!”


“Lumayan juga ye?”


“Tapi isinya banyak War, nasinya aja dari beras basmati, lo tau gak 5 kg beras itu 125 rb”


“Ah gila lo? apa bisa untung?”


“Ada lah, kan gue akalin! Makanya mau nyobain gak?”


“Boleh deh, gue bayar aje deh, gak enak masa lo aje beli gue malah dikasih!”


“Alhamdulillah, syukur deh lo tau diri!”


“Sialan lo!” Anwar memberikan uang 20 ribuan, dan Rita memberikan 1 kotak nasi kebuli


“Ini masih hangat?”


“Iya dong!, booth lo udah mulai belom?”


“Belom! Anak buah gue datang jam 8!”


“Kenapa bisa bos duluan dari pada anak buah?”


“Bosnya kan panitia di sini” Anwar mengambil tempat duduk dekat booth Rita, lalu ia mulai menyantap nasi kebuli itu, tak berapa lama habis satu kotak


“Wuidih cepet nian makannya, doyan apa laper nih? kayak orang habis ngubur!” ledek Rita


“Enak Rit! Wah pinter masak lo!” puji sambil Anwar meminum air mineral dari Rita


“Hehehe...berhasil deh gue, itu hasil riset tuh!”


“Hmm...memangnya lo mau buka warung kebuli juga?”


“Sudah buka sih di mall, tapi lagi off karena gue kan kemarin ke Swiss 2 minggu”


“Weitsss...ngeri deh gue ngomong sama lo"


“Kenapa?”


“Iya, mainannya sudah ke benua Eropa!”


“Gue kan Cuma ngikutin laki gue”


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Anwar


“Hei Anwar! Lo Anwar kan?” tanya orang itu mendekat


“ Iya! Lo siapa ya?”


“Masa lupa sama gue?”


“Lo inget Rit?” tanya Anwar


“Kagak!” Rita menggeleng


“Gue Teddy!”


“Teddy? Teddy mana?”


“Teddy Gunawan, kelas sebelah!”


“ohhh..Wawan!...wawan Rit!” Anwar menyalami Teddy dengan ramah


“Wawan?” Rita bingung


“Oh iya, lo kan orang kuper, Namanya Teddy tapi kita manggilnya Wawan. Dia ini anak kelas sebelah Rit ,dulu pernah satu kelas sama gue di kelas 10 ya Wan?”


“Bener!”


“Hey Wan, gue Rita!” melambaikan tangannya karena tengah sibuk mengaduk nasi


“Rita!” Teddy membalas lambaian tangan Rita dengan tersenyum, Anwar tidak suka cara Teddy melihat Rita, lalu ia mengajaknya pergi


“Lihat booth gue yuk Wan! Gue ke sana dulu Rit ntar gue suruh anak buah gue anter pesanan lo!”


“Oke War, thanks ya!” Rita terlihat sangat senang. Anwar sengaja berjalan menutupi agar Teddy tidak bisa melihat Rita


“Eh War, itu Rita yang di kelas lo kan?”


“He eh, kenapa?”


“Makin cantik ya? dulu gue naksir berat lo sama dia”


“Oh ya? Memangnya lo kenal dia?”


“Enggak, tapi gue sering ngeliatiin pas olah raga. Rita itu temannya Santi yang cantik. Katanya orang cantik nge-gank jadi cantik semua. Tapi gue pangling lho sama Rita, dia cantik beneran. dulu biasa saja deh kayaknya" Wawan masih memperhatikan Rita dari jauh.


“Dari dulu kali!” gumam Anwar


“Hah?” Wawan atau Teddy berjalan masih memperhatikan Rita


“Lo sekarang kerja di mana War?”


“Gue buka usaha Wan”


“Usaha apaan?”


“Buka resto Jepang”


“Wuidih hebat lo! gak sia-sia deh kerja di Jepang begitu pulang jadi orang kaya sampai buka restoran segala”


“Gak gede sih, tapi lumayan lah!”


“Gue mau kerja sama lo dong War!”


“Memangnya lo lulusan apa?”


“Gue kuliah jurusan pariwisata, tadinya gue kerja di hotel di Bali”


“Terus kenapa gak lanjut?”


“Yah gimana ya? di Bali itu panas banget udah gitu kebanyakan bulenya, gue kan agak susah bahasa Inggris”


“Aneh banget jurusan pariwisata masa gak bisa bahasa Inggris? ” tanya Anwar heran


“Terus lo jadi apa di hotel itu?” tanya Anwar lagi


“Resepsionis”

__ADS_1


“Lah , itu kan harus pakai bahasa Inggris?”


“Nah itu teman gue yang ngomong kalau ada tamu bule”


“Kenapa lo gak belajar bahasa Inggris, kan sekalian ngomong sama bule sekalian belajar gitu?”


“Enggak ah, malu gue!”


“Pantes aja, bahasa itu harus dilatih kalau diam saja ya gak bisa-bisa. Jadi sekarang lo nganggur nih?”


“Iya Wan, kontrak gue kan habis di Bali dan gue gak dipanggil lagi”


“Ya pastilah!” ujar Anwar agak jengkel


“Habis gimana wan? Yang nyuruh gue masuk pariwisata kan bokap, gue sendiri gak mau”


“Terus lo maunya apa?”


“Gue senang masak War!, gue pengen masuk sekolah masak, gak boleh sama bokap katanya itu jurusan untuk perempuan."


"Pemikiran bokap Lo masih jadul juga ya, memangnya dia gak tau banyak koki cowok?


"Menurut dia masak itu kerjaannya cewek. Lo


mau nyobain masakan gue gak?” tanya Teddy


“Lo bisa masak apaan?” tanya Anwar


“Lo ada bahan apaan?”


“Paling bahan untuk bikin tepanyaki, takoyaki”


“Gue boleh nyoba bikin gak?”


“apa aja?”


“ya yang Lo sebut itu. hitung-hitung ujian masuk dari lo!” Ujar Wawan setengah memaksa


“Boleh deh, tuh anak buah gue udah beres bebenah” Anwar dan Wawan mendekati booth di dekat panggung.


“Min! Kamu sudah beli bahan-bahannya kan?” tanya Anwar pada Mince asistennya


“Sudah bos!”


“Wan, lo mau coba masak? Kalau beneran enak entar lo gue rekomendasiin jadi chef di resto gue”


“Bukannya lo pemilik resto?”


“modal gue cuma skill doang, modal duit itu dari lakinya Rita”


“Eh? Apaan tadi? Siapanya Rita?”


“Suaminya Rita yang modalin”


“Suaminya? Rita yang tadi?” tanya Wawan kaget


“Iya!”


“Dia sudah nikah?” tanya Wawan, wajahnya tampak stress


“Sudah, anaknya sudah 3! ”


Tiba-tiba Wawan terduduk lemas


“Kenapa lo Wan?” tanya Anwar heran


“Gak jadi deh War, mood masak gue udeh ilang!”


“diih bisa begitu?"


"Jujur saja gue sudah lama naksir Rita. Sejak pindah ke Bali gue keingetan dia terus. Gue bela-belain ke acara ini siapa tahu bisa ketemu dia, eh gak taunya beneran ketemu tapi endingnya malah Zonk!" ujar Wawan tampak kecewa.


Anwar mengerti yang Wawan rasakan, beberapa bulan yang lalu ia turut merasakan patah hati yang cukup dalam.


“Sudah lah relakan saja!” ujar Anwar, sebenarnya ia lebih ingin menghibur dirinya sendiri.


“Jandanya juga gak pa-pa deh War!” ujar Wawan ngeyel


“Sial Lo! masa orang disumpain jadi janda!” ujar Anwar kesal


“Masa lo gak up date War, sekarang banyak janda. Jarang pernikahan yang awet!”


“Eh lo mau lihat suaminya si Rita?” ujar Anwar dengan wajah agak jahil


“Ada, lakinya jadi salah satu pengisi acara di program Earth Day!”


“Mana War? Gue pengen lihat seleranya Rita!”


“Belom datang!, gimana lo mau coba masak dulu gak nih?” tanya Anwar


“mmmm....” Wawan terdiam cukup lama


“Cepetan putusin!, gue mau ngecek booth yang lain nih!” ujar Anwar kesal


“Iya deh!, gue coba!” Wawan mulai meracik bahan dan bumbu-bumbu yang ia ketahui, sepertinya ia telah biasa memasak. Beberapa menit kemudian masakannya telah jadi


“Silakan!” ia memberikan piring dengan okonomiyaki buatannya, Anwar mencobanya perlahan


“Hmm...lumayan! walau belum seenak gue tapi lumayan lah!” ujar Anwar menghabiskan


“Lumayan kok habis War? Lo nyobain apa lapar?” ledek Wawan


“Kan gue jurinya, gue kasih nilai 9/10 lah!”


“Cuma 9 ya? kalau gue coba takoyaki gimana?” tanya Wawan


“Silakan!” jawan Anwar, dengan sigap Wawan membuat adonan tokoyaki versinya, beberapa menit kemudian masakannya telah jadi


“Ini tester kedua!” ia memberikan piring kertas berisi 3 buah takoyaki ukuran sedang. Anwar melahapnya


“ini sama 9/10”


“Masih 9 juga?” ujar Wawan penasaran


“Memangnya lo mau berapa? 10? Itu nilai jurinya dong!”


“Oh..begitu ya?”


Tak berapa sekolah mereka kedatangan beberapa orang seperti orang asing, seorang diantaranya berbadan tinggi dan orang Korea. Siswi-siswi yang melihat rombongan itu, mengerubunginya sehingga rombongan itu susah lewat. Melihat hal tersebut, Anwar yang bertindak sebagai panitia langsung menghampiri rombongan tersebut dan membantu menghalau para siswi yang menghalangi jalan


“Hei minggir-minggir, ini bintang tamu!”


“Hai Anwar!” Daniel menoleh ke arah suara itu dan tersenyum senang


“Hei, bos Daniel! maaf ya? minggir-minggir!” teriak Anwar, ia memanggil bagian security untuk membantunya menghalau para siswi yang ingin melihat


“Kak, itu artis K-Pop ya?” tanya salah satu siswi kegirangan


“Hush! Bukan! Itu yang akan mengisi acara di dalam nanti!” jawan Anwar


“Beneran Kak? Kok mirip artis K-Pop sih, ganteng bangeetttt!!!” para siswi dengan noraknya merangsek masuk ke ruangan tempat Daniel dan rombongan di tempatkan


“Hey!!!! Kalian keluar dulu!!!” teriak Anwar galak


“galak banget kak!” jawab salah satu siswi gak mau kalah


Dengan susah payah akhirnya rombongan Daniel berhasil tiba di Aula yang disulap menjadi tempat pertemuan. Setelah rombongan itu datang, aula itu kini terisi penuh terutama dengan para siswi.


Beberapa menit kemudian acara di mulai, Daniel sebagai pengisi acara kedua. Suasana di dalam aula sudah penuh, dengan susah payah, Anwar keluar dari Aula yang penuh itu


“Norak semuanya!” teriaknya kesal, ia datang ke booth Rita. Suasana kini telah ramai, booth Rita cukup ramai didatangi pembeli. Aroma dari daging kebab yang sengaja Rita panggang memanggil para pembeli.


“Lo jualan kebab juga?” tanya Anwar


“Iya, untuk daya tarik saja, kalau nasi kebuli doang gak ada wanginya orang mana mau ngeliat kemari” jawab Rita sambil melayani pelanggan


“Laki lo tuh sudah datang!”


“Eh? Ini belum jam 9?”


“Katanya lebih baik awal dari pada telat!” jawab Anwar agak kesal


“Kenapa lo kesel?” tanya Rita heran,


“Itu cewek-cewek pada ngerubungin laki lo kayak lalat, disangkanya artis K-Pop!”


“Kok lo gak bantuin laki gue War?” tanya Rita heran, ia hendak pergi ke sana


“Mau ngapain lo?”


“Kasihan laki gue dikerubungin?”


“Udeh gue suruh bagian keamanan untuk melindungi laki lo sama rombongannya tenang saja!”

__ADS_1


Wajah Rita sekilas tidak percaya, ia tampak khawatir. Tanpa bertanya lagi, ia langsung berlari menuju Aula. Seperti yang Anwar katakan, aula itu kini menjadi penuh sesak, orang-orang bisa keluar tapi sulit masuk. Untuk mengatasi hal tersebut, panitia memasang layar dan proyektor untuk menayangkan siaran di dalam aula sehingga para siswa tidak berdesakan di aula.


Karpet di pasang di depan untuk siswa yg tidak kebagian masuk aula. Panitia yang bertugas sebagai seksi dokumentasi menjadi kameramen yang merekam acara. Rita kesulitan masuk ke Aula, ia hanya bisa melihat acara melalui layar lebar.


Tiba saatnya acara yang kedua, Daniel dan timnya memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Lexington Jakarta.


Samuel yang cukup tampan melakukan presentasi tentang profil perusahaan. Pembawaannya yang santai dan mengena ke anak muda membuat acara berjalan tidak membosankan. Kini giliran Daniel, baru saja ia diperkenalkan, tiba-tiba barisan terdepan para siswa cewek merangsek maju mendekati Daniel, itu membuatnya terkejut


“Hey! Kalian tenanglah! Jangan seperti itu!” ujar Daniel memperingatkan dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, para siswa cewek terkejut


“Wahh...oppa sudah faseh bahasa Indonesia!” ujar salah satu siswa


“Istri saya orang Indonesia, dia juga alumni sekolah ini” ujar Daniel tersenyum manis


“ahhh....sweetttt....” sepertinya para siswa tidak mendengar ucapan Daniel tentang istrinya, mereka terpukau dengan ketampanannya.


Presentasi yang menarik juga penjelasan dari Daniel tentang energi terbarukan, membawa acara menjadi menarik serta interaktif. Tanpa diduga para peserta sangat tertarik dengan presentasi dari Lexi dan banyak yang mengajukan pertanyaan, termasuk dari para guru.


Acara dari Lexi diakhiri dengan kuis berhadiah souvenir berupa merchandise, tanpa terasa 90 menit telah berlalu, Daniel Cs mengakhirinya.


“Yahhh....cepet banget!!!” keluh para peserta, tiba-tiba ada seorang yang menjadi provokator, ia menepuk-nepuk meja dan ingin acara Lexi di perpanjang


“Lanjutkan....lanjutkan...lanjutkan!!!” hampir semua siswa di Aula berteriak


“Maaf teman-teman! Bukannya kami gak mau tapi kami harus berada di Trisakti. Sebenarnya acara ini tadi hanya 1 jam, tapi kami telah memperpanjangnya selama 30 menit. Kami tidak bisa menundanya lagi...maafkan kami!” ujar Samuel


“Maaf ya???” ujar Daniel tiba-tiba sambil tersenyum, ia menyukai respon para peserta.


“Iyaaaaaaa!!!!!” jawab para siswi kompak, lalu tertawa bersama.


Setelah pamit kepada kepsek, Daniel beserta rombongan meninggalkan sekolah, kini Aula terisi hanya setengahnya yang setengahnya lagi menyerbu aneka jajanan di lapangan sekolah.


Pukul tiga sore acara selesai, dagangan Rita juga sudah habis tanpa sisa.


“War, mana pesanan gue?” tagih Rita


“Sorry Rit, habis! Tadi gue lupa nyuruh Mince bikin buat lo!” jawab Anwar


“Yah lo gimana sih, gue sengaja nih gak makan yang lain!” protes Rita


“Sorry deh Rit...lo datang ke resto deh ntar gue bikinin gratis!”


“Gak mau ah! Jauh!” ujar Rita kesal. Sebenarnya ia bukan hanya kesal pada Anwar, ia juga kesal pada Daniel yang pergi begitu saja dari sekolah tanpa pamit padanya.


“Sorry Ritt..jangan marah dongggg!!!” bujuk Anwar sambil menempelkan wajahnya di lengan Rita


“Sana ah! Berat tau!” Rita pergi meninggalkan Anwar, ia kembali ke boothnya. Para asisten telah membereskan boothnya kemudian menaiki mobil dan pulang ke rumahnya.


“Eh War, mana?” tanya Wawan


“Mana apanya?” tanya Anwar ia memperhatikan mobil Rita yang pergi menjauh


“Katanya lo mau nunjukin suaminya Rita!”


“Elo gak lihat?”


“Enggak!”


“Bukannya tadi lo masuk di Aula?”


“Iya!, tapi yang mana orangnya?” tanya Wawan penasaran


“Itu orang Korea yang namanya Daniel itu!”


“Hah? Daniel? yang super ganteng itu?” Wawan yang tadi berhasil memenangkan suvenir berupa topi dari Lexi terduduk lemas.


“yahhh...War...kayaknya gue white flag aja deh!” ujarnya


“Bagus deh lo tau diri!” ujar Anwar


Rita tiba di rumah pukul setengah 5, ia sengaja mampir ke pasar dulu untuk membeli bahan masakan untuk jualan di mal besok.


“Hey! Kamu baru pulang?” tegur Daniel yang menunggunya di teras depan kamar mereka sambil menggendong Rayya


“yeah!!” Rita masih kesal mengingat kejadian tadi


“Rayya mau sama mami?” tanya Daniel mendekatkan Rayya pada Rita


“Jangan sekarang ya Dek? Mami bau!” dengan langkah kesal ia masuk ke dalam kamar lalu segera mandi.


Saat makan malam kekesalan Rita masih tampak, dan Daniel merasakannya


“Kamu capek banget ya?”


“biasa! Namanya kerja ya capek!” jawab Rita ketus


“Bagaimana dagangannya? Laris?”


“Lumayan!” Rita menjawabnya dengan sepatah dua patah kata


“Mami!!” panggil Ranna


“Ya sayang?”


“Aku bobo di tempat uwa lagi ya?” ijin Ranna


“Me too mi?” tanya Raffa


“tanya papi deh!” ujar Rita


Keduanya mendatangi Daniel


“Boleh ya piiii!!!” pinta Ranna memelas, Raffa juga memegang tangan Daniel


“Kalian gak mengganggu uwa kan?”


“Nooo!!! Kasihan Uwa sepi!” jawab Ranna


“Papi juga sepi!”


“Papi ada mami sama adek!” jawab Ranna


“Tapi mami lagi marah sama papi”


“why mi?” tanya Raffa


“Enggak!” jawab Rita, ia meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamarnya.


“Ya udah, kalian boleh di tempat Uwa, tapi besok kembali ke kamar kalian lagi ya?”


“Oke papi!!!” keduanya mencium pipi Daniel lalu dengan cepat berlari meninggalkan kamar itu. Daniel membereskan bekas makannya, lalu meletakkan Rayya yang sudah pulas tertidur.


Ia masuk ke kamar dan berganti pakaian, ia melihat Rita menyalakan TV di dalam kamar


“Kamu kenapa sih? Aku salah apa?” tanya Daniel lembut


“Aku kesal !”


“Iya, kesal kenapa?”


“Kamu tadi pergi-pergi saja gak bilang sama aku dulu! Aku nungguin kamu di depan Aula!”


“Oh itu! Kamu gak tahu sih, tadi kita bisa keluar dari sekolahan saja sudah syukur! Bagian keamanan membawa kami lewat pintu belakang!”


“Kamu senang dong banyak penggemar cewek? Masih muda-muda lagi!” ujar Rita ketus


“Siapa bilang senang, ada juga takut. Wah cewek itu agresif banget ya? tadi Samuel sampai kena pencet lato-latonya”


“hah? Serius?”


“Beneran! Dia kesakitan, entah siapa yang mencet. Presentasi di Universitas aku semua yang mengerjakan karena dia kesakitan. Kami membawanya ke rumah sakit”


“Kasihan, tapi kamu gak apa-apa kan?” tanya Rita khawatir


“Siapa bilang? Tuh aku kena cakar! Aku juga heran siapa ya yang nyakar aku? Tadi terasa pas aku mandi” Daniel menunjukkan bekas cakaran di tangan kanannya


Rita segera beranjak dan mengambil kotak P3K,


“Ini agak perih, tahan ya?” ia mengoleskan obat antiseptik, lalu meniupnya. Daniel memperhatikan istrinya lalu tersenyum


“Kenapa? Kok tersenyum?” tanya Rita sambil meniup luka di tangan Daniel


“Ternyata kalau kamu cemburu itu menggemaskan!” Daniel mencubit pipi istrinya


“siapa yang cemburu?” elak Rita


“Apa lagi kalau enggak cemburu, ngapain juga kamu nungguin aku di depan Aula, sementara masuk saja sudah susah. Lagi pula kamu kan bisa ketemu aku sepuasnya di rumah ini jadi gak perlu ngejar-ngejar kayak gitu kan?” goda Daniel


Rita diam saja, ia baru menyadari tentang perasaan cemburunya, ia membereskan kotak P3K, lalu berganti pakaian kemudian sholat Isya.


Selesai sholat Isya, ia melihat suaminya telah lelap tertidur kelelahan. Ia mengecup kening suaminya lalu mematikan lampu tidur dan tidur sambil memeluk tubuh suaminya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2