Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 89: Kecelakaan


__ADS_3

“Rendy dan Rita? Maksudnya apa? Ka Bisa lo jelasin?” tanya Dewa kepada Andi yang sejak tadi termenung melihat pengumuman di layar lebar


“Oh itu!, nanti gue jelasin!” ujarnya, ia segera pergi meninggalkan lapangan, Dewa mengikutinya dari belakang. Andi pergi menuju ruang penonton VIP, ia protes terhadap perlakuan berbeda kakek-kakeknya


“Kek, kenapa Cuma Andi yang dibedakan?” tanya Andi kepada kedua kakeknya


“Sudah jelaskan? Tentu saja karena penyakitmu!” ujar Darmawan


“Tapi kek, Andi sudah lama tidak mengalami sakit jantung, setiap check up ke dokter kondisi Andi normal seperti orang lainnya!”


“Itukan menurut dokter, kakek takut ada hal yang dokter tidak tahu, kan kamu senang dengan teknologi kan? Bertanding dalam VR sama serunya!” ujar Darmawan lagi


“Berhentilah memperlakukan Andi seperti kaca kek! Itu sebabnya Andi gak suka lama-lama di sini. Kakek dari dulu selalu memperlakukan Andi layaknya boneka kaca yang rentan pecah, Andi ini laki-laki kek! Andi ingin bertualang seperti Rita!” ujar Andi kesal. Orang –orang di dalam ruangan hanya terdiam mendengarkan


“Kakek gak mau kehilangan cucu laki-laki kakek satu-satunya Ndi! Sudah cukup kakek kehilangan Eka. Kakek gak sanggup kehilangan lagi!” ujar Darmawan


“Kalau begitu Andi gak mau ikut bertanding apapun! Ini salah satu bentuk diskriminasi. Andi lebih baik pergi saja dari rumah!” ujar Andi, Ia pergi dengan membanting pintu kaca di ruangan VIP hingga pecah. Dewa menunduk untuk menghormat kepada kedua kakek, lalu pergi menyusul Andi. Ia memanggil Andi dari belakang, Andi berjalan setengah berlari, ia kembali ke rumah besar dan mencari kunci mobil listriknya dan pergi mengendarai mobilnya. Dewa menghadangnya di tengah jalan


“Ka, jangan pergi sendirian! Ajak gue dong! Gue gak kenal siapapu di sini!” ujarnya khawatir, baru kali ini ia melihat Andi marah besar. Andi membukakan pintu mobil, merekapun pergi meninggalkan rumah. Andi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Ka, jangan begini, Lo gak niat bunuh diri kan?” bujuk Dewa ketakutan dengan kecepatan mobil. Andi tetap diam, matanya terlihat sangat kesal.


Sementara di rumah besar, Darmawan dan Sugiyono berdiskusi, di kamar Eka.


“Menurut Kakak gimana? Apa terlalu beresiko membiarkan Andi bertanding langsung?” tanya Darmawan


“hmmm...aku mengerti perasaannya, sejak kecil dia selalu merasa tersisihkan. Selalu dibilang lemah, bahkan lebih lemah dari perempuan, gak heran sekarang ia meledak!” ujar Sugiyono


“Jadi selama ini aku salah memperlakukannya?” tanya Darmawan


“Bukan kamu saja yang memperlakukannya seperti itu, aku juga. Padahal aku selalu ingin semua cucuku kuat! Tapi aku gak tega terhadap Andi.” Jawab Sugiyono


“Apa kita biarkan saja? Tokh itu kemauannya sendiri? ujar Sugiyono lagi


“tok..tok...tok!” suara ketukan pintu kamar, Darmawan membukanya, ternyata Radian sengaja datang ke kamar  Eka .


“Om, bisa saya masuk?” tanyanya. Darmawan membuka pintu dan ia masuk lebih dulu Radian menutup pintu dan mengikutinya dari belakang


“Om, kalau boleh saya berpendapat tentang Andi.” Ujar Radian meminta ijin


“Silakan, menurutmu bagaimana?” tanya Darmawan


“Menurut saya sebaiknya Om membiarkan Andi bertanding  seperti yang lainnya, karena Andi sekarang ini dalam fase remaja ia memiliki keinginan seperti remaja lainnya, bertualang, merasakan adrenalin, diakui kemampuannya. Menurut saya TWK ini bagus untuk itu, karena kita turut mengawasi. Saya takut ia mencari pelampiasan di tempat lain, yang kita tidak bisa kontrol.” Ujar Radian


Ketakutan Radian beralasan, karena Andi mengajak  Dewa pergi ke taman hiburan di Auckland, yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Andi menyerahkan mobilnya kepada parkir valet, lalu mengajak Dewa masuk ke taman tersebut. Ia membeli tiket terusan permainan. Ia memilih permainan roller coaster, perahu bajak laut, semua permainan yang menantang. Selama di arena permainan ia terus berteriak kegirangan. Ia naik roller coaster sampai 3x, lalu perahu bajak laut yang mengayun tinggi.


“Lihat kan Ar, gue sehat!!!” teriaknya  kegirangan, sementara Dewa yang duduk di sampingnya ketakutan dengan ayunan permainan yang semakin tinggi. Setelah permainan selesai, Dewa memuntahkan isi perutnya, ia merasa tidak nyaman.


“Ka, tunggu sebentar!” ia memanggil Andi, tapi Andi sudah menghilang


“Ah sial!” umpatnya, kemudian ia menelpon Rita. Ponsel Rita berada dalam tasnya, ia menaruhnya dalam loker sehingga ia tidak mengangkat telepon dari Dewa. Dewa mengirimkan pesan kepada Rita tentang keberadaannya. Sementara itu di rumah besar, mereka mendapat kabar kalau mobil yang dikendarai Andi dan temannya mengalami kecelakaan. Mobil tersebut terbalik dan terbakar, dua orang korban berjenis kelamin laki-laki berada di dalam mobil tersebut. Staf rumah tangga memberikan foto mobil yang terbakar kepada kedua kakek . Suasana rumah menjadi heboh seketika, Darmawan yang kaget dengan berita tersebut, jatuh pingsan, syukurlah di rumah besar itu ada perawat peribadi, sehingga Darmawan terawat dengan baik. Rita masih berada di arena panjat tebing, ia sangat menikmati berada di ketinggian, hingga Daniel memanggilnya


“Rita!” panggil Daniel


“Ya?” Rita masih berada di atas”


“Bisa turun? “ tanya Daniel


Rita menuruti Daniel, dengan segera ia menuruni tembok


“Apa kamu tahu yang terjadi di rumah besar?” tanya Daniel


“Enggak kenapa?” tanya Rita, ia membuka peralatan memanjatnya


“Kami mendapat berita mobil Andi kecelakaan!” ujar Daniel

__ADS_1


“Kecelakaan? Kak Andi gak naik mobil dia berada di...” Rita mencari disekitarnya, ia baru menyadari kakaknya dan Dewa sudah tidak berada di tempat itu


“Apa mereka yakin itu kak Andi?” tanya Rita, ia merasa aneh. Sementara seluruh staf berbondong-bondong menuju ke rumah besar untuk melihat berita tersebut.


“Entahlah, benar atau tidak, tapi pihak kepolisian mengidentifikasi mobil tersebut milik Andi!” ujar Daniel lagi. Rita mulai panik, dengan segera ia ke lokernya untuk mengambil tasnya, ia membuka ponselnya.


“Daniel, aku mendapat pesan ini dari kak Dewa!” ujar Rita menunjukkan pesan dari Dewa


“Hmm...mereka ada di taman hiburan, kecelakaan itu tidak jauh dari situ, bisa lihat pukul berapa pesan itu terkirim?” tanya Daniel


“Hmmm sekitar 30 menit yang lalu!” Rita mengecek pesan di ponselnya


“Kita ke sana Rit!” ajak Daniel, Rita mengangguk mengikuti Daniel, mereka naik mobil SUV milik Radian. Rita duduk di kursi penumpang, Daniel yang menyetir. Rita kelihatan sangat khawatir, Daniel melihatnya, ia memegang tangan Rita untuk menenangkannya.


“Tenanglah, kita tidak bisa tahu, kalau belum kita cek!” ujar Daniel, lalu mereka meluncur ke taman hiburan. Sepanjang jalan Rita masih terdiam, pikirannya terbang entah kemana.


“Jadi Rit! Cowok yang tadi memelukmu siapa?” tanya Daniel memecah suasana


“Oh itu kak Dewa, dia sahabatnya kak Andi. Dia juga kakak kelas Rita di sekolah yang dulu” ujar Rita menjelaskan


“Apa kalian ada hubungan istimewa? Sehingga ia memeluk adik kelasnya?” tanya Daniel menyelidik


“Denganku? Tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman. Ya, teman baik!” jawab Rita datar


“Hanya teman?” tanya Daniel setengah tidak percaya


“Yeahh..kami beberapakali mengalami kejadian luar biasa, ia banyak membantu Rita sejak dulu.”


“Kejadian luar biasa? Bisa diceritakan? Perjalanan kita cukup lama, aku pikir ini bisa membuatmu berkurang khawatirnya!” ujar Daniel terus terang.


“Hmm...” Rita bercerita tentang kejadian yang dialaminya bersama Dewa, baik di Bali dan ketika ia diculik dahulu. Daniel mendengarkan dengan penuh perhatian.


“Dari semua yang kalian alami, apa betul kamu gak ada perasaan apapun padanya?” tanya Daniel tiba-tiba


“Perasaan apa yang kamu maksud?” tanya Rita bingung


“Hmm... entahlah, Aku gak pernah memikirkannya!” ujar Rita


“Sungguh? Itu aneh kan?” tanya Daniel


“Aneh? Apa anehnya?” tanya Rita lagi


“Kalau dari cerita mu, Dewa sudah berkorban banyak untuk mu, bisa dikatakan ia seperti pahlawan, masa sih kamu gak ada perasaan istimewa padanya? Kecuali???”


“Kecuali apa?” tanya Rita


“Kecuali kamu tidak tertarik padanya!” ujar Daniel lagi


“Daniel, apa sekarang saat yang tepat untuk membicarakan hal itu?” protes Rita


“Yaa aku pikir saat ini tepat, aku dengar kedua kakekmu menjodohkanmu dengan Rendy, di saat yang sama Dewa datang. Apa itu bukannya takdir? Aku gak percaya adanya kebetulan di dunia ini!” ujar Daniel


“Ucapanmu seperti kak Andi, ia mendesakku untuk menerima kak Dewa, walaupun sedikitpun aku gak pernah mendengar kak Dewa menyatakan perasaannya padaku!” ujar Rita


“Andi menjodohkan mu dengan Dewa?” tanya Daniel tersenyum geli


“Iya betul, apa itu lucu?” tanya Rita


“Ya akhirnya aku tahu bagaimana Dewa bisa sampai ke sini!” jawab Daniel, mereka telah tiba di taman. Rita menelpon Dewa, ternyata mereka berada di kantor polisi di sekitar taman tersebut. Daniel dan Rita datang ke kantor polisi itu, di sana Andi dan Dewa telah menunggunya.


“Kak Andi!” panggil Rita memeluk Andi tiba-tiba, ia lega orang yang di mobil itu bukanlah kakaknya.


Andi menepuk punggung Rita, lalu melepaskan pelukan Rita. Dewa menghampiri mereka dan ikut menenangkan Rita


“Mobil gue dicuri Rit!, pelakunya pegawai parkir valet!” ujar Andi kesal

__ADS_1


“Gak apa-apa kak, yang penting kak Andi dan kak Dewa selamat!” ujar Rita lega


“tentu selamat!, ini gue lagi laporan kehilangan!” ujar Dewa


“Gak perlu Ndi!” ujar Daniel


“Gak perlu? Enak saja itu mobil hasil tabungan gue bertahun-tahun!” ujar Andi protes


“Mobilnya sudah ketemu, tapi terbakar!” ujar Daniel


“Hah?? Kog bisa?” Andi dan Dewa bingung bersamaan.


“Rupanya sang pencuri mengebut dengan mobil itu tapi tidak bisa mengendalikan kecepatan, hingga mobil itu jatuh ke lembah dan terbakar!” ujar petugas polisi menerangkan.


“kog aneh ya, itu mobil listrik tapi bisa terbakar?” tanya Dewa heran


“sebenarnya itu hybird, jadi bisa 2 Ar, bisa bensin bisa juga listrik. Mungkin waktu terguling, listriknya membakar tangki bensin” ujar Andi menjelaskan


“Kita harus segera pulang, kakek-kakek mu sangat khawatir, bahkan kakek Darmawan sempat pingsan” ujar Daniel


“Oh iya Daniel, kenalkan ini kak Dewa, Kak Dewa ini Daniel! Beliau pengawalnya om Radian!” ujar Rita mengenalkan Daniel pada Dewa. Keduanya bersalaman


“Senang bertemu dengan mu!” ujar Daniel basa-basi , Dewa yang mahir berbahasa inggris menjawabnya


“Aku juga!” jawabnya tersenyum. Hatinya berkata, orang ini juga tertarik pada Rita, ia memperhatikan tingkah laku Daniel sejak mereka tiba di kantor polisi.


Sesampainya di rumah besar, Andi segera menemui Kakek Sugiyono dan Kakek Darmawan. Kakek Sugiyono menampar pipi Andi tapi kemudian ia memeluknya, ia sungguh cemas dengan berita kecelakaan itu.


“Kakek!” sapa Andi kepada kakek Darmawan yang terbaring di tempat tidur dalam kamar Eka. Kakek Darmawan membuang mukanya, ia marah kepada Andi. Semua orang keluar dari kamar itu dan membiarkan mereka berdua berbicara.


“Kamu senang melihat kakek sakit Andi?” tanya Darmawan


“Kenapa bisa sakit kek?” tanya Andi tanpa merasa bersalah


“mobil kamu kecelakaan, ada 2 mayat di dalamnya, tentu saja kakek takut itu kamu!” ujar Darmawan


“Iya kek, mobil Andi terbakar, sekarang Andi gak punya mobil!” ujarnya menyesal


“Bagus!!! Jadi kamu gak perlu ngebut-ngebut di jalanan!” ujar kakeknya


“Kalau kakek terus memperlakukan Andi seperti ini, mungkin akan lebih baik kalau Andi betulan yang ada di mobil itu!” ujar Andi kesal


“Jangan sembarangan ngomong kamu! Ucapan itu doa tahu!” ujar kakek marah


“Habis, kakek gak ngerti perasaan Andi selama ini, Andi seperti dalam gelembung semua melindungi Andi seolah Andi ini orang paling lemah, rentan, gampang pecah!” ujar Andi lagi


“Jadi kamu maunya apa?” tanya Darmawan


“Andi ingin bertualang seperti Rita!” jawab Andi mantap


“Rita sudah gak boleh bertualang!, mulai besok dia tidak lagi bekerja untuk Radian!” ujar Darmawan lagi


“yah setidaknya aku dibolehkan untuk ikut TWK sungguhan besok!” ujar Andi


“Bagaimana kalau kamu kalah? Kan malu!” ujar Darmawan


“Kalau menang? Kakek mau beliin aku mobil baru?” tanya Andi


“Boleh!, kalau kamu menang aku belikan mobil yang lebih bagus dari yang kemarin, tapi kalau kamu kalah, kamu harus menuruti kata-kata kakek!” ujar Darmawan


“Benar ya?, begini deh kalau besok aku berhasil mencapai tahap 2, kakek gak perlu beliin aku mobil, cukup membolehkan aku ikut para layang!” ujar Andi


“Oke, Deal!!!” keduanya bersalaman, kakek tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya


“Aduh pusing!” keluhnya

__ADS_1


“Jangan buru-buru kek!” ujar Andi tersenyum senang, ia lega kakeknya sudah sehat seperti biasa.


-Bersambung-


__ADS_2