
“Sayang, aku berangkat ya?” pamit Rita pada Daniel yang sedang tertidur
“Huh? Berangkat? Kemana?” tanyanya setengah sadar
“Ke tempatnya Lisa, aku harus make up di sana jam 7, akad nikah jam 8”
“hmm...make up nya jangan berlebihan! Jangan sampai pengantin lelaki goyah melihat kamu!”
“Ah kamu bisa saja!, nanti kamu datang gak?”
“Harus ya?”
“Ya terserah sih, kalau mau datang kabarin ya? acara resepsinya jam 10.00, selesai jam 2”
“Acaranya di rumah Lisa?”
“Iya, itu undangannya aku taruh di atas meja”
“Makanan bagaimana?”
“Sudah beres di lemar.ASI anak-anak juga sudah. Semua sudah beres!” Rita saat itu mengenakan dress warna krem yang sebelumnya dipakai saat pernikahan Saye di Swiss. Daniel memperhatikan istrinya
“Dressnya gak terlalu mencolok?” tanyanya
“Eh? Memangnya terlalu mencolok?” tanya Rita, ia mulai ragu pada pilihan pakaiannya
“Menurut ku dress itu lebih cocok untuk acara di gedung”
“Jadi aku pakai apa dong?”
“Batik waktu nikahan Rosy juga bagus, membumi”
“Aku gak bawa”
“Ya udah, pakai itu saja!” Daniel kembali ke bantalnya, sementara Rafa tidur di sebelahnya.
Rita keluar kamarnya lalu menemui mamanya
“Ma, kata Daniel dress ini berlebihan untuk nikahan di rumah?” tanya Rita ke mamanya yang sedang membaca tablet. Ratna memperhatikan
“Iya sih, tapi gak apalah kalau akad nikah kamu kan jadi tamu. Kalau resepsi berlebihan itu gak boleh karena kamu kan jadi pagar ayu”
“Iya juga ya? kalau pas akad jadi tamu lebih baik Rita touch up sendiri ya?”
“Mama saja deh yang rias, supaya gak berlebihan!”
“Asyikk!!” Rita kembali masuk ke kamarnya dan mengambil perangkat make upnya, lalu memberikan ke mamanya.
“Make up biasa saja ma, Daniel bilang jangan berlebihan nanti groom nya goyah!” ujar Rita
“Ah Daniel bisa saja muji istrinya, tenang saja mama sudah pro!” dengan tangan ringan Ratna mengoleskan make up ke wajah Rita, sementara Rita mengirim pesan ke Andien kalau dia sudah di make up jadi tidak perlu lagi MUA.
“Lisa ini teman SMA kamu Rit?”
“Iya ma, ayahnya pengawas sekolah Rita, dia pintar banget berkali-kali juara umum”
“ooo,...tapi tumben ya?”
“Tumben kenapa ma?”
“Biasanya kalau anak pintar kayak gitu, ngejarnya karir dari pada asmara”
“Katanya terinspirasi Rita”
“Hahaha..kamu jadi standar baru mereka ya?, oke Rit sudah selesai!”
Rita berkaca,
“Wow! Simple tapi berkelas!” Rita mengagumi hasil riasan mamanya, lalu ia hendak ke kamar. Ia melihat Daniel keluar dengan mengenakan kaos putih dan celana boxernya.
“Kamu mau kemana?” tanya Rita
“Aku lapar, ada agak roti gak?” tanyanya
“Ada, tapi pakai celana yang agak panjang say, malu ada mama dan para suster” Rita ke kamar dan diikuti suaminya. Ia membuka tas besar dan memberikan celana selutut , Daniel segera memakainya.
“Ini baru?” tanyanya
“Iya dong, kemarin lagi diskon. Aku sudah cuci kemarin jadi tinggal pakai”
Daniel menyukai celana itu, lalu ia keluar kamar lalu menuju dapur dan mencari roti di lemari penyimpanan.
“Say, aku berangkat ya?” teriak Rita
“Yaaa!!!” jawab Daniel, lalu ia teringat sesuatu, ia langsung berlari keluar rumah, ia melihat Amin membantu istrinya mengeluarkan motor listrik.
“Eh kamu mau naik itu?” tanyanya heran
“Iya dong! Praktis lucu kan?” ujar Rita, dengan cueknya ia membawa tas berisi pakaian resepsi, dompet serta ponsel
“Daahhh!! Sayang!!” ujarnya riang. Daniel melambaikan tangannya wajahnya setengah tidak percaya ia kembali ke dalam rumah dan bertemu ibu mertuanya di dalam.
“Ma!” ia menyalami Ratna
“Baru datang Niel?” tanya Ratna
“Tadi subuh ma”
“Kenapa wajah mu kelihatan heran?”
“Itu si Rita, masa bajunya bagus, eh perginya naik bajaj”
“Hah? Dia naik motor listrik itu?” mamanya keluar hendak mencegah
“Sudah jauh ma, lumayan kencang lagi bawanya”
“Anak itu benar-benar deh! Mama kira diantar Amin” Ratna menggerutu
Daniel kembali ke dapur dan membuat beberapa sandwich, ia menggunakan semua roti yang Rita beli kemarin. Setelah selesai sandwichnya jadi, ia mengambil beberapa dan memakannya sendiri di meja makan. Sisa sandwich yang masih ada ia taruh di dalam lemari es kemudian ia kembali ke kamar dan memeriksa pesan di ponselnya.
“huuuu...mamiiii” tangis Rafa, ia terbangun
“Hey Bang! Kenapa nangis?” tanya Daniel yang duduk di samping Rafa, ia bangun lalu mengambilkan susu yang telah disiapkan Rita sebelumnya.
“Minum ini Bang, jangan nangis ya?” Daniel memangku anaknya lalu menunjukkan video lucu melalui ponselnya.
Sementara Rita telah tiba di rumah Lisa, kedatangannya dengan motor roda tiga menarik perhatian para tamu.
“Bang, parkir di mana nih?” teriak Rita pada tukang parkir.
“Di sini neng, di bagian mobil saja, nih ada celah!”
“Oke!” Rita mengarahkan motornya ke tempat itu. Setelah menutup jendela motor, dengan santainya ia keluar dari motor dengan membawa tasnya. Tukang parkir dan beberapa orang yang membantu menatapnya dengan wajah heran.
“Titip ya bang!” ujar Rita ramah
“Iya neng!” jawab bang parkir tersipu karena ditegur cewek cakep.
Rita masuk ke rumah Lisa dan mencari Andien.
“Hey Dien!” panggilnya, Andien mengenakan kebaya berwarna krem , ia menghampiri Rita
“Alhamdulillah, baju kita warnanya sama” ujar Andien lega
“Hehehe..padahal gak janjian ya? Qowi mana?”
“Lagi di make up!, yuk ke kamar riasnya Lisa”
Mereka berdua berjalan menuju kamarnya Lisa dan bertemu dengan Indra
“Hey! Rita!” sapa Indra ramah, ia kaget bisa bertemu Rita di tempat itu
“Eh Kak Indra, apa kabar? Sudah lama di sini?” tanya Rita tersenyum
“Sejak kemarin!, tadi ngasih sesuatu ke Lisa titipan dari Farhat. Wah Rita makin glowing saja!”
“Terima kasih Kak! Padahal kena matahari terus lho!” canda Rita
__ADS_1
“Hahaha...oke deh, kakak kembali ke groom dulu ya?” Indra meninggalkan mereka berdua
“Dien, katanya lo PDKT sama Indra kok diam-diaman?” bisik Rita
“Nanti gue ceritain!” jawab Andien
“Assalammu’alaikum!” sapa Rita dan Andien masuk ke kamar Lisa
“Wa’alaikummussalam! Masuk Rit!” jawab Lisa, wajahnya terlihat lega melihat para sahabatnya telah datang menemaninya
Lisa mengenakan kebaya berwarna putih gading bergaya khas Jawa Barat, ia terlihat anggun dan cantik.
“Masya Allah, cantik banget!!” puji Rita
“Masa sih? Kayaknya lebih cantik lo deh!” jawab Lisa
“Jangan begitu! This is your day! Enjoy, don’t think too much!” ujar Rita menenangkan
“Jangan pakai bahasa Inggris dong! Gue kan orang Indo asli!” protes Andien
“Artinya hari ini hari Dia, nikmati saja, jangan terlalu banyak berpikir!” ujar Qowi yang tiba-tiba bergabung dengan mereka.
“Wuidiih Qowi, nak cantik!!” puji Rita
“Ah terima kasih, ini dalam rangka pencarian pendamping. Siapa tahu setelah Lisa gue bisa nikah juga” ujar Qowi
“ciye...ciye..Qowi!” goda Rita
“Jadi Dien, gimana cerita lo?” tanya Rita
“Hey! Ini kan acara gue, kenapa harus ada cerita tentang orang lain?” protes Lisa
“Sorry deh Lis, btw lo sudah selesai rias kan? Nanti akadnya lo diam di sini dulu atau langsung di samping groom?” tanya Rita
“Katanya sih, gue di sini dulu sampai nanti dipanggil” wajah Lisa begitu serius
“Lo kenapa sih Lis? Dari kemarin berkerut terus? Sudahlah santai saja! Urusan akad itu urusan lelaki, lo tinggal datang pas dipanggil. Tanda tangan selesai deh!” ujar Rita berbagi pengalaman
“Gue takut Rit!” jawab Lisa dengan suara khawatir
“Kenapa takut?” tanya Rita
“Kalau nanti pernikahan gue gak berhasil gimana? Apalagi lo baca kan, di suatu daerah di Jawa Barat angka perceraian mencapai 50%, rata-rata karena menikah usia muda”
“Nah, kalau Lo Cuma baca headlinenya saja pasti serem, tapi kalau lo baca penyebab perceraian, menurut gue, lo berdua bisa atasi deh”
“Maksud lo Rit?” tanya Andien
“Rata-rata perceraian itu karena suaminya tidak memberi nafkah, terutama nafkah materi. Sedangkan Kak Farhat kan sudah pasti bekerja sebagai ASN, lo juga ada kerjaan, insya Allah jauh dari yang 50% itu” ujar Rita optimis
“Tapi Rit, pernikahan berhasil atau tidak itu kan bukan hanya karena latar belakang ekonomi?” ujar Lisa, Qowi dan Andien hanya menyimak pembahasan yang cukup berat
“Itu betul! Tapi faktor ekonomi biasanya yang utama Lis!, bayangin nih, sudahlah suami gak kerja, eh dia kasar, atau main perempuan. Nah biasanya, langsung deh si istri gak ada toleransi, cerai saja! Apalagi zaman now perempuan itu lebih mudah dapat kerja dibandingkan lelaki” jawab Rita
“Tapi Rit, kalau misalnya nih, okelah masalah ekonomi bisa kita atasi, tapi masalah yang lain bagaimana?”
“Misalnya apa?”
“Politik, sosial dan budaya?” sambung Andien
“Hahahaha!!!”mereka tertawa lepas
“Dasar! Masih ingat lo jawaban UTS kemarin!” ujar Qowi
“Hehehe...habis sih Lisa ini terlalu keminter, kadang mengkhawatirkan sesuatu yang bukan urusannya! Nih ya Lis, nyokap gue bilang yang namanya hubungan dua orang itu pasti ada gak cocoknya. Jangan kan berbeda jenis, sesama jenis saja kayak kita nih sering banyak beda, bahkan sering ribut kan? Tapi kalau masing-masing kita bisa saling toleransi, pasti bisa langgeng kayak persahabatan kita!” ujar Andien panjang lebar
Ketiga temannya bengong mendengar celotehan Andien yang sangat bijak
“Wi, kayaknya teman kita ini habis sarapan super food deh, bijak banget omongannya!” ledek Rita
“Iya nih, lo kalau sarapan bagi-bagi dong Dien! gue lapar nih!” jawab Qowi
“Ah kalian itu, selalu anggap gue kekanakan ya? makanya kaget kalau omongan gue bijak?” protes Andien
“Bercanda kali Dien, kata-kata lo itu berat dan bener! Makanya kita heran!” ujar Rita tersenyum
“Nah gitu dong! Hari bahagia masa gak bahagia?” Rita mengajak ketiga temannya untuk wefie
“Lisa!” tegur mamanya masuk ke kamar rias
“Tante!” Ketiga teman Lisa menyalami mamanya Lisa
“Kenapa Ma?” tanya Lisa heran
“Kamu gak angkat ponsel mu? Farhat nelponin terus, tadi dia sampai menghubungi mama!”
“Eh ponsel? Maaf maa!” Lisa mencarinya di sekitar tempat tidurnya
“Kamu itu, harusnya stand by sama telepon, kan kalau ada apa-apa kamu yang dihubungi” tegur mamanya lagi
“Lisa kan pengantinnya ma, masa harus repot?” protes Lisa.
Rita dan Qowi meninggalkan Lisa dan mamanya di kamar, sedangkan Andien membantu mencari
“Nanti kalau sudah ketemu, kamu langsung hubungi orang-orang yang nelpon kamu ya?” pesan mamanya
“Yes boss!” canda Lisa, mamanya keluar dari kamar.
“Nih dia Lis, kenapa lo taruh di sini? Tersembunyi?”
“Ini gegara si Johny!”
“Johny? Sepupu lo?”
“Iya, dia maksa minta nomornya Rita, dia naksir berat. Kemarin diam-diam dia mau buka ponsel gue, untung gue kunci pakai password jadi dia gak bisa buka”
“Kok dia berani buka ponsel sepupunya?” tanya Andien heran
“Dibilangin, dia naksir berat sama Rita. Dia bilang mau mendekati”
“Lo gak bilang Rita sudah nikah dan punya anak dua? Sekarang juga lagi hamil?”
“Sudah! Awalnya gak percaya, setelah gue tunjukin sosmednya baru dia percaya”
“Tapi kok masih maksa?”
“Dia bilang, gak apa-apa dapat jandanya!”
“Ih gokil juga ya si Johny, padahal dia juga cakep tapi kok kayak gitu? Kenapa dia gak ngincer gue atau Qowi saja yang jelas-jelas single?”
“Qowi terlalu galak katanya, kalau Lo terlalu kekanakan bukan seleranya!”
“ah sial kenapa pada begitu sih sama gue!” protes Andien
Lisa membuka ponselnya, lalu menghubungi beberapa orang yang miscall dia. Andien keluar dari kamar dan membiarkan Lisa sendiri, ia menghampiri kedua temannya yang sedang sarapan.
“Sarapan dulu Dien!” Rita menawarkan
“Enggak ah, gue pakai stagen nih, perut gue kepencet!” jawab Andien agak kesal
“Kenapa lo kayak orang ngambek?” tanya Qowi
“Enggak!” jawab Andien ketus
“Heh! Sudah dandan cakep-cakep kalau manyun nanti gak ada yang naksir lho!” goda Rita
“Gue heran deh, apa muka gue memang kayak anak-anak? Sampai cowok-cowok juga menganggap gue anak-anak?” ujar Andien tiba-tiba
“Lo imut Dien! laki gue ingat sama lo karena Lo imut!” jawab Rita sambil menyantap bubur ayam
“Laki lo inget gue?” tanya Andien heran sekaligus senang
“Iya! Laki gue gak ingat nama, tapi ingat karakter, Qowi dibilang si Rusia, Lisa si pandai dan Andien si Imut” jawab Rita
“Gue si Rusia? Lo cerita bokap gue dari Rusia?” tanya Qowi
“Sebelum gue cerita dia sudah bilang, katanya wajah lo itu berkarakter Rusia!” jawab Rita lagi
__ADS_1
“Ooo begitu?” Qowi mengangguk
“Terus laki lo bilang apa tentang gue?” tanya Andien
“Ya elo si imut! Cute!”
“Gitu doang?”
“Iya! Memangnya dia mau ngomong apa? itu pujian Dien, artinya lo awet muda!”
“Awet muda! Ini lebih kutukan! Gue sebel! Kemarin gue nembak kak Indra, eh terus dia bilang gue dianggapnya adik kecil!” cerita Andien
Qowi dan Rita terdiam, mereka menatap wajah Andien dengan wajah tak percaya
“Kenapa Lo pada?”
“Lo nembak Dien? kok bisa?” tanya Rita dan Qowi bersamaan
“Habis gue gak sabar dan penasaran jadi gue tanya saja langsung”
“Kapan tuh?” tanya Qowi
“Hmm...setelah Rita pulang deh, kan elo sama Lisa. Indra datang, biasa dengan wajah ramah setelah basa-basi, gue nanya deh”
“Bisa ceritain lebih detail gimana lo nembaknya?” tanya Rita
“Hmm...setelah kita tertawa-tawa, gue langsung pasang muka serius. Kak Indra, Aku suka kak Indra, menurut kakak gimana?”
“Terus?” tanya Rita dan Qowi bersamaan
“Kalau dari mukanya sih kelihatannya dia kaget, terus dia duduknya menjauh”
“Terus dia bilang apa?” tanya Rita
“Maaf ya Dien, aku sudah menganggap kamu adik, maaf kalau selama ini bikin kamu salah paham”
“terus lo bilang?” tanya Qowi
“Cuma adik saja ya? terus gue pergi ninggalin dia”
Kedua temannya memeluknya
“Lo gak apa-apa kan Dien?” peluk Rita
“huhuhu....” Andien menangis, Qowi menariknya ke tempat sepi, Andien menangis agak lama di situ
“Keluarkan saja Dien supaya lega!” ujar Rita, ia pergi sebentar lalu balik lagi membawa 2 sirup dingin dan memberikannya ke Andien
“Minum ini Dien!” ujarnya, Andien meminumnya
“Kenapa ginian?” protes Qowi
“Masih pagi, enaknya sih makan es krim, tapi sirup ini cukup manis kan? Katanya buat mood booster minum yang manis” jawab Rita, Qowi segera mengambil gelas sirup yang satu lagi dan segera meminumnya.
“Enak segar!” ujarnya
“Sudah mendingan Dien?” tanya Rita, ia mengusap punggung Andien
“Lumayan!” jawab Andien
“Lo gak ada masukan nih atau hiburan nih?” tanya Qowi ke Rita
“Masukan atau hiburan? Hmm...apa ya? mungkin biarin dulu saja kadang hati itu seperti luka gores, awalnya perih lama-lama sembuh.”
“Selama apa?” tanya Andien dengan suara parau
“Tergantung Lo Dien! sejauh apa lo bisa move on?”
“Gue gak secantik Lo atau Qowi, gue ini merasa ditolak, sakit hati gue!”
“Jujur nih, sebenarnya gue salut lho sama Lo!” ujar Rita
“Salut?”
“Iya!, yang elo lakukan itu mengungkapkan perasaan lo ke dia, menurut gue itu gak salah. Kalau dia gak bisa menganggap lo lebih dari itu, berarti itu masalah dia bukan masalah elo!”
“Kok bisa Rit?” tanya Andien dan Qowi bersamaan
“Sekarang gini, misalnya situasinya dibalik. Indra yang nembak Lo Dien, tapi lo Cuma menganggap dia kakak atau teman saja, apa itu artinya lo salah?”
“Enggak lah!” jawab Andien
“Nah itu! Jadi kalau lo sudah menyatakan dan dia gak terima ya sudah, anggap saja nih lo nawarin barang eh pembelinya gak mau, masa sih lo ikutin tuh pembeli nanti dia malah telpon polisi pasal pengancaman!”
Andien menyimak perkataan Rita dengan baik
“Tapi gue jadi malu sama dia Rit! Gimana dong?” ujar Andien
“Ya akting cuek saja, gak usah maksain diri, perlu ngomong gak perlu cabut! Selesai! Gak usah sok kuat! Karena gue pernah ngerasain ditolak dan gue tidak bisa tenang seperti Lo!”
“Emang lo ngapain Rit?” tanya Qowi
“Ya gue ke sasana tinju, gue berantem disana! Berapa orang tuh sparing partner jadi sasaran gue”
“Gila lo, parah banget!” ujar Andien dan Qowi
“Karena gue marah Dien, perasaan tak terbalas, tapi gue juga sadar gak bisa maksain perasaan gue. Jadi biar saja para sparing gue yang merasakan derita gue”
“Mereka masuk rumah sakit Rit?”
“Enggak lah, tapi sudahannya pada gue traktir makan, gue kasih duit jajan lah”
“Terus mereka nerima?”
“Iya!, mereka bilang, baru kali ini bonyok tapi dapat duit, biasanya mereka bonyok harus bayar pula. Btw gue yang bayar latihan mereka di sasana itu!”
“Enak ya kalau jadi cucu sultan semua tinggal bayar!” ujar Andien
“Gak juga Dien! maksud gue, yang namanya feeling itu ya begitu kalau terbalas Alhamdulillah, kalau ditolak, Astaghfirullah!”
“Hahaha...bisa aje lo!” Andien dan Qowi tertawa
“Nah gitu dong ketawa, sini gue betulin riasan lo! rusak tuh karena air mata!” Rita mengambil peralatan make up nya
“Kalau dirias jadi badut, kita putus hubungan ya?” ancam Andien
“Hehehe...tenang saja, gue sudah banyak latihan!” ujar Rita , ia membersihkan riasan Andien sebelumnya, dengan perlahan ia mengoleskan foundation, bedak, kembali membuat alis, dan terakhir mengoleskan lipstick
“Oke beres!” Rita mengambil cermin dari tasnya lalu memberikan ke Andien
“Masya Allah! Lebih cantik Rit!” ujar Andien girang
“Iya kan?? Hehehehe!” Rita bangga dengan hasil riasannya
“Gue mau dong!” Ujar Qowi
“Jangan Wi!, hari ini bintang di sini Andien. Lo nanti saja, lagi pula gue gak bisa apa-apa dengan wajah lo”
“Maksud lo muka gue jelek gitu?” tanya Qowi ketus
“Bukan!, menurut instruktur rias gue, wajah orang yang dirias itu ibarat kanvas kosong, nah kita ini pelukisnya. Andien wajahnya itu imut, seperti kanvas kosong, jadi mudah dilukis. Sedangkan lo itu lukisan yang sudah jadi gak perlu lagi touch up!”
“Jadi gue jelek gitu?” tanya Andien kesal
“Et dah nih orang gak ngerti ya? pahami dulu deh, baru ngomong. Lo cantik Dien, gampang jadi meriasnya, sedangkan Qowi , sebenarnya gak usah dandan juga sudah cantik, jadi kalau dirias lagi susah! Ngerti gak?”
“Terserah deh!” Andien mematut diri di cermin
“Pokoknya Dien, kalau ditolak jangan sekali-kali menyalahkan diri lo, seandainya lo lebih begini-begitulah! Gak ngaruh! Percaya deh, kalau orang sudah suka pasti kemana pun lo diikutin deh!”
“Tuh Dien, dengerin yang sudah pro!” canda Qowi
“Hehehe...terimakasih ya Rit! Lo baik banget!” Andien memeluk pinggang Rita senang, hatinya kini gak merasa berat lagi.
MC acara memanggil para panitia dan keluarga untuk memulai acara, Rita dan Qowi duduk di baris nomor dua untuk mengikuti acara ijab qobul, sedangkan Andien menemani Lisa untuk mengantarnya menemui pengantin lelaki setelah ijab qobul selesai.
_Bersambung_
__ADS_1