Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 211: Keluarga kecil Rita dan Daniel


__ADS_3

Kabar tentang stalker Rita telah sampai ke telinga kedua kakek. Mereka membahasnya saat bermain golf bersama.


“menurut Kak Sugi gimana tentang stalker itu?” tanya Darmawan sambil berkonsentrasi untuk memukul bola


“Aku dengar Daniel telah menyewa detektif untuk mencari stalker itu”


“Apa kita terlalu khawatir ya?”


“Tentu kita harus khawatir, kita sedang membahas kehidupan cucu dan cicit kita” kali ini Sugiyono yang giliran memukul bola


“Apa kita biarkan mereka mengatasi masalahnya sendiri?”


“ya! biarkan mereka mengatasi masalahnya sendiri, mereka pasti akan meminta bantuan jika sudah mentok”


“Aku akan meminta Rita pindah ke Jakarta”


“Apa dia mau pisah dari suaminya? Kecuali kamu memindahkan Daniel bertugas di Jakarta”


“Ah sayang sekali!”


“Kenapa?”


“Cabang Singapura 2 membaik setelah Daniel membawahi 3 departemen, aku bahkan berniat melebur Singapura 1 ke Singapura 2, bukan sebaliknya”


“Apa tidak terlalu terburu-buru?”


“Maksud kakak?”


“Aku tahu kinerja Daniel bagus, tapi membawahi 3 departemen dengan proyek lama bukan cobaan berat untuknya. Terlalu dini baginya untuk memegang cabang.”


“Menurut mu begitu kak?”


“Ya! tapi semua tergantung kamu sih. Lagi pula aku akan merasa kasihan pada Rita karena suaminya lebih sibuk, mana anak-anaknya masih kecil pasti ia akan kebih membutuhkan suaminya.”


“Tapi Rita anak yang rajin, selain mengelola toko roti, ia juga kuliah walaupun secara online”


“Oh ya? anak bandel itu, jujur lho, dulu aku sempat khawatir anak ini akan sulit mendapatkan pasangan karena gemar berkelahi, gak tahunya justru dia yang paling lebih dulu menikah dan punya anak banyak” Sugiyono tersenyum mengingat kebandelan cucunya itu.


“Hah? Kakak serius? Menurut Ratna, Rita banyak diincar cowok di sekolahnya. Bahkan ketika ia pindah ke sekolah baru salah seorang teman cowoknya datang, lalu menangis ketika tahu Rita telah menikah”


“Kok kamu bisa tahu?”


“Biasalah, Andi cerita semuanya”


“Kita terlalu fokus sama Rita, bagaimana dengan Andi, apa sudah ada calon istri untuknya?” tanya Sugiyono


“Calon istri? Andi baru 20 tahun, mana mau dia menikah”


“Kan siapa tahu, aku lihat dia sangat menyukai Ranna, biasanya kalau suka anak-anak mau cepat menikah”


“Jangan dulu deh, aku saja sudah senang dia mau memegang proyek di London.”


“Oh ya? bagaimana? Apa dia bisa mengatasi kesulitan?”


“Hmm..Aku sendiri hanya memantaunya, tapi sejauh ini dia melakukannya dengan baik”


Sementara di kantor Singapura, Daniel sibuk dengan departemen barunya, ia mempelajari berkas-berkas dari pendahulunya.


“Pak Daniel sudah waktunya makan siang” Eddy mengingatkan


“Oh ya? cepat banget ya?” Daniel merapikan kertas kerjanya lalu keluar dari ruangannya bersama Eddy dan karyawan lainnya. Mereka duduk di satu meja di kantin, staf wanita yang lain sengaja memilih tempat yang menghadap ke Daniel agar bisa melihatnya makan.


“Menurut kalian, lebih sulit mana proyek yang ini atau yang sebelumnya?” tanya Daniel


“Proyek yang sekarang pak, mungkin karena kami belum familiar dengan aturan-aturan bidang properti jadi masih bingung”


“ah iya!!! Kenapa baru kepikiran, pukul 2 nanti kita rapat seluruh staf lantai 20 untuk membahas proyek ini”


“Siap pak!” ujar Eddy, mereka kembali menyantap makan siang mereka.


“Oh ya Pak, tentang pak Mario yang cuti seminggu, apa tidak apa-apa?” tanya Eddy


“Hmm...Mario itu tenaga lepas, dia gak stand by di kantor juga tidak apa-apa. Hanya ingatkan dia untuk datang ke proyek jika apartemen yang baru selesai di bangun” jawab Daniel


“Begitu ya Pak? Kalau tidak wajib kenapa dia bilang ambil cuti?”


“Itu karena ia merasa gak enak pada kalian, jadi ia bilang begitu”


“oo begitu, pak Mario itu lurus apa bengkok ya?”


“Maksudnya?”


“Dia suka lelaki atau suka perempuan?”


“Dia suka perempuan kok!”


“hah? Yakin pak?”


“Yakin!..mungkin gayanya begitu, tetapi dia suka perempuan kok”


“Ah syukurlah!” ujar Eddy lega


“Kenapa? Kamu takut dia naksir kamu ya?”


“hehehehe..iya”


“Dia memang mudah bergaul”


“Tapi kalau dia bertingkah seperti itu, apa cewek mau ya?” tanya temannya Eddy


“Tergantung ceweknya, kalau mereka melihat pribadi baiknya Mario pasti mereka suka. Ranna anakku saja suka padanya. Gak semua lelaki disukainya”


“Hahaha...bagaimana Ranna setelah dapat adik pak?” tanya Eddy


“Dia cemburu, beberapa kali adiknya dipukul” Daniel tersenyum mengingat kelakukan anaknya


“Anda kelihatan bahagia sekali ya pak Daniel?”


“Aku rasa kamu lebih tahu kan Ed?”


“Jarak anak pertama dan anak kedua ku lumayan jauh pak, terpaut 5 tahun. Pak Daniel ingat yang putri saya kan yang kelas 5? Nah adiknya kelas 1”


“Apa mereka sering bertengkar?”


“tentu pak, apalagi keduanya perempuan kan? Kami harus membeli 2 barang agar mereka tidak rebutan. Si Adik tidak mau kalah dari kakaknya, begitu juga si kakak. Istri saya selalu mengadu ke saya agar saya menghentikan kegaduhan antara mereka”


“Hahaha...kamu lebih heboh ya, karena dikerubuti 3 perempuan” ujar Daniel tertawa membayangkan


“Hahahaha..iya pak, saya berencana punya anak lelaki, tetapi agaknya istri saya mengeluh capek jika harus punya baby lagi”


“hmmm..”


Makan siang selesai, mereka kembali ke ruangannya, dan kembali berkumpul untuk rapat seluruh staf lantai 20.


Sementara di D’Ritz, Rita sibuk menimbang bahan baku sambil menggendong Rafa, sementara suster Rini mengikuti Ranna bermain di sekitar toko.


“Huaaaa!!!” tiba-tiba Ranna menangis, Rini menggendongnya untuk menenangkan tapi Ranna tidak berhenti menangis, ia menunjuk ke dapur, ia minta bertemu maminya. Rini ke dapur untuk mempertemukan Ranna ke maminya.


“Kenapa kak?” tanya Rita melihat Ranna menangis dan minta digendong olehnya. Rita memberikan Rafa ke suster Rini lalu menggendong Ranna. Rafa melihat Ranna yang menangis dan berusaha mendekati kakaknya. Ranna melihatnya lalu menghindari Rafa.


“Jangan begitu Kak Rana, mami sayang kak Ranna, adik Rafa juga sayang kak Ranna. Kakak sayang adik ya?” Rita memeluk anak pertamanya dengan sayang. Sepertinya Ranna merasakan, lalu ia meminta menghampiri Rafa yang sedang diberi susu oleh Suster Rini, ia mengusap kepala adiknya


“Anak baik!, mulai sekarang adik jangan dipukul ya kak!” Rita memeluk Ranna lagi dan menggelitik lehernya


“Hahahahaha!!!” Ranna tertawa geli


“Bu Rita, padahal masih muda lho umurnya tapi keibuan banget ya?” bisik salah satu karyawannya yang melihat interaksi bosnya pada anak-anaknya.


“Kalau sudah punya anak apalagi sudah dua pasti keibuan kan?”


“Huh! Gak semuanya, kakak iparku selalu mengeluh kedua anaknya bertengkar terus, dia sering menitipkan ke kakek neneknya lalu pergi.” ujar karyawan itu


“Mungkin karena kakak mu gak pernah membantu kakak ipar mu. Karena istri itu tergantung suaminya, aku dengar dari suster Rini, pak Daniel sangat membantu bu Rita di rumah. Dia tidak membiarkan bu Rita kecapekan”

__ADS_1


“Pak Daniel? siapa?”


“Kamu gak tahu lelaki putih yang sering membantu kalau ada pesanan roti?”


“hah? Itu suaminya bu Rita? Ya Ampun, rendah hati sekali mana ganteng. Aku mau tuh jadi istri keduanya”


“Hush!! Nanti kontrak mu gak diperpanjang lho!, konon kabarnya bu Erina itu dulu bawahannya pak Daniel ia ditarik ke sini untuk membantu istrinya. Dia lebih tegas sama karyawan yang menggoda suami bu bosnya jadi kita harus hati-hati kalau mau kontraknya diperpanjang!” Bisik Ismael


“Kok kamu tahu Is?”


“Aku kan manajer operasional di sini apa yang aku gak tahu”


“Iya..iya pak manajer. Oh ya pak, kami sudah menerima bonus dari bu Rita”


“Hehehe..iya aku juga, lumayan ya? makanya kita harus rajin, gak semua bos itu seperti bu Rita gak pelit”


“Temanku ingin kerja di sini gimana pak?”


“Kasih saya resumenya, nanti saya ajukan ke bu Erina tapi saya gak janji diterima ya, karena semua tergantung kebutuhan”


“Iya pak, nanti saya bilang ke teman saya”


“Suster Rini, mulai minggu ini Jum’at malam sampai minggu siang kami akan pergi ke Jakarta, kalau kamu bisa ikut aku akan menghitung sebagai jam lembur kalau kamu gak bisa ikut, berarti kamu datangnya senin pagi”


“Jadi saya menginap di Jakarta bu?”


“Iya, kalau kamu ikut. Tapi kalau tidak bisa ya gak apa-apa”


“Saya boleh memikirkannya bu? Karena anak-anak saya sekarang tinggal bersama saya di sini”


“Oh ya? bagaimana dengan neneknya?”


“Ibu saya sudah meninggal 3 bulan lalu bu, anak-anak saya tidak betah tinggal bersama uwanya, mereka bilang uwanya pelit, padahal uang yang saya kirim selama ini cukup besar”


“Oh begitu, ya sudah kamu gak usah ikut saja aku khawatir anak-anak suster akan kehilangan sosok ibu”


“Iya bu, terima kasih atas pengertiannya”


Seperti biasa mereka kembali ke apartemen pukul 2 siang, kali ini Rita yang menggendong Ranna, sedangkan Rini menggendong Rafa.


“Kak Ranna sudah berat nih, di stroler ya?” ujar Rita, Ranna mendengar nafas maminya yang ngos-ngosan menggendongnya, ia menunjuk strollernya minta berpindah


“Anak baik!” Rita mencium kepala anaknya, lalu memindahkan ke strollernya. Sesampainya di apartemen, ia menemukan paket lagi di depan pintu.


“Apa lagi nih?” ia membuka pintu dan masuk ke apartemen. Setelah menidurkan Ranna dan adiknya, ia beristirahat. Tetapi sebelumnya, ia memindahkan kamera tersembunyi ke depan pintu apartemennya.


“suster Rini, kamu istirahat saja sebentar lagi saya juga menyusul”


“Baik bu!”


Rita memeriksa rekaman di dalam apartemennya selama ia pergi,


“Aman, tidak ada yang masuk” Ia pun ketiduran


Ia baru bangun pukul 5 sore


“Eh suster Rini, sudah lewat dari jam kerja mu kan?” tanya Rita kaget


“Gak apa-apa bu, toh hari Jum’at saya cuma setengah hari, jadi setengah harinya di geser ke hari biasa saja. Jadi saya di sini sampai jam setengah 6”


“Hmm...baiklah, oh ya kamu sudah makan?”


“Sudah bu, anak-anak juga sudah dimandikan”


“Alhamdulillah, terima kasih. Aku lelah sekali”


“Iya , saya melihat ibu tidur sangat nyenyak saya tidak berani membangunkan”


“Mungkin aku harus mengurangi kegiatan ku” gumamnya


Weekend tiba, seperti direncanakan sebelumnya, Rita dan Daniel serta kedua anaknya berkemas untuk ke Jakarta, mereka naik penerbangan pukul 6 dan tiba pukul 8 malam di rumah besar


“Assalammu’alaikum pak Ridwan!” sapa Rita ramah


“Wa’alaikummussalam mba Rita,pak Daniel wah sekarang sudah ramai nih” ia melihat Daniel yang menggendong kedua anaknya dengan menggunakan gendongan dari Mario


“Pak Darmawan di London bu, beliau menemani Mas Andi di sana”


“Ohh...sudah berapa lama perginya?”


“Baru kemarin mba, oh ya kamarnya sudah kami bersihkan”


“Terimakasih pak, kami langsung ke kamar ya? oh iya, karena kakek gak ada di sini, jadi kami makan pagi di kamar saja ya?” ujar Rita


“Iya mba, jadi makanannya dipindah ke kamar ?”


“Gak usah, biar aku masak sendiri di kamar ku!” ujar Rita tersenyum


“Oh iya, baiklah”


“Terimakasih pak Ridwan!” mereka langsung naik ke kamar mereka


“Ahhh...akhirnya di rumah juga!” Daniel bernafas lega, pertama ia menaruh Rafa dulu, lalu Ranna. Keduanya sudah terlelap dalam gendongan.


“Mereka ini seperti yang berjalan jauh saja, padahal papinya yang jalan jauh tadi” keluh Daniel


“Hey papi, gak boleh ngeluh ini konsekuensi punya anak!” ujar Rita sambil masuk ke kamar mandi


“Iya..iya aku kan cuma bilang saja. Anak-anak ini lucu sekali ya kalau tidur dideretin kayak gini” Daniel memoto anak-anak yang sedang tidur.


“Eh Yang, ada tempat tidur baru untuk Rafa”


“Hah? Iya?” Daniel melihat kamar anaknya. Tempat tidur Ranna berhadapan dengan tempat tidur Rafa.


“Kapan Mario menata ini?”


“Mungkin sepulang dari Paris, nih ada kartu di tempat tidurnya”


“Selamat Datang Rafardhan di kamar baru, Om Mario!”


“Ini sudah bersih belum ya?” tanya Rita, Daniel mengecek ranjang kedua anaknya lalu ia memvakumnya untuk memastikan bersih dari tungau, lalu menyalakan filter udara


“Hahhh...segar sekali” ujarnya


“Hahahaha...sepertinya kamu menikmati sekali teknologi?”


“Iya betul, aku gak sabar ke sini, semua serba otomatis. Kita pindah kesini saja Yang! Gimana?”


“D’Ritz gimana?”


“Kamu bisa menyetok bahan baku 2 minggu sekali ke sana”


“Kerjaan kamu gimana?”


“Maksud ku, aku di sana dari Senin sampai Jum’at, lalu kemari tiap Sabtu dan Minggu”


“Jadi kita LDR-an? Apa kamu yakin gak kangen sama anak-anak? Gak kangen sama aku?” tanya Rita


Daniel diam saja, memikirkan jauh dari anak istrinya sudah membuatnya tersiksa.


“Gak jadi deh!” ujarnya sambil memindahkan kedua anaknya ke ranjangnya masing-masing


Rita terlihat sangat lelah, ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan langsung tertidur. Daniel membersihkan diri di kamar mandi setelah mengecek semua pintu dan jendela ia pun terlelap di samping istrinya.


Pagi harinya, mereka terbangun karena suara menangis kedua anaknya


“Hey!!! Tenanglah!” ujar Daniel, ia masuk ke kamar anaknya dan menggendong anaknya satu persatu dan memberikan kepada Rita.


“Kalian kaget ya ada di mana?”ujar Rita, ia memberi ASI kepada Rafa, sedangkan Ranna diberi ASI melalui botol oleh Daniel.


“Kamu masih ingin nambah anak lagi?” tanya Rita


“Tentu dong!, tapi gak sekarang, kita jeda beberapa tahun nanti Rafa dan Ranna punya adik lagi”

__ADS_1


“Berapa tahun?”


“Yaa...dua tahun lah!”


“Wahh...anak-anak masih batita itu!”


“Ya gak apa-apa biar mereka main sesamanya”


“Kamu benar-benar deh!”


“Aku anak tunggal selalu kesepian, kalau kamu kan enak tinggal dengan banyak sepupu jadi gak kesepian”


“Gak juga!, kan aku sudah pernah cerita. Robby melarang sepupu ku yang lain main bersamaku, dulu aku sering berkelahi dengan Maia. Aku pernah dipukuli olehnya, wah Maia itu Robby versi cewek”


“Tapi kamu jadi kuat karena bertahan hidup kan?”


“Hahahaha...iya..aduh aku lapar. Apa aku minta pak Ridwan mengirim makanan ke sini ya?” ujar Rita


“Tapi kemarin kamu bilang mau masak sendiri?”


“Ah sial! Aku lupa!” keluh Rita


“Ting-nong!” suara bel pintu kamar mereka, Daniel sambil menggendong Ranna membuka pintu kamar


“Sarapan pagi pak!” ujar staf rumah, ia membawa kereta makan ke kamar mereka


“Eh? Kok bisa?”


“Pak Ridwan bilang, kalian pasti lelah semalam baru datang, jadi ia menyuruh kami untuk mengantarkan sarapan pagi ke sini”


“Apaan itu yang?” tanya Rita


“Sarapan!” teriak Daniel


“Hah? Asyikk! Kebetulan!” Rita sambil menggendong Rafa menghampiri kereta yang penuh berisi makanan


“Apaan nih yang?” tanya Daniel


“Ini Bubur Ayam, serabi, pukis, pancong, lontong isi, pastel, risol..wah..pak Ridwan top banget deh!”


Rita menyiapkan bubur ayam untuk suaminya, ia sendiri memakan lontong dengan pastel dan risol serta sambel kacang.


“Oh ini bubur ayam, enak ya?”


“hehehe..iya ya? kalau di Indonesia kami sarapan dengan ini semua, atau ditambah dengan nasi uduk”


“Nasi uduk? Apa itu?”


“Kalau di Singapura namanya nasi lemak. Jadi beras, ditambah bumbu-bumbu, pakai ayam goreng, telur dadar dan tempe goreng”


“Kamu bisa membuatnya?”


“Bisa dong! Nanti siang deh aku bikin”


“Tapi kamu bilang nasi uduk itu untuk sarapan?”


“bebas kok!, lagi pula di Indonesia itu waktu makan itu kapan saja, lapar ya makan!”


“Oh begitu!” Daniel mengangguk, ia menambah lagi bubur ayamnya dan menambah topingnya sendiri


“Kamu lapar banget ya?” tanya Rita, Daniel mengangguk


“Menggendong dua bocah kecil ini dan berjalan jauh menguras energi lho, aku gak usah olah raga angkat beban lagi”


“Kita berenang yuk!”


“Oh di sini ada kolam renang ya?”


“Ada dong! Luas lagi, jadi kita berenang saja sebelum mandi”


Setelah sarapan mereka ke kolam renang yang letaknya di sisi lain rumah itu


“Wah..asyik!!” Daniel membuka t-shirtnya, tubuh indahnya yang seperti roti sobek membuat staf perempuan yang bertugas di kolam renang menganga. Daniel masuk ke kolam dengan menggendong Ranna yang kegirangan bermain air. Rita dan Rafa bergabung bersama mereka. Rafa di taruh di ban kecil yang bisa mengapung, begitu juga Ranna. Mereka bermain air dengan gembira.


“Huaa!!” Rafa menangis karena matanya terkena percikan air dari kakaknya


“Gak apa-apa sayang!” Rita menenangkan Rafa


“Huwee!” kini giliran Ranna menangis karena diperciki air oleh papinya


“Papi jail ya nak!” Rita menenangkan Ranna


“Kalian ini cengeng banget ya, baru kena air saja nangis!” ujar Daniel


Kedua anaknya seperti mengerti perkataan papinya, mereka bergerak sangat aktif hingga menyiprati wajah papinya, Rita tertawa geli melihat kelakuan kedua anaknya.


“Yang, mereka ini masih bayi kan? Kok rasanya mereka bisa balas dendam?” tanya Daniel yang mengelap wajahnya


“hahahaha...mereka gak suka diremehkan!”


“Masa? Mereka kan bayi!”


“Kamu gak percaya sih, mereka kan anak-anak ku!” ujar Rita sambil mencium kepala kedua anaknya


“Wah aku harus bikin pasukan baru nih untuk melawan mereka bertiga!” canda Daniel


“Pasukan baru? Dari mana?” tanya Rita


“Ya dari kamu dong!”


“Berarti akan lebih banyak pasukan untuk melawan mu! Hahahaha!!!” tawa Rita dibuat-buat, para staf tertawa mendengar candaan keluarga kecil itu. Darmawan memperhatikan mereka yang sedang berenang melalui kamera yang tersambung online


“Tau gak ndi, seumur hidup baru kali ini kakek merasa gak sia-sia punya rumah besar dan fasilitas lengkap” ujarnya sambil melihat keceriaan keluarga Rita


“Kenapa Kek?”


“Tuh, dipakai cucu dan cicit kakek!..senangnya” ia tersenyum bahagia, Andi melihat keluarga Rita berenang


“EH itu si Rafa sudah boleh berenang? Dia baru satu bulan kan?”


“Ada mama dan papanya, lagi pula ia mengambang, aku perhatikan dia gak minum air kok. Tapi Ranna sudah aktif sekali, sepertinya ia bakal jadi atlet renang”


“Wah jangan sampai kakek Sugi mendengar”


“Kenapa?”


“Nanti Ranna diikutkan lomba TWK, kakek mau?”


“Waduh...gawat kalau begitu!”


“iya kan?”


“Oh iya Ndi ngomong-ngomong, kamu mau menyusul Rita?”


“Menyusul ke Singapura? Enggak ah di London saja juga enak kok”


“bukan! Maksud kakek, kamu sudah punya pacar?”


“Belum Kek! Kenapa?”


“Kenapa belum? Kamu kaya, wajah lumayan ganteng sudah lulus sarjana lagi, kenapa belum ada cewek yang mau?”


“Belum ada yang istimewa kek, semuanya Cuma melihat harta kakek saja gak lihat kemampuan Andi”


“Itu wajar Ndi, kamu kan cucu kakek, gak masalah. Kalau kamu suka, lanjutkan saja!”


“Nanti lah kek, Andi gak membatasi diri kok!”


“Kalau kakek kenalkan sama cucu-cucunya teman kakek gimana?”


“Ya gak masalah asal jangan dipaksa nikah saja!”


“Ya enggak! kenal saja dulu!”

__ADS_1


“Bener ya? nanti deh kakek kenalin!”


_Bersambung_


__ADS_2