
Hari sudah pagi, di Bali matahari muncul lebih awal, pukul 5 pagi sudah terang, Rita bangun lebih awal untuk memulai aktivitasnya. Hari ini Rita tetap bersemangat, ia mengenakan pakaian olahraganya, memakai headset yang memutar lagu kesukaannya, kemudian ia mulai berlari kecil. Seperti biasa ia melakukan gerakan-gerakan seperti taichi untuk pernafasan. Tak disangka seseorang menepuk pundaknya. Rita menoleh, ternyata pak Dodi.
“Selamat Pagi Rita!” Sapa Dodi
“Selamat Pagi Pak!” Jawab Rita tersenyum.
“Kamu rajin sekali ya, biasanya anak-anak seusia kamu masih pada bobo chantik”
“Rita sudah biasa Pak, kalau bangun siang rugi karena ga bisa menghirup udara pagi yang bersih!”
“Betul itu Rit, saya juga berpikir begitu, makanya saya sudah keliling hotel dari jam 4 tadi”
“Oo masih gelap dong pak?”
“sedikit gelap tapi lebih fresh. Apalagi kalau lagi suntuk, makin pagi saya bangun”
“mungkin itu insomnia pak, hehehe!”
“Mungkin juga!”
“Oiya Rita, panggil saya Om saja, kakak dan teman kamu juga panggil Om. Kalau panggilan Bapak itu untuk para karyawan saya!”
“Gapapa nih Om?”
“Iya, btw kata mama, kamu mau jadi atlet? Atlet apa?”
“Beladiri Om!”
“Oo Suka beladiri?”
“Sangat Om, bukan saja untuk olah tubuh tapi juga untuk melindungi orang-orang yang Rita sayang”
“Waahh hebat, Seperti Avenger dong!, BlackWidow!”
“ya begitulah Om versi lokal, tapi belum widow ya”
“Hahaha.. pastinya.. beladiri apa yang kamu tekuni?”
“Hmm..karate, taekwondo juga iya!”
“Wow! Kamu perempuan, apa mama ga keberatan?”
“Mama juga pemegang sabuk hitam taekwondo om🤭”
“Begitu ya😨”
“Tapi tenang Om mama ga galak kog sudah jinak, hahaha”
“Hahaha..bisa saja kamu”
“ Om sudah lama membuka hotel ini?”
“hmm... sebenarnya hotel ini diwariskan oleh ayah Om. Selain di sini ada juga di Pantai Anyer. Mungkin kapan-kapan kalian bisa Om ajak kesana!”
“Berat ya om punya usaha besar seperti ini?”
“Dibilang berat ya berat karena banyak orang mencari nafkah di sini, Om Cuma dititipi rejeki mereka oleh Allah.”
“Iya om, kalau dapatnya besar, resikonya juga besar ya?”
“Ooh kamu ngerti bisnis juga?”
“Sedikit Om, ada pelajaran enterpreneur di sekolah”
“waah bagus itu👍”
“Maaf om kalau kurang sopan, Om sedang dekat sama mama Rita?”
“Hmm..Iya, kamu Tahu?” jawab Dodi agak terkejut
“Feeling Om!”
“Kamu keberatan?” tanya Dodi
“Jawaban Rita, tergantung jawaban mama Om. Karena yang akan menjalani mama. Kira-kira satu setengah tahun lagi Rita kuliah, kasihan mama sendirian kalau Rita tinggal Kost.”
“Itukan masih lama Rita kalau yang sekarang perasaan kamu gimana?”
“Yaa gitu Om, kacau!!”
“kog kacau? Bisa jelasin?”
“Hmm..di satu sisi Rita keberatan, siapa yang maukan mamanya punya suami selain ayah Rita.Tapi di sisi lain Rita kasihan sama mama, cinta ga bisa dipaksakan , ya kan Om?”
“Iya juga sih, om ngerti kog, dulu orang tua om juga cerai. Om juga ga menyangka bakal mengikuti jejak mereka” ujar Dodi sedih
“ Turut prihatin om”
“Iya kamu juga ya, Rit!, Tapi papa dan mamamu beruntung ya punya anak pengertian kayak kamu!”
“Mungkin karena dulu Rita sering diajak ke tempat tugas ayah Om. Ayah bilang, Rita masih beruntung masih punya Ayah dan mama, walaupun sama mama jauh tapi tetap masih ada. Anak-anak daerah konflik , pagi masih bertemu ortunya, malam ortunya sudah meninggal dunia. Jadi harus banyak-banyak bersyukur!”
“Nasehat bijak Rit! Om jadi makin kagum nih, jadi takut ngecewain kamu dan mama kamu!”
“Jangan ada beban Om, jadi yang terbaik versi diri om saja. Oiya, kalau misalnya ada konflik antar anak-anak mama dan anak om, Rita harap Om tidak memihak. Biarkan kami menyelesaikan permasalahan kami sendiri.”
“Baiklah Rit, akan Om ingat! Sudah jam 8 nih, yuk kembali ke hotel, kita sarapan!”
Mereka berjalan berdampingan menuju hotel.
Di kamar, Andi masih terlelap. Dewa yang berolahraga kecil Di depan kamar, menunggu Rita keluar dari kamarnya.
“Apa gue ketuk saja ya?” pikirnya. Ia sudah berada di depan kamar Rita
“tok..tok..tok.. Rita!! Olahraga yuk!” Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“yah.. mungkin kecapean habis konser tadi malam” pikir Dewa. Ia kembali ke kamarnya dan memindahkan kursi ke balkon. Ia membuka Ponselnya. Ada pesan dari Tomi.
Tomi : Wa, lo kapan balik? Nih si Isye nempel mulu !
Dewa: lho memang dia magang di situ kan?
Tomi: Iya, tapi shiftnya sudah lewat dari tadi dia ga mau pulang, kesepian katanya.
Dewa: suruh aja dia kerja lagi, kalau capek juga pulang sendiri
__ADS_1
Tomi: ngeri juga gue suruh dia pulang sendirian😨 kemarin dia hampir dikerjain preman.
Dewa: Dikerjain gimana?
Tomi: ya dikerjain, gue juga ga tahu awalnya yang jelas dia dikejar-kejar. Untung ada Indra dkk, jadi gue dibantuin lawan tu preman
Dewa: Alhamdulillah, syukur deh. Isye memang bisa menarik orang-orang, kadang orang ga jelas pada ngikutin dia.
Tomi: he eh! Asyik ga liburannya?
Dewa: lumayan, kita di sangeh sekarang. Ia mengirimkan fotonya bersama Andi dan Rita yang topinya diambil monyet.
Tomi: itu Rita?
Dewa: iya, rambutnya merah ya😁
Tomi: lo apain kog jadi merah?”
Dewa: enak aje lo nuduh! dianya yang apes😐
Tomi: oo gitu ya udah deh
Dewa: oke, I missed You!😘
Tomi: preettt lah👻
Dewa menutup ponselnya. Andi yang terbangun karena bunyi pesan ponsel Dewa, menyapanya.
“Ar, lo udeh bangun dari tadi?” Katanya sambil mengusap wajahnya yang terkena sinar matahari yang masuk ke kamarnya.
“Iya, abis gue lihat lo capek banget, makanya gue ga bangunin”
“Sudah waktunya sarapan ya?”
“30 menit lagi, lo cepetan mandi deh! Bau iler nih!”
Andi berjalan malas ke kamar mandi, dan langsung menyalakan shower
“Auuu..panasss!” teriaknya, rupanya ia salah menyalakan shower yang mengeluarkan air hangat.
Selesai mandi dan berpakaian. Andi dan Dewa keluar kamar menuju ke ruang makan, sebelumnya mereka mampir ke kamar Rita.
“Rit,..Rita..bangun..ayo sarapan!” panggil Andi
“Tumben ya, kayaknya tadi malam dia juga ga banyak nyanyi, kog kayaknya capek banget ya?” ujar Dewa
“Kita bawain aja deh sarapan ke kamarnya”ujar Andi, mereka pun langsung menuju ruang makan. Di sana Rita dan mama sudah menunggu Andi dan Dewa.
“Wahhh..para prince charming baru pada bangun nih!” ledek mama
“Kamu sudah di sini Rit” dari jam berapa?” tanya Dewa
“Dari pagi kak, Rita lagi olahraga eh ketemu om Dodi, olahraga bareng, udahannya sekalian kesini”.
“Om Dodi?” tanya Andi bingung
“Iya, tadi Pak Dodi minta dipanggil Om, biar lebih akrab katanya!” ujar Rita
“Hmmm..” sarapan pagi itu penuh keceriaan. Ternyata Aldi dan Tasya yang akhirnya ikut bergabung di meja mereka cukup menghibur. Semua tertawa senang mendengar cerita Aldi tentang pengalamannya awal masuk sekolah di London. Hanya Andi yang kelihatan murung. Mama dan Dewa memperhatikannya, tetapi mereka tidak berkata apa-apa.
“Kalian mau pergi kemana hari ini?” tanya Dodi
“Tasya boleh ikut ya Kak?” tanya Tasya
“Ga boleh anak kecil!”
“Hemmhuuu..kak Aldi ga asik nih!, Kak Gulali, Tasya boleh ikut ya?” tanya Tasya ke Rita
“Ikut saja Tasya!” jawab Rita, dalam hatinya, “ awas deeh nanti gue ceburin di kolam, seenaknya saja manggil orang gulali!".
Seusai sarapan, anak-anak pergi ke taman dengan diantar mobil dari hotel. Ratna dan Dodi tidak ikut. Suasana di taman sangat menyenangkan. Suara air mengalir yang jernih, serta melihat ikan-ikan koi berenang sungguh memanjakan mata.
“Bagus ya ikannya? Konon memelihara ikan dianjurkan untuk anak autis, karena menenangkan” ujar Rita
“Iya betul, bukan untuk anak autis saja, gue juga sukaa banget sama ikan. Di rumah, gue pernah punya aquarium besaarr isinya ikan-ikan hias!” ujar Aldi bercerita
“Tapi sudah dijual sama mama karena susah ngurusnya!” celetuk Tasya
“Hah? Kapan? Sama ikan-ikannya?” tanya Aldi dengan nada tinggi
“Hhh sejak kakak pergi sekolah.” Jawab Tasya lagi
Muka Aldi memerah. Rita membisikkan sesuatu ke Tasya
“Tas, kamu ga usah cerita apa-apa lagi, nanti kak Aldi marah!”
“Tapi Tasya ngomong yang beneran Kak, mama bilang kak Aldi tidak bertanggung jawab seperti papa!” celetuk Tasya lagi
“Oke deh!” Rita menutup mulut Tasya dan mengajaknya pergi ke tempat lain.
Aldi yang termenung menatap kolam dengan wajah sedih, dihampiri oleh Andi.
“Namanya orang tua, selalu merasa dirinya benar!” ujar Andi sambil berlalu.
Acara hari itu menjadi kurang mengenakan, selain wajah Aldi yang selalu cemberut, wajah Andi juga ga kalah murung. Dewa berusaha membuka percakapan.
“Jadi Al, dari sini kita kemana?” tanya Dewa
“Mau kemana lagi, ya pulang ke hotel lah!” jawabnya ketus.
“Lo jangan marah-marah begitu dong sama temen gue! Kan kita kesini ide lo!” ujar Andi kesal.
“Sorry nih, gue ga bermaksud marah sama kalian, tapi perasaan gue saat ini betul-betul kesal!”
“Ya sudah, kita kembali saja” ujar Dewa.
Mereka kembali ke mobil dan pulang menuju hotel. Selama di perjalanan Rita terus bercanda dengan Tasya, mereka menjadi akrab. Itu membuat Andi semakin tidak senang. Mobil telah tiba di hotel, Aldi keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Disusul Rita, Tasya, Dewa lalu Andi. Dodi menyambut mereka
“Bagaimana jalan...jalannya?” tanya Dodi yang dilewati begitu saja oleh Aldi.
Ratna yang memperhatikan Aldi, bertanya kepada Andi.
“Kenapa lagi Aldi?”
“Biasa lah ma. Lagi dapet!” jawab Andi ngasal
__ADS_1
“Dapet? Dapet apaan? Andii??” panggil Ratna, Andi berjalan lebih cepat mencari Rita. Dewa berjalan mengikutinya.
"Rita! Rita kakak mau ngomong sama kamu!” ujar Andi gusar.
“Tasya, sama kak Arya saja ya, kak gulali mau ngomong sama kakaknya!” ajak Dewa ke Tasya. Dan ia pun menurut.
“Lo kenapa si Rit?” tanya Andi
“Kenapa apa kak? Tanya Rita bingung
“Ngapain lo akrab banget sama pak Dodi dan Tasya? Memang sudah siap jadi saudara gitu ya?”
“Memang ga boleh akrab?”
“Sama mereka ga boleh!”
“Kenapa?”
“Nih ya Rit, kakak bilangin. Mama sudah dekat sama pak Dodi sejak 2 tahun lalu. Kakak tahu karena ga sengaja lihat pesannya di ponsel mama. Dan liburan ini sengaja mama rencanakan untuk mengenalkan kita sama pak Dodi!”
“Kalau Cuma kenal saja ga apa-apa kan kak?” jawab Rita
“Kamu jangan sok bloon begitu deh, mungkin kamu bisa nerima orang baru, karena kamu masih punya ayah. Jadi ga ngaruh kalau mama sudah sama suami barunya!. “ Ujar Andi emosi
“Ga begitu kak! Rita juga takut kehilangan mama!” jawab Rita
“ Sejak kecil kakak sudah dipisahkan dari mama, tinggal sama kakek Darmawan. Walaupun kakek baik, tapi tetap saja. Kakak selalu iri lihat teman-teman yang dijemput mamanya, ketemu mamanya sepulang sekolah. Dan 2 bulan terakhir ini, kakak sangat senang bisa ketemu lagi sama mama, sama kamu! Tapi sekarang mama akan punya suami baru, pastinya perhatian ke kita akan berkurang!”
“Tapi kak, kitakan sudah beranjak dewasa , kasihan mama sendirian!” ujar Rita
“Itu masih jauh Rita!, kita pikirkan yang sekarang! Pokoknya kakak ga mau kamu ber-akrab-akrab ria sama mereka lagi!” ujar Andi dengan nada tinggi.
Rita yang merasa mulai panas, beranjak pergi meninggalkan Andi. Dewa mau mengikutinya
“Hey Arya, ngapain lo ngikutin Rita terus? Lo kan temen gue? Gue yang ngajak lo bukan Rita! " panggil Andi setengah berteriak.
“Iya Tuan!” jawab Dewa dengan nada merendah berusaha melucu
“Gue gak abis pikir deh sama Rita. Kog bissaaa ya dipengaruhi dengan begitu gampangnya!.”
"Bukan begitu Ray!, Rita juga sama keberatannya sama kayak lo! Kemarin waktu kita latihan di pantai dia cerita kegundahan yang sama kayak lo!”
“Terus kenapa sekarang dia jadi kayak begitu?”
“Ya mungkin karena gue kasih pertimbangan lain ke dia!”
“OOOO ternyata Elo penyakitnya? Pantesan Rita jadi nurut kayak gitu!”
“Rita itu cerdas Ray, dia punya pertimbangan sendiri, gue Cuma ngasih masukan ke dia!”
“Lo ga bisa begitu Ar, karena lo ga ada di posisi gue!”
“Lo salah Ray!, Lo ga tahu kan papa gue yang sekarang itu papa sambung!. Bokap gue dulu tentara, beliau meninggal dalam tugas. Waktu itu gue masih dalam kandungan. Nyokap gue menikah lagi waktu gue umur setahun. Tiga tahun kemudian Isye baru lahir” cerita Dewa.
“Tapikan kejadian itu waktu lo masih kecil!”
“Sama saja Ray, perasaan terabaikan itu pasti ada, tapi lo jangan meragukan kasih sayang Ibu. Seorang Ibu itu ga akan mengabaikan anak-anaknya. Percaya deh sama gue. Waktu Isye lahir, gue sudah merasa papa sambung gue agak menjauh dari gue, tapi mama gue engga. Beliau tetap memperhatikan gue, menjaga gue dan mencukupi kebutuhan gue. Itu kasih sayang Ibu Ray! Lo jangan pernah meragukan!” ujar Dewa.
“Lo ga boong kan? Kog gue baru tahu? Perasaan gue lo deket banget sama papa lo?”
“yahh..lo tahukan gue pinter ngambil hati orang!” ujar Dewa mulai bercanda lagi.
Wajah Andi yang semula kusut mulai sedikit cerah.
Di tempat lain Dodi mengejar Aldi yang mulai memukul-mukul sandsak tinjunya. Dodi memang sengaja menaruh sandsak tinju di kamar Aldi supaya Aldi bisa menyalurkan kemarahannya.
“Kamu kenapa Aldi?” tanya Dodi dengan sabar
“Papa tahu ga? Mama menjual aquarium dan semua ikan Aldi?” keluhnya dengan mata mulai berkaca-kaca
“Mama bukan saja mengirim Aldi supaya jauh darinya, juga mau membuang Aldi!”
“Bukan begitu Aldi! Mama cerita ke papa ikan-ikan kamu mati karena ga ada yang mengurus. Aquariumnya juga kotor. Jadi bau kemana-mana. Makanya dijual sama mama” ujar Dodi menjelaskan
“Apa susahnya sih pa, suruh orang untuk membersihkan aquarium? Mama kan tahu itu kesukaan Aldi!”
“Begini saja, kita pergi beli aquarium sekarang! Sama ikan-ikan yang kamu mau!” bujuk Dodi
“Papa, ga ada bedanya sama mama. Menurut papa dengan uang semua jadi beres. Termasuk membuang Aldi ke luar negeri!”
“Aldi, papa menyekolahkan kamu ke LN supaya kamu bisa mendapatkkan pendidikan terbaik!”
“Itu alasan papa saja supaya ga perlu memperhatikan Aldi dan Tasya!”
“Kamu salah Aldi!”
“Aldi kesulitan di sana pa. Semua nilai Aldi jatuh, papa kan tahu Aldi Dislexia. Semua huruf dibaca terbalik-balik. Aldi makin sulit konsentrasi! Aldi ga tahan di sana pa!”
Dodi menahan nafasnya. Kemudian ia keluar dari kamar Aldi untuk menenangkan pikirannya.
Rita menghampiri Dodi
“Pusing ya Om?” tegurnya
“Iya nih, jadi orang tua itu sulit Rita, kadang kita pikir sudah melakukan yang terbaik untuk anak ternyata dianggap salah.“
“Tapi Om, kalau Om berhasil mendidik jadi anak sholeh, kan lumayan jadi bekal kalau wafat om!”
“Apa iya?”
“Betul Om, yang Rita pelajari, ketika kita mati, semua yang kita kejar selama hidup tidak akan dibawa mati, kecuali 3!”
“Apa saja tu?”
“Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh dan sholeha!”
“hmm..Om jadi inget pelajaran ngaji dulu waktu kecil.”
“Begitu ya Om?”
“Iya, dulu Om ga begitu ngerti maksudnya. Tapi sekarang om jadi paham.”
“Ooo..syukurlah!” ujar Rita.
“Rita permisi dulu Om!” pamitnya ke Dodi yang masih termenung.
__ADS_1
“Oo, baiklah, terimakasih ya Rita, sudah banyak kasih pencerahan sama Om” ujar Dodi tersenyum
“Sama-sama Om!” Rita pergi meninggalkannya