
Rita menemani Sisca selama masa pemakaman kakeknya dan berkabung, kira-kira seminggu lebih Rita tinggal di rumah Sisca. Sisca terkejut ketika mamanya datang ke pemakaman kakek dalam keadaan segar bugar, seperti orang yang tidak pernah sakit sebelumnya.
“Mama! Mama kemana saja? Kakek sudah pergi, mama tidak ada Sisca sendirian!” tangis Sisca pecah ketika ia melihat mamanya di pemakaman
Reaksi Sandra sangat datar, ia tidak terlihat bersedih. Ia hanya terdiam, mengantarkan sang ayah tercinta ke peristirahatan terakhir.
“Rit, mama kog diam saja ya? kayaknya gak sedih?”
“Ssstt...justru itu yang bahaya Sis, kesedihan yang mendalam justru tidak tampak dari luar. Lo harus terus dampingi nyokap Sis.” Bisik Rita saat sedikit demi sedikit tanah menutupi peti mati kakek Sisca. Tiba-tiba Sandra jatuh terduduk, ia berusaha ikut masuk ke dalam lubang kubur, syukurlah Rita, Sisca dan beberapa orang di situ menahannya.
“Papaaa....kenapa pergi? Sandra sama siapa papa??” tangis Sandra pilu. Sisca semakin berurai air mata, ia menyadari selama ini kakeklah yang menjadi penyangga semua kesusahan mama dan dirinya. Sisca pun turut berlutut menangisi kepergian kakek tercinta. Upacara pemakaman selesai, satu persatu tamu dan kerabat meninggalkan pemakaman, mereka kembali ke rumah duka.
“Sis, ayo pulang!” ajak Rita sambil memegang kedua lengan Sisca untuk membantunya bangun, Sisca menurut, ia membantu mamanya untuk berdiri, dengan tertatih mereka kembali ke rumah duka dengan menaiki mobil Rita. Sepanjang jalan Sandra membisu, pandangannya kosong. Sisca mengajaknya berbicara.
“Ma, selama ini mama kemana? Sisca terus menghubungi dan menelpon mama tapi tidak ada jawaban!”
“Mama pergi ke suatu tempat Sisca untuk memulihkan diri. Mama baru tahu papa gak ada setelah salah satu teman mama memberitahukan melalui berita yang ia lihat di koran”
“Di koran? Tapi Sisca tidak membeli kolom di koran untuk pemberitaan Ma?”
“Mama juga gak tahu, tapi teman mama menunjukkan foto papa di kolom obituari. Katanya ada beberapa koran yang mengabarkan hal yang sama”
“Aku Sis yang memasang obituari di beberapa koran, aku berharap tante atau teman tante bisa melihat berita kepergian kakek.”
Sisca tertegun, ia sangat terharu dengan perhatian Rita, ia memeluknya
“Terima kasih Rit, aku sangat terharu sekali” ujarnya.
Sisca telah berkumpul kembali dengan mamanya, saatnya Rita kembali pulang.
“Sisca, Tante, aku pamit pulang ya, sudah lama aku meninggalkan rumah, mama dan kakekku sudah menungguku”
Sisca mengangguk, ia kembali memeluk Rita, begitu pula Sandra, mereka mengantarkannya hingga pintu keluar. Mobil Rita berjalan meninggalkan kediaman Sisca, di dalam mobil Rita mengecek pesan di ponselnya. Ia tidak menemukan pesan baru dari Daniel.
“Alex, coba kita ke kantor Dar.co”pinta Rita kepada Alex supir barunya.
“Ya miss”Alex mengarahkan mobil menuju kantor tempat Daniel bekerja, beberapa menit kemudian mereka pun sampai.
“Alex, kamu masuk ke dalam, pura-pura menjadi kurir. Bilang kamu harus mengantarkan dokumen yang harus di terima pak Daniel” pinta Rita
Alex mengerjakan perintah Rita, beberapa menit kemudian ia kembali.
“Pak Daniel masih di London Miss, ia akan kembali lusa!”
“Oooh, apa kamu ketahuan?”
“Ketahuan siapa?”
“Ada yang mengenal kamu?”
“Saya orang baru miss, saya juga belum mengenal pak Daniel”
“Oh iya, baiklah,Kita pulang Lex!” ajak Rita
Mobilpun meninggalkan kantor dan kembali ke rumah besar. Sesampainya di sana, Alex mengeluarkan koper Rita dan memberikannya kepada Lee.
“Selamat datang mba Rita!” sapa Lee
“Selamat Siang Lee, ada siapa sekarang di rumah?” tanya Rita, ia begitu lelah padahal ia hanya diam saja di mobil.
“Mas Andi masih di Singapura, pak Darmawan juga masih di London, jadi hanya kami saja yang di rumah”
“Oo, aduh badanku pegal-pegal, tubuhku kotor, ingin mandi lebih lama tapi aku kelelahan” keluh Rita, ia kembali ke kamarnya. Setelah berganti pakaian ia pun berbaring di ranjangnya
“Ah..kamu pergi gak ada kabar Niel!!” gumamnya mengantuk. Beberapa menit kemudian suara ketukan pintu di kamarnya, Lee pun masuk
“Mba Rita, aku sudah menyiapkan spa, para terapis juga sudah siap memberikan perawatan untuk mba!”
“Hah spa?” Rita kaget, ia pun segera berganti pakaian, ketika ia keluar kamar, ia sungguh kaget karena salah satu staf membawakannya scooter kecil berpenumpang dua orang.
“Ini apa?”
“Silakan duduk mba!” ujar salah satu terapis
“Bu Lee bilang Anda sangat kelelahan, jadi akan lebih cepat jika menaiki ini!”
Rita menuruti, ia di bawa ke ruang lain di rumah itu. Rumah itu benar-benar luas dan besar, jarak antar kamarnya kira-kira 8 meter. Rita di bawa ke ruang lain di rumah itu, tak henti ia terkagum-kagum, padahal sudah setahun di rumah itu, baru kali ini ia benar-benar diajak berkeliling di dalam rumah itu.
“Hmm,..namamu siapa?” tanya Rita kepada staf itu
“Saya Ida miss”
“Oh Ida, sudah berapa lama Anda bekerja di sini?”
“Hmm...hampir 12 tahun saya bekerja di sini”
“Apakah Anda nyaman bekerja di sini?”
“Sangat nyaman, Kami yang bekerja di sudah sudah bertahun-tahun miss, bahkan beberapa senior kami yang sejak dulu bekerja di sini bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga tingkat universitas.”
“Benarkah?”
“Iya, pak Darmawan memberikan beasiswa bagi anak-anak para pekerja di sini, fasilitas kesehatan, kadang liburan. Beliau bilang, semua yang bekerja padanya harus bahagia” ujar staf itu tersenyum
“oo begitu, apa ada juga yang tidak betah?”
“Biasanya kalau ada yang tidak betah kerja di sini itu karena mereka serakah, ingin mendapatkan gaji yang lebih banyak, tetapi ketika sudah keluar dari sini mereka menyesal. Ternyata di sini jauh lebih baik”
__ADS_1
“Apa mereka boleh kembali ke tempat kerjanya semula?”
“Tidak boleh, ketika satu orang keluar, segera ada penggantinya. Itu sistem yang dibuat tuan Darmawan. Ia tidak suka ada posisi yang kosong karena ditinggal seseorang
“Oo begitu, ada berapa staf yang bekerja di rumah ini?”
“Total 200 orang, termasuk bagian keamanan”
“Apa kalian juga tinggal di rumah ini?”
Staf itu mengangguk
“Bagian samping kanan rumah ini ada bangunan lain kan, nah itu tempat kami tinggal.”
“Ida, kalau gak keberatan bisa kamu mengajakku tur mengelilingi rumah ini sebelum ke bagian spa?” pinta Rita
Ida mengambil Htnya dan memberitahu bagian spa tentang keinginan Rita menunda perawatan
“Sudah mba, mereka akan menghangatkan kolam rendaman ketika Anda siap!”
“Terima kasih!”
Rita diajak berkeliling rumah besar, ternyata ada fasilitas gym yang sama lengkapnya dengan gym yang selama ini ia kunjungi. Ia juga menemukan lapangan olah raga indoor.
“Lapangan ini serbaguna miss, bisa menjadi lapangan indoor dan outdoor. Anda lihat atapnya kan? Itu bisa dibuka tutup”
“Oooo” Rita terkagum-kagum
Ia juga menemukan tempat ibadah di sana, ada mushola yang cukup besar, gereja dan pura dan vihara
“Wow, kakek juga menyediakan ini?”
“Iya, kami melakukan peribadatan sesuai keyakinan kami, tuan Darmawan selalu bilang pegawai itu bisa bahagia jika kebutuhan rohani dan jasmaninya terpenuhi. Jadi tempat ibadah ini tempat kami memenuhi kebutuhan rohani kami”
“Ooo”
“Eh Ida, gedung di luar itu apa?” Rita menunjuk sebuah bangunan yang menghadap ke arah berlawanan, ia telah berada di bagian belakang rumah besar
“Itu tempat kami bertanam miss. Pak Darmawan mempekerjakan orang untuk menanam tanaman secara organik. hasilnya kami konsumsi sendiri dan penghuni rumah ini tentunya. Ia sengaja membangun gedung itu, seperti green house yang bertingkat!”
“Wow, bagaimana dengan telur dan daging?”
“Untuk telur dan Daging, beliau membuat peternakannya dekat dengan kandang Kuda”
“Ohhh bangunan itu?”
“Iya, disitu ada kambing, sapi serta ayam.”
“Tapi gak ada ikan ?” tanya Rita
“ Ikan di bagian bawah gedung tadi miss. Hampir semua kebutuhan jasmani rumah ini dan stafnya bisa dipenuhi sendiri”
“Pak Darmawan sengaja membuat peternakan yang saling berdekatan, supaya bisa mengumpulkan kotoran dari ternak untuk dijadikan bio gas. Setelah jadi gas, akan dikumpulkan lalu dialirkan ke rumah ini dengan pipa-pipa di dalam tanah!”
“Wow!, kalau minyak goreng?”
“untuk sementara kami membelinya di supermarket terdekat, tetapi tidak beberapa lama, kami akan panen bunga matahari, nah biji bunga itu akan diolah menjadi minyak canola. Itu akan lebih sehat”
“Bagaimana pengolahannya?”
“Beliau sudah membeli mesinnya, beberapa tenaga kontrak juga telah disiapkan untuk menghadapi panen raya”
Rita sungguh terkagum-kagum dengan pemikiran kakeknya. Akhirnya ia sampai di salon.
Bak mandi berukuran 2 orang dewasa di taburi bunga dan susu telah siap menerima tubuh Rita yang kelelahan. Satu jam berendam, ia mengeringkan diri, seorang terapis memijat tubuhnya yang lelah. Setelah pemijatan selesai, staf lain melakukan perawatan wajah dan seluruh tubuh. Hari itu, ia sungguh seperti putri kerajaan.
“Ida, jika aku ingin perawatan seperti ini, aku harus pesan dulu sebelumnya?”
Ida tersenyum geli
“Anda bisa kapan saja datang, maksimal 1 jam untuk kami mempersiapkan semuanya!”
“Hmm..begitu”
“Oh iya, kita kembali ke kamar Anda untuk berganti pakaian? Bu Lee bilang bagian dapur telah menyiapkan hidangan lezat untuk Anda”
Rita mengangguk tersenyum, mereka pun kembali ke kamar.
“Terima kasih Ida” ujar Rita
“Miss, apa saya perlu menaruh scooter di sini? Siapa tahu Anda ingin berkeliling ke tempat lain di rumah ini?”
“Hmm...ada tempat yang belum saya kunjungi?”
“Ada, bagian hiburan!”
“Oh ya? kamu bisa mengantarkan? Kamu bisa menemani saya makan “ pinta Rita
Ida mengangguk senang. Setelah Rita berganti pakaian, merekapun ke ruang makan.
Rita meminta Lee dan Ida menemaninya makan
“Aku sangat kesepian jika harus makan sendirian, aku gak habis pikir bagaimana kakek bisa hidup sendirian tanpa orang lain di sisinya?”
“Sebenarnya fasilitas spa dan salon itu permintaan nyonya, ia ingin mempergunakan ruang kosong di rumah ini” ujar Lee
“Nyonya?”
__ADS_1
“Nenek Anda maksud saya”
“Oo, sekarang Nenek di mana? Aku dengar beliau tinggal di Indonesia dua tahun terakhir?”
“Nenek Anda sekarang selalu mendampingi pak Darmawan, menurut beliau sudah seharusnya seorang istri menemani suaminya”
“Oooh!, Lee kamu tahu bagian hiburan di rumah ini?”
“Tentu saja!, Mba Rita mau kesana setelah ini?”
“Iya, aku dan Ida mau kesana!”
Lee tersenyum mengangguk. Setelah makan siang, Ida membawa Rita kebagian lain dari rumah itu, yaitu bagian hiburan
Kali ini Lee yang menemaninya tur dalam rumah. Scooter memebawa mereka ke bagian lain dari rumah
“Ini restaurant cepat saji, di situ tempat permainan” Lee menunjukkan sebuah ruangan yang luas, di situ terdapat beberapa booth dari restaurant cepat saji , beberapa permainan arcade, permainan mesin game dari tahun 80-an, serta bagian trampolin.
“Dulu mas Eka selalu main di sini, ia suka arcade star wars. Tn. Darmawan sengaja mengimpornya untuk membuatnya senang. Trampolin ini untuk mas Andi, sewaktu kecil ia senang bermain ini.” Cerita Lee
“kalau yang di bungkus ini apa? kelihatannya masih baru?” tanya Rita heran
“Ini?” Lee tersenyum, kemudian ia mengambil alat untuk membuka permainan baru yang dibungkus. Ternyata sebuah motor dengan VR
“wow! Ini buat siapa Lee?”
“ini buat mba Rita, sebenarnya ini hadiah dari bu Metha. Beliau bilang ia sengaja memesan ini untuk keponakannya, tapi tidak bisa tepat di hari ulang tahun Anda”
“Waahhh...tante tahu sekali kesukaan Rita!” ia bersorak, kemudian ia mencoba permainannya
Beberapa menit kemudian
“Nanti aku lanjutkan, lalu apa lagi? Yang itu apa? itu juga masih dibungkus?”
Lee kembali membuka permainan baru, ternyata berupa tikus sembunyi. Pemain akan memukul tikus yang muncul dari 9 lubang secara bergantian
“Ini hadiah dari nenek untuk Anda mba!” ini juga baru datang seminggu lalu bersamaan motor itu
“ooo, aku harus mengucapkan terima kasih pada nenek dan tante Metha”
“Nah ini kejutan selanjutnya!”
Lee membuka permainan lain yang terbungkus kain hitam
“Apa itu Lee?”
“Ini dari pak Daniel, dia bilang ia akan meminjamnya sewaktu-waktu datang kemari”
Rita menarik kain hitam pembungkus permainan, yang ternyata alat tinju
“Wow!!” Rita terkejut melihat kado dari Daniel
“Dia gak bilang apa-apa tentang kado ini?”
“Mungkin beliau agak sungkan, karena Anda menerima kado mobil dari Pak Radian.”
“Oo, begitu” Rita tersenyum dan mencoba alat tinju mekanik tersebut
“Sudah semua Lee?” tanya Rita
“Tempat hiburan lain, yaitu bioskop!” Lee mengajaknya ke ruangan yang di desain seperti bioskop.
“WOW, ini kapasitas berapa orang Lee?”
“Sekitar 15 orang, kursinya bisa di panjangkan, hingga yang nonton bisa tiduran!”
“Ooo” Rita duduk di suatu tempat di bioskop itu. Tiba-tiba lampu di matikan, layar bioskop dengan suara jernih layaknya bioskop mahal di luar sana. Mulai menayangkan film.
Film yang ditayangkan berupa masa muda pak Darmawan, pernikahan, kelahiran Eka. Eka ketika masih kecil, remaja dan dewasa. Rita meneteskan air mata ketika ia melihat film ketika papanya sakit dan meninggal. Kemudian ia tertawa melihat masa kecil Andi dan dirinya, lalu film selesai
“Lee, kenapa kakek tidak pernah menunjukkan film ini sebelumnya?”
“Tn.Darmawan mengumpulkan banyak dokumentasi tentang Mas Eka, film itu baru selesai awal tahun ini. Beliau juga sering menontonnya jika ia kembali dari luar negeri”
“Oo begitu, Aku baru tahu tentang papa Eka, dia sangat mirip kak Andi”
“Betul, beberapa sifatnya sama persis”
“Sudah berapa lama Anda bekerja di sini Lee?”
“Hampir 35 tahun, aku bekerja di sini ketika berusia 18 tahun, waktu itu mas Eka berusia 8 tahun”
“Apa Anda mempunyai anak Lee?”
Lee mengangguk
“Anakku 3 mereka semua bekerja di luar negeri hanya sesekali pulang kemari.”
“Apa Anda akan pensiun ?”
“Aku harap tuan Darmawan akan terus mempekerjakan selama aku masih kuat. Aku sangat suka bekerja di sini”
Rita tersenyum, kemudian mereka kembali ke ruang utama
“terima kasih atas turnya Lee, mulai sekarang aku akan mempergunakan semua fasilitas di rumah ini!”
Lee mengangguk, Rita kembali ke kamarnya
__ADS_1
_ bersambung_