
Daniel sangat sibuk dengan peran barunya sebagai kepala cabang Lexi Canada yang disingkat Lexicon. Ia selalu tampak kelelahan setiba di rumah.
Suatu malam, Daniel lelap tertidur di sofa ruang tamu. Rita terbangun dan melihat jam dinding di kamar nya.
"Sudah jam 11 malam, kok belum pulang?"
Ia menelpon ponsel suaminya tapi masuk ke voice mail. Semua anaknya sudah lelap tertidur karena aktivitas di siang hari yang cukup padat.
Rita berganti pakaian hendak menjemput suaminya. Staf rumah berada di ruangan lain, tempat Rita berada sangat sepi. Ia menuruni tangga dengan perlahan, kehamilannya menginjak 6 bulan.
Ketika ia hendak keluar rumah di dapatinya Daniel sedang nyenyak tertidur di sofa. Suara dengkuran mengagetkan Rita yang hendak mengambil jaketnya.
"Astaghfirullah.. disini rupanya.." rasa cemas dihatinya berganti dengan rasa kasihan.
Diusapnya rambut suaminya
"Kasihan, lelah banget ya?"
Ia hendak mengangkat suaminya tapi tidak kuat karena kehamilannya. Akhirnya ia memutuskan memanggil staf rumah yang bekerja shift malam
"Hai, ini Bu Rita, bisa datang ke ruang tamu? Bawa juga teman mu aku sangat butuh bantuan kalian!"
Beberapa saat kemudian, datanglah dua orang staf rumah
"Tolong bantu aku memindahkan bapak ke kamar! Hati-hati jangan sampai ia terbangun" pinta Rita
Kedua staf memanggil keamanan yang lebih besar badannya dan lebih kuat mengangkat Daniel. Perlahan Daniel dipindahkan ke kamarnya, Rita membawa jas serta tasnya.
"Terimakasih!"
"Ada lagi yang bisa kami bantu Bu?"
"Belum ada! Tapi mungkin setiap malam akan begini"
"Jangan khawatir Bu, kami akan siap membantu!"
"Terimakasih!"
Mereka keluar dari kamar.
Rita mengambilkan piyama dan air hangat dalam wadah.
Perlahan-lahan ia membuka pakaian suaminya dan melap tubuhnya dengan air hangat dan tissue basah, kemudian dia memakaikan piyama.
"Aduh..papi berat sekali ya nak!" Rita bergumam pada bayinya dalam perut. Setelah selesai, ia merapikan semua perlengkapan suaminya, ditatapnya wajah lelah suaminya, lalu ia memegang pipinya.
"Istirahat ya sayang!" Bisiknya.
Daniel kembali mendengkur .
Hari telah pagi, seperti biasa anak-anak sudah rapi menunggu sarapan pagi terhidang.
"Selamat Pagi semuanya!" Sapa Rita riang, satu per satu kepala anaknya dicium.
"Mami!"
"Ya sayang?"
"Papi mana?" tanya Ranna
"Papi masih tidur sayang!"
"Capek ya?"
"Iya! Kalian jangan ganggu papi dulu ya? Oh iya hari ini kalian akan mengaji!"
"Mengaji? Di mana mi?" Tanya Raffa
"Di Mesjid! Mami sudah buat janji dengan ustadz Kholid"
Sarapan telah tersedia Emir sang koki dan sous chef menghidangkannya di atas meja.
"Terimakasih!" Ucap anak-anak dan Rita kompak.
Para Nanny membantu mengambilkan sarapan.
"Kalian juga ikut makan di sini saja, gak usah ke ruangan lain"ujar Rita
"Baik Bu!" Jawab para Nanny.
" Mami, dali mesjid kita bisa pergi ke mal?" Tanya Raffa
"Ngapain ke mal bang?" Tanya Daniel yang tiba-tiba datang ke dapur dengan pakaian rapi, ia mencium kepala semua anaknya juga istrinya.
"Hai, kamu terlihat segar!" Sapa Rita
"Lumayan! Aku capek banget tadi malam, aku bersyukur disupiri, kalau bawa sendiri sudah pasti aku akan tertidur di jalan!" Daniel mengambil sarapannya.
"Jadi Abang ngapain mau ke mal?" Tanya Rita
"Abang mau beli robot!"
"Oh Optimus ya?" Tanya Rita, robot Optimus nya sudah dikembalikan ke Michele
"Bukan! Bumblebee!"
"Kenapa Bumblebee Bang?" Tanya Rita lagi
"Lebih Lucu Mi, Abang nonton filmnya"
"Oh begitu! Kalau mami beliin Optimus Abang mau gak?"
Raffa menggeleng, Optimus mengingatkan penolakan Michele pada dirinya.
"Abang mau beli mainan ada uangnya?" Tanya Daniel
"Ada!" Tiba-tiba ia berlari meninggalkan kursinya, tak lama kemudian ia kembali ke ruang makan.
"Abang punya ini!" Dia menunjukkan e-money bergambar robot bertuliskan nama Rafardhan
Rita kaget dan mengambil kartu tersebut
"Kartu ini dari mana Bang?" Tanya Rita heran
"Dali Uncle Oby dan aki eyang!" Jawab Ranna
"Kakak dapat juga?"
Ranna mengangguk
"Kakak walna pink, gambalnya balbie, Ayya juga dapat, walna melah!"
"Oh ya? Kakak taruh dimana kartu adek?"
"Ada di tas kakak!, Kalau punya adek Affa yang pegang!"
"Gak ada isinya kali!" Ujar Daniel.
"Coba sini bang!" Rita menyalakan setting NFC di ponselnya, lalu mendekatkan kartu tersebut
"Ada Yang! 600 dollar!"
"Wah..besar sekali itu! Jangan dibelikan mainan semuanya ya bang!" Ujar Daniel
Rita mengembalikan kartu itu lalu menelpon.
"Mau nelpon siapa?" Tanya Daniel
"Robby,! Apa gak berlebihan ngasih kayak gini?" Jawab Rita gusar.
Rita menelpon Robby,
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikummussalam!"
"Eh Rob, lagi sibuk?"
"Enggak! Baru selesai jogging"
"Oh rajin juga, btw Rob, itu gak salah ngasih anak-anak e-money?"
"Enggak! Kakek juga setuju. Beliau bahkan nambahin 200 dollar!"
"Banyak amat!"
"Enggak apa-apa, kan gak setiap hari, anggap saja hadiah ultah, waktu mereka ultah kan gue gak ngasih kado!"
"Terimakasih ya Rob! Tapi next time kalau ngasih ke anak-anak kasih tahu gue juga ya supaya bisa dikontrol!"
"Sama-sama Rit, okay.
btw Lo tau gak gue ada di mana?"
"Gak tau, di mana?"
"Gue di Auckland tempat kakek Darmawan "
"Ngapain di situ? Kakek bukannya ada di London?"
__ADS_1
"Kakek Darmawan sudah di sini, Andi yang masih di London, katanya mau tukeran tugas sama Mario!"
"Tukeran? Bisa begitu?"
"Tahu deh, eh iya, kemarin gue ketemu teman Lo Sisca!"
"Sisca? Kok Lo bisa tahu itu teman gue? Yang namanya Sisca kan banyak"
"Sebenarnya dia mengenali mobil yang membawa gue ke resepsi."
"Resepsi siapa?"
"Kenalan kakek, gue gantiin kakek menghadiri resepsi pernikahan "
"Oh, terus?"
"Terus dia nyamperin gue, dia bilang ngenalin mobil itu, dia nanya gue siapanya Rita"
"Langsung nanya begitu?"
"Ya gak gitu juga sih, kita dikenalin sama teman gue yang jadi Groomsmen, dari situ dia nanya"
"Wah, sempit banget dunia ya?"
"Iya!"
"Nanti gue nelpon dia, oke deh Rob, thanks ya!"
"Oke Rit!"
Mereka menyudahi teleponnya, Daniel selesai sarapan, dia menggendong Rayya, sudah tiga hari dia tidak bertemu dengannya.
"Katanya apa?" Tanya ke Rita yang baru selesai nelpon.
"Hadiah ulangtahun!" Jawab Rita
"Dermawan juga ya Robby, Papi kangen adek!!!" Ujarnya sambil menciumi pipi Rayya,
"Sama Kakak Pi?"
"Kangen juga dong!"
"Sama Abang?"
"Kangen juga! Papi kangen semuanya!"
"Papi pulangnya malam sih ya? Anna lihat papi digendong tadi malam!"
"Oh ya? Siapa?" Tanya Daniel ke Rita
"Keamanan! Mereka badannya besar,aku gak kuat bopong kamu"
"Oh, aku pikir aku jalan sendiri ke kamar" Daniel mengembalikan Rayya ke kursinya
"Kakak belum tidur tadi malam?" Tanyanya
"Belum! Anna lihat mami belum bobo, nungguin papi, jadi Anna temani mami tapi di Kamal"
"Oohh..anak pintar!" Daniel mencium pipi anak sulungnya
Raffa memperhatikan papinya
"Kenapa bang? Kok liatin papi begitu?"
"Papi!"
"Ya sayang? Lemon nakal, papi jangan mau ikut sama dia!"
"Lemon? Siapa Lemon?" Tanya Daniel ke Rita yang baru selesai nelpon
"Aku juga gak tahu, oh iya tadi uncle Robby bilang uang di kartu jangan dihabiskan, beli mainannya satu saja? Terus nanti kartunya titip ke mami!"
"Kenapa mi?" Tanya Raffa
"Supaya gak habis! Lagi pula belum tentu cukup uangnya untuk beli mainan kan? Nanti mami juga yang nambahin!" Jawab Rita
"Aku berangkat ya?" Daniel mengambil tasnya.
"Dah papi!!" Anak-anak berteriak, Rita mengantarkan sampai ke mobil.
"Hati-hati ya sayang! Bekalnya sudah dibawakan?"
"Sudah, ini!" Daniel menunjukkan tempat makanannya, ia yang tadinya sudah masuk ke mobil kembali keluar, lalu mencium bibir istrinya cukup lama.
"Muachh! maaf semalam sudah membuat mu lama menungguku!"
"Hati-hati di jalan ya?"
Mobil Lexus terbaru meluncur meninggalkan rumah besar.
Rita kembali ke dapur dan melanjutkan sarapannya.
Para nanny yang kini berjumlah 3 orang. Ranna diasuh Erni, Rayya diasuh Eva dan Raffa diasuh Ryan. Daniel memilih Ryan yang menurutnya lebih perhatian dibandingkan Anthony, dari segi wajah, Ryan biasa saja.
"Sudah hampir jam 9, kalian ganti baju, pakai baju putih ya? Abang pakai baju Koko ya? Ryan aku sudah menaruhnya di lemari.
"Baik Bu!"
Anak-anak dibawa ke lantai atas untuk berganti pakaian, Rita juga turut ganti pakaian dan mengenakan kerudung.
Mobil minibus tiba di kediaman mereka siap mengantarkan ke mesjid terdekat.
Jarak rumah ke mesjid sekitar 45 menit, anak-anak menikmati perjalanannya sementara Rita memantau toko melalui tabletnya.
"Mami!"
"Ya sayang?"
"Pulang dali mesjid ke kantol papi yuk!" Ajak Raffa
"Lho bukannya kamu mau ke mal?"
"Nanti aja, aku mau ketemu papi!"
Rita terdiam, biasanya jika Raffa bersikeras ada sesuatu yang akan terjadi.
"Baiklah! Nanti kita ke kantor papi ya?"
"Asyikk!! Muach!" Raffa mencium pipi maminya.
Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di mesjid yang dulunya pernah menjadi gereja.
Di dalamnya tampa sangat luas, ruangan yang dulu ditempatkan kursi diganti dengan karpet yang menghampar luas.
Di ruangan lain terdapat TPA, Taman Pendidikan Al Qur'an Ar-Rahman. Di situ telah banyak anak-anak berlarian menunggu jam belajar di mulai.
"Assalamualaikum!" Sapa Rita
"Wa'alaikummussalam!" Seorang lelaki paruh baya berjenggot menghampiri Rita
"Maaf Anda ustadz Kholid?"
"Iya? Ibu Rita?"
"Benar ustadz! Ini saya mau mendaftar kan Anak-anak belajar mengaji di sini"
"Oh boleh Bu, mari!" Ustadz Kholid mengajak Rita masuk ke ruangan lebih dalam, semua rombongannya ikut serta.
"Silakan duduk Bu!" Ia mengeluarkan sebuah buku besar bertuliskan data siswa
"Namanya siapa saja ya Bu?"
"Kak Ranna, Bang Raffa kemari!" panggil Rita
Kedua anak batita itu berlari menghampiri
"Ini Ranna usianya 4 tahun dan ini Raffa adeknya 3 tahun. "
"Ranna..."
"Ranna Khadijah Kang"
"Raffa..."
"Rafardhan Muhamad Kang"
"Kang..di sini nama marga Korea?"
"Iya, nama keluarga suamiku "
"Oh, begitu, marganya familiar dengan nama donatur kami, Kang juga"
"Oh ya? Boleh tahu namanya?"
"Daniel Kang?"
"Dia suamiku ustadz!" Jawab Rita geli
"Oh iya? Kami sendiri belum pernah bertemu langsung dengan beliau, kami hanya menerima infaq bulanan darinya"
__ADS_1
Rita tersenyum,
"Oh iya ustadz yang kecil ini Rayya, 1 tahun, dia ingin ikut mengaji bersama kakak-kakaknya, bisa kan?"
"Sebenarnya bisa Bu, tapi ada pengasuhnya kan? Biasanya anak-anak seusia ini mudah bosan"
"Semuanya ada nanny ustadz. Mereka akan ikut kemari setiap mengaji"
"Baiklah, kalau ibu mau ikut mengaji , ada juga untuk yang dewasa di lantai 2."
"Jamnya sama Ustadz?"
"Sama Bu, di sini banyak ustadz dan ustadzah yang mengajar mengaji"
"Alhamdulillah.. bagaimana pembayarannya ustadz?"
"Untuk TPA tidak dipungut biaya Bu, tapi ada infaq sukarela di kotak infaq itu" ustadz menunjukkan sebuah kotak besar di ruangan itu.
"Oh begitu, baiklah!"
Ustadz mengisi beberapa formulir, Rita memasukkan uang beberapa ratus dolar ke kotak yang disediakan.
"Silakan Bu!" Ustadz mengajak mereka ke ruang kelas.
Anak-anak memasuki kelas, mereka anak paling muda disitu.
Rita mengingatkan kedua anaknya.
"Kalian belajar yang betul ya? Jangan bercanda apalagi main! Mainnya nanti sesudah mengaji! Paham?"
"Ya mami!" Jawab Raffa
"Paham kak Ranna?"
Ranna mengangguk. Rita hendak meninggalkan mereka di kelas,
"Mami kemana?" Tanya Raffa menahan.
"Mami ngaji juga di lantai 2! Nanti pulang dari sini kita ke tempat papi untuk makan siang ya?"
"Asyikk!!"
Ranna berlari lebih dulu mengikuti ustadz, Rayya dituntun Raffa.
"Kalian bisa menunggu di pinggir sana, karena Rayya kan masih harus dijaga!"
"Baik Bu!"
Para Nanny mengikuti arahan ustadz. Rita naik ke lantai 2 , ia bertemu beberapa wanita muda di sana
"Assalamu'alaikum!" Sapa Rita
"Wa'alaikummussalam! Kamu orang baru?"
"Iya! Saya Rita!"
"Amelia dan ini Rachel, kami mualaf!"
"Oh ya? Selamat ya?"
"Terimakasih!"
"Sudah berapa lama kalian belajar di sini?"
"Sejak Januari tahun ini" jawab Rachel.
Ustadzah datang, Rita memperkenalkan diri kepada ustadzah.
"Minggu pertama ini kita belajar hafidz Al'quran, Minggu kedua kita akan mengikuti kajian, Minggu ketiga dan keempat kembali belajar hafidz Al'quran!"
Satu jam kemudian pelajaran selesai, Rita memasukkan uang ke kotak infaq.
"Hei Rita, kami mau makan siang, kamu mau ikut kami?" Tanya Amelia
"Maaf, aku sudah ada janji pada anakku untuk ke kantor suamiku"
"Eh kamu sudah punya anak?" Tanya Rachel kaget,
"Dia sedang hamil kan?" Ujar Amelia heran dengan pertanyaan Rachel
"Aku pikir ini anak pertama mu!" Rachel mengelus perut Rita yang buncit
"Hahaha..tidak, ini anak keempat, tuh pasukan ku sudah pada menunggu!"
Anak-anak berlarian menghampiri maminya
"Anak-anak, ini aunty Rachel dan Amelia!"
"Hai! Kamu siapa?" Tanya Rachel ramah
"Anna!" Ranna mencium tangan Rachel
"Kamu?"
"Affa?"
"Kenapa mereka mencium tangan?" Tanya Amelia melihat perilaku sopan Ranna dan Raffa.
" Oh itu kebiasaan di Indonesia, kalau bersalaman dengan orang yang lebih tua mencium punggung tangannya! Itu tanda kesopanan" ujar Rita menerangkan.
"OOO begitu! Mereka menyukai anak-anak Rita.
"Mereka lucu sekali ya? Apa kalian merencanakan punya anak dengan jarak usia yang sangat dekat?" Tanya Amelia yang sudah memiliki satu putri.
"Begitulah!, Suami ku menyukai anak kecil, dia juga anak tunggal dia ingin anak yang banyak!" Jawab Rita sambil mengusap perutnya.
"Kalau aku jadi suami mu, aku juga ingin punya banyak anak dari mu!" Ujar Rachel
"Hahaha...kamu bisa saja!"
Mereka berpisah di halaman mesjid, Rita dan anak-anak meluncur ke kantor Lexicon.
"Tolong ganti pakaian anak-anak, baju putih nya takut kotor!" Pinta Rita, ia membuka tas yang dibawanya dari rumah dan mengambil tiga pakaian ganti. Anak-anak berganti pakaian di mobil. Satu jam kemudian mereka tiba di Lexicon.
Rita datang ke resepsionis
"Maaf, saya ingin bertemu pak Daniel Kang!"
"Sudah janji sebelumnya Bu?"
"Belum, saya Rita istrinya!"
"Oh, sebentar ya Bu, silakan duduk dulu!" Pinta resepsionis sopan. Anak-anak mengikuti Rita duduk di ruang tunggu. Tak lama kemudian Allan datang
"Selamat Siang Bu Rita!"
"Siang! Saya mau ketemu bapak!"
"Mari Bu! Bapak sedang meeting online, sebentar lagi selesai!" Allan melihat jam tangannya.
Mereka berjalan mengikuti Allan, Raffa berlari dan memegang tangan Allan.
"Boleh?" Tanya Raffa sopan, Allan tersenyum mengangguk.
Mereka naik ke lantai paling atas.
"Di lantai ini hanya khusus ruangan Presdir!" Ujar Allan menerangkan
Ruangan luas dengan furniture tertata apik.
"Papi!!" Raffa melepaskan tangan Allan dan berlari menghampiri Daniel.
"Hey! Kalian kemari?" Daniel baru selesai meeting online.
"Hai! Mengganggu ya? Raffa bersikeras kemari" ujar Rita,ia mencium pipi suaminya
"Gak ganggu kok, sekarang waktunya jam istirahat!"
"Makan keluar yuk?" Ajak Rita
"Hmm... sebentar!" Dia menekan nomor di telponnya.
"Ya pak?" Allan datang ke ruangan Daniel.
"Apa ada meeting lain setelah makan siang?"
Allan mengecek tablet nya
"Tidak ada pak!"
"Kalau begitu aku pulang lebih dulu ya, kemarin aku lembur sampai malam. Hari ini aku mau istirahat bersama keluarga ku!"
"Baik pak! Mobilnya pak?"
"Aku naik mobil mereka saja!" Ujar Daniel lagi.
Daniel menggendong Raffa keluar dari ruangannya, di belakangnya Rita dan rombongan mengikuti.
_bersambung_
__ADS_1