Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 227: Daniel Bosan


__ADS_3

Rita dan Daniel sudah kembali ke Jakarta setelah dua minggu berada di Singapura. Selama itu Rita sibuk dengan D’Ritz. Ia menjalankan bisnisnya dari Jakarta. Ia telah mempersiapkan supplier tetap untuk menyuplai bahan baku toko rotinya.


“Kamu sibuk sekali ya?” Daniel melihat istrinya yang masih melakukan zoom meeting dengan para content creator


“Iya, mereka mengirimkan content vlog ku yang sudah diedit, nanti bantu aku untuk menilainya ya?” pinta Rita


“Hmm...bagaimana dengan D’Ritz? Aku dengar Erina sudah mengambil cuti melahirkan?”


“Sudah, aku bilang ia bisa kembali bekerja jika sudah siap”


“Kamu bos yang baik!” Daniel mengusap punggung istrinya dan mencium kepalanya, lalu ia menghampiri anak-anak yang masih bermain di depan TV.


“Hey! Kalian belum ngantuk?” tanyanya pada kedua anaknya. Rafa merangkak menghampirinya sambil memegang botol susu yang telah habis


“Pi, ding!” ujarnya sambil berusaha berdiri memegang kaki Daniel


“oh, kamu mau minum lagi?” Daniel menggendongnya, lalu ke kamar anak-anak untuk mengambil persediaan ASI yang ditaruh di lemari pendingin. Setelah menghangatkan, dan cukup aman untuk diminum, ia memberikannya ke Rafa.


“Dek, bobo deh, apa kamu gak capek nonton TV terus?” Daniel mengajaknya berbicara sambil menidurkannya. Rafa seperti mengerti maksud papinya, perlahan ia mengejap matanya yang mulai mengantuk. Daniel bangkit lalu menidurkannya. Beberapa menit kemudian Rafa pun tertidur, Daniel menaruhnya di tempat tidurnya, lalu kembali ke ruang TV. Ia melihat Ranna yang masih terpaku dengan acara TV.


“Kakak! Sudah malam, ayo tidur!” Daniel mematikan TV, Ranna bangun dari depan TV dan menghampiri Rita dan memeluknya


“Apa kak?” tanya Rita


“Mi!” tangannya menunjuk ke arah TV


“Kamu masih mau nonton TV?” tanya maminya, Ranna mengangguk


“Gak boleh! Sudah malam! Ayo tidur!” ujar Daniel dengan suara tegas, Ranna kelihatan takut, tapi ia bersikeras untuk nonton dan menghentak-hentakan kakinya sebagai bentuk protes.


“Kakak, sudah malam. Bobo ya? besok pagi dilanjutkan nontonnya!” bujuk Rita, Ranna mulai menangis, ia berteriak


“No!!”


“Kakak! Nanti adeknya bangun gimana?” larang Daniel, suaranya tegas. Ranna ketakutan, ia bersembunyi dibalik tubuh maminya. Melihat Daniel mulai kesal, Rita langsung bangkit dan menggendong Ranna.


“Bobo yuk Kak!” ia menggendong dan mencium perut Ranna yang membuatnya tertawa kegelian.


“Say bye sama papi!” Rita menghampiri suaminya di meja kerjanya, semula Ranna enggan, tetapi karena Daniel menggunakan suara anak kecil, Ranna kembali ceria.


“Bobo ya Kak!” ujar Daniel sambil mencium pipi anak pertamanya itu. Rita membawa Ranna ke kamarnya, mengganti pakaian serta popoknya lalu menidurkannya. Setelah Ranna tidur, ia mengganti pakaian Rafa yang basah karena keringat lalu mengganti popoknya kini Rafa terlihat lebih nyaman tidurnya. Rita mengatur suhu AC di ruangan anak-anak, agar mereka nyaman, juga menyalakan filter udara setelah itu ia langsung ke kamar mandi untuk berganti piyama.


“Sudah selesai meetingnya?” tanya Daniel


“Sudah!”


“Kuliah mu gimana?”


“Libur semester 1”


“Oh ya? berapa lama?”


“Dua minggu, kenapa?”


“Syukurlah, aku gak tega melihat kamu kelelahan, mengurus anak, kuliah, D’Ritz juga vlog”


“Apa aku kelihatan lelah?” tanya Rita, ia menghampiri suaminya yang sedang bekerja


“Iya, kalau bisa kegiatanmu ada yang dikurangi”


“Kamu lagi ngerjain apa? tumben bawa kerjaan ke rumah?”


“Aku sedang membaca file berikutnya dari Om Radian”


“Kamu gak menyerahkannya ke jaksa?”


“Untuk apa? ini belum tentu ada hubungannya dengan proyek si Martin. Aku sengaja membawa filenya ke rumah, aku pindahkan ke tablet ku beberapa supaya bisa aku baca kapan pun aku mau”


“hmm...apa masih lama?”


“Kenapa?”


“Aku tidur duluan ya?”


“Iya duluan saja, nanti aku menyusul!” Rita mencium suaminya lalu ke kamar tidur mereka. Daniel masih sibuk chating dengan teman detektifnya di Auckland.


“Kenapa kamu sulit sekali menemukan orang yang mengirimkan paket kepada ku?” tanya pada Erick temannya yang dulu merupakan partnernya di interpol.


“Sorry Niel, apa kamu gak tahu interpol sekarang sedang banyak permintaan kerjasama dari beberapa negara?”


“Oh ya? kenapa?”


“Selain dampak perang Rusia-Ukrania, juga isue tentang resesi global”


“Resesi global? Hubungannya sama interpol apa?”


“Kami menerima berita resesi global menyebabkan beberapa negara akan mengalami krisis, ada beberapa orang yang dicurigai menjadi provokator kerusuhan atau ******* informasi”


“hmm...jadi kasus ku sendiri tidak penting ya?”


“Bukan begitu Niel, Alan sudah berpindah tugas ke Argentina , ia menyerahkan kasus mu kepada ku”


“Apa aku batalkan saja permintaan penyelidikan? Sepertinya sudah tidak penting lagi”


“Jangan ngambek begitu! Kamu sudah menikah dan punya dua anak masih saja suka ngambek!”


“Apa hubungannya status ku dengan ngambek?”


“Seharusnya kamu lebih dewasa, aku ngebayangin betapa repotnya istri mu harus menangani anak-anak dan suaminya yang mudah ngambek”


“Enggak! istriku biasa saja!”


“tuh! Kamu masih saja mudah tersinggung dan terlalu serius. Sudah dulu deh Niel, nanti aku hubungi lagi kalau ada perkembangan kasus mu!”


“Baiklah, aku tunggu kabar mu, terima kasih Rick!” Daniel menutup percakapannya, ia memeriksa semua pintu dan jendela apartemennya lalu mengganti pakaiannya dengan piyama kemudian merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


“Sudah selesai?” tanya Rita setengah mengantuk,


“Hmm...” Ia mematikan lampu tidur, lalu langsung tidur.


Keesokkan paginya, setelah sholat subuh Daniel kembali ke ranjangnya dan kembali tidur. Rita sekarang terbiasa dengan kegiatan pagi, setelah lari pagi ia ke dapur rumah besar dan ikut mempersiapkan sarapan.


“Sudah mba, biar kami saja yang mengerjakan. Mba tinggal terima beres saja” ujar sous chef, ia melihat Rita mencicipi masakan yang sedang ia buat.


“Iya, aku kangen masak sendiri. Baiklah kelihatannya aku malah mengganggu kalian”


“Bukan begitu mba Rita”


“tenang saja gak usah panik. Aku tunggu makanannya di kamar ku ya?”


“Baik mba!”


Rita meninggalkan dapur rumah besar, ia mampir sebentar ke studio dan memeriksa vlog yang kemarin ia buat. Satu jam kemudian, bunyi alarm di smartphonenya membuat ia segera meninggalkan studionya lalu kembali ke kamar. Sarapan pagi telah terhidang lengkap di meja makan dalam kamarnya yang luas. Ia melihat jam dinding, ia heran suaminya belum beranjak dari tempat tidurnya.


“Sayang!, sudah jam 7 ayo kita sarapan!” ajaknya


“Kamu duluan saja!, aku masih mengantuk” tolak Daniel, suaranya tampak kesal karena tidurnya terganggu. Rita keluar dari kamar, lalu mengambil kedua anaknya yang sudah segar bugar dan bermain sendiri di kamarnya


“Selamat pagi!, kalian sudah bangun dari tadi ya?” Rita menurunkan Ranna dan Rafa dari tempat tidur mereka.


“Yuk kita makan duluan!” ajaknya, Rafa mulai bisa berjalan walau masih dibantu oleh Rita, sedangkan Ranna sudah langsung berlari dan naik ke kursi makannya.


“Pelan-pelan kak! Nanti jatuh!” Rita memperingatkan sambil menuntun Rafa yang terburu-buru ingin naik ke bangku seperti kakaknya. Mereka duduk di kursi bayi, Rita menyuapi mereka bergantian, sambil ikut makan. Ranna memukul-mukul meja dengan sendoknya, Rafa mengikuti tingkah kakaknya, suasana menjadi ramai di ruang makan. Daniel bangun dari tempat tidur lalu menutup pintu kamar dengan keras. Bunyinya mengagetkan anak-anak, hingga membuat mereka menangis.

__ADS_1


“Huaaa!!!”


“Gak apa-apa sayang!, itu suara pintu tertutup karena tertiup angin, woooshhh!!!” Rita meniup wajah kedua anaknya hingga mereka berhenti menangis dan meneruskan makannya. Selesai makan, Rita menyalakan TV, anak-anak dengan semangat menonton dan menari mengikuti irama dari acara TV. Sementara Rita meneruskan menyantap sarapannya. Setelah selesai bersantap, ia menutup makanan dengan tudung saji elektrik agar makanan tetap hangat.


Pukul 8 pagi, para suster datang mereka memandikan anak-anak lalu mengajaknya bermain di ruang main. Rita yang sudah mandi dan rapi berpakaian bingung melihat suaminya masih tidur. Ia menyentuh dahi suaminya, lalu mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuh suaminya.


“Normal kok!” dengan suara lembut ia membangunkan suaminya


“Sayang, sudah jam setengah 9, kamu gak kerja?” tanyanya lembut. Daniel malah menutup tubuhnya dengan selimut, ia enggan beranjak dari tempat tidur.


“Kamu cuti Yang?” tanyanya lagi


“Enggak! aku lagi malas!”ujar Daniel dengan suara sebal


“Gak apa-apa nih? setidaknya kamu memberitahu para bawahan mu agar mereka tidak menunggu mu” ujar Rita mengingatkan.


“Kamu saja deh yang online, bilang ke Eddy aku lagi kurang sehat!” ujar Daniel, ia memberikan kode keamanan komputernya.


“Baiklah!” Rita paham, beberapa minggu ini tenaga dan pikiran Daniel terkuras karena kasus di Singapura, ia pun melakukan yang diminta suaminya.


“Pak Eddy, suami ku sedang tidak sehat mungkin kelelahan, hari ini dia beristirahat”


“Baik bu, terima kasih atas pemberitahuannya”


“Sama-sama Pak!”, setelah itu, Rita kembali ke kamar tidurnya


“Sudah Yang, kamu istirahat ya?”


“Kamu mau kemana?” tanya Daniel melihat istrinya yang telah berpakaian rapi


“Ke studio, aku harus mengecek video kemarin sebelum upload ke u-tube”


“Kamu gak bisa menemani aku tidur di sini?” tanya Daniel, ia menarik istrinya untuk tidur di sampingnya.


“Kamu kenapa Yang? Kok tidak biasanya?”


“Aku bosan!”


“Bosan?”


“Iya!, setelah pulang dari Singapura aku merasa capek. Otakku kelelahan!” ujarnya


“Istirahat saja kalau begitu”


“Kamu gak keberatan?” tanya Daniel


“Kenapa harus keberatan? Aku merasakan kelelahan mu, ya pikiran dan tenaga terkuras, aneh kalau kamu gak merasa apa-apa”


“hmm..kamu bisa merasakan ya?” Daniel tersenyum, Rita mengangguk, ia merasa lega melihat senyum suaminya.


“Baiklah! Aku gak akan mengganggu mu istirahat!, tidur lagi saja! Puas-puasin mengistirahatkan pikiran, kalau bisa jauh kan ponsel atau tablet mu supaya gak kepikiran pekerjaan!”


“He eh!” Daniel memejamkan matanya lagi dan terlelap. Rita menunggu sebentar, kira-kira beberapa menit, ia meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar tidur mereka perlahan takut suaminya terbangun.


Tiba-tiba vcall dari kakek Darmawan muncul di layar TV mereka.


“Hai Rit!”


“Assalammu’alaikum, Kek!” sapa Rita


“Wa’alaikummussalam!, Daniel mana Rit?” tanyanya


“Daniel lagi sakit kek”


“Hah? Sakit apa?”


“Kayaknya kelelahan, ya fisik, ya pikiran juga”


“Sekarang dia di mana?”


“Hmm..ya sudah. Nanti aku hubungi lagi, oh ya anak-anak mana?”


“Sedang main di ruang sebelah Kek!”


“Rafa sudah bisa berjalan?”


“Sudah kek, tapi masih beberapa langkah”


“Ah..cicit-cicit ku sudah mulai besar. Pandemi ini membuat ruang gerak ku terbatas”


“Tapi kakek bisa mengambil penerbangan pribadi”


“Kalau di sini ketat Rit, mereka melihat umur. Kakek sudah lansia, mereka bilang terlalu beresiko untuk perjalanan jauh”


“Oh begitu, kak Andi gimana kek?”


“Dia sibuk dengan proyeknya di London, sepertinya temannya, siapa namanya? Keponakannya Lucas?”


“Edward?”


“Iya, Edward, ia kembali ke London. Mereka jadi partner di sini”


“Lho, yang di Dubai gimana?”


“Asistennya Lucas, siapa sih namanya Aku lupa”


“Pak Simon?”


“Iya, Simon! Dia yang menggantikan Edward”


“oh begitu”


“Baiklah Rit, bilang ke Daniel nanti malam kakek vcall ya?”


“Baik Kek!”


Percakapan mereka selesai, Rita pergi ke studionya cukup lama ia berada di sana, ketika sadar sudah tengah hari. Ia menyudahi pekerjaannya di studio, lalu pergi ke kamar main anak-anaknya


“Hai!!” tegurnya, melihat maminya muncul. Ranna berlari menghampiri maminya minta digendong, Rafa masih dipegangi susternya juga berjalan cepat untuk menghampiri maminya.


“Ahh..kalian ingin main sama mami ya?”


Rita ikut bermain dengan anak-anaknya, mereka kelihatan gembira. Bunyi alarm di smartwatch Rita menandakan makan siang sudah tersedia.


“Suster, ayo kita makan siang!”


“Baik bu!”


Masing-masing suster membawa anak asuhannya ke ruang makan, lalu menyuapinya Rita turut makan bersama mereka. Setelah selesai makan siang, anak-anak berganti pakaian lalu menonton acara TV, sementara para suster beristirahat makan siang. Rita menghampiri suaminya yang masih terlelap.


“Yang, kamu gak makan dulu? Tadi gak sarapan kan?” Rita membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya. Agak malas, Daniel bangun suara perutnya berbunyi


“Aku masih capek tapi aku lapar” keluhnya


“Aku bawa deh makanannya ke sini”


“Gak usah!, aku gak suka ada jejak bekas makanan di ranjang” dengan segan ia beranjak dari tempat tidur lalu menggosok gigi dan mencuci muka. Ia keluar dari kamar tidur dan duduk di meja makan, Rita menyediakan makanan untuk suaminya.


“Pelan-pelan saja makannya” ujarnya sambil menuangkan jus semangka, Daniel meminum jus lebih dulu


“Ahh...segar..Alhamdulillah” setelah itu ia mulai menyantap makanannya, ia memperhatikan kedua anaknya yang terpaku dengan acara TV.


“Anak-anak gak apa-apa nonton TV terus?” tanyanya

__ADS_1


“Baru dinyalakan kok, para suster sedang beristirahat, oh iya tadi kakek Dar Vcall, beliau bilang nanti malam akan Vcall kamu lagi”


“Hmm...” Daniel diam saja, tapi wajahnya menampakkan rasa tidak suka. Ia menghabiskan makanannya, mencicipi pencuci mulut.


“Sudah ah!” ia beranjak hendak membersihkan bekas makannya


“Gak usah, biar aku saja. Kamu mandi deh supaya segar lalu sholat dzuhur, setelah itu tidur lagi juga gak apa-apa. Kalau sekarang langsung tidur tidak baik efeknya buat tubuh” ujar Rita


“iya Bu Daniel, laksanakan!” Ia pergi ke kamar mandi, melakukan yang Rita suruh. Selesai sholat ia kembali ke ranjangnya yang telah kembali rapi dan wangi.


“Istriku memang keren!, dia membuat ranjang ini kembali nyaman” Ia kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tapi ia tidak bisa tidur, ia ingin menonton TV, tapi ia tidak ingin mengganggu acara anak-anaknya. Ia bangkit dari ranjangnya lalu mengambil ponselnya, ia membuka toko elektronik online, lalu membeli TV dan meminta diantar dan dipasang hari itu juga.


Beberapa jam kemudian, pesanan TV yang dibeli Daniel datang.


“Sayang, kamu membeli sesuatu?” tanya Rita, ia menerima pemberitahuan dari security tentang pengiriman TV.


“Iya, aku memesan TV tadi, suruh masuk saja!”


Para teknisi TV dari toko memasang TV di dinding kamar tidur mereka, setelah selesai Daniel menonton acara TV favoritnya dengan tenang.


“Cepat juga ya TVnya datang” Rita ikut menonton bersama suaminya


“Iya, aku bosan tidur”


“Baiklah aku tinggal dulu ya?”


“Mau kemana?”


“Ke anak-anak”


“Mereka bukannya tidur siang?”


“Eh iya ya?” Rita melihat jam tangannya.


“Sudah, kamu di sini saja nemani aku!” Daniel menarik istrinya untuk menonton film bersamanya. Rita terbiasa tidur siang, ia pun terlelap.


“Yah, dia tidur”, beberapa menit setelah film selesai. Daniel merasa bosan lagi, ia ingin snack yang dulu sering ia makan di Korea. Ia memesan bahan masakan melalui online, beberapa menit pesanannya datang. Ia membuat camilan di dapur kecil di kamar mereka, wanginya membangunkan Rita.


“Kamu masak apa Yang?”


“Aku membuat hoteok!”


“Apaan tuh?”


“Ini sebangsa roti, berisi gula dan kayu manis, mau coba?” Daniel menyuapi istrinya


“Hmm...rasanya manis, unik, enak sih. Kamu bikin berapa?”


“Baru 2 nih, mau kuajari caranya?”


“Boleh!”


Daniel mengajari Rita membuat hoteok


“Kamu belajar ini dari mana?”


“Dulu aku pernah kerja sambilan menjual hoteok di stasiun”


“Oh ya? ketika SMP?”


“Iya,Aku kenal dengan nenek yang menjual hoteok di stasiun,dan sering membantunya membawa barang-barang dari pasar. Waktu itu cucunya sedang terluka tangannya karena jatuh dari motor. Ia tidak bisa membuat hoteok, aku mengajukan diri untuk kerja sambilan di kedainya”


“Berapa lama?”


“Tiga bulan, setelah cucunya membaik aku berhenti”


“Kamu dibayar?”


“Tentu dong!, Selama aku yang jualan, banyak siswi yang membeli hoteok ku, beberapa kali kami harus mengisi ulang adonan”


“Siswi? Gak ada siswanya?”


“Ada, tapi kebanyakan yang beli siswi, kebetulan stasiun itu dekat dengan sekolahan”


“Oh begitu, apa ada siswi yang kamu taksir?” tanya Rita memancing


“Taksir? Mereka siswi SMA, aku kan masih SMP”


“Ohh...kirain!”


“Tapi daganganku laku bukan karena tampangku, tapi karena rasanya yang enak. Kamu sudah merasakan sendiri kan?”


Rita mengangguk


“Eh, ngomong-ngomong, bahan untuk ini semua kamu minta ke dapur?”


“Enggak!, Aku beli sendiri. Tadi minta diantar langsung. Cepat juga, aku juga membeli es krim”


“Kamu boros juga ya? habis beli TV lalu belanja ini semua”


“Kalau ini murah, TV aku membelinya karena sedang ada promo diskon ongkir dan ongkos pasang, kan lumayan”


“Sudah hilang betenya?”


“Gak tau deh”


“Sebenarnya kamu kenapa sih?”


“Aku lagi kesal dengan kasus di kantor.”


“Kenapa?”


“Mereka meminta aku bertanggung jawab atas proyeknya si Martin, mereka bilang untuk kebaikan Dar,Co cabang Singapura 2”


“Alasannya kamu yang harus bertanggung jawab?”


“Mereka bilang, karena aku cucu menantunya bos besar maka aku tidak akan disanksi oleh kakek kalau aku yang mengaku”


“Mengaku pada jaksa?”


“Ini masalah lain, ternyata proyeknya Martin dulu banyak masalahnya, aku jadi ingat awal-awal Mario di situ, ia juga banyak mengeluh”


“Kamu mau menjadi kambing hitam mereka?”


Daniel diam saja


“Jangan mau dong, walau kamu cucu mantu kamu gak akan lolos hukuman. Kamu harus membela diri mu sendir. Jangan merasa gak enak hati karena kamu cucu mantu lakukan hal yang benar. Sekali mereka berbuat begitu pasti akan melakukannya lagi dan menjadikan mu tamengnya”


“Nanti aku dibilang pengadu bagaimana?”


“Pengadu? Hahaha? Kayak anak kecil saja. Tunjukkan saja buktinya kalau kamu gak salah, jangan menganggap diri mu cucu mantunya kakek. Anggap saja kamu karyawan biasa yang akan diumpankan, pasti kamu akan membela diri sekuat tenaga kan?”


Daniel mengangguk


“Apa aku bisa tega begitu?”


“Harus bisa!, mereka saja tega mengumpankan kamu!, ingat kamu punya anak-anak yang masih kecil.”


“Iya bu!” canda Daniel


Mereka menyelesaikan pembuatan hoteok dan membaginya dengan seluruh penghuni rumah.


“wah enak bu, pak!” puji mereka

__ADS_1


“Hehehe..terima kasih” Daniel tersenyum puas, Rita tampak lega melihat suaminya kembali tersenyum cerah.


_bersambung_


__ADS_2