
Bunyi raungan knalpot menderu di jalanan yang sepi, sebuah mobil dengan merk terkenal berwarna merah sedang melaju. Tak perduli dengan kebisingan knalpot, seakan-akan dialah pemilik jalan itu.
Carlos melajukan mobil di kegelapan malam, dia terburu-buru ingin bertemu dengan seseorang. Carlos tiba di pinggiran kota, dia menghentikan mobil lalu dia turun. Carlos masuk di salah satu bar dan seseorang menyambut dia.
Orang itu membawa Carlos ke dalam ruangan kemudian mereka berdua berbincang- bincang, tidak lama kemudian masuk lagi dua orang. Carlos berdiri lalu menyalami kedua orang itu, mereka kembali duduk dan berbincang-bincang. Sesekali Carlos menganggukan kepala, raut wajahnya terlihat serius. (mereka ngomongin apa ya?)
Carlos berdiri dan kembali dia menyalami mereka, Carlos berpamitan kepada mereka kemudian dia keluar dari bar itu. Carlos masuk ke dalam mobil lalu dia kembali ke rumah. Tiba di rumah dia langsung masuk ke dalam menuju kamar dia dan Jessica. Carlos membuka pintu, dia melihat Jessica sudah tertidur pulas. Carlos melepaskan Jacket dan kaos kemudian dia duduk di sisi tempat tidur, Carlos membelai wajah Jessica dan mengecup kening Jessica.
Jessica terbangun kemudia dia menatap Carlos, Jessica tersenyum lalu dia meletakkan tanganya di atas paha Carlos.
“Kamu dari mana saja, beb?” tanya Jessica dengan suara serak
“Aku bertemu dengan teman di bar, maaf sudah membangunkanmu,” ujar Carlos kemudian dia berdiri dan melepaskan celana jeansnya lalu dia berbaring di samping Jessica
“Tidak apa-apa,” ucap Jessica, dia meletakkan kepalanya di dada Carlos dan melingkarkan tagannya di perut Carlos.
Carlos membelai rambut Jessica dan mengecup kening Jessica. Pikiran Carlos tertuju kepada Mike, Carlos mulai curiga dengan perubahan sikap Mike.
“Sayang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” Carlos melepaskan pelukan Jessica kemudian dia duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur. Jessica ikut duduk di tempat tidur lalu dia menatap Carlos
“Ada apa, beb?” Jessica menjadi heran dengan sikap Carlos
“Sayang, kalau seandainya aku mati ….” Carlos terhenti
“Beb, kamu bicara apa? Apalagi yang akan kamu lakukan?” Jessica mulai khawatir dengan ucapan Carlos
“Sayang, akhir-akhir ini sikap Mike seperti berubah. Semenjak Sonia dan Reagen datang dia terlihat berubah, aku curiga ada yang tidak beres. Kalau seandainya Mike ingin menyentuh keluargaku, maka dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya, sekalipun nyawaku taruhannya.
“Beb. Kamu jangan berpikiran begitu. Tidak mungkin Mike akan menyentuh keluarga kita, bukankah dia ada seperti ini karena kamu juga daddy. Jadi tidak mungkin dia menyentuh keluarga kita,” Jessica mencoba menenangkan Carlos, walaupun dia sudah tahu siapa Mike. Jessica hanya tidak ingin Carlos membunuh lagi.
“Bagaimana kalau seandainya apa yang aku pikirkan itu terjadi,” tanya Carlos sambil memgang tangan Jessica
“Kalau itu benar terjadi, aku sendiri yang akan berhadapan dengan Mike,” ujar Jessica
“Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada keluarga kita. Cukup sudah Kairos dan Tania, aku tidak akan sanggup kalau salah satu anggota keluarga kita pergi. Aku lebih baik mati.” Air mata Carlos menetes, Jessica memeluk Carlos, dia memeluk Carlos dengan erat.
Carlos menangis di pelukan Jessica, dia sangat merindukan Kairos. Carlos masih belum percaya dengan kematian Kairos. Jessica mengajak Carlos tidur, dia membiarkan Carlos tidur di dadanya.
“Maafkan aku, beb. Aku belum bisa mengatakan kepadamu kalau Kairos masih hidup, aku tidak ingin semua rencana yang mereka susun menjadi kacau.” Kata Jessica dalam hati.
Akhirnya Carlos tertidur di pelukan Jessica.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Carlos pergi ke kantor Mike, tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk ke dalam ruang kerja Mike. Dia melihat ada Reagen dan Sonia di sana. Carlos menyapa mereka bertiga lalu dia langsung duduk di sofa.
Mike terkejut melihat Carlos, dia langsung berdiri kemudian dia duduk di berhadapan dengan Carlos. dia melihat raut wajah Carlos tidak seperti biasanya.
“Hi, Carlos. Bagaimana kabar anak-anak?” tanya Mike untuk menghilangkan rasa terkejutnya akan kedatangan Carlos
“Emm … mereka semua baik- baik saja Mike. Oh ya Mike ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Carlos kepada Mike
“Baik, Carlos. Apa yang ingi kamu bicarakan?” tanya Mike sambil melirik Sonia dan Reagen
“Um … begini Mike, sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan keluargaku,” ucap Carlos, dia ingin melihat reaksi Mike dengan perkataannya.
“Siapa, Carlos? Siapa yang ingin bermain-main dengan keluargamu?” tanya Mike berpura-pura tidak tahu, dia tidak ingin Carlos curiga padanya.
“Aku masih menyelidikinya Mike. Kalau apa yang ku pikirkan itu benar, maka aku tidak segan- segan untuk membunuhnya. Aku tidak perduli siapapun dia, kalau berani menyentuh keluargaku maka dengan tanganku sendiri yang akan mengahabisinya,” jawab Carlos dengan menatap Sonia dan Reagen
Mike hanya diam, dia sangat tahu sifat Carlos. Dia tidak akan memandang siapapun untuk membunuh.
"Carlos, kalau ada yang mengusik keluargamu maka aku sendirilah yang akan menghabisinya." Dia berpura-pura di depan Carlos agar Carloa tidak curiga.
"Terima kasih, Mike." Carlos berdiri lalu dia keluar dari ruang kerja Mike. Carlos pergi ke parkiran kemudian dia masuk ke dalam mobil.
Dia duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi
"Jangan bermain-main denganku Mike, kamu sudah ku anggap sudaraku. Tapi kalau kamu mau menusukku dari belakang, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu," gumam Carlos lalu hanphonenya berbunyi.
Carlos mengambil hanphonenya lalu melihat panggikan yang masuk. Carlos tidak mengenal nomor itu karena tidak ada namanya. Carlos tidak menjawab telepon itu, dia menjalakan mobilnya keluar dari parkiran.
Sementara menyetir hanphonenya kembali berbunyi, Carlos melihat ada sebuah pesan yang masuk. Carlos menepikan mobilnya kemudian dia membaca pesan itu.
Selesai membaca pesan, Carlos langsung tancap gas, dia langsung menuju ke alamat yang tertera di pesan itu. Carlos tiba lalu dia turun dari mobil. Carlos berlair kecil masuk ke dalam cafe, dia mencari orang yang mengirim pesan padanya.
Dia melihat seorang wanita melambaikan tangan padanya, Carlos menghampiri wanita itu. Mereka bersalaman lalu Carlos duduk berhadapan dengan wanita itu, mereka berbincang-bincang. Terlihat Carlos mengangguk-anggukan kepala.
__ADS_1
Carlos mengeluarkan cek dan menulis angka disana kemudian dia memberikan cek kepada wanita itu.
Carlos berdiri kemudian dia bersalaman kembali dengan wanita itu. Caros meninggalkan Cafe, dia pergi ke kantor.
Carlos tiba di kantor kemudian dia masuk ke dalam ruangan, Carlos duduk kemudian dia berpikir tentang pembicaraan dia dengan wanita itu di cafe.
"Tinggal tunggu waktu saja maka semua akan terungka," gumam Carlos lalu pintu terbuka.
Carlos tersenyum kemudian dia berdiri dan menyambut Acel. Dia memeluk Acel dan mencium kening Acel.
"Bagaimana dengan pekerejaanmu," tanya Carlos sambil kembali duduk di kursi kerjanya.
"Baik, pap. Oh ya besok ada rapat dewan direksi."
"Iya, semua harus hadir. Mama juga kamu," sahut Carlos. Dia memperhatikan raut wajah Acel. "apakah kamu baik-baik saja?"
"Em ... iya, hanya perutku lagi ada masalah sedikit. Aku tadi pagi bolak-balik ke toilet," jawab acel sambil memegang perutnya
"Kamu pergi ke Dokter."
"Ah ... tidak usah,pap. Aku tidak apa-apa, baiklah aku kembali ke ruanganku. Ada yang ingin aku kerjakan." Acel berdiri lalu dia memeluk Carlos
Acel meninggalkan ruang kerja Carlos lalu dia masuk ke ruang kerjanya. Acel kembali bekerja.
Mexico
Kairos dan mauritio pergi meninjau lokasi yang akan di bangun condominium, mereka berdua mengitari lahan yang begitu besar.
"Bagaimana, Kairos? Apakah kamu suka lokasi ini?" tanya Mauritio sambil berjalan di sisi Kairos
"Lokasi ini bagus, apakah kamu sudah bertemu dengan pemilik lahan ini?" Kairos mengalihkan pandangannya ke beberapa gedung yang menjulang tinggi di dekat lokasi.
"Iya, Kairos. Aku sudah bertemu dengan pemelik lahan ini, kebetulan dia lagi membutuhkan uang," jawab mauritio
"Bagus, Mauritio. Aku harap lahan ini tidak mahal," ujar Kairos kemudian dia mengajak Mauritio pergi.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil lalu hanphone Kairos berbunyi, Kairos tersenyum kemudian dia menjawab telepon dari Tania.
"Hallo, sayang. Bagaimana dengan rencanamu? Apakah berhasil?"
"Iya, honey. Aku masih menjalankan rencanaku. Ah ... honey, aku sangat merindukanmu juga Ezer." Terdengar suara memelas Tania dari seberang telepon
"Baiklah, honey. Aku tutup teleponnya sekarang, nanti malam aku telepon kamu lagi."
"Baiklah, sayang. Aku mencintaimu," ucap Kairos
"Aku juga mencintaimu. Bye."
Telepon di tutup kemudian Kairos tersenyum.
"Aku harus cepat-cepat mendapat lahan lalu kembali ke America," gumam Kairos dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ke esokan harinya di kantor Federico berkumpul semua dewan direksi, Mike juga hadir di sana. Mereka semua masuk ke dalam ruang meeting.
Carlos dan Jessica duduk dekat dengan Federico sedangkan Acel duduk berseberangan dengan Jessica. Mike duduk beberapa jarak kursi dengan Acel.
Federico membuka meeting, dia menjelaskan tentang semua perusahan-perusahaan milik Group mereka. Mata Mike sedikit-sedikit melirik Acel.
"Sudah hampir seminggu, sebentar lagi racun itu akan membuatmu mati," gumam Mike, dia tidak konsentrasi dengan penjelasan Federico.
Mike sudah tidak mendengar tentang perusahaan yang ada di German, dia tidak mendengar kalau perusahaan di German sudah di berikan untuknya. Pikirannya hanya tertuju kepada Acel, dia sangat menginginkan kematian Acel.
Jessica memperhatikan Mike, dia melihat tatapan Mike selalu mengarah ke Acel.
"Apa yang sedang di rencanakan oleh Mike? Mengapa tatapannya kepada Acel seperti itu?" Jessica menjadi gelisah, dia mulai mencurigai Mike. "Jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu yang jahat kepada Acel."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu terlihat Reagen sedang bersama Ambar di dalam mobil, mereka berdua lagi bermesraan.
"Ambar, bagaimana kalau kamu jadi kekasihku?" tanya Reagen dengan menunjukan wajah yang serius
Ambar tertawa lalu dia menepuk lengan Reagen, dia tidak percaya dengan apa yang barusan Reagen katakan.
"Kamu serius, Reagen?" tanya Ambar sambil tersenyum
__ADS_1
"Iya, Ambar. Aku sangat serius, jadilah kekasihku," pinta Reagen dengan wajah memohon
"Tidak secepat itu, Reagen. Beri aku waktu, ok!"
Reagen menarik napas panjang kemudian dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Baiklah, Ambar. Aku akan menunggunya," ujar Reagen dengan suara sedikit kecewa
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mereka masih melakukan meeting di kantor Federico. Carlos memperhatikan Jessica yang ada sampingnya.
"Apakah kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Carlos dengan suara yang pelan
"Iya beb," jawab Jessica sambil menganggukan kepala. "Aku hanya memperhatikan Acel, wajahnya terlihat pucat."
Carlos langsung mengalihkan pandangannya kepada Acel kemudian dia berbisik kepada Jessica
"Sayang, kemarin dia mengeluh kalau perutnya bermasalah. Kemarin dia bolak-balik ke toilet, nanti selesai meeting kita bawa dia ke dokter," ujar Carlos menenangkan Jessica
Acel terlihat gelisah di tempat duduk, badannya berkeringat dingin.
"Kenapa badanku terasa lemah sekali? Apa karena aku tidak sarapan tadi?" Acel segera ingin keluar dari ruangan tapi Federico masih berbicara.
Mike tersenyum melihat Acel yang mulai gelisah, dia melihat wajah Acel terlihat pucat. Dia menarik napas panjang dan menyandarkan badannya di sandaran kursi.
"Sebentar lagi dia akan pergi untuk selamanya," ujar Mike sambil tersenyum sinis.
Federico mengakhiri meeting, lalu dia berdiri dan memeluk Carlos dan Jessica.
"Nanti kalian ke rumah ya," kata Federico kepada Carlos dan Jessica
"Iya, dad. Nanti sore aku Jessi dan anak anak akan ke rumah daddy," jawab Carlos sambil memperhatikan Acel yang masih duduk.
Mike menghampiri Federico dan Carlos lalu dia berbincang-bincang dengan mereka.
Jessica melihat tidak ada yang beres dengan Acel, dia menghanpiri Acel dan membelai rambut Acel.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?" tanya Jessica dengan khawatir
"Mam, badanku terasa lemah. Mungkin karena beberapa hari ini aku kurang tidur dan tidak makan," jawab Acel sambil menyeka keringat yang keluar di dahinya.
"Sayang, ruangan ini dingin kenapa kamu berkeringat? Lebih baik kita ke dokter sekarang. Mama tidak ingin terjadi sesuatu padamu," kata Jessica sambil membelai rambut Acel.
Carlos memperhatikan Jessica dan Acel, dia meninggalkan Mike dan Federico kemudian dia menghampiri Jessica dan Acel.
"Ada apa, sayang? Apakah Acel baik-baik saja?" tanya Carlos sambil memperhatikan Acel.
"Beb, kita harus bawah Acel ke rumah sakit," ujar Jessica. Dia terlihat sangat khawatir
"Mam, tidak usah. Aku tidak apa-apa, aku ingin pulang saja dan istirahat," kata Acel sambil berdiri dari duduknya.
"Acel, kamu harus ke dokter. Dari kemarin kamu sudah mengeluh sakit. Papa tidak mau terjadi sesuatu denganmu."
Sedangkan Mike, dia masih berbincang-bincang dengan Federico tapi matanya selalu tertuju kepada Jessica, Carlos dan Acel.
Akhirnya mereka semua keluar dari ruang meeting. Acel berjalan bersama Jessica dan Carlos, tiba-tiba dia memegang tangan Carlos
"Pap ...." Acel tiba-tiba pingsan
Carlos terhenti dan langsung memegang Acel. Dia memeluk Acel dan perlahan-lahan dia merebahkan Acel di lantai.
Jessica dan Federico langsung panik, Jessica langsung memanggil Colby dan Dennis.
Mike tersenyum melihat Acel pingsan, dia terlihat senang karena dia berpikir racunnya sudah bekerja. Mike menunjukan wajah khawatir, dia berpura-pura panik dan berteriak memanggil Colby dan Dennis
Carlos menepuk pipi Acel, dia terlihat sangat khawatir. Dia meraba denyut nadi Acel, masih berdenyut. Carlos melepaskan dasi dan membuka kemeja Acel.
"Sayang, kita ke rumah sakit," ujar Carlos, airmatanya jatuh
Jessica menangis dia memegang tangan Acel dan membelai wajah Acel
Colby dan Dennis datang kemudian mereka mengangkat Acel dan membawa Acel ke mobil. Jessica dan Carlos ikut masuk ke dalam mobil. Mereka langsung membawa Acel ke rumah sakit.
Federico ikut juga ke rumah sakit, Marco mengantar Federico. Begitu juga dengan Mike dia naik ke mobilnya dan menyusul ke rumah sakit.
"Rencanaku berhasil," kta Mike sambil tertawa di dalam mobil. "sekarang perusahan di Ecuador otomatis menjadi milikku."
__ADS_1
Mike terlihat sangat senang di dalam mobil
Selamat membaca