Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 99: Perundungan


__ADS_3

Hari Senin di pagi hari,


“Huuuaaahhh....” Eka menengadahkan tangannya, melakukan gerakan yoga seperti streching dan olah pernafasan. Setelah aktivitas paginya selesai ia pun pergi sarapan.


“Pa, sudah jam 8 kog gak siap-siap ke kantor?” tanya Ratna, ia heran melihat Eka kembali rebahan di kursi malas di kamarnya


“Hari ini aku gak ke kantor ma, aku mager!”


“Jiaah..tahu artinya mager?”


“Malas gerak!, aku jadi kepikiran yang Rita katakan kemarin”


“Oya? Tentang apa?”


“Rita bilang dia jenuh pada hubungannya dengan Tommy”


“Alasannya itu? Jenuh?”


“Iya, jenuh. Aku pikir aku juga jenuh!”


“Hah? Kamu jenuh sama Aku?” tanya Ratna dengan nada sedikit tinggi


“Jenuh sama kamu? Mana mungkin? You’re my angel my baby angel!” Eka menyanyikan petikan lagu , Ratna tersenyum geli


“Jadi kamu jenuh sama apa?”


“Jenuh sama kerjaan, kayaknya kerjaan aku gak selesai-selesai, coba bayangin, aku berhasil mengembangkan usaha papa menjadi lebih besar dari sebelumnya, tapi kegiatanku justru makin banyak. Aku sadar, waktuku dengan anak-istriku cuma sedikit. Tahu-tahu Rita sudah punya pacar, aku gak tahu perkembangan Andi. Eh dia sudah hampir 20 tahun. Aku jadi mikir selama ini aku ngapain saja?”


“Jangan overthinking pa, namanya hidup ya begitu, pindah dari satu urusan ke urusan lainnya. Kalau mau selesai urusan ya wafat!”


“Hush!! Mama, jangan ngomong begitu, nanti kejadian bagaimana?”


“Lho itu realitas pa, hidup itu ya begitu, masalahnya silih berganti, tapi kalau gak ada masalah kita gak akan bisa berkembang, iya gak?”


“Iya juga sih, mama gak kerja?”


“Enggak ah, mama mau nemani papa saja di rumah, aku kan bisnis owner. Terserah aku kan, mau masuk apa enggak!” Ratna merebahkan tubuhnya di samping Eka, Eka memeluk dan mencium kening istri kesayangannya


“Ma, kita umroh yuk! Ajak anak-anak!, bulan depan ya?”


“Kog tiba-tiba pa?”


“Yaa, papa mikir, kita ngumpulin harta banyak kalau bukan buat ibadah buat apalagi? Tahun depannya kita daftar haji!”


“Daftar haji? Kan daftar tunggunya mencapai 100 tahun pa, daftar sekarang baru di akherat dapat giliran!”


“Ah mama bisa saja, kita daftar haji yang undangan kedubes ma, nanti deh papa cari tahu teman papa yang kerja di kedubes Arab Saudi.”


“Tapi mahal lho pa, 1 orang bisa 300 juta!”


“300 juta sih kecil ma, apalagi untuk ibadah, gak apa-apa, papa gak main golf 2 tahun juga!”


“Anggaran golf papa memang sampai segitu?”


“yah kalau hitungannya kayak kemarin, ngundang orang ke hotel, ya kira-kira segitu!”


“Wah papa ternyata orang kaya ya?” canda Ratna


“Alhamdulillah, kamu juga jadi istri orang kaya senang kan?”


“Yaaa lumayanlah,.hehehe” Ratna memeluk suaminya


“Ma, mudah-mudahan Rita baik-baik saja ya di sekolah!”


Ratna terkejut, ia terduduk di samping Eka yang masih rebahan


“Ada apa dengan Rita di sekolah?”


“Aku dengar dari Andi, Rita dibully oleh gengnya pemilik sekolah, aku bilang sama Rita sekali-kali lawan saja gak usah takut!”


“Yahh,..papa bagaimana sih? Rita kita itu anak manja pa, waktu papaku menyuruhnya latihan taekwondo dia nelpon papamu minta dijemput. Kamu tahukan papamu sangat sayang sama Rita, jadi Rita sama sekali gak punya kemampuan membela diri! Dia malas gerak. Bersyukur dia tertarik dengan senam artistik!”


“Waduh gimana dong ma? Kalau ada apa-apa sama Rita bagaimana?” Eka bangkit dari tidurnya

__ADS_1


Ratna mengambil telepon berusaha menghubungi Rita dan pihak sekolah.


Sementara itu di sekolah, Rita sengaja datang lebih pagi, ada yang ingin ia lakukan di sekolah. Ia melihat sekeliling gym, penasaran siapa yang menghilangkan matrasnya kemarin. Kemudian ia masuk ke ruang keamanan untuk melihat CCTV. Ia mencari rekaman CCTV hari di mana ia terjatuh. Alangkah terkejutnya ia mengetahui siapa yang menarik matras pelindungnya. Ia merekamnya di ponsel lalu pergi dari ruangan itu.


Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing, Rita sudah berada di dalam kelasnya. Pelajaran jam pertama dan kedua dilewati dengan aman. Pelajaran jam ke 3 dan 4 jam kosong, karena guru yang bertugas sedang sakit. Rita keluar untuk ke toilet, ia tidak tahu beberapa anak perempuan mengikutinya ke toilet. Setelah ia selesai buang air keci dan sedang mencuci tangannya, tiba-tiba geng Amanda yang berjumlah 4 orang menghadangnya.


“Heh itik buruk rupa! Kemarin Lo ketemu Tommy ya?” tanya Amanda galak


“Kalau iya kenapa? Urusannya sama Elo apa?” tanya Rita dengan nada datar


Amanda dan gengnya terkejut dengan jawaban Rita, biasanya ia hanya tertunduk dan menangis, dan menyerahkan uang jajannya dengan sukarela agar tidak ditindas


“Urusan gue apa? Tommy itu dulu pacarnya sobat gue, gara-gara elo itik buruk rupa, dia mutusin sobat gue!”


“Bagus dong, berarti Tommy seleranya bagus!” jawab Rita lagi


Amanda kesal, ia ingin menjambak rambut Rita, tapi Rita menepis tangannya. Ketiga teman Amanda tidak tinggal diam, mereka memegangi tangan dan kaki Rita.


“Pegangin, gue mau kasih pelajaran anak yang sok cakep ini!” Amanda mengeluarkan cutter dari kantongnya. Menyadari keadaan bahaya, Rita meronta sekuatnya dan menjedotkan jidatnya ke hidung Amanda hingga berdarah. Ketiga temannya yang melihat Amanda terluka, berusaha memegangi Rita lebih kencang,


“Sial Lo, gue berdarah nih!” Amanda menampar pipi Rita berkali-kali


Tak berapa lama seseorang masuk ke toilet, ia melihat Rita yang dipegangi 3 orang. Seketika ketiga teman Rita melepaskan tangan dan kaki Rita, mereka tampak ketakutan dengan kedatangan orang itu.


“Kalian ini, kan aku sudah bilang jangan melakukannya di sekolah!” orang itu menampar Amanda dan tiga temannya yang lain.


“Kamu gak apa-apa Rit?” tanya orang itu


“Enggak, hatiku yang sakit!, aku gak nyangka pelatih yang aku hormati dan percayai ternyata dibalik semua perundungan ini!” ujar Rita, ternyata orang yang memotong kayu paralel dan menarik matras adalah pelatihnya


“Wah aku ketahuan ya?” pelatih itu tanpa ragu menonjok perut Rita hingga Rita mengerang kesakitan


“Kamu itu sok Rita, mentang-mentang anak orang kaya, bisa seenaknya merebut pacar orang!”


“Apa pelatih juga termasuk yang ditolak cintanya oleh Tommy?”


“Plak!!” tamparan keras mendarat di pipi Rita, Amanda dan temannya menjadi sangat takut melihat pelatih yang begitu beringas


“Ini tidak ada hubungannya dengan Tommy, aku kesal dengan keluargamu! Kakek mu! Mama mu! Ayah mu!” kali ini pelatih menendang tulang kering Rita, hingga ia mengerang kesakitan.


“Plak!!” pelatih kembali menampar pipi Rita


“Aku sudah putus dari Tommy!, aku gak ada hubungan apa-apa lagi dengannya!, Kamu puaskan manda?” ujar Rita menegaskan


Amanda hanya terdiam mendengarkan


“Memangnya kalau kamu putus dari Tommy kenapa? Apa bisa menghentikan ini?” Pelatih mulai melancarkan tendangan lututnya ke arah Rita yang berlutut di lantai. Tapi Rita mencegahnya, kali ini ia tidak menahan diri lagi. Ia menahan lutut pelatih dengan kedua tangannya dan itu membuat pelatih kaget, ia mundur dan mulai menyerang lagi, kali ini Rita mengincar perutnya, Rita menarik tangan pelatih, dan menendang perut pelatih berkali-kali, lalu menamparnya. Pelatih sungguh kaget dengan perlawanan Rita. Ia berteriak kepada Amanda dan teman-temannya untuk memegangi Rita. Kali ini Rita tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia menarik kedua teman Amanda dan menjedotkannya satu sama lain. Sedangkan Amanda yang berusaha lari dari tempat itu, dijambak rambutnya oleh Rita dan dibenturkan ke temannya yang satu lagi. Sang pelatih yang kaget melihat kemampuan Rita, ia mengambil tempat sampah di sebelahnya dan melemparkan ke arah Rita, Rita berhasil mengelak lalu menghampirinya dan melakukan tendangan andalannya, tendangan berputar. Pelatih pun roboh jatuh pingsan, tak lama petugas keamanan sekolah datang. seorang siswa melaporkan keributan di toilet wanita lantai satu. Mereka terkejut melihat 5 orang bergelimpangan, dan hanya Rita yang berdiri dengan luka-luka diwajah , tangan serta kakinya.


Satu sekolah heboh, Rita, Amanda dan gengnya serta pelatih dihadapkan dengan komite sekolah. Kedua orang tua para siswa juga didatangkan. Sebelumnya, Amanda dan teman-temannya memojokkan Rita. Ia kalah suara, karena cerita Amanda didukung oleh pelatih. Tapi Rita sudah mempersiapkan semuanya, ia menyambungkan rekaman suara Amanda, dan pelatih ke speaker sekolah. Mereka mendengar apa yang terjadi dan pergumulan sebenarnya. Ditambah lagi Rita memberikan rekaman kejadian di toilet, ia sengaja meletakkan kamera tersembunyi di dasi sekolahnya dalam bentuk bros.


Komite sekolah dan para orang tua siswa seperti menonton film action, mereka tidak menyangka anak-anak mereka bisa begitu sadis terhadap temannya sendiri.


“Cukup pak!, saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum!” ujar Eka, ia sangat marah melihat perundungan yang menimpa Rita


“Ayo boleh, apa kamu tidak lihat siapa yang terluka di sini?” ujar salah satu orang tua siswa


“Iya betul, Rita itu kuat! Seharusnya ia tidak melukai anak-anak kami!”


“Kalian itu!!! Kalau anak saya tidak melawan, anak kalian sudah jadi pembunuh!” ujar Eka lagi


“Dan kamu pelatih, saya pastikan karirmu tamat, dan kamu akan mendekam lama di penjara!” Eka dan Ratna menarik Rita keluar ruangan, tetapi di cegah oleh kepala sekolah.


“Maaf pak, urusan ini belum selesai!, kita musyawarahkan dulu!”


“Musyawarah apa pak? Anda gak lihat apa yang sudah mereka lakukan ke anak saya?” ujar Eka marah


“Tapi pak!”


“Gak ada tapi!, kamu juga sebagai kepala sekolah harus bertanggung jawab! Saya TIDAK TERIMA!!! SELAMAT SIANG!!!” Eka , Ratna dan Rita pergi dari tempat itu.


Di tempat parkir, Eka sangat marah, ia memukul-mukul stir mobil


“Sial..sial..sial!!!” teriaknya

__ADS_1


“Sudahlah Pa, yang penting Rita selamat!” ujar Ratna menenangkan


Eka memandang Rita yang wajahnya bengkak–bengkak


“Kamu gak apa-apa Rit?” tanya Eka, Rita menggeleng. Eka langsung menyalakan mobilnya, ia membawa Rita ke Rumah Sakit terdekat untuk divisum, lalu mereka melaporkan kejadian itu ke kantor polisi, serta memberikan bukti yang berhasil Rita kumpulkan.


Keesokan harinya Rita tidak masuk sekolah, tapi ia mendengar pelatih, kepala sekolah , Amanda serta gengnya dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa, kejadian itu menghebohkan seluruh penghuni sekolah. Dari situ terungkap beberapa perundungan yang kerap terjadi, terutama dilakukan oleh anak-anak dari keluarga mampu ke anak-anak beasiswa. Para guru juga dimintai keterangan oleh polisi.


Kakek Amanda yang merupakan pemilik sekolah, tentunya sangat malu, ia meminta maaf secara pribadi kepada kakek Sugiyono, dan meminta kakek Sugiyono membujuk Rita untuk tidak meneruskan kasusnya.


“Kamu mau aku meminta Rita menghentikan kasusnya?”


“Iya Kak!, Lagi pula Rita juga sudah membuat Amanda dan gengnya jera, ini hanya masalah anak-anak!”


“Masalah anak-anak katamu? Aku melihat rekamannya, cucumu berusaha menyilet wajah cucuku, itu tindakan kriminal!” ujar Sugiyono marah


“Tapi kan gak kena Kak!”


“Jadi harus luka dulu, baru boleh dibilang kekerasan?”


“Maafkan Aku Kak! Tidak mendidik Amanda dengan baik. Amanda itu kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Aku sebagai kakeknya kurang memperhatikannya. Agaknya Amanda iri dengan Rita yang memiliki papa-mama yang baik, serta orang-orang sekitar yang sayang padanya, sehingga timbul keinginan untuk merundungnya.”


“Kamu mengarang? Supaya aku kasihani?”


“Aku bisa memberikan bukti percakapan Amanda dengan psikiaternya, kak!”


“Psikiater? Apa Amanda mengalami gangguan jiwa?”


“Dia mengalami kecemasan berlebihan, anehnya sejak ia merundung Rita kecemasan itu hilang”


“Aku pikir, biarkan pengadilan yang memutuskan, Aku gak yakin Amanda dan gengnya akan masuk penjara”


“Tapi kak, Amanda akan memiliki catatan buruk, sebagai kriminal kalau kasus ini berlanjut!”


Sugiyono memandang kakek Amanda, awalnya ia kesal, tapi lama kelamaan ia mengerti perasaan seorang kakek.


“Baiklah! Aku akan bicarakan dengan Eka dan Ratna, mudah-mudahan mereka mau menarik kasus ini”


“Terima kasih Kak! Aku tidak akan melupakan kebaikan kakak!, Aku tunggu kabar baiknya!” Kakek Amanda pergi meninggalkan kediaman Sugiyono


Kakek Sugiyono menelpon Ratna, dan memintanya datang ke kediamannya.


Keesokan harinya, Rita dan kedua orangtuanya sudah berada di kediaman kakek Sugiyono. Rita menyalami kakeknya


“Apa kabar kek?” tanyanya manja


“Baik Rita, kamu sudah sehat?” tanya kakek, ia memutar tubuh Rita untuk melihat luka-lukanya


“Sudah sembuh pa!” Ratna mencium punggung tangan papanya, begitu juga dengan Eka


“Ayo kalian duduk!” ketiganya menurut , mereka duduk di berhadapan dengan kakek


Sugiyono menceritakan kedatangan kakek Amanda, dan beliau meminta Rita mempertimbangkan kembali kasusnya. Sebelumya Eka agak marah, ia tidak terima permintaan kakek untuk mendrop kasus itu. Rita memikirkan keadaan Amanda dan teman-temannya, tiba-tiba Rita berkata


“Kalau Rita menghentikan kasusnya, apa pelatih juga akan bebas?”


“Pelatih?”


“Dia sebenarnya dalang semua ini!” ujar Ratna


“Kalau begitu lebih mudah, karena pelatih itu orang dewasa, ia bisa dituntut secara terpisah, karena ia yang memobilisasi Amanda dan gengnya untuk merundung kamu!, kakek bisa mengaturnya!”


“Pa, kenapa papa membela Amanda? Apa karena kakeknya adik kelas papa? Apa papa pernah berhutang budi padanya?” tanya Ratna heran


“Aku mendengar dan melihat sepak terjang Rita, jujur aku bangga padanya. Selama ini Aku sangat takut dengan sifat manjanya, tapi dengan orang-orang seperti Amanda, justru membuatnya kuat, iya kan Rit?”


“Tapi Kek, Rita hanya membela diri! Tidak bermaksud melukai!”


“Itulah Pelajarannya Rita, orang hidup itu harus bisa bertahan, semakin kuat musuh, kamu harus semakin kuat!” ujar Sugiyono lagi


“Tapi pa, kalau Amanda masih merundung Rita bagaimana?” tanya Eka khawatir


“Kalau terjadi kedua kali, Kakek pastikan, sekolah itu, dan semua usaha kakek Amanda akan kubuat BANGKRUT!!!” ujar kakek Sugiyono tegas

__ADS_1


-bersambung_


__ADS_2