
Hari ini Carlos sudah di ijinkan pulang, Jessica membereskan semua barang barang milik dia dan Carlos, obat obatan Jessica masukin ke dalam tas lalu tidak lama kemudian Andrew datang
“Selamat pagi, jemputan siapp,” sapa Andrew dengan tersenyum kepada Carlos dan Jessica
“Terima kasih, Ndrew. Kamu sudah banyak membantu,” ucap Carlos dengan menatap Pria itu yang sedang berjalan duduk di sofa.
“Ah, bantuanku belum seberapa.” Sambil berucap Andrew duduk di sofa dan memperhatikan Jessica yang begitu sibuk layak seorang ibu rumah tangga lalu dia tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Ndrew, aku bisa minta tolong lagi gak?” Andrew menatap Jessica sambil mengangkat kedua alisnya.
“Katakan saja, Jess,” ujar Andrew sambil berdiri dan mendekati Jessica.
“Um, di depan rumah sakitkan ada toko kue, kamu beliin dong. Aku mau tinggalkan buat petugas sama suster, mereka baik banget,” pinta Jessica dengan mengeluarkan uang dari dalam dompet.
“Ok, kuenya di campur ajakan?” tanya Andrew
“Iya, disitukan ada jual cake marmer sama bolu dan brownis beli aja itu.” Jessica memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribu kepada Andrew lalu pria itu langsung pergi.
Semua barang sudah beres Jessica dan Carlos tinggal menunggu andrew membeli kue. Pasangan kekasi itu duduk di sofa lalu ponsel Jessica berbunyi.
Dia melihat pesan dari Glen, pria itu bertanya kalau kapan Jessica akan shooting lagi tapi dia tidak membalasnya. Carlos menatap Jessica dan bertanya.
“Siapa itu?”
“Pesan dari Glen, Babe.” Raut wajah Carlos berubah tidak suka mendengar nama pria itu.
“Kenapa dia?” tanya Carlos dengan ketus, dia sangat membenci pria itu. Lalu Jessica terseyum, dia tahu sang kekasih tidak suka pada Glen.
“Dia hanya bertanya, kapan aku shooting lagi.” Carlos mengernyitkan keningnya, kembali dia menatap Jessica dengan heran. Selama ini pria itu tidak tahu kalau Jessica sedang shooting iklan.
“Shooting apa, Sayang?” Jessica tersenyum dan mengelus tangan Carlos, dia malas untuk menceritakan di rumah sakit.
“Nanti aku ceritakan di apartemen Babe, itu andrew sudah datang.”
Andrew masuk membawa kue, lalu Jessica berdiri dan Carlos mengambil tas kemudian mereka keluar dari ruangan menuju ke petugas jaga, disana mereka lagi berkumpul. Jessica menghampiri para petugas untuk pamitan sekaligus memberikan kue yang sudah dia beli.
“Hallo semua, kami pamit dulu ya. Makasi kalian sudah melayani kami dengan baik, ini ada kue aku tinggalkan untuk kalian.” Dengan tersenyum Jessica meletakan kue itu di atas meja.
“Mba Jessica makasih ya, itu sudah tugas kami untuk melayani pasien.”
“Iya tapi pelayanan kalian sangat baik, kami permisi dulu ya.” Jessica berpamitan pada mereka, setelah itu berjalan ketempat parkir. Andrew membuka pintu bagasi dan memasukan barang-barang pasangan kekasih itu diantu oleh Carlos.
Carlos masuk ke dalam mobil, dia duduk di samping Andrew sedangkan Jessica duduk di belakang.
Andrew menjalankan kendaraan dan pulang menuju apartemen, Andrew masuk ke basement lalu memarkirkan mobil. Jessica dan Carlos langsung turun diikuti Andrew, Carlos mengambil barang di bagasi dan berjalan menuju lift.
Andrew menekan tombol lalu lift terbuka, Carlos menempelkan kartu dan menekan angka delapan belas. Pintu tertutup dan mulai naik ke atas. sampai di unit mereka masuk ke dalam.
Jessica terkejut melihat ruangan begitu berantakan, dia langsung menatap Carlos, tapi pria itu langsung memalingkan wajahnya. Jessica dan Andrew saling pandang dan tertawa, Andrew langsung berbisik di terlinga Jessica.
“Aku akan membantumu merapikan apartemennya.” Jessica hanya menganggukan kepala kemudian naik ke lantai dua dan meletakkan barang-barang di lantai.
Bau alkohol masih tercium di ruangan, sambil menutup hidung Jessica membuka gorden jendela lalu cahaya terang masuk ke dalam ruangan.
Jessica berjalan menuju kamar yang biasa dia pakai dan membuka pintu kembali dia terkejut karena bau alkohol begitu menyengat hidungnya. Bahkan-banyak botol kosong berserakan di lantai.
Andrew berdiri di belakang Jessica dan melihat kamarnya berantakan pria itu langsung tertawa, Jessica menatap Carlos tapi pria itu hanya terseyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sayang, aku akan membantumu merapikan ruangan ini,” ujar Carlos dengan mengerutkan keningnya takut dimarahi oleh Jessica.
“Tidak usah, Babe. Kamu istirahat saja, nanti aku yang akan merapikan apartemen ini.” Jessica menolaknya karena dia tahu kondisi sang kekasih masih harus istirahat.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah sehat.” Jessica menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Please!” Satu kata keluar dari mulut Jessica membuat Carlos mengedikan bahu tidak ingin membantah sang kekasih.
“Sudahlah, Carlos. Kamu istirahat saja, aku akan membantu Jessica membereskan ruangan.” Carlos menepuk pelan lengan Andrew, dia merasa tak enak hati kepada pria itu karena sudah banyak membantunya.
“Terima kasih Ndrew, kamu sudah banyak membantu aku dan Jessica.” Andrew tersenyum, dia melakukan itu karena sudah menganggap Jessica seperti saudara perempuannya.
“Tidak apa apa, Carlos, aku senang membantu Jessica.” Carlos tidak banyak bicara, dia masuk ke kamar dan berbaring.
Jessica dan andrew ke ruang bawah dan mengambil dus, mereka masukkan semua botol botol yang sudah kosong kedalam kardus. Jessica mengambil vacuum cleaner dan membersihkan kamar, ruang Tv dan kamar Carlos.
Sedangkan Andrew mengambil parfum ruangan dan menyemprot di kamar dan ruang santai. Kemudian Jessica dan andrew membersihkan ruangan lantai satu.
“Jess minuman sebanyak itu dihabiskan sendiri, pantes saja sakit,” ujar Andrew sambil membuang botol-botol minuman yang sudah kosong
“Iyalah apa lagi ini minuman import semua, terus nggak makan lagi. Ya sudah pasti sakit.” Jessica dan Andrew tertawa bersamaan.
“Gila ya, orang kalau sudah cinta apa saja bisa dia lakukan.” Jessica menatap andrew dan tertawa.
Akhirnya Jessica dan andrew selesai merapikan lantai satu. Kembali Andrew menyemprotkan parfum di ruangan, setelah itu Jessica dan dia naik ke atas dan duduk di sofa.
“Ndrew, istirahat saja di kamarku,” ujar Jessica sambil berdiri dan berjalan ke kamarnya.
“Terus kamu istirahat dimana?” tanya Andrew dengan berjalan di belakang Jessica.
“Aku akan istirahat di kamar Carlos.”
“Baiklah.” Andrew masuk ke kamar Jessica dan menghempaskan tubuhnya di ranjang, merasa lelah akhirnya pria itu tertidur.
Sementara Jessica masuk ke kamar Carlos dan melihat itu lagi berbaring tapi tidak tidur, Jessica naik ke ranjang dan memeluknya.
“Apa yang kamu pikirkan, Babe?” tanya Jessica dengan membelai dada bidang sang kekasih.
“Aku memikirkan kamu dan aku, kedepannya harus bagaimana dan sepertinya sudah saatnya aku harus jujur padamu.” Jessica mendongakkan kepala ke atas menatap Carlos.
“Bukan hanya masalah Olivia sayang, ada beberapa hal yang harus aku katakan padamu. Aku tidak ingin ada salah paham lagi di antara kita, aku ingin mengatakan siapa aku sebenarnya dan nanti kamu akan mengerti kenapa ada Olivia.”
“Apakah kamu sudah tidur dengan olivia,” tanya Jessica dengan menyanggah kepalanya dengan tangan satunya dan menatap Carlos.
“Tidak, Sayang. Sumpah aku tidak pernah tidur dengan Olivia aku tidak pernah menyentuhnya. Aku hanya mencium dia satu kali saja, makanya kamu dengar dulu apa yang mau aku katakan jangan menyela pembicaraanku,” ujar Carlos dengan kesal.
“Baiklah kalau begitu katakan.” Carlos bangun dan duduk di tempat tidur dia memegang tangan Jessica dan mulai menjelaskan.
“Tapi kamu jangan terkejut kalau tau siapa aku.” Jessica menganggukan kepala setuju dengan permintaan Carlos.
“Iya, katakan saja.” Terlihat Jessica begitu penasaran siapa Carlos sebenarnya.
“Aku sudah berbohong padamu, aku disini tidak bekerja pada siapapun. Aku mempunyai perusahaan disini, dua tambang di Indonesia. Satu tambang di pulau Kalimantan dan satunya lagi di pulau Sulawesi.” Jessica mengernyitkan keningnya sambil mendengarkan Carlos berbicara.
“Aku mengeksport hasil tambang ke China dan Korea ….”
“Terus apa hubungan dengan Olivia?” Jessica menyela karena penasaran dengan Olivia.
“Kamu dengar dulu jangan menyelaku,” ujar Carlos sedikit kesal, dia tidak ingin Jessica salah paham dengannya makanya dia menceritakan dari awal. Carlos melanjutkan lagi.
“Orang tuaku memiliki bisnis yang sangat bagus, mereka pebisnis yang berhasil, mereka mempunyai perusahaan minyak di Ecuador. Tapi kematian adiku membuat orang tuaku menjual perusahaan minyak itu.” Nampak kesedihan di wajah pria itu mengingat apa yang terjadi dengan adiknya.
“Mereka punya perusahaan pelayaran di Spain. Mereka memilik kapal pesiar yang sangat megah bahkan ibuku memiliki hotel berbintang di setiap kota yang ada di Amerika, Eropa bahkan di beberapa negara Asia juga ada.” Carlos terhenti sejenak karena bagian yang akan dia ceritakan sangta menyakitkan.
“Kamu tahu adiku mati di bunuh oleh rekan bisnis orang tuaku, dia meninggal di usia delapan belas tahun.” Jessica membelalakan mata dan menutup mulut karena terkejut mendengar cerita adik Carlos.
“Dia adalah adikku satu-satunya. Kami hanya berdua dan aku sangat menyayangi adiku, kematiannya membuat aku terpukul. Meninggalnya adikku membuat aku jadi seorang pembunuh, disaat itu usiaku dua pulu tahun. Aku tidak segan-segan membunuh siapa saja yang menggangu bisnis orang tuaku dan aku sering masuk penjara tapi ayah selalu menebusku.” Carlos menarik napas panjang untuk melanjutkan ceritanya.
“Akhirnya orang tuaku mengirim aku ke spain ke rumah kakekku, disana aku berubah. Aku datang ke Indonesia dan membangun bisnis di negara ini dengan bantuan kakek, dan aku berhasil.” Carlos memegang tangan Jessica dan menatap mata gadis itu.
__ADS_1
“Kamu ingat terakhir aku kembali ke America?" tanya Carlos lalu Jessica menganggukan kepala.
“Aku menceritakan tentangmu pada mereka, dan kedua orang tuaku sangat menyukaimu. Daddy sampai meminta aku untuk menikahimu tapi aku katakan padanya kalau kamu masih ingin sekolah dan kuliah. Tapi jawaban daddy, ‘untuk apa sekolah datang saja ke America kamu anakku satu-satunya. Semua bisnisku pasti kamu yang akan pegang dan tentu saja dia bisa juga meneruskan bisnis mommy kamu.’ Tapi aku menolak karena aku tau kamu masih ingin sekolah dan daddy ku berkata.
‘Nak kami sudah tua dan merindukan seorang cucu, kapan kamu akan memberikan kami cucu?’ Tapi aku hanya balas dengan candaan. Saat kembali ke Indonesia aku memikirkan hal itu. Kembali Carlos memegang tangan Jessica dan mengecupnya.
“Aku berpikir umurku sekarang tiga pulu satu kalau aku menunggumu sampai selesai kuliah umurku mungkin sekitar tiga pulu lima atau tiga puluh enam dan orang tuaku semakin tua, mereka sangat merindukan cucu.” Terlihat wajah Jessica berubah mendengar penjelasan Carlos.
“Akhirnya aku mencoba membuka situs date in lalu aku bertemu Olivia, kami bertemu di kantorku dan berbincang di sana. Disitu aku berbohong kalau aku belum punya pacar, tapi pada keesokannya aku berkata jujur pada Olivia. Aku bilang aku sudah punya pacar, tapi dia berkata “Tidak apa apa Carlos, itu kan baru pacar belum istri.” Dia menawarkan untuk menjadi pacarku dan aku menerimanya tapi aku tidak pernah berjanji padanya untuk menikah dengannya. aku mencoba menjalani hubungan dengan Olivia tapi aku tidak menemukan cinta, selama jalan dengan Olivia pikiranku selalu tertuju padamu.” Jessica tersenyum dan mengelus tangan Carlos
“Ada perasaan takut dalam diriku, sampai terakhir aku melihatmu di Cafe kamu menangis dan memeluk Glen, aku tidak sakit hati kamu memeluk Glen tapi rasa sakit saat melihat kamu menangis dan akhirnya aku mengambil keputusan ingin meninggalkan Olivia, sebelumnya aku tidak tahu kalau kamu sudah mengetahui tentang aku dan dia.” Kembali Carlos menarik napas panjang dan melanjutkan ceritanya.
“Aku pulang ingin bicara denganmu tapi kamu mengunci diri di kamar dan aku berpikir untuk menghentikan aktifitasmu sementara sampai aku memutuskan Olivia, karena aku takut kalau kamu tahu lebih dulu hubunganku dengannya. Tapi hari itu aku sudah salah bicara padamu, aku malah menyakiti hatimu. Semua ini aku ingin jelaskan di rumah sakit tapi kamu selalu menolaknya.” Carlos memegang kedua pipi Jessica dan menatap mata gadis itu.
“Sayang maafkan aku, semestinya tidak bicara begitu padamu. Aku sangat menyesal.” Jessica bangun dan memegang kedua pipi Carlos.
“Aku sudah mengerti semuanya, masalah Olivia aku sudah memaafkanmu. Tapi aku tidak suka kamu bohong padaku tentang dirimu,” ujar Jessica dengan wajah cemberut.
“Iya aku minta maaf sudah berbohong tentang diriku padamu,” sahut Carlos dengan mengecup punggung tangan sang kekasih.
“Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada adikmu.” Carlos tersenyum dan menganggukan kepala.
“Iya, terima kasih. Sayang, menikahlah denganku. Aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku ingin memilikimu selamanya,” pinta Carlos dengan wajah penuh permohonan.
“Iya, aku akan menikah denganmu.” Raut wajah Carlos langsung berubah, dia memegang kedua pipi Jessica.
“Kapan?” tanya Carlos dengan senang.
“Selesai aku sekolah.” Pria itu mengerutkan dahi menatap sang kekasih.
“Kamu tidak ingin kuliah?” tanya Carlos sambil membelai wajah Jessica.
“Babe, walau sudah menikah aku bisa kulia.” Carlos terkekeh dia kembali memegang tangan Jessica.
“Iya, bisa.” Carlos terlihat sangat senang, akhirnya tidak perlu menunggu lama untuk menikahi gadis pujaannya.
“Kamu mau menungguku, Babe?” tanya Jessica.
“Iya, aku akan menunggumu.” Satu tahun tidaklah lama bagi Carlos untuk menunggu Jessica. “Sekarang istirahat ya. kamu pasti lelah”
“Iya kamu juga istirahat, Babe.”
“Andrew mana?” tanya Carlos seraya berbaring di samping Jessica.
“Lagi istirahat di kamarku,” jawab Jessica dengan meletakan kepalanya di dada bidang Carlos.
“Baiklah, kita istirahat sekarang.” Carlos memutar tubuh Jessica membelakanginya lalu memeluk gadis itu dari belakang.
“Terima kasih sayang kamu sudah memberikan kesempatan padaku. Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi, dan akan setia menunggumu. Aku sangat mencintaimu,” gumam Carlos dalam hati.
Sementara itu Glen sangat marah begitu mengetahui Jessica memblockir media sosialnya.
“Ini tidak mungkin Jessica yang melakukannya, ini pasti ulah Carlos. Lihat saja Carlos aku akan merebutnya dari tanganmu dan akan membawa dia jauh darimu, tunggu saja Carlos aku bisa melakukan apa saja untuk menjauhkanmu dari Jessica.” Nampak wajah Glen berubah menyeramkan.
“Aku harus memiliki Jessica dan temannya itu, aku akan menyingkirkannya karena dia Jessica dan Carlos bersatu lagi,” ujar Glen dengan geram.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya
Oh ya, mampir juga di karya terbaruku dengan judul; AMOR PROHIBIDO (CINTA TERLARANG)
Kalau tidak bisa menemukan judulnya masuk saja ke profile dan lihat karyaku. Novel ini sudah aku tulis sampai tamat jadi tidak akan ada bab yang menggantung, setiap hari sudah pasti up 2 sampai 3 bab.
__ADS_1
Terima kasih