Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 260: Idul Fitri


__ADS_3

“Allahhu Akbar..Allahhu Akbar walillah ilham...” suara takbir berkumandang menandakan hari raya Idul Fitri sedang berlangsung. Suasana di kediaman Rita tak kalah heboh.


“Assalammu’alaikum!” Daniel memasuki kamarnya yang megah bersama dengan Raffa yang mengikutinya dari belakang


“Wa’alaikummussalam!” jawab Rita sambil menggendong Rayya yang baru saja diganti popoknya.


“Sayang, maaf lahir batin ya?” Rita mencium punggung tangan suaminya, Daniel mencium kening dan memeluknya


“Sama-sama ya? eh Rayya, salam dong sama papi?” Daniel mengambil Rayya dari Rita.


“Raffa, salam dong sama mami!” Raffa menghampiri maminya dan menyalami


“Anak sholeh! Tadi sholat ya?” tanya Rita


“Yes!!, mami where’s kaka?” tanyanya mencari Ranna


“Kakak masih bobo, bangunin Bang!” suruh Daniel


Raffa bergegas ke kamarnya yang jadi satu dengan kamar Ranna, di situ ia melihat Ranna sedang bermain dengan bonekanya.


“Kakak!, take a bath!” Raffa menarik piyama Ranna


“No!, I just want to play a bit!” jawab Ranna


“Mami!, kakak don’t want to take bath!” Raffa berteriak sambil keluar kamar


“Kak Ranna, nanti gak main sama Uwa lho kalau belum mandi” bujuk Rita


Ranna segera ke kamar mandinya, Rita membuka pakaiannya dan memandikan anak perempuan pertamanya.


“Anak sholeha!” ujarnya sambil memandikan, beberapa menit kemudian Ranna telah rapi berpakaian.


“Kak Ranna, cantik sekali!” puji Daniel melihat anaknya baru saja keluar dari kamar, Ranna tersipu malu mendengar pujian papinya, lalu berlari menghampiri dan minta digendong


“Salam dulu dong kak!, kan sekarang lebaran!” ujar Daniel, Ranna mencium punggung tangan papinya. Daniel sekeluarga memakai baju dengan warna senada, mereka tampak kompak.


“Yuk, kita keluar, salam sama Kakek Eyang” ajak Daniel, mereka sekeluarga keluar dari kamar, Daniel menggendong Ranna, Rita menggendong Rayya, sedangkan Raffa mengikuti Daniel dari belakang.


“Kakek, maaf lahir batin ya?” Rita melakukan sungkem, Daniel mengikutinya, kemudian anak-anaknya.


“Sama-sama ya?” Kakek Darmawan terlihat haru. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa melihat keluarga kecil Rita dan Daniel


“Kakak, Maaf lahir batin ya?” Rita mencium punggung tangan Andi.


“Sama-sama Rit!” Andi memeluk Rita, kemudian ia melakukan hal yang sama pada Daniel.


Setelah itu mereka saling bermaafaan kepada para staf rumah yang lumayan banyak.


“Pak Ridwan, bukannya cuti?” tanya Rita


“Iya, mbak, saya kesini mau lebaran sama pak Darmawan sekeluarga!” ujarnya, ia memperkenalkan anak-anak dan istrinya


“Wah ibu!, saya Rita baru kenalan kita ya?” Rita tersenyum bertemu dengan istri Ridwan , perempuan berusia 30 tahunan


“hahaha...iya mbak!, dari kemarin kedengaran namanya saja ya?” ujarnya


“Ini siapa?” tanya Rita pada anak perempuan kecil yang digendongnya, usianya hampir seumuran dengan Ranna


“Oh ini anak bungsu saya mbak, namanya Mawar” jawab istri Ridwan,dengan malu-malu, Mawar bersalaman dengan Rita dan Daniel. Rita menyelipkan uang lembaran 50 ribu digenggaman Mawar dan kakak laki-lakinya yang beranjak remaja


“Terima kasih tante!” ujar anak Ridwan,


“Ah aku sudah jadi tante ya?” Rita tersipu


“Hahaha....tapi kan tante muda” jawab Ridwan, semua tertawa mendengar celotehan Ridwan.


Setelah makan bersama, para staf bubar, mereka yang bertugas hari itu kembali ke tugasnya, sedangkan yang libur, pergi untuk bersilaturahim ke rumah sanak keluarganya.


Hari telah siang, Daniel keluarganya beristirahat di kamarnya. Hidangan cemilan dan makanan berat sengaja Rita siapkan untuk mereka santap.


“Hari ini kita makan di kamar Say, staf dapur lagi pada pergi.”


“Mereka kembalinya kapan?” tanya Daniel sambil mengambil nugget


“Nanti malam juga balik. Oh iya katanya si Anwar mau datang kemari”


“Anwar? Ngapain?”


“Ya silaturahim lah!, mungkin nanti sore!”


“hmm..aku tidur dulu deh, kak Ranna, bang Raffa mau temani papi bobo gak?” tanya Daniel. Ranna dan Raffa yang sedang bermain di depan TV, langsung menghampiri dan menempel pada kaki jenjang papinya sedangkan Rita memompa ASI untuk ketiga anaknya.


“Mudah-mudahan cukup deh!” gumamnya, sambil melihat botol ASI ketiganya.


“Mbak Rita ada tamu bernama pak Anwar ingin bertemu!” ujar security melalui vcall yang muncul di layar TV


“Oh iya, suruh masuk ke teras depan kamar saya saja pak, terima kasih!” jawab Rita, ia bergegas membereskan peralatan pompa ASI dan memasang penampung ASI di dadanya. Lalu masuk ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang ternyata belum tidur


“Sayang, Anwar datang!” ujar Rita sambil menggendong Rayya


“Oh iya, sebentar, suruh ia tunggu saja ya, aku sakit perut!” Daniel bergegas ke toilet, sedangkan Ranna dan Raffa keluar dari kamar dan menyalakan TV untuk menonton Coco Melon kesukaannya.


“Assalammu’alaikum!” Anwar menyapa dari luar teras kamar Rita


“Wa’alaikummussalam! Masuk War!” sambil menggendong Rayya, ia membuka pintu kamar yang langsung menghadap teras .


“Hey!, Maaf lahir batin ya?” ujar Anwar, sambil menyalami Rita


“Sama-sama War!, ayo duduk! Kak Ranna , Bang Raffa, kemari!” panggil Rita, kedua anak batitanya langsung berlari ke teras menghampiri


“Ayo salim sama Om Anwar!”


“Ini anak-anak lo Rit?” tanya Anwar heran


“Iya, ini yang pertama namanya Ranna usianya 2 tahun”


“Om!” Ranna menyalami lalu kembali ke dalam kamar,


“Nah yang ini Raffa 1,5 tahun!”


“Om!” Raffa menyalami lalu berlari kembali ke kamar


“Kalau ini Rayya , baru seminggu!” ujar Rita


“Eh buset, anak lo banyak banget Rit? Kayak kelinci”


“Baru tiga! Belum kelinci dong!”


“Et dah! Baru tiga? Memangnya mau nambah lagi?” tanya Anwar kaget


“Iya, bapaknya berniat enam, tapi ini gelombang pertama dulu”


“Ckckck...gila juga lo ya? gak heran sih, laki lo cakep, bininya juga cakep gak heran anaknya banyak!” ujar Anwar dengan logat betawi yang kental


“Bisa aje lo!, btw Lo gak mudik?”


“Gue orang betawi asli, paling mudik ke Karawang tempat emak gue”


“Katanya orang betawi, kenapa mudik ke Karawang?”


“Dulu engkong gue tuan tanah di daerah Senayan, itu yang dijadiin GBK, nah bagi waris, bokap dan nyokap gue beli rumah di Karawang”


“sekolah lo kan di sini? Jauh dong bolak-balik ?”


“Gue tinggal sama encing gue di sini, sampai lulus SMA”


“Encing?”


“encing itu adeknya bokap, tante lah kalau bahasa Indonesia yang benarnya”


“Lo berapa bersaudara War?”


“Cuma dua bersaudara, gue anak bungsu. Kakak sama keluarganya juga tinggal di Karawang”


“Jadi lo kemari dulu ?”


“Iyalah, mau ketemu bos Daniel dulu. Takutnya elo pada pergi kan?”

__ADS_1


“ya, rencananya sih besok gue nginep di rumah kakek gue yang satu lagi. “


“Oh kakek S ya?”


“kok lo inget?”


“Inget dong, abis nama lo doang yang ada singkatannya DS, kalau sekarang lo di D, berarti besok di S!”


“Hahaha, bisa aje lo War!, tapi asli lho pertama kali gue kenal, gue kira lo orang Sumatra Barat, biasanya nama Anwar itu orang awak”


“Nama gue itu diambil dari nama artis yang emak gue demenin, Anwar Fuadi”


“Ooo...pantes!”


“ngomong-ngomong, bapaknya ni anak mana ya?”


“Tadi lagi di toilet, mules katanya”


“oh begitu, eh Rit, laki lo itu baik banget ya? gue jadi inget waktu kerja di Jepang, salah satu bos gue orang Korea, ampun deh sadis banget. Kinerjanya gila-gilaan. Gue ngalamin culture shock! Tapi laki lo orang Korea tapi santuy abis. Gue nih, kalau bukan laki lo yang ngajak kerja sama gak bakal mau deh melanjutkan kerjasama”


“Karena Daniel lama di Kanada War, dia sering kerja di Luar negeri, malah jarang di Korea. Korea memang culturenya begitu. Lo tahu sendiri tuntutan hidup di sana berat, gak heran orang-orangnya pada ngotot”


“Terus, lo gak pada mudik ke Korea?”


“Belum sih, gue mah ikutin laki gue aja”


“Katanya Lo mau pindah ke Swiss? Gue sempat spanneng”


“Kenapa?”


“Iyalah, beberapa hambatan di resto yang urus laki lo, kalau dia ke Swiss, ada kesusahan gue gimana?”


“Lo mandiri dong War, pelajari apa yang diajari laki gue, jangan bergantung sama dia”


“Gue juga begitu Rit!, tapi beda sih kalau sama laki lo, gue tenang gitu. Gue rela deh ngelepas lo sama orang sebaik dia!”


“Maksud lo?”


“Gue dulu kan naksir lo Rit?”


“Hah? Masa? Lo bilang enggak, katanya mau saudaraan aje sama gue?”


“Itu kan bisa-bisanya gue supaya bisa deket sama lo, lagi pula banyak cowok yang naksir sama Lo, nanti ketahuan gue naksir juga, bakal dibully gue”


“Ah bisa aje lo!, gue kok gak tau?”


“Gak tau? Waktu lo tiba-tiba menghilang setelah ujian, pada nyariin tuh. Malah ada gosip lo maried by accident”


“Sialan!, siapa yang gosipin gitu?”


“Soalnya pas lo menghilang, kan anak-anak kelas pada nanyain ke TU, katanya lo udah nikah jadi habis ujian langsung pergi”


“Eh memang pas lagi ujian itu gue sudah nikah, tapi belum hamil. Kedua anak gue yang tadi itu lahir di Singapura”


“Hah? Jadi lo tinggal di Singapura?”


“Iya, laki gue kerja di sana”


“Ooo pantes!”


“Kenapa?”


“Gue nyariin elo Rit, ternyata nyangsang di Singapura.”


Raffa menghampiri Rita


“Mami, i want milk!” ujarnya sambil mengucek matanya


“Buset, anak lo jago bahasa Inggris Rit?”


“Bapaknya kan pakai bahasa Inggris!, gue tinggal dulu ya War!” Rita menuntun Raffa sambil menggendong Rayya masuk ke kamar mereka


Tak berapa lama


“Assalammu’alaikum!” sapa Daniel ramah, ia menyalami Anwar


“Wa’alaikummussalam, boss...maaf lahir batin ya?”


“gak mudik ke Korea boss?” tanya Anwar


“Enggak!, di Korea Idul Fitri mana terasa? Kalau Kanada masih mungkin kalau kita ke mesjid-mesjid di sana”


“Iya sih bos, waktu saya di Jepang juga kalau mau sholat jauh banget ke mesjidnya, ada kali perjalanan 90 menit. Kalau lagi musim dingin itu yang kepayahan” ujar Anwar bercerita


“Kamu gak mudik?”


“Sepulang dari sini saya ke Karawang , kira-kira 3 hari lah di sana, lalu balik kesini. Resto gak bisa lama-lama ditutup kan?”


“Oh iya benar!, aku belum sempat baca laporan kamu, mungkin nanti malam. “


“iya bos, lagi pula sekarang kan lagi libur, eh bos kerjanya libur?”


“Saya libur seminggu lagi karena kelahiran anak, Senin depan sudah masuk kantor lagi”


“Oh begitu!”


Cukup lama mereka bercakap-cakap, kemudian


“sudah hampir sore nih bos, saya pamit ya?”


“Eh? Oh, sebentar!” Daniel masuk ke kamarnya untuk memanggil istrinya


“Sayang , Anwar mau pulang!” ujarnya


“Oh iya!” Rita bergegas keluar kamar dan mengambil paket bingkisan yang sudah ia siapkan sebelumnya


“Itu apa?” tanya Daniel


“Ini paket hari raya, aku selalu menyiapkan untuk yang datang kemari”


“Oh, sini aku bawain!” Daniel mengambil paket dari tangan Rita


“Rit, gue pamit dulu ya?”


“Nih War, paket hari raya dari kita, semoga bermanfaat!”


“Wah dapat paket, terima kasih ya? permisi dulu boss!”


“Hati-hati di jalan War!” ujar Rita


Ranna menghampiri Rita


“Mami I got this!” ia menunjukkan 3 amplop bergambar lucu


“Apaan tuh kak?” tanya Daniel


“Om tadi yang kasih, untuk aku, Affa sama Ayya” jawab Ranna dengan nada lucu


“Coba lihat kak, berapa isinya?” tanya Rita , ia membuka amplop tersebut


“Wihhh...Anwar dermawan sekali, masing-masing 100 ribu!” lembaran uang baru kembali Rita masukkan ke dalam amplop


“Syukur deh, tadi kita kasih dia bingkisan, kalau enggak bisa malu kita” ujarnya


“Jadi anak-anak dapat angpau gitu ya?” tanya Daniel


“Iya betul! Kak Ranna !” panggil Rita


“Ya mi?”


“Uangnya mami yang simpan ya?”, Ranna memberikan amplop tadi ke maminya


“Tadi kakak juga dapat dari Uwa dan Aki Eyang”


“Oh ya? mana?”


Ranna berlari dan memberikan amplop-amplop yang dikumpulkannya sejak tadi

__ADS_1


“Kakak tadi naruhnya di mana?” tanya Daniel heran, karena sepanjang tadi ia tidak melihat Ranna membawa tas


“Tadi, kakak suruh Affa ke kamar. “


“Ohh...itu tadi si Raffa bolak-balik ke kamar, ternyata naruh amplop ini. Pantesan sekarang dia kecapekan” ujar Rita


“Coba kamu anak-ana kamu bawain tas kecil” ujar Daniel


“Aku gak kepikiran, anak-anak bakal dapat amplop, ini pak Ridwan juga ikutan ngasih”


“Coba hitung, kira-kira ada berapa?” tanya Daniel penasaran


Rita dan Daniel duduk di ruang TV sambil membuka amplop-amplop THR milik Ranna, Raffa serta Rayya


“Ini dari kak Andi 300 rb, x3\= 900 rb. Dari Kakek : 1 jta x3\= 3 juta. Dari Anwar 100x3\= 300 rb. Dari pak Ridwan 50x3 \= 150rb. Totalnya 4,350ribu. Wah lumayan banget!!” sorak Rita


“besok kita juga bagi-bagi angpau ya?” tanya Daniel


“Untuk anak-anak kecil saja, kalau yang sudah dewasa gak usah!”


“kira-kira siapa?”


“Anaknya Rosy, anaknya tante Metha, itu saja sih”


“Kamu mau ngasih berapa?”


“100 ribu saja masing-masing”


“Apa gak kekecilan?”


“Memangnya kamu mau ngasih berapa?”


“Bingung juga ya? tapi tante Metha katanya gak jadi datang karena suaminya sakit”


“Eh iya ya? aku kok jadi lupa. Kasihan banget tante”


“Anaknya Rosy kasih 300 rb saja, supaya kita gak malu” ujar Daniel


“Iya deh! Nih sudah aku siapin”


“Kak Ranna, bobo dulu yuk!” ajak Daniel, ia menggendong anak perempuannya ke kamar tidur mereka. Di situ Raffa dan Rayya juga telah lelap tertidur. Rita menyimpan uang THR anak-anaknya di lemari pakaiannya kemudian ia kembali ke sofa depan TV, sambil menonton film dari layar lebar. Sementara Daniel terlelap bersama ketiga anaknya di kamar tidur mereka.


Keesokkan paginya, rombongan keluarga Darmawan pergi ke kediaman kakek Sugiyono.


“Assalammu’alaikum!!” ujar rombongan Rita


“Wa’alaikummussalam!!” jawab para penghuni kompak, kediaman kakek Sugiyono tampak lebih meriah, suasana lebaran sangat terasa


“Kalian nginep kan di sini?” tanya kakek Sugi, disela-sela sesi sungkeman keluarga Rita


“Iya kek!. Kami sudah bawa perlengkapan!” jawab Rita, para ART membawa perlengkapan Rita ke kamarnya


“Sayang!, kamu sehat-sehat kan?” tanya Ratna


“Alhamdulillah sehat ma!”


“Mama jadi kepikiran, Rayya baru seminggu sudah dibawa keluar rumah, itu gak apa-apa?”


“Gak apa-apa ma, katanya supaya terbentuk antibodi supaya gak gampang sakit” jawab Daniel


“Ah syukurlah!, kamu sehat-sehat Niel?” tanya Ratna. Daniel menyalami mertuanya


“Alhamdulillah sehat ma, oh iya, saya bikin Sandwich buat mama”


“Asyiikkk!!! Terima kasih sayang!” Ratna mengambil kotak makanan dari Daniel dengan riang. Ranna dan Raffa diajarkan sungkem kepada kakek Sugiyono dan Ratna. Tingkah keduanya sangat menggemaskan membuat semua yang sepupu berebutan ingin menggendong mereka.


“hey!! Jangan berebutan, nanti mereka sakit gimana?” ujar Kakek Sugi memperingatkan.


“Halo Rita!” sapa Rosy


“Rosy!” Rita memeluk Rosy, ia juga menyalami Daniel.


“Anak lo mana Ros?”


“Ada tuh, sebentar...bii!!!” Rosy memanggil ARTnya yang menggendong seorang anak lelaki kecil berusia setahun


“Halo!! Namanya siapa?” Rita memberikan tangannya untuk disalami. Anak dalam gendongan itu tampak malu-malu, ia menyembunyikan wajahnya di dada pengasuhnya


“Namanya Reihan bude!” jawab Rosy


“Ah Reihan...namanya Bagus!..Ranna, Raffa kemari!” panggil Rita. Kedua anak itu berlari lincah menghampiri


“Salim sama onty Rosy!”suruh Rita. Keduanya menurut, Rosy memberikan amplop THR kepada kedua anak batita tersebut


“Thank you onty!” keduanya mencium pipi Rosy


“Your welcome!” jawab Rosy tersenyum.


“Reihan, main ya sama kak Ranna dan Bang Raffa!” ujar Rita, Reihan minta turun dari gendongan pengasuhnya. Raffa dengan telaten menggandeng tangannya untuk bermain bersamanya


“Raffa lebih telaten ya?” ujar Maia melihat ketiga anak batita itu


“Iya, Kalau Ranna itu bossy, lucu deh. Raffa itu benar-benar menurut apa kata Ranna.” Rita menceritakan dengan nada ceria


“Oh ya? apa mereka sering bertengkar?” tanya Rosy


“Enggak, karena mereka punya mainannya masing-masing. Daniel yang menyuruh, agar mereka punya kepemilikan pribadi” jawab Rita


“Oh begitu, enaknya Daniel ikut mengasuh anak-anak” gumam Rosy


“eh iya, Rendy mana Ros?”


“Dia gak bisa ikut kemari. Perusahaannya lagi gawat, dia harus bekerja keras. Aku kasihan melihatnya kelelahan”


“Sudah kewajiban kalee! Oh iya Rit, gue gendong Rayya dong!” pinta Maia


Rita memberikan Rayya kepada Maia


“Lo gak capek Rit? Punya anak tiga? Masih muda?” tanya Rosy


“Kan ada baby sitter, mereka yang bantuin!”


“Iya sih, tapi kan tetap lo harus sering memperhatikan mereka.”


“Namanya sudah jadi orang tua yan harus begitu Ros, dibawa senang saja. Kadang gue bawa ketiga anak gue ini Yoga, ke tempat kerjaan. Pokoknya mereka ikut deh. Kalau sudah di rumah, biasanya Daniel deh yang ngatasin mereka”


“Lo dan Daniel perjanjian dulu sebelumnya ngurus anak-anak?”


“Enggak!, Daniel pernah iri sama gue, karena anak-anak lebih dekat ke gue, setelah gue berikan waktu khusus buat mereka, eh mereka jadi lebih akrab dari sebelumnya”


“Gue pengen melibatkan Rendy ngasuh Reihan, tapi dia kelihatan kesal mungkin karena dipikirannya kerjaan melulu”


“Bilangin saja Ros, anak-anak itu cepat besar, nanti dia kehilangan masa emas, kalau sudah remaja sudah pada gak mau bareng lagi. Jadi mumpung masih pada kecil, puas-puasin deh ngasuh mereka. Daniel juga sepulang kantor. Habis makan, mandi, istirahat terus main sama anak-anak. Waktu Rayya lahir, dia yang ngasuh kedua kakaknya, sampai kalau tidur ngorok saking capeknya ngurus mereka”


“Elo beruntung dapetin Daniel Rit!” ujar Rosy


“Jangan begitu Ros, orang itu Cuma ada kendala komunikasi doang. Coba deh, kalau hari libur. Rendy lo bikinin cemilan, sambil makan ngobrol dikit-dikit, gak usah ngomongin kerjaan. Lama-lama kalian dekat lagi. Siapa tahu kan Reihan bakal punya adik lagi”


“Begitu ya? tapi gue gak berniat ngasih adek ke Reihan, nanti deh kalau dia sudah 5 tahun. Kemarin waktu Reihan saja ada kali gue 27 jam berjuang. Eh ujung-ujungnya caesar juga”


“Kok? kenapa? Ada masalah?”


“Reihannya gak mau keluar!, sudah diinduksi eh dia malah tidur”


“Tidur?”


“Iya, dokternya bilang, bu bayinya tidur. Akhirnya caesar deh!”


“Hahaha...ada-ada saja Reihan!..tapi gue suka namanya”


“Iya, itu dari kakek Sugi, kalau dari Rendy, Abdulah”


“Jadi Reihan Abdulah?”


“Abdulah Reihan!”


“ooo”

__ADS_1


Mereka saling bercerita pengalaman mereka sebagai ibu, sementara para lelaki berkumpul di ruangan lain untuk saling bercengkrama


_Bersambung_


__ADS_2