Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 144: Menjelang Pernikahan Saye


__ADS_3

“Kamu tuh bodo banget, masa masang begitu saja gak bisa!”


Suara seseorang berteriak-teriak membangunkan Rita dari tidurnya. Tadi malam ia baru tidur sekitar jam 3 pagi karena asyik bertukar cerita dengan tantenya. Karena ia sedang berhalangan, jadi sengaja Saye tidak membangunkannya.


“Ih!! Apaan sih berisik amat!” teriak Rita, dengan rambut masih acak-acakan ia keluar rumah untuk menegur


“Heh! Bisa gak jangan berisik! Masih pagi tau!” hardik Rita


“Masih pagi? Helloww udeh jam setengah 10 neh! Anak gadis kog bangun siang!” ujar suara tadi


“Bawel Loh! Gue masih ngantuk lo mau apa?” Rita masih belum sadar , sementara orang itu menghampirinya


“Heh! Mba, begini ya, di sini itu jam 9.30 sudah masuk siang! Okey siang! Mba gak takut apa rejekinya dipatok ayam!” ujar orang itu lagi, suara lelaki gemulai


“Ah..gue udeh makan tuh ayam!, jadi gak mungkin dia makan rejeki gue!” jawab Rita ngasal


“Makan ayam? Gue juga makan ayam non!” teriak orang itu lagi, tiba-tiba Saye menengahi mereka


“Eh..Rita..kamu sudah bangun?? Wah..maaf ya gara-gara keberisikan jadi ganggu tidur kamu!”


“Tante! Sekarang sudah siang! Masa dibiarkan anak gadis bangun siang!”protes orang itu lagi


“Bawel ya ni orang, kayak emak-emak Lo!” ujar Rita


“Emak-emak? Orang keren begini emak-emak?” ujar orang itu marah


“Stop-stop, Mari, maaf ya Rita tadi malam baru tidur jam 3 pagi nemenin saya ngobrol, biasanya dia rajin bangun pagi!”


“Tuh Mak! Dengerin!” ujar Rita lagi


“Ya udah, kalau sudah sadar mandi deh, mulut lo bau tau!” ujar orang itu lagi


“fuuuh..fuhh..fuhh...! Rita sengaja meniupkan nafas naganya ke orang itu


“Ahh!!! Bau!!!” orang itu berlari menjauh, Rita tertawa kemudian ia kembali ke kamarnya, tetapi rasa kantuknya sudah hilang. Akhirnya ia memutuskan untuk mandi, ketika ia gosok gigi, ia mengingat sesuatu


“Tadi tante manggil dia Mari...sebentar...Mari...Mari..oo..Mario!!” Rita teringat seseorang, ia langsung keluar dengan piyama dan mulut penuh dengan busa odol


“Mario! Lo Mario kan??”Panggil Rita, ia menghampiri cowok itu. Mario memakai kacamatanya


“Lo siapa?” katanya


“Hei Lo lupa? Gue Rita!!! O!!!” teriak Rita kegirangan, ia mengguncang-guncang tubuh Mario


“Ooo, Ritong si tomboy bandel itu?” ujarnya, Rita mengangguk senang


“Ritong, gue seneng lo ngenalin gue, tapi lebih baik lo selesain mandi lo deh! Gak enak gue ngeliatnya!” pinta Mario dengan suara melambai, Rita mengangguk, kemudian kembali ke kamar mandi, melanjutkan mandinya. Beberapa menit kemudian setelah selesai mandi dan berganti pakaian, ia kembali mendekati Mario yang sedang sibuk menata dekorasi untuk pesta pernikahan besok.


“EH Mario!” panggilnya sambil tertawa


Mario melihat Rita yang sudah rapi


“Nah!! Begitu dong! Anak gadis!”


“Ah elo!..Kenapa jadi Mari sih? Kan bagus Mario? Gue juga manggilnya enak O!!!”


“yang Cuma manggil gue O, lo doang keles!” ujar Mario gemulai


“Lo bukannya normal ya? apa ketelen cacing? Kog jadi melambai begitu?”


“Heh! Ritong! Lo jangan menghina gue ya? biar gue melambai kayak gini gue ini dekorator bersertifikat, gue dapat ISO 90001, tahu gak lo?”


“ISO 90001? Emangnya lo standar mesin?” tawa Rita


“Eh apa iya? Pokoknya gue itu dekorator professional deh!”


“Iya deh iya!, ngomong-ngomong rumah lo masih di depan situ?” tanya Rita


“Enggak dong! Gue sudah pindah ke JAKARTA you know? J-A-K-A-R-T-A!” Mario mengejanya


“ohh..Jakartanya sebelah mananya Bekasi?” tanya Rita lagi


“EH kog You bisa tau? Ai Bekasi?”


“karena biasanya yang pindah dari daerah, hinggapnya di wilayah sekitar Jakarta”


“Hinggap? You kira eikeh Burung?” ujar Mario lagi dengan lagak gemulainya


“Udeh deh O, normal lagi aje, pusing gue ngeliatnya!” pinta Rita


“Hey!!! Kalau pusing! Pergi sana! Jangan ganggu AI yang lagi syibuks!” ujarnya galak


“Galak banget!” Rita kembali masuk ke rumah, ia mulai merasa lapar. Ia tidak tahu Mario memperhatikannya sambil tersenyum.


“Tante, Mari eh Mario kog jadi kayak gitu? Perasaan dulu dia macho deh, paling ganteng kan di komplek ini?” tanya Rita sambil menyantap bubur ayam


“Gak tahu deh, tante juga gak sengaja ketemu di pameran Chocolate Fair, dia jadi Event Organizernya. Dia langsung ngenalin tante lho! Terus dia presentasi tentang jasanya. Nah kebetulan tante juga mau pesta, jadi pakai jasa dia saja”


“hoo...keren juga ya?”


“Dia lebih tua 5 tahun ya dari kamu?”


“Enggak Tan!, Dia seumuran kak Andi!”


Tak lama mobil Alphard putih berhenti di depan rumah Saye, penumpang mobil yang berjumlah 3 orang keluar


“Assalammu’alaikum!!!” Ratna menyapa


“Wa’alaikummusalam!!, masuk Kak Ratna!” Saye menyambut mantan iparnya dengan senang. Mereka cipika-cipiki, disusul oleh Andi dan Dewa yang membantu membawakan barang-barang


“Eh apaan nih? Kemarin Rita sudah bawa banyak?” tanya Saye


“Untuk tambahan saja Tan!” ujar Andi tersenyum


Mereka masuk ke dalam rumah, Rita menyambut mamanya


“Mama! Dari Jakarta langsung kemari?”


“Iya sayang, kita berangkat setelah subuh, sampai di sini ketemu Dewa, ia menunjukkan penginapan kita. Setelah booking langsung kemari”


“Kak Dewa kok tahu alamat sini?” tanya Rita


“Kemarin Om Reza ngasih alamat tante Saye, beliau minta tolong kakak untuk mengantar tante Ratna dan Andi kemari”


“Ooo begitu, terima kasih kak!” ujar Rita riang, ia membantu tantenya membuka barang bawaan dari mamanya. Dewa keluar dari rumah, ia memperhatikan Rita dari kejauhan.


“Hey cowok! Kamu korbannya juga ya?” tanya Mario sinis


“Korban? Maksud lo?” tanya Dewa heran didekati cowok gemulai


“Korban cewek itu!” ujar Mario lagi


“Enggak!” jawab Dewa


“Jangan pura-pura deh!, eikeh bisa ngenalin mata merindu kayak gitu!” ujarnya


“Mata?kayak gini?” Dewa melebarkan matanya dengan kedua tangannya


“ihhh!!! Jijik..jijik!!!” teriak Mario, ia menjauhi Dewa, Andi menghampiri Dewa yang tertawa geli melihat tingkah Mario


“Eh Ar, lo gak pa-pa nih?”


“Gak pa-pa gimana?”


“Ketemu Rita terus?”


“Memangnya kenapa? Bagus dong bisa ketemu” ujarnya sok cool


“Yakin? Gue Cuma ngasih tahu saja nih, kemungkinan cowoknya Rita juga akan datang. Ia mau ketemu ayah”


“Hah? Ngapain?”


“Mungkin mau melamar!”


“Daniel yang orang Korea itu?” tanya Dewa, Andi mengangguk


“Apa Rita sudah pasti sama dia? Kan agamanya beda, setahu gue Rita itu orangnya tegas masalah itu”


“Dia mualaf!” jawab Andi


“Ooo..mualaf ya?” Dewa mengangguk, ia bingung dengan perasaannya sendiri


“Kalau lo gak kuat, jangan dipaksa ya Ar, pulang saja! “ ujar Andi prihatin


“Kok lo ngusir sih Ray?”


“Gue gak mau lihat lo sedih saja!” ujar Andi


“EH!! Kayaknya eikeh kenal yu deh!” Mario mendekati Andi, ia mendekatkan wajahnya , tentu saja Andi menghindar


“Ih apaan sih?”


“Tuh kan Yu kan kakaknya si Ritong itu kan? Yang cengeng?” ujar Mario


“Cengeng? Enak aje Lo nuduh!”

__ADS_1


“Eh bukan cengeng, yang hobinya pingsan melulu! Hey eikeh kasih tau ye, kalau hobi tu, merangkai bunga, masak!, masa hobi kok pingsan!” ujar Mario lagi


“Dia sape sih?” tanya Andi kesal


“Dia Mario kak! Itu yang dulu rumahnya di depan!” ujar Rita tiba-tiba


“Hah?? si O itu??? Wahh!!! Kenapa lo jadi kayak begini? Kesamber petir lo?” tanya Andi heran


“Nih abang-adek dari dulu suka ngasal aje!, tadi adeknya bilang gue makan cacing, eh sekarang abangnya bilang gue kesamber petir! Lo tau kan ucapan itu doa?”


“Iyaa..maaf deh!!!” ujar Rita dan Andi bersamaan


“Kalian kenal cacing ini?” tanya Dewa , Andi dan Rita mengangguk tertawa


“Dulu, kita pernah nginap di sini, terus mainnya sama dia!” ujar Andi


“Oh ya? berapa lama?” tanya Dewa lagi penasaran


“Berapa lama Rit? Kalau gue sih sebentar Cuma 2 minggu terus balik ke NZ, yang lama di sini Rita. Kan dia sekolah di sini”


Ponsel Rita berdering, ia segera mengangkatnya. Wajahnya terlihat sangat senang ketika berbicara di telepon


“Cowoknya ya?” ujar Mario , Ia melihat Dewa yang juga memperhatikan Rita , beberapa menit kemudian ia selesai menelpon


“Siapa Rit?” tanya Andi


“Daniel, dia bilang, besok pagi baru bisa kemari. Ia nanya jam acaranya”


“Ooo, memangnya dia tahu alamat sini?”


“Besok pagi Rita jemput di stasiun”


“Dia naik kereta?” tanya Andi, Rita mengangguk senang


“Heh Ritong!, Yu gak tau ya sudah breaking-breaking heart orang!” ujar Mario tiba-tiba


“Breaking heart? Siapa?” tanya Rita heran, sudut matanya melihat ke arah Dewa yang melihat ke arah Mario


“Eikeh!”


“hah? Elo? O? “ tanya Rita heran, Andi dan Dewa juga gak kalah kaget


“Lo tuh pindah dari sini tiba-tiba, gue panggil-panggil untuk berangkat sekolah bareng, eh tante lo bilang Lo sudah pindah sekolah, pindah rumah juga! Gue sedih tau gak lo!”


“Ah drama queen , gue inget nih, lo selalu mendramatisir keadaan!”


“Drama queen? Gue ingetin ye,..kita dulu pernah janjian, kalau sudah gede bakal jadian!”


“Hah??? Ngarang lo? kapan tuh?” tanya Rita kaget, Dewa dan Andi juga gak kalah kaget


“Iye, kita pernah janjian di bawah kursi taman, di senja hari sambil liatin orang pacaran. Lo bilang bakal jadi pacar gue kalau sudah gede!” ujar Mario


“Gue gak inget! Lagi pula iseng amat gue nontonin orang pacaran?” jawab Rita, Dewa dan Andi geli mendengar jawaban Rita


“Ihh..beneran!! Waktu itu cowoknya mau nyosor ke ceweknya, terus yu nutup mata, sambil teriak haram! Haram!” ujar Mario menceritakan, Dewa dan Andi sudah gak kuat lagi menahan tawa


“Haram??...hahahaha!!! bisa jadi tuh Rit!” teriak Andi ngakak


“Terus..terus lanjutin O!” ujar Dewa ia mengikuti Andi dan Rita memanggil Mario dengan sebutan O


“Iya, terus Eikeh, megang muka yu, eikeh juga mau nyium Yu!, tapi Yu nolak, katanya masih kecil, nanti deh kalau sudah gede, sudah jadi pacar ai!” ujar Mario lagi


“Rit, lo janji harus ditepati!” canda Dewa


“Ih!!! Gue gak janji itu, gue Cuma bilang kalau sudah gede, sudah jadi pacar, kan gak ada kata janji!” ujar Rita ngeles


“Tuhhh Lo inget!” ujar Mario senang,


“Dikit!..tapi Lo bukan selera gue O, maaf yee?” ujar Rita


“Ah Elo alesan aje, sama gue bukan selera, sama die juga bukan! Emang lo maunya yang kayak ape?” tanya Mario


“Oppa Korea!” jawab Andi sambil tertawa, Rita ikut tertawa


“hmm....” Tiba-tiba Mario terdiam.


Rita dan Andi fitting baju yang akan mereka kenakan besok, Rita terlihat sangat cantik dengan kebaya biru rancangan mamanya. Dewa dan Mario yang memperhatikannya dari kejauhan terpana


“Cantik!” gumam Mario


“Sangat cantik!” gumam Dewa, mereka saling melihat, kemudian malu sendiri


“Sejak kapan?” tanya Dewa


“Apanya?” suara Mario tiba-tiba menjadi normal


“Sejak dulu!, dia cewek pertama yang gak malu jalan sama gue”


“Malu? Memangnya lo gak pakai baju? Sampai malu?” tanya Dewa setengah bercanda


“Bokap gue mantan napi korupsi, walau sudah dimiskinkan, tudingan orang ke keluarga kami masih, padahal bokap sudah menebus kesalahannya. Orang sini gak ada yang mau bergaul sama gue, katanya anak koruptor!”


“Kenapa lo sekeluarga gak pindah?”


“mau sih, tapi nunggu rumah laku dulu, harta ayah yang disita KPK yang gak termasuk hasil korupsi masih disegel, untuk makan saja kita minta dikasihani saudara. Keluarga dr.Reza yang membantu kami, sepertinya mereka gak terpengaruh dengan gunjingan orang terhadap keluarga kami. “


“Biasanya Rita membela lo ya?”


“Iya, kog lo tahu?”


“Iya sifatnya memang begitu, gue juga dulu ditolong sama dia!”


“Eh, gue duluan yang suka sama dia!” ujar Mario


“Gue dong, gue itu ketemu dia itu waktu dia umur 6 tahun!, dia sudah belain gue!” ujar Dewa ngotot


“Hmmm..sudah selama itu, Lo gak juga menyatakan perasaan lo ke Dia? Cemen banget!” ledek Mario


“Mending gue deh, gak nyatain, daripada Lo, ditinggal dia, jadi melambai begini!” jawab Dewa


“Enak aje Lo!” suara Mario kembali banci mode-On


“Gue kasih tau aje, gue ini termasuk play boy, keren, banyak cewek yang mau sama gue. gue aje ditolak dia! Apa lagi lo yang kayak cacing kepanasan!” ujar Dewa lagi


“Ih!!!, lambe mu tajam sekali Fergoso!” Mario tiba-tiba menjitak kepala Dewa


“Eh kok main kepala?” Dewa membalas. Akhirnya mereka saling jambak-jambakan rambut.


“Hei!!! Guys!!! Come On!!” teriak Andi melihat kedua cowok yang saling jambak. Akhirnya mereka terdiam, dan merapikan rambut masing-masing


“Ray, Lo bener, gue gak kuat di sini!, gue pulang ya? salam sama Tante Ratna!” Dewa pamit ke Andi


“Eh, iya Ar, makasih ya?” Andi merasa gak enak hati pada Dewa


“O ! lo ngomong apa sama dia? Jadi kayak gitu?” tanya Andi heran


“Gak ngomong apa-apa?” jawab Mario berbohong


“Gak ngomong apa-apa kog jambak-jambakan? Lucu sih, tapi aneh!”


“Udah ah!” Mario juga meninggalkan tempat itu, kemudian ia pamit pada Saye karena tugasnya mendekorasi telah selesai


“Ah iya Mari, besok kamu datangkan ke acara?” tanya Saye


“Insya Allah tante!” jawab Mario, tanpa melihat ke Rita, ia pun pergi meninggalkan rumah itu


“Tuh Rit!” Andi mendekati Rita yang sedang asyik dengan ponselnya


“Apaan kak?” tanyanya, ia menghentikan berkirim pesan dengan Daniel


“O dan Dewa jambak-jambakan!”


“Hah? Kok bisa? Kenapa?” tanya Rita heran


“Kayaknya gegara Lo deh!”


“Gegara Rita?”


“Kamu terlalu manis sih Rit, jadi dikerubutin semut!” canda Saye yang fitting kebaya


“Tante, sudah menyewa MUA?” tanya Rita


“Enggak ah, malu, make up biasa saja, tante yang sederhana saja”


“Yahh..jangan dong, Mama jago make up lho!”


“Iya Say, sini aku coba make up, kalau cocok besok aku saja yang nge make-up kamu!”


“Tapi kak, acara akadnya jam 9 lho!”


“Make up sama kakak Cuma sebentar, habis subuh kakak langsung kemari!”, tanpa basa-basi ia mulai mendandani Saye, kira-kira sejam kemudian make upnya selesai, Saye berubah menjadi sangat cantik


“Masya Allah Tante cantik banget!!!” puji Rita, Andi juga mengangguk setuju


“Assalammualaikum..!!” seseorang muncul di depan pintu rumah Saye

__ADS_1


“Wa’alaikummussalam!” Saye yang lupa masih menempel riasan pengantin langsung menghampiri tamu yang datang


“Saye?” ujar tamu tersebut


“Mas Budi? Wah kok datang gak bilang-bilang?” ujarnya, ia menarik Budi masuk


Budi terpana melihat Saye yang menjadi sangat cantik


“Mas Budi! Halo!! Ayo kenalin sama kakak dan keponakan-keponakanku!” ajak Saye, Budi masih melihat wajah Saye


“Eh, Halo , saya Budi Mulyana, calon suaminya Saye” ujarnya memperkenalkan diri pada Ratna


“Halo Dek Budi!, saya kakak iparnya Saye, tapi dulu..sekarang anggap saja kakak ya. ini anak-anakku, Andi dan Rita!”


“Oh ini Rita!” Budi menyalami Rita sambil tersenyum


“Hahaha...aku sering cerita tentang keponakan perempuanku yang galak dan logic! Karena dia, aku jadi bisa move on!” ujar Saye tersenyum,


“Bagaimana mas, bagus gak make up nya?” tanya Saye


“Bagus, cantik!,..aku jadi ngeri nih!”


“EH kenapa?” tanya Saye khawatir


“kalau cantik begini Kamu jadi banyak yang naksir, nanti malah gak mau sama aku dong?” ujar Budi dengan nada cemas


Ratna dan Saye tertawa dengan candaan Budi


“Enggak dong Mas, insya Allah mantap deh!”


“Iya dek Budi, insya Allah Saye sudah siap memulai lagi!” ujar Ratna


“Om!” panggil Rita


“Ya Rita?" jawab Budi


"Jangan KDRT sama tante Aku ya? kalau ketahuan KDRT aku kejar Om sampai kemanapun!” ujar Rita dengan nada serius


“Eh???” Budi agak kaget mendengar ancaman Rita, Saye juga


“Ah Rita ini! Dia ini atlet taekwondo nasional mas, maklum ya kalau mengancam, aslinya baik kog!” ujar Saye menenangkan


“Wah, kalau saya sih gak apa-apa, karena insya Allah saya akan memperlakukan Saye dengan baik, tapi cowoknya Dek Rita ini yang pasti sangat cemas kalau sering diancam” ujar Budi bercanda


“Ha..ha..ha.. bisa saja Dek Budi ini! Kalau sama cowoknya Rita ini jinak, sejinak merpati!” ujar Ratna bercanda


“Aku gak bercanda lho Om, Tante Saye itu tante kesayangan aku. Beliau sudah banyak menderita, Saya harap Om membahagiakan tante saya!”


“Insya Allah Rit! Om juga sudah banyak mendengar cerita tante mu, Om pikir, beliau pantas mendapatkan awal yang baik kan?” ujar Budi serius


Rita mengangguk setuju


“Oh iya Mas, ada apa kog tiba-tiba datang?” tanya Saye


“Aku kangen kamu lho!, seminggu ini gak ketemu karena persiapan pernikahan!” ujar Budi ceplas-ceplos


Ratna menyuruh Andi dan Rita masuk ke kamar meninggalkan calon pengantin


“Kita di sini saja!, jangan mengganggu mereka!” ujar Ratna di dalam kamar


“Semoga Daniel gak datang sekarang!” ujar Andi tiba-tiba


“Kenapa?” tanya Rita heran


“Kita ngumpet di mana ma? Kalau ada 2 pasang yang lagi kasmaran?” ujar Andi lagi


Rita tersipu malu


“Kak Andi lebay!, Rita gak pernah begitu sama Daniel!” elak Rita


“Boong banget! “ Aku maafin kamu karena sudah cemburu! Cemburumu lucu!” Andi menirukan kata-kata Rita


“Ih kak Andi nih!” Rita melemparkan bantal ke wajah Andi, dan Andi membalasnya, terjadilah perang bantal


“Ah kalian ini!” Ratna, mendekatkan telinganya ke daun pintu, ia ingin mendengarkan percakapan kedua mempelai


“Gimana mas?”


“Anakku Sheila gak bisa datang, dia ditahan mantan mertuaku”


“Lho, Mas budi gak bilang kita menikah?” tanya Saye


“Sudah, aku sudah ijin lho mau menikah lagi, dan mereka bilang silakan saja, tetapi mereka menahan Sheila”


“Kenapa mas?”


“Mereka takut Sheila melupakan mereka sebagai kakek-neneknya!”


“Jelasin dong gak mungkin kita membuat Sheila lupa ke mereka?”


“Neneknya juga bilang, ia takut Sheila menderita karena diasuh oleh ibu sambung”


“Ah mantan mertuamu kenal aku saja enggak sudah nuduh macam-macam!”


“Jadi gimana? Gak apa-apa ya? Sheila gak datang?? Yang penting papanya datang!” ujar Budi dengan suara memelas


“Ya iyalah, kan yang penting itu papanya!” Ujar Saye lagi


“Iya ya! padahal Sheila nangis, katanya pengen ketemu momy Saye!” ujar Budi


“Aku momy?”


“Iya, dia manggil kamu momy, kalau mamanya kan sudah meninggal!”


“Ya sudahlah, karena Sheila sudah mengakuiku sebagai momynya, aku maafkan!” ujar Saye. Beberapa saat kemudian Budi pun pamit


“Say, kamu sudah pernah bertemu dengan orang tuanya Budi?” tanya Ratna


“Mas Budi yatim piatu Kak Ratna, jadi mantan mertuanya sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.”


“Kamu pernah bertemu mereka?”


“Pernah!, Awal kami serius, dia langsung memperkenalkan dengan keluarga mantan istrinya”


“Lho, kakak dan adiknya Budi?”


“Dia juga anak tunggal!”


“Ohh..kasihan ya?”


“EH Rit, Daniel sudah pernah mengenalkan kamu sama ibunya?” tanya Saye tiba-tiba


“Belum Tan, ibunya masih di Korea, katanya sih mau dia ajak tinggal di NZ”


“Terus kenapa enggak?”


“Ibunya punya usaha salon dan penyewaan gedung di Korea, jadi beliau gak mau tinggal di luar negeri”


“Yahh..kamu yang harus ke Korea dong?” tanya Saye


“Kenapa Tan?”


“Kan kamu harus kenal dulu sama calon mertua!”


“ih tante, kita belum sampai kesitu lagi!” ujar Rita malu-malu


“Boong Tan! Itu dia sudah dikasih cincin sama Daniel !” ujar Andi


“Ih Kak Andi nih!”


“Hah? Beneran Rit?” Ratna juga kaget, ia dan Saye melihat cincin di jari manis Rita


“Ini berlian asli?” tanya Ratna, ia membuka tasnya dan mengambil alat tes berlian


“Mama bawa-bawa alat itu?” tanya Andi heran


“Mama baru beli, mama suka penasaran sama baju-baju berhias berlian yang mahal, itu berlian beneran apa enggak, jadi mama sengaja beli ini!” ia menekan alat itu ke cincinnya Rita


“Wahh...Asli Rit!!!” teriak Ratna, Rita juga kaget,


“Beneran ma?”


“Iya, coba buka dulu, mama lihat berapa karat” Ratna menggunakan kaca pembesar yang ia ambil dari tasnya


“Mama doraemon!” ujar Rita geli


“Gak kelihatan, tapi merknya Frank...”


“browsing saja harganya kak!” Saye memfoto cincin Rita dan membrowsingnya di Internet, ia terbelalak melihat harga cincin itu


“Kak Ratna...wah!!!”


“kenapa Say?"


" Harga cincin itu kalau di rupiahkan 89 juta!!!” teriak Saye

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2