
Akhirnya Logan di pindahkan di ruang perawatan, Cella duduk disisi tempat tidur dan memegang tangan pria itu. Jessica dan Nasya juga Nicky mereka berdiri di samping tempat tidur memperhatikan Logan yang baru saja siuman.
Samar-samar pria itu melihat Cella, dia kembali memejamkam mata dan merasakan sakit di dada dan punggungnya. Dengan cepat Cella mengatur bantal di belakang Logan agar pria itu tidak merasakan sakit di punggungnya lalu dia menatap Cella dan Jessica.
“Terima kasih,” ucap Logan dengan suara menahan sakit kepada Jessica kemudian Jessica menganggukan kepala lalu dia tersenyum.
“Baiklah, Sayang. Mama harus pulang, nanti kalau ada apa-apa hubungi mama ya,” ujar Jessica kemudian dia memeluk putrinya.
“Iya, sebentar aku akan pulang. Aku ingin mengganti pakaian, pakaian ini ada darah.” Jessica kembali tersenyum kemudian dia memegang tangann putrinya.
“Nanti mama bawakan pakaian ganti untukmu, kalau kamu pulang dengan keadaan begitu nanti papamu curiga.” Cella menganggukkan kepala kemudian dia memeluk mamanya.
“Baiklah, Mam. Terima kasih.” Dia merasa senang karena Jessica selalu mendukungnya.
Jessica meninggalkan rumah sakit, sedangkan Nicky dan Nasya mereka juga kembali ke rumah. Nicky dan Nasya membersihkan kamar tempat Logan tertembak.
Di rumah sakit, Cella duduk di kursi dan menatap mata pria itu, mereka berdua saling bertatap mata.
“Maafkan aku, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu,” pinta Logan dengan wajah memohon tapi Cella hanya diam dan menganggukan kepala. Dia memberi isyarat kepada Cella agar duduk di tempat tidur. Cella berdiri kemudian dia duduk di tempat tidur lalu Logan mengelus perut gadis itu.
“Aku sangat bahagia bisa memiliki anak darimu,” ucap Logan dengan terus membelai perut gadis itu. “Selesai dari rumah sakit aku akan bertemu orang tuamu.” Cella hanya menganggukan kepala, dia belum ingin bicara.
“Apakah kamu masih marah padaku,” tanya Logan dengan memegang pipi Cella tapi gadis itu tidak menjawab hanya airmata yang menetes di pipinya.
“Maakan aku,” ucap Logan kemudian dia memejamkan mata dan merintih, dia kembali merasakan sakit di dadanya. Melihat Logan merintih gadis itu menjadi khawatir.
“Apakah sakit?’ tanya Cella dengan memegang tangan pria itu.
“Iya, aku sulit menarik napas,” sahut Logan lalu Cella mengambil oksigen dan memasangnya di hidung pria itu.
“Bagaimana?"tanya Cella dengan cemas.
“Iya, lebih baik. Aku mau tidur.” Cella mengatur bantal lalu Logan memejamkan mata dan tertidur.
***
Beberapa hari di rumah sakit akhirnya Logan sudah bisa pulang, Nicky dan Nasya menjemput pria itu tapi mereka tidak kembali ke tempat Nicky. Cella sudah menyewa apartemen untuk Logan tinggal. Nicky mengantar Logan dan Cella ke apartemen. Tiba di apartemen mereka semua masuk.
Logan dan Cella langsung masuk ke kamar dan meletakkan barang-barang mereka di lantai. Sedangkan Nicky dan Nasya, mereka berdua duduk-duduk di teras.
Logan dan Cella berbincang-bincang di dalam kamar, mereka berdua membicarakan rencana pertemuan dengan orang tua gadis itu.
“Aku ingin bertemu orang tuamu sekarang,” ujar Logan dengan memegang tangan gadis itu.
“Tapi, aku masih takut,” sahut Cella seraya melepaskan tangan pria itu dan duduk di sisi tempat tidur. “Aku takut papa mengusirmu.”
“Jangan pikirkan itu dulu, aku ingin menunjukkan kepada papamu kalau aku lelaki bertanggung jawab. Kamu tidak usah khawatir, kita hadapai bersama ok!” Cella menganggukkan kepala tapi dalam hatinya ada perasaan cemas, dia takut papanya membunuh Logan.
“Terserah kamu saja.” Logan tersenyum kemudian dia mengecup kening gadis itu.
“Aku akan pinjam mobil Nicky,” ujar Logan kemudian dia keluar dari kamar menemui Nicky. Sedangkan Cella dia hanya menatap pria itu keluar dari kamar.
Nicky meminjamkan mobilnya kepada Logan kemudian dia mengajak gadis itu untuk pergi ke rumah orang tuanya. Cella dan Logan keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil.
Logan langsung menjalankan mobilnya menuju ke kediaman orang tua Cella. Sepanjang perjalan terlihat gadis itu tidak tenang, dia masih memikirkan kemarahan papanya. Logan memperhatikan gadis itu kemudian dia menggenggam tangan gadis itu.
Akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua gadis itu, mereka berdua turun dari mobil kemudian Cella mengajak Logan masuk ke dalam rumah. Logan mengikuti Cella dari belakang, dia memperhatikan kalau ada Erick atau James di sekitar rumah Carlos.
Mereka masuk lalu Cella melihat Jessica sedang duduk di ruang santai. Sedangkan Logan dia duduk di ruang depan, dia tidak ingin ikut Cella pergi ke ruang tengah. Cella menghampiri Jessica dan mencium kedua pipi mamanya.
“Mam, apakah papa di rumah?” tanya Cella sambil duduk di samping Jessica.
“Iya, Sayang. Papa lagi di ruang kerjanya. Ada apa?” tanya Jessica sambil tersenyum dan membelai rambut putrinya.
“Logan ingin bicara dengan papa dan mama,” ujar Cella, ada perasaan takut dalam dirinya.
“Kalau begitu ajak Logan dan temui papa di ruang kerjanya.” Cella terlihat agak ragu.
__ADS_1
“Tapi aku ingin dengan mama, aku takut papa emosi saat melihat Logan,” mohon Cella kepada mamanya.
“Tentu saja sayang, mama juga akan ikut ke ruang kerja.” Jessica berdiri kemudian dia pergi ke ruang kerja menemui suaminya.
Terlihat wajah gadis itu menjadi tenang, dia berdiri dan mengajak Logan pergi ke ruang kerja. Cella membuka pintu dan melihat kedua orang tuanya sedang berbincang, Cella dan Logan masuk.
Saat Logan masuk wajah Carlos langsung berubah, dia berdiri dan menatap Logan dengan wajah marah.
“Untuk apa kamu kesini?” tanya Carlos dengan menahan emosinya lalu dia menatap Cella, “Untuk apa kamu membawanya kesini, apakah kamu masih berhubungan dengan orang ini?” Jessica berdiri dan menenangkan Carlos
“Babe, kita dengar dahulu apa yang akan di katakan Logan,” ujar Jessica dengan menenangkan suaminya.
“Dengarkan apa lagi? Aku sudah katakan aku tidak ingin melihat orang ini di rumahku!” tegas Carlos kepada Jessica. Cella dan Logan hanya saling pandang, mereka tidak tahu harus bagaimana. Carlos tidak mau mendengar apa yang akan di katakan Logan.
“Tidak bisakah sekali ini saja kamu beri dia kesempatan untuk bicara?” Suara Jessica meninggi, dia begitu kesal kepada suaminya.
“Baik, tapi setelah itu aku tidak ingin melihat dia lagi di rumah ini,” ujar Carlos kemudian dia duduk di kursi kerjanya, dan tidak ingin melihat wajah pria itu.
“Silahkan duduk, Logan,” ujar Jessica lalu Logan dan Cella duduk di ikuti Jessica.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Jessica membuka percakapan kemudian Logan menatap Cella lalu sang kekasih menganggukan kepala sebagai isyarat agar pria itu bicara.
“Um, begini. A--ku, em ….” Logan menjadi gugup, dia tidak tahu harus memulai darimana.
“Katakan saja,” ujar Jessica lalu Logan menarik napas panjang kemudian dia menatap Cella. Kembali putri Jessica memberi isyarat lagi kepada pria itu dengan menganggukkan kepala.
“Aku ingin menikahi Cella,” Logan langsung spontan berbicara. Carlos terkejut mendengar perkataan kekasih Cella kemudian dia berdiri dan tertawa mengejek.
“Siapa kamu terus ingin menikahi putriku?” Carlos terlihat emosi kembali kepada pria itu sedangkan Jessica hanya diam dan menunggu Logan bicara lagi.
“Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku sangat mencintai Cella, begitu juga Cella. Dia sangat mencintaiku.” Kali ini dia tidak ada perasaan takut lagi untuk bicara, tawa Carlos yang mengejeknya membuat dia jadi berani.
“Aku tidak perduli dengan cinta kalian, aku tidak akan pernah mengijinkan putriku menikah denganmu,” sela Carlos memotong perkataan Logan.
“Aku mencintai Cella dan ingin bertanggung jawab atas kehamilan Cella.” Jessica dan Carlos lebih terkejut, Carlos langsung menghampiri Logan dan menarik kerah kemaja kekasih Cella kemudian melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Dia terlihat sangat emosi dan melepaskan pukulan berulangkali di wajah Logan.
“Bangsat kamu, berani sekali kamu menghamili putriku,” ujar Carlos dengan emosi.
Cella memegang Logan dan menangis, dia tidak menyangka kalau Carlos akan memukul kekasihnya. Carlos menghentikan pukulannya kemudian dia menatap Logan.
“Sekalipun Cella hamil aku tidak akan pernah mengijinkan dia menikah denganmu.” Tatapan Carlos begitu tajam kepada Logan, dia sangat membenci pria itu.
“Aku akan tetap menikah dengan Logan sekalipun papa melarangnya,” sela Cella kemudian Carlos menatap putrinya.
“Kamu sudah berani berbantah denganku? Apakah dia yang mengajarimu seperti itu?” tanya Carlos dengan wajah yang memerah menahan marah.
Tiba-tiba Acel masuk, melihat Logan dia langsung melayangkan pukulan ke wajah pria itu, Logan hanya diam saja. Dia tidak ingin membalas Acel.
“Mengapa kamu datang kesini?” tanya Acel dengan emosi lalu Jessica berdiri dan menampar Acel, dia terlihat marah saat Acel memukul Logan,
“Jangan mencampuri urusan orang, keluar dari ruangan ini!” Jessica mengusir Acel, hatinya terasa sakit karena selama ini dia tidak pernah memukul anak-anaknya.
Acel menatap Logan dengan marah kemudian dia keluar dari ruang kerja dan menutup pintu dengan kencang. Jessica menghampiri Cella kemudian dia membelai wajah dan rambut putrinya.
“Sudah berapa bulan usia kandunganmu?” tanya Jessica dengan suara yang lembut.
“Tiga bulan lebih, Mam,” jawab Cella dengan wajah tertunduk lalu Carlos memutar tubuhnya dan melayangkan tinju di dinding.
“Kenapa kamu lakukan ini Cella? Kamu masih kuliah, papa ingin kamu itu berhasil,” ujar Carlos, terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Dia duduk di kursi kerja dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
“Baiklah, kapan kalian akan menikah?” tanya Jessica kepada Logan.
“Secepatnya,” sahut Logan sambil menatap Carlos yang lagi tertunduk.
“Aku tidak akan mengijinkan kalian menikah,” sela Carlos sambil berteriak, “Sampai kapanpun aku tidak akan merestui kalian berdua!” Dia berdiri kemudian keluar dari ruang kerja dan membanting pintu. Dia masuk ke dalam kamar dan menangis.
Sementara itu Jessica dan Logan juga Cella tetap berbincang di ruang kerja mereka bertiga membicarakan pernikahan Cella dan Logan.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mengatur pernikahan kalian,” kata Jessica sambil memegang tangan putrinya.
“Tidak perlu, biar aku saja. Aku ingin menikah dengan Cella di Brazil.” Jessica menatap Logan dengan heran.
“Mengapa di Brazil? Mengapa tidak di sini saja?” Logan menatap Cella dan memegangnya, dia terlihat sangat bahagia
“Aku ingin merayakannya dengan keluarga besarku di Brazil, aku sudah beritahu paman dan bibiku di sana mereka akan mengaturnya. Aku harap Anda bisa hadir di pernikahan aku dan Cella.” Jessiac kembali tersenyum dan membelai rambut putrinya.
“Tentu saja aku akan hadir, Cella putriku.” Cella terlihat sangat bahagia kemudian dia memeluk mamanya.
“Terima kasih, Mam. Mama sangat baik padaku, aku sangat menyayangi Mama,” bisik Cella lalu Jessica tersenyum. Jessica melepaskan pelukannya dan memegang pipi Cella dengan kedua tangannya.
“Mama akan membantu menyiapkan semua dokumen-dokumen yang kalian butuhkan.” Logan merasa lega karena Jessica merestui hubungannya dengan Cella walaupun Carlos tidak menerimanya setidaknya dia sudah mendapatkan restu dari Jessica.
“Terima kasih, aku janji akan menjaga Cella dan membahagiakannya. Aku memang bukan orang kaya tapi aku bisa membahagiakannya,” ucap Logan dengan menatap Cella,
“Baiklah kalau begitu aku permisi dulu.” Logan dan Cella berdiri lalu keluar dari ruang kerja di ikuti Jessica.
Cella mengantar Logan sampai di depan, mereka berciuman lalu Logan masuk ke dalam mobil. Tampak kebahagiaan di wajah mereka berdua.
“Nanti aku telepon kamu ya,” ujar Logan lalu Cella menganggukan kepala.
“Hati-hati!” pesan Cella dengan tersenyum kepada pria itu.
“Iya, jaga anak kita,” canda Logan lalu Cella tertawa.
“Tentu saja.” Logan tersenyum kemudian dia meninggalkan kediaman orang tua Cella.
Cella kembali masuk ke dalam kemudian dia berpapasan dengan Jessica. Dia tersenyum kepada Jessica kemudian dia pergi ke kamarnya.
Sementara itu Logan kembali ke apartemen dia langsung menemui Nicky dan Nasya, dia tersenyum kepada mereka berdua sambil melemparkan kunci mobil kepada Nicky lalu Nicky menangkapnya.
“Hi, maaf sudah membuat kalian menungguku.” Nicky tersenyum dan memperhatikan wajah Logan.
“Tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana pertemuan tadi?” tanya Nasya penasaran, dia memperhatikan wajah Logan yang memar di dekat matanya, “Apakah Tuan Carlos memukulmu?” Logan tertawa mendengar pertanyaan Nasya kemudian dia duduk di sofa.
“Iya, tadi dia begitu emosi mendengar Cella hamil lalu dia memukul wajahku, terus tiba-tiba Acel juga datang dan melepaskan pukulan,” ujar Logan sambil tertawa. “Oh ya Carlos tidak merestui hubunganku dengan Cella tapi Jessica, dia mendukung kami. Secepatnya aku dan Cella akan menikah.” Nampak wajahnya sangat bahagia.
“Wah, kalau begitu selamat ya,” ucap Nicky sambi berdiri dan memeluk Logan.
“Terima kasih Nicky, Nasya. Kalian berdua sudah banyak membantuku,” ucap Logan.
“Aku sangat menyayangi Cella, dia sudah seperti saudaraku. Cella sangat mencintaimu makanya aku membantu Cella dan kamu,” sahut Nasya lalu Logan memeluk Nasya.
“Kalian sangat baik,” bisik pria itu lalu Nasya kembali tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu aku dan Nicky pergi dulu. Nanti kabari aku jika kalian akan menikah,” canda Nasya lalu Logan tertawa.
“Tentu saja Nasya, mana mungkin aku melupakan kamu dan Nicky,” ujar Logan di sertai tawa Nicky dan Nasya. Nasya dan Nicky meninggalkan apartemen dan kembali ke tempat mereka.
Sementara di kediaman Carlos, Jessica menemui suaminya di kamar. Dia melihat Carlos sedang berbaring di tempat tidur, Jessica menghampirinya kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
“Maaf, aku sudah berteriak padamu.” Carlos hanya diam saja kemudian dia memutar tubuhnya membelakangi Jessica,
“Kamu marah padaku?” tanya Jessica sambil memegang lengan Carlos tapi suaminya hanya menepiskan tangannya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke Mexico dan tinggal bersama dengan Kairos dan Tania. Nanti kalau kamu tidak marah lagi, aku akan kembali.” Dia berdiri dan pergi membuka lemari, mendengar istrinya berkata begitu Carlos langsung berdiri dan memeluk sang istri dari belakang.
“Jangan pergi, aku memang kesal padamu karena mengijinkan lelaki itu menikah dengan Cella.” Dia masih belum terima kalau putrinya menikah dengan Logan pria yang belum lama dia kenal.
“Mereka berdua saling mencintai, apalagi Cella sudah mengandung, untuk apalagi mempertahankan keegoisan. Apakah kamu ingin anak Cella tidak mempunyai ayah?” Carlos melepaskan pelukkannya kemudian dia kembali duduk di sisi tempat tidur.
“Aku tidak menyetujui Logan dan Cella bukan karena status dia tapi aku belum siap melepaskan putriku, aku sangat menyayanginya. Aku tidak ingin dia pergi jauh dariku.” Jessica berdiri di hadapan Carlos kemudian dia membelai rambut suaminya.
Carlos langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jessica dan membenamkan wajahnya di perut istrinya.
“Aku sangat menyayanginya, aku belum siap dia pergi dari rumah ini,” kata Carlos lagi sambil menangis.
__ADS_1
“Dia bukan anak kecil lagi, Cella sudah dewasa dan suatu saat nanti dia pasti harus ikut dengan suaminya, kamu harus mengiklaskannya,” ucap Jessica dengan lembut kemudian dia mencium ubun kepala suaminya. Jessica mengerti Carlos sangat menyayangi putrinya.
Selamat membaca