SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Tragis


__ADS_3

Tragis


Jessica selesai mengantar ketiga anaknya, kemudian masuk ke dalam kamar dan melihat sang suami masih berbaring di tempat tidur.


“Kamu tidak ke kantor ?” tanya Jessica sambil melepaskan pakaiannya dan memakai kimono.


“Tidak, Sayang. Aku tidak kekantor," sahut Carlos dengan bangun serta menyandarkan tubuhnya di headboard.


“Oh begitu, nanti suruh Marco jemput anak anak ya, mereka ingin kerumah mommy.” Carlos tersenyum dan menganggukan kepala.


“Nanti aku telepon Marco.”


Jessica masuk ke dalam kamar mandi kemudian menyalakan shower. Selesai, dia menutup tubuhnya dengan handuk lalu kembali ke kamar, disana Carlos masih duduk di tempat tidur sambil mata berada di ipad.


Jessica berdiri di depan meja rias, melepaskan handuk yang membalut tubuhnya dia meletakkan kakinnya di kursi dan mengolesnya dengan lotion.


Carlos melihat Jessica, dia berdiri lalu memeluk sang istri dari belakang.


“Kamu mau ke kantor, Sayang?” tanya Carlos sambil tangan meremas dada Jessica.


“Iya, aku hanya sebentar di kantor kemudian harus meninjau proyek,” sahut Jessica seraya menatap Carlos lewat cermin di depannya.


“Oh, begitu," guma Carlos sambil mengeluarkan miliknya dan memasukan ke dalam inti Jessica.


“Ah sakit, Babe." Jessica merasakan sakit karena miliknya masih kering. "Kamu juga tidak pakai pengaman? Ini masa suburku, aku tidak ingin hamil.”


“Sayang nanti aku keluarkan di luar, kamu jangan khawatir,” sahut Carlos sambil meggerakan pinggangnya dengan pelah dan meremas dada Jessica.


Lalu dia menarik Jessica ke tempat tidur kemudian kembali melakukan penyatuan.


Carlos bermain tidak lama karena tidak ingin sang istri terlambat ke kantor. Setelah membuat Jessica beberapa kali pelepasan kini gilirannya, dengan cepat dia mengeluarkan miliknya dari inti Jessica dan menyemprotkan benih itu di atas perut wanitanya.


Carlos langsung berbaring di samping Jessica dengan napas yang masih tidak teratur.


“Babe, ambilkan tissue dimeja!” pinta Jessica dengan mata masih terpejam.


Carlos mengambil tissue yang ada di meja dekatnya dan memberikannya kepada sang istri.


Jessica mengambil tissue dan membersih cairan yang ada di atas perutnya. Dia berdiri kemudian ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya.


Selesai, Jessica pergi ke walk in closet. Mengambil pakaian dalam juga kemeja serta celana jeans dan tank top kemudian memakaianya. memakainya.


Jessica kembali ke kamar menemui Carlos, dia ingin berpamitan kepada pria itu.


“Kamu akan makan siang di rumah, Sayang?” tanya Carlos saat melihat samg istri keluar dari walk in closet dengan pakaian sudah rapi.


“Mungkin tidak, Babe. Aku akan meninjau proyek dan mungkin akan sedikit lama aku disana. Jadi tidak usah menungguku untuk makan siang,” jawab Jessica sambil memakai ketsnya.


“Baiklah, tapi jangan pulang malam ya!” Jessica menatap Carlos lalu tersenyum.


“Iya, Babe. Aku tidak akan pulang malam, selesai dari proyek langsung pulang," ujar Jessica kemudian mengecup bibir Carlos.


Carlos tersenyum dan membalas mengecup bibir sang istri.


“Aku pergi ya." Carlos bangun dari tempat tidur dan memeluk Jessica.


“Hati-hati, Sayang! Aku mencintaimu."


“Iya, terima kasih, aku juga mencintaimu.” Jessica meninggalkan Carlos di kamar. Dia keluar lalu masuk kedalam mobil dan langsung menuju ke kantor.


Tiba di kantor Jessica langsung masuk keruangannya, dia menyalakan komputernya kemudian memeriksa data-data dari keempat anak perusahaan well’s gorup dan memeriksa pergerakan saham dari well’s group.


Tidak lama kemudian, Jessica mengambil ponsel dan memasukkan ke saku celana jeansnya lalu keluar menuju ke ruangan asistennya.


“Mason, aku akan meninjau proyek, nanti kamu pantau terus ya pergerakan saham perusahaan ini!”


“Baik, Nyonya.” Jessica meninggalkan kantor, dia langsung menuju kelokasi proyek.


Dari kejauhan Jessica melihat kepala proyek dan pengawas sedang berbincang bincang. Jessica memarkirkan mobilnya dia melihat Billy dan Frank berjalan kearahnya.


“Bagaimana, Billy? Apakah semua baik baik saja?” tanya Jessica saat keluar dari mobil dan menutup pintu.


“Iya, Nyonya. Semua baik-baik saja.” Billy memberikan helm kerja kepada Jessica kemudian wanita itu memakainya. Mereka masuk ke lokasi peroyek.


“Frank, sudah berapa persen pengerjaan proyek ini?”


“Sejauh ini sudah 30% persen, Nyonya,” jawab Frank dengan menunjukan pengerjaannya kepada atasannya.


“Billy usahakan proyek ini selesai tepat waktu. Oh ya, Billy." Jessica menghentikan langkahnya kemudian menatap Billy. "Kita akan mengerjakan mega proyek di West covina. Apakah kamu ingin disini atau ke West covina?”


“Terserah Nyonya saja, kalau Anda inginkan aku di West covina aku akan kesana,” sahut Billy, dia adalah pekerja yang di percaya oleh Jessica karena cara kerjanya bagus selain itu dia sangat jujur.


“Aku butuh orang yang bisa aku percaya dan itu adalah dirimu, kamu sudah banyak membantuku. Aku tidak ingin ada yang mempermainkan proyek ini." Billy menganggukan kepala tanda mengerti.


“Baik,Nyonya. Aku akan ke West covina, terima kasih sudah percaya padaku. Ini merupakan penghargaan buatku. Aku akan menjaga kepercayaan Anda padaku." Jessica tersenyum dan menepuk pelan lengan Billy.


“Terima kasih, Billy. Bulan depan peroyek sudah harus dikerjakan," kata Jessica pada Billy. “Oh ya Frank nanti kamu yang awasi proyek disini.

__ADS_1


“Baik, Nyonya.” Mereka berbincang-bincang mengenai proyek.


Sementara di rumah Carlos mendapatkan telepon dari Peter.


“Hallo, Peter. Ada apa meneleponku?” tanya Carlos, tadi Peter meneleponnya tapi pria itu tidak sempat menjawab karena berada di kamar mandi.


“Carlos kamu di kantor sekarang?” tanya Peter dari seberang telepon.


“Um, tidak. Aku sedang berada di rumah. Ada apa, Peter?” Kembali Carlos bertanya dengan duduk di sofa.


“Carlos aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin aku bicarakan padamu.”


“Mengenai apa, Peter?”


“Um, bagaiman kalau aku kerumahmu saja, kita bicara di sana saja?” Carlos berpikir sejenak dengan usulan Peter.


“Ohh, begini saja. Kamu dimana sekarang, Peter?”


“Aku lagi di club bersama pacarku,” jawab Peter dari seberang telepon.


“Kalau begitu aku ke club saja. Tapi jangan berikan minuman padaku, aku tidak ingin bermasalah dengan istriku.” Terdengar Peter tertawa di telepon.


“Tenang saja, Carlos. Masih siang tidak ada minuman di club,” canda Peter.


“Baiklah aku kesana sekarang.” Carlos menutup teleponnya lalu pergi keluar, dia masuk kedalam mobil dan langsung menuju ke club Peter.


Sampai di club dia langsung masuk keruangan temannya itu, Carlos tersenyum dan menyapanya.


“Hi, Peter. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Carlos sambil duduk di depan meja kerja Peterdan tersenyum kepada kekasih sahabatnya.


“Hi, Carlos. Oh ya, kenalkan ini pacarku Melly." Carlos menyalami Melly. “Oh ya begini, aku punya bisnis yang bagus tapi terkendala dengan modal. Aku ingin menawarkan bisnis ini padamu.”


“Bisnis apa, Peter?” tanya Carlos kemudian Peter memberikan proposal kepada Carlos.


Sementara melihat proposal, Adrian teman mereka masuk kemudian menyapa Carlos dan Peter.


“Hi Carlos lama tidak bertemu.” Carlos berdiri dan memeluk Adrian.


“Iya, lama kita tidak bertemu,” sahut Carlos kemudian duduk kembali.


Sementara Adrian duduk disofa sambil memperhatikan Carlos dan Peter yang lagi berbincang.


Kemudian dia keluar, tidak lama kemudian Adrian masuk sambil membawa minuman lalu kembali duduk di sofa. Dia membuka botol itu dan menuangkannya di sloki.


Sementara Carlos masih membaca proposal yang di berikan peter padanya.


“Maaf, Adrian aku tidak minum," ujar Carlos sambil menolak minuman yang di berikan Adrian padanya.


“Kenapa, Carlos? Apakah kamu takut pada istrimu?”


“Bukan begitu, Adrian. Aku tidak takut pada istriku tapi aku menghormati dan mencintainya. Aku tidak bisa minum.” Kembali Carlos menolak minuman itu.


“Carlos satu sloki saja, itu tidak akan membuatmu mabuk. Ayolah!” Adrian memaksa Carlos untuk minum. Peter sudah melihat gelagat Adrian yang tidak bagus.


“Baiklah, Adrian. Satu sloki saja.” Carlos mengambil minuman itu dan langsung meminumnya. Kemudian dia kembali memeriksa proposal itu. Carlos menatap Peter.


“Begini saja, Peter. Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri, aku akan diskusikan dengan istriku, karena dia yang mengendalikan perusahaanku di Indonesia." ujar dengan menutup proposal itu.


Tiba tiba Carlos mengeluarkan keringat, dia merasakan panas di tubuhnya. Wajahnya menjadi merah. Dia membuka jacket dan kancing kemejanya. Nafasnya tidak beraturan, dia memandang Melly seolah-olah itu Jessica.


Peter melihat keadaan Carlos dia langsung menjadi khawatir dan mencurigai Adrian. Peter langsung mengirim pesan pada Jessica


Melihat keadaan Carlos, Adrian menatapnya dan tersenyum.


Sementara di proyek Jessica masih berbincang-bincang dengan Billy dan Frank tiba tiba ponselnya bergetar. Dia melihat ada pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Jessica membaca pesan tersebut.


'Jessica cepat ke clubku Carlos lagi dalam bahaya' “Peter”


Jessica langsung memasukkan ponsel ke saku celananya kemudian berlari masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkan kawasan proyek.


Jessica menyetir dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak perduli lagi dengan mobil-mobil yang memberi klakson padanya.


“Kenapa Carlos berada di club itu lagi. Dia selalu mengingkari janjinya padaku,” gumam Jessica dengan menambah kecepatannya.


Saat mendekati traffic light dia melihat lampu masih hijau dia menambah kecepatan, begitu sudah dekat lampu berubah menjadi merah. Jessica menerobos lampu merah melihat itu polisi mengejar mobil Jessica.


Melihat polisi mengejarnya, Jessica lebih menambah kecepatan. Polisi meminta bantuan rekan-rekannya untuk mengejar mobil Jessica. Kini Empat kendaraan polisi mengejar Jessica.


“Ini kesempatan membawa mereke ke club.” Jessica memperhatikan polisi yang mengejarnya lewat kaca spion.


Sementara di club, Carlos menarik Melly kepelukannya dan menciumnya. Kekasih Peter berusaha melepaskan diri dari Carlos.


Carlos membuka kemejanya dan menarik Melly kembali, dia menatap kekasih peter seakan-akan itu Jessica.


Carlos berusaha mencium Melly lalu peter menahan Carlos tapi pria itu mendorong Peter. Adrian langsung menahan Peter.


Carlos membuka ikat pinggang dan resleting celananya kemudian merobek kaos Melly dan menghempaskan tubuh kekasih Peter di sofa.

__ADS_1


Dia mengangkat rok Melly dan membuka melepaskan celana wanita itu kemudian menindih tubuh kekasih Peter.


Melly meronta ingin melepaskan diri dari Carlos, dia memohon pada suami Jessica tapi pria itu tetap ingin melakukan aksinya.


Peter berteriak pada Carlos sambil berusaha melepaskan dirinya dari Adrian. “Carlos, jangan lakukan itu, kendalikan dirimu, Carlos.” Tapi Adrian memukul Peter.


Sementara Jessica masuk keparkiran club milik Peter. Dia turun dari mobil dan langsung berlari kedalam menuju ke ruangan Peter, Jessica membuka pintu dan mendapati Carlos berada di atas tubuh Melly dan sedang melakukan aksinya.


Sedangkan Adrian menahan tangan Melly. Melihat itu Jessica berteriak pada Carlos.


“Carlos! Apa yang kamu lakukan?” Carlos terkejut mendengar suara Jessica, dia berhenti mencium Melly lalu menatap wanita itu kemudian beralih melihat Jessica, dia menjadi seperti orang yang kebingungan.


“Kamu bajingaan Carlos! Apa yang kamu lakukan padanya?” Jessica mengambil gelas yang ada di meja dan melemparkannya kepada Carlos. Tapi pria itu menangkis dengan tangannya.


“Aku sudah katakan padamu jangan bergaul dengan penjahat ini tapi kamu masih saja bertemu dengannya. Lihat dirimu, kamu sudah seperti penjahat . Kamu sudah seperti orang ini.” Jessica berteriak sambil menunjuk Adrian.


Carlos tidak tahu lagi apa yang ingin dia katakan pada Jessica, dia menjadi seperti orang yang kebingungan. Jessica menatap Adrian dan menampar Adrian.


Adrian menjadi emosi karena Jessica menamparnya, dia mengambil pisau yang diselipkan di pinggangnya dan langsung menusuk perut Jessica.


Dua tusukan masuk ke perut Jessica, Carlos terkejut melihat Adrian menusuk Jessica. Dia langsung berteriak.


“Adrian jangan sentuh istriku, bangsaat kamu!” Carlos mengambil botol yang masih berisikan minuman lalu dia memukulkannya ke kepala Adrian.


Botol itu pecah di kepala Adrian, pria itu terjatuh lalu polisi masuk kedalam ruangan.


Jessica memegang perutnya, dia terhuyung ke belakang, saat dia akan terjatuh salah satu polisi memegangnya.


Jessica menatap Carlos dengan tatapan penuh kebencian, Carlos tidak tahu harus berbuat. Dia menjadi histeris di ruangan Peter, dia tidak menyangka Adrian menikam Jessica di depan matanya.


Dia berteriak tapi Peter memeluk Carlos dari belakang, dia menahan Carlos yang berteriak histeris, polisi membantu peter menahan suami Jessica.


Polisi langsung menelepon Ambulance. Tapi salah satu polisi yang memeluk Jessica berteriak.


“Kita tidak bisa menunggu Ambulance. Dia akan kehabisan darah, kita bawah saja dia kerumah sakit." Polisi itu mengangkat Jessica dan membawanya ke mobil lalu mereka melarikan Jessica ke rumah sakit.


Sedangkan di club. Polisi langsung membawa Adrian. Sementara Carlos, dia masih berteriak histeris memanggil Jessica, Peter mengambil obat penenang dilaci mejanya


“Opsir, berikan obat ini padanya, kalau tidak dia akan terkena serangan jantung.”


Opsir mengambil obat di tangan Peter dan langsung diberi minum kepada Carlos.


Polisi melihat ada serbuk berwarnah putih bercampur pink beserta pembungkusnya di meja dekat sofa. Mereka mengambilnya dan memasukkannya di plastik.


Carlos terlihat mulai tenang dan dia tertidur. Peter membaringkan Carlos di sofa dan menunggu pria itu sampai sadar.


Sementara di mobil polisi, Jessica menatap opsir yang memeluknya. Airmata jatuh lewat sudut matanya. Jessica membaca nama opsir itu dan menyebutnya. “Charlie”


“Iya, Nyonya. Tenang ya, rumah sakit sudah dekat.”


Jessica memejamkan matanya, dia terbayang Carlos berada di atas tubuh perempuan dan kembali air matanya menetes.


Tiba di rumah sakit opsir Charlie langsung mengangkat Jessica dan membawanya ke dalam.


Petugas rumah sakit langsung membaringkan Jessica di brankar lalu Jessica memegang tangan opsir Charlie.


Dia tidak melepaskan tangan opsir Charlie dan Charlie mengikuti petugas membawa Jessica ke dalam ruangan.


Jessica berusaha mengeluarkan ponselnya dari saku celana, opsir Charlie melihatnya, dia membantu mengambil gawai Jessica.


“Nyonya, ingin menghubungi siapa?” Dengan pelan Jessica menjawab.


“Mason, suruh Mason kesini.” Jessica menarik tangan opsir Charlie lalu pria itu mendekat kemudian Jessica berbsisik. “Katakan pada Mason jangan beritahu siapapun aku di rumah sakit!”


“Baik, Nyonya. Akanku sampaikan.”


Dokter masuk dan langsung menangani Jessica, mereka menghentikan pendarahannya.


Opsir Charlie menunggu di luar kemudian dia mencari nomor Mason di ponsel Jessica dan langsung menghubungi Mason. Terdengar suara pria itu di ujung telepon.


“Hallo, Nyonya .” Suara Mason dari seberang telepon.


“Maaf, Mason. Ini bukan nyonya Jessica, aku opsir Charlie. Anda diminta Nyonya Jessica untuk ke rumah sakit dan pesan beliau jangan beritahu siapapun kalau dia dirawat di rumah sakit Good Samaritan Hospital." Mason terkejut.


“Baik opsir aku akan segera kesana.”


Opsir menutup telepon dan menunggu dokter yang sedang menangani Jessica.


Selamat Membaca


Jangan lupa like dan komen ya


Terima kasih juga yang masih setia memberi like dan komennya.


Salam


Author

__ADS_1


__ADS_2