Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 305: Rumah Baru di Zurich


__ADS_3

Tak terasa sebulan telah berlalu, Rita dan keluarga pindah ke Zurich. Mereka akan menetap di sana selama 2 tahun.


Di bandara keberangkatan, Ranna dan Raffa lebih tenang dari biasanya, mereka telah terbiasa terbang jauh. Sementara Rayya dalam gendongan suster Eva.


“Rombongan kita lebih banyak ya?” Daniel melihat ke belakang


“Tentu, setiap anak satu baby sitter, tentu makin ramai” jawab Rita, ia mulai mengantuk, Daniel memperbaiki bantalnya agar ia dapat tidur nyenyak


Sementara, Ranna dan Raffa duduk tepat di belakang orang tua mereka, di belakangnya para baby sitter juga Rayya.


Ketika pesawat telah take off, Raffa membuka seat belt nya, ia menghampiri Daniel


“Papi?”


“Ya?”


“I want to pee”


“Oke!” Daniel bangkit dari tempat duduknya lalu mengantarkan Raffa ke toilet, setelah Raffa, giliran dirinya. Ketika Raffa sedang mencuci tangannya, ia melihat seorang gadis kecil seumuran dengannya yang juga hendak ke toilet. Anak itu sangat manis, mata Raffa tidak berkedip menatapnya.


Beberapa saat kemudian Daniel keluar dari toilet, ia mencuci tangannya


“Abang sudah cuci tangan?”


“Done!” jawab Raffa, mereka pun kembali ke tempat duduknya. Ranna asyik menonton TV di kursinya.


“Kak, can we change seat?” tanya Raffa, ia ingin duduk di pinggir agar bisa melihat gadis kecil itu lagi.


“Kenapa?” tanya Ranna


“Don’t you want to see clouds?” ujar Raffa


Ranna melihat ke jendela, lalu ia pun bertukar tempat dengan adiknya. Ia kembali asyik dengan film yang ditontonnya. Raffa agak kecewa karena anak itu tidak lewat-lewat, ia terlihat gelisah. Ia melihat ke belakang.


“Kenapa bang? Apa ada yang jatuh?” tanya suster Erni baby sitter nya


“No!” Raffa lalu kembali duduk dengan tenang.


Beberapa jam kemudian mereka tiba di Zurich, Raffa, Ranna dan Rayya lelap tertidur, baby sitter menggendong mereka, sedangkan Rita dan Daniel sibuk dengan bawaan mereka.


Dickens telah menunggu mereka di bandara


(bahasa Inggris)


“Selamat malam pak Daniel”


“Malam Dickens, kamu menunggu lama ya?”


“Tidak pak, saya datang sesuai permintaan bapak, Malam bu Rita”


“Malam Dickens, ketemu lagi kita ya?”


Setelah semua bawaan mereka terkumpul, mereka pun naik mobil dan menuju rumah dinas


“Oh iya, rumah kita bukan yang kemarin” ujar Daniel


“hah? Kenapa?”


“Mereka bilang, rumah itu terlalu kecil untuk kita, ternyata mereka memperhatikan para baby sitter, jadi mereka menyewakan rumah yang agak besar”


“Padahal rumah kemarin juga besar dan nyaman, apa Beatrice juga ikut ke rumah yang baru?”


“Tentu saja, itu permintaan khusus ku Beatrice dan Dickens” jawab Daniel tersenyum


“Syukurlah!” Rita menyender di lengan suaminya.


Jarak antara rumah dinas baru dengan bandara cukup jauh.


“Rumah baru lebih dekat ke kantor pak, cukup 20 menit. Fasilitas di perumahan baru ini lebih lengkap, ada sekolah, klinik gigi, rumah sakit dan supermarket.” ujar Dickens bercerita


Walau sudah jam 8 malam, tetapi suasana masih terang benderang, sehingga Rita bisa melihat jalan yang menuju rumah mereka.


Daniel dan Rita memperhatikan ruko-ruko yang berjajar menuju ke perumahan.


“Apa ini perumahan baru Dickens?” tanya Daniel


“Iya pak, hampir semua CEO Lexi di tempatkan di sini” jawab Dickens


“Oh ya? hmm..”


“Yahh...gak seru Yang, kamu gak bisa bolos” ujar Rita dengan bahasa Indonesia


“yang sudah-sudah aku gak pernah bolos kan?” jawab Daniel


“Oh iya ya, kamu kan pegawai teladan” ledek Rita, Daniel mencubit pipi istrinya gemas. Para baby sitter tampak salah tingkah melihat kemesraan mereka.


Setelah beberapa menit dari pintu gerbang masuk , mereka pun tiba di rumah dinas terbaru. Rumah yang baru bertingkat 2, tetapi lebih besar dan jumlah kamarnya lebih banyak. Halaman depan rumah lebih luas, juga ada tanah lapang di belakang rumah. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya berkisar 5 meter. Tiap rumah dipagari dengan pagar kayu berukuran sepinggang orang dewasa.


“Mirip rumah di buku cerita ya?” ujar Rita melihat tampilan rumah mereka


“Mari masuk!” ajak Dickens


“Hai!!” Beatrice menyambut mereka dengan ramah


“Beatrice!” Rita memeluk Beatrice, ia sangat menyukai orang tua itu, ia menganggapnya seperti neneknya sendiri.


“Apa kabar bu Rita, pak Daniel” sapa Beatrice ramah


“Baik, Beatrice, kamu menginap di rumah ini?” tanya Daniel


“Saya di tempatkan di rumah kecil di belakang rumah ini pak”


“Lho, kenapa gak di rumah ini saja?” tanya Rita heran


“Saya ingin privacy, lagi pula setiap minggu cucu dan anak saya datang berkunjung, jadi saya ingin mereka tidak mengganggu kalian” ujarnya tersenyum


“Ah iya, Beatrice, ini suster Eva, dia baby sitter nya Rayya. Rayya sudah bisa berjalan sekarang” ujar Rita tersenyum.


“haloo!!!” sapa Beatrice ramah. Seperti sebelumnya, ia mengajak rombongan untuk mengelilingi rumah baru mereka, dan menunjukkan kamar anak dan kamar baby sitter mereka yang kini bersebelahan. Sedangkan kamar orang tuanya terpisah agak jauh.


Kamar anak-anak telah tersedia tiga tempat tidur, untuk Ranna dan Raffa tempat tidurnya sudah tempat tidur anak, sedangkan Rayya masih tempat tidur bayi atau box. Tampilan kamar mereka juga sangat menarik dengan kamar mandi di dalam.


Kamar para baby sitter juga cukup luas, dengan tiga tempat tidur ukuran single dan 3 lemari pakaian.


Setelah menaruh barang mereka di kamar, mereka mengganti pakaian anak-anak asuh mereka


“Anak-anak sudah kami ganti pakaiannya bu, juga sudah dilap tubuhnya agar segar” ujar suster Rini yang menjadi koordinator para nanny.


“Baiklah, terimakasih, kalian boleh beristirahat” ujar Rita, ia mengecek anak-anaknya dulu, kemudian masuk ke kamarnya. Ia langsung merebahkan dirinya di ranjang.


“Ahh....nyaman sekali...hmmm....kalau ada Beatrice, wangi seprai ini pasti enak” gumamnya Rita mencium bantal putih itu, tak lama kemudian ia tertidur. Daniel baru saja selesai melaporkan kedatangannya , ketika sampai di kamar, ia melihat istrinya telah lelap tertidur masih dengan jaket jeans lengkap dan tas selempang dior favoritnya. Daniel menggeleng, ia membersihkan dirinya dulu di kamar mandi dan menyalakan pemanas, setelah berganti piyama, ia membantu istrinya berganti pakaian.Rita masih terlelap, ia sangat mengantuk.


Waktu subuh tiba, Daniel telah terbiasa bangun sekitar pukul setengah 3 pagi, ia membangunkan istrinya


“Sayang, waktunya sholat subuh!”


“hhh....sudah pagi saja ya?” keluh Rita


“Belum, sebentar lagi subuh”


Tiba-tiba Rita teringat,

__ADS_1


“Ya ampun!!” ia segera berlari ke kamar mandi kemudian berwudhu, setelah itu dia langsung sholat. Daniel bingung melihat tingkah istrinya. Setelah selesai sholat


“kamu sholat apa? adzan subuh saja belum” tanya Daniel


“Aku belum sholat Isya”


“Oh iya, aku lupa membangunkan mu tadi malam”


Adzan subuh berkumandang, mereka sholat subuh berjamaah. Setelah itu keduanya kembali tidur karena kelelahan. Pukul 7 pagi, mereka bangun karena mencium wangi roti yang baru selesai di panggang.


“Yang, Beatrice membuat roti jagung lagi nih!” Rita mengguncang tubuh suaminya untuk membangunkan. Daniel membuka satu matanya, keisengannya muncul, ia menarik tangan istrinya lalu membuatnya tidur di pelukannya.


“Yang, sudah pagi..” ujar Rita, ia selalu tersipu jika suaminya mulai iseng padanya.


“Aku suka melihat wajah mu yang malu-malu setiap aku begini kan”


“Aku? Masa?” Rita memegang pipinya yang memerah karena tersipu


“Itu membuat mu sangat menggemaskan, sebenarnya aku ingin bercinta pagi ini, tapi aku masih capek dengan perjalanan tadi malam, jadi kita skip ya?” ujar Daniel , matanya masih menutup, Rita menjawabnya dengan mengangguk, lalu ia mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Dengan susah payah, akhirnya ia pun berhasil melepaskan diri. Ia berganti pakaian, kemudian menuju kamar anak, dilihatnya kamar anak telah sepi. Ia pun ke lantai bawah dan menuju dapur. Di sana ketiga anaknya telah siap untuk sarapan di kursi masing-masing. Para baby sitter duduk di belakang mereka.


“Selamat pagi bu!” sapa mereka


“Pagi!! Wah kalian sudah siap sarapan rupanya” Rita mencium kepala anaknya satu per satu


Beatrice membagikan roti jagung dan omelet, masing-masing anak mendapatkan satu. Mereka menyantap makanannya dengan lahap. Para baby sitter juga ikut sarapan. Rita menyuapi Rayya yang masih membutuhkan bantuan untuk makan.


“Pagi!!” sapa Daniel, ia telah rapi dengan pakaian kantornya.


“Pagi papi!” jawab Ranna


“Morning papi”jawab Raffa


“Piiii”jawab Rayya , ia mulai bisa mengikuti kebiasaan kakak dan abangnya.


Daniel tersenyum melihat anak-anaknya makan dengan lahap, ia melihat Rita yang masih menyuapi Rayya.


“Kamu belum makan?” tanyanya


“Aku nungguin kamu, kalau aku makan nanti kamu makan sendirian” jawab Rita. Para baby sitter kembali terlihat salah tingkah.


Daniel dan Rita sarapan dengan lahap.


“Hari ini akan ada mobil sewaan, kalian bisa jalan-jalan pakai mobil itu” ujar Daniel


“oh ya? apa sama supir?”


“Enggak, tapi ada GPS nya, kamu bisa ngikutin itu”


“Oooo...”


“Rencana mu apa hari ini?” tanya Daniel


“Ada mobil, ya keliling perumahan ini, lihat-lihat, aku juga mau menanyakan sekolah di situ juga tempat les yang bisa aku datangi”


“Les?”


“iya, Les vokal untuk kak Ranna, Les bela diri untuk semuanya”


“Mami”


“Ya sayang?”


“I don’t take vocal, may I take othel?”


“like what?” tanya Daniel


“Robot?” Daniel dan Rita terperanjat mendengar anak yang usianya belum 3 tahun tapi tahu tentang Robot


“Kamu tahu dari mana?” tanya Daniel


“Wa Ndi, he taught us” jawab Raffa


“Pantesss” ujar Rita dan Daniel bersamaan.


Sarapan selesai, Dickens menjemput Daniel untuk ke kantor


“Aku berangkat ya?”


“Yaaa...hati-hati!” jawab Rita sambil menyeruput kopi, Daniel menghampiri dan mencium kening istrinya, dan mengusap kepala anak-anaknya


“Papi berangkat”


“Daaaah papi!!!” teriak mereka bersamaan


“Suster, anak-anak dimandikan ya? kita siap-siap keliling , sebentar lagi mobilnya datang”


“baik bu!” ketiga suster membawa anak-anak ke lantai dua untuk mandi dan bersiap


“Kamu ikutkan Beatrice? Aku gak tahu tempat ini lho”


“Tenang saja bu, tempat ini hanya terlihat luas, padahal itu-itu saja, kalian gak akan tersesat. Petunjuk jalannya jelas kok” ujar Beatrice, ia menolak ikut karena harus menyiapkan makan siang .


“hmm...baiklah” Rita ke lantai 2 menuju kamarnya, ia mandi dan berpakaian.


“tok..tok..tok...” bunyi pintu kamar diketuk


“masuk”


“Mami?” Ranna masuk ke kamar maminya


“Ya kak? Kakak sudah siap?” tanya Rita


“Sudah mi” Ranna, menjatuhkan diri ke ranjang maminya lalu rebahan di situ, tak lama Raffa dan Rayya bergabung bersamanya. Sementara para baby sitter menggibah di kamarnya, mereka istirahat sejenak sebelum berangkat.


“Dari kemarin, di sini hawanya panas banget ya?” ujar suster Eva


“Maksudnya?” tanya suster Erni


“itu, pak Daniel sama bu Rita,..” jawab suster Eva


“Wah..kamu orang baru sih, jadi belum biasa. Kalau sudah biasa gak akan terasa panas” jawab suster Rini


“Masa sih? Mereka seperti pengantin baru”


“Kita sih cukup memperhatikan ketampanan pak Daniel dari kejauhan, itu saja sudah kenyang. Iya gak Er?” ujar suster Rini, yang diamini oleh suster Erni


“Apa mereka gak pernah bertengkar?” tanya suster Eva


“Pernah!, terasa banget kalau mereka lagi perang dingin...wihhh dingggiiiin...banget...tapi sesudahnya hangat lagi” ujar suster Erni


“oh begitu, jadi seperti cuaca begitu ya?”


“Bener!!” timpal suster Rini


“Hahahahaha...” ketiganya tertawa geli


Tak lama mobil sewaan datang, mobil keluarga berwarna merah, kapasitas 6 orang, dengan pintu geser dan perseneling otomatis. Jarak bangku antar penumpang cukup lebar.


“Ini saya kembalikan pukul berapa?” tanya Rita kepada petugas pengantar mobil

__ADS_1


“Mobil ini disewa bulanan bu, dan sudah dibayar untuk 6 bulan” jawab petugas tersebut


“Oh begitu, kalau ada kerusakan bagaimana?” tanya Rita


“Di dalamnya ada nomor darurat yang bisa dihubungi bu, jika mogok atau rusak, kami akan segera datang dengan mobil yang baru”


“Oh begitu, baiklah!” petugas memberikan kunci mobil kepada Rita. Sejenak, Rita mempelajari mobil tersebut yang stirnya berada di kiri.


“Wah harus latihan lagi nih”, ia mencoba menjalankan mobil perlahan. Maju, mundur, berbelok, memutar kemudian parkir. Setelah terbiasa ia pun memanggil anak-anaknya


“Ayo, kita berangkat!” ajaknya bersemangat.


Anak-anak bersama baby sitternya menaiki mobil tersebut, tak lupa membawa perlengkapan.


“Mami, i want to seat besides you” pinta Raffa


“Nanti ya nak, masalahnya mami masih belum biasa bawa mobil ini, untuk sementara kalian duduk bersama suster di belakang ya?” bujuk Rita


“oh,..okey” Raffa yang pengertian memahami maminya. Mobil pun berjalan perlahan.


“Mami”


“Ya kak Ranna, eh kenapa gak pakai set belt? Suster?” Rita tampak khawatir


“Kak Ranna duduk di sini, tadi dia melepaskan sendiri bu” keluh suster Rini


“Kok jalannya pelan ya?” ujar Ranna gak sabar


“She test this cal” ujar Raffa


“test?”


“yes”


Satu jam kemudian, Rita sudah bisa dengan kecepatan normal, ia tampak senang. Mereka mampir ke supermarket yang tadi malam di sebut Dickens. Supermarket itu cukup besar dan nyaman, Rita membeli beberapa bahan makanan untuk ia olah pada saat weekend yang mana hari itu Beatrice libur. Ia juga membeli banyak es krim, ia tahu suaminya sangat tergila-gila dengan es krim.


Sepulang dari supermarket, mereka melewati sekolah, Rita mampir sebentar ke sekolah itu, dan menemui bagian administrasi untuk mendapatkan info tentang kelas yang dibuka. Dari sekolahan, ia mampir ke tempat kursus. Seperti Dickens bilang, daerah itu lengkap dengan fasilitas, bukan sekolah saja, tempat les seperti les melukis, tari, vokal, memasak, juga karate berjejer di ruko-ruko yang tersusun indah dan bagus untuk difoto. Rita mengambil brosur untuk beberapa les dan kembali ke mobilnya.


“Bang, gak ada les robot”


“Yaaa...” wajah Raffa terlihat kecewa


“ada les melukis, abang suka melukis?”


“Melukis?”


“Ya, painting, making art painting” ujar Rita menerangkan.


Raffa terdiam, ia melihat-lihat brosur yang diambil maminya. Walaupun ia belum bisa baca, tapi ia memperhatikan gambar-gambar pada brosur.


“Mami, i think, i want to cook”


“Kamu mau les masak?”


“Yes!”


“oke!”


“Kakak juga!” pinta Ranna


“No, you take vocal lesson!” ujar Raffa


“Iya mi?” tanya Ranna


“Iya kak, kak Ranna senang nyanyi kan?”


“iyaa”


Malam pun tiba, Rita mendiskusikan aneka brosur yang ia dapatkan siang itu.


“Raffa bilang ia mau les masak sebagai pengganti les robot”


“Begitu? Berapa lama?”


“Apanya? Lama lesnya?”


“Iya, dua bulan? 3 bulan?”


“Di sini 3 bulan”


“Ranna juga 3 bulan?”


“He eh...kalau mau lanjut ada programnya lagi”


“Jadi niat mu mau memasukkan karate-masak dan karate –vokal?”


“Oh iya play grup juga!”


“Hmm..apa anak-anak gak capek? Apa selesaikan dulu aneka lesnya, baru masuk play grup” usul Daniel


“Menurut mu begitu?”


“Iya, mereka 4 tahun saja belum, sudah dijejali banyak kegiatan. Seharusnya umur segitu banyakin main”


“Di play grup kan juga cuma main”


“benar ! tapi yang namanya sekolah..nuansanya beda deh walau dibilang banyak mainnya”


“Hmm...iya deh, toh mereka les hanya 3 bulan, tapi yang karate tetap ya? “


Daniel mengangguk, kejadian dengan Ranna waktu itu membuatnya tersadar, mempunyai kemampuan bela diri lebih menguntungkan.


Keesokkan paginya, mereka kembali ke ruko itu untuk mendaftar les. Rita hendak mendaftarkan Raffa les memasak, tetapi kemudian Raffa merubah pikirannya


“Kenapa bang?” tanya Rita heran, tidak biasanya Raffa berubah pikiran secepat itu


“Abang wants painting lesson ” ujarnya tersenyum


“Benar nih? jangan berubah lagi, mami gak enak sama orangnya” akhirnya mereka ke ruko les melukis dan mendaftar di situ. Raffa tampak senang, Rita heran melihat tingkah anak lelakinya. Tiba-tiba ia berlari dan menghampiri seorang gadis kecil yang baru datang ke tempat les itu.


“Hai!, i think we met” ujar Raffa tersenyum


“Abang!!” Rita berlari menghampiri


“Sorry i don’t remember” jawab anak itu


“Siapa bang?” tanya Rita


“I saw her in the plane” jawab Raffa tersenyum


(Bahasa Inggris)


“Maaf ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang perempuan berusia 30-an, kelihatanya ia ibu dari anak itu


“Oh,..maaf, anakku mengenali anak mu” jawab Rita tersenyum


“Oh ya? Michele..kamu kenal?” tanya ibu itu, Michele menggeleng, tapi kemudian ia tersenyum,


“Aku Michele!” ia mengulurkan tangannya


“Affa!” jawab Raffa membalas uluran tangan Michele

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2