SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Tiba di Manado


__ADS_3

Jam lima subuh carlos terbangun, dia berdiri kemudian pergi ke kamar Jessica, dia membuka pintu dan melihat sang istri tidur pulas memeluk Kairos.


Carlos masuk dan berbaring di samping Jessica, dia memeluk istrinya dari belakang. Jessica merasakan pelukan Carlos, dia memutar badannya kemudian tersenyum kepada suaminya.


“Jam berapa sekarang, Babe?’ tanya Jessica dengan suara yang serak.


“Jam lima, Sayang. Tidur saja kembali!”


“Kenapa kamu sudah bangun?” Kembali Jessica bertanya dengan memeluk suaminya.


“Aku ingin memelukmu, Sayang," jawab Carlos sambil membelai rambut Jessica dan mencium kening sang istri.


Carlos meluruskan badannya lalu menarik Jessica tidur di dada. Jessica melingkarkan tangannya di atas perut Carlos kemudian tertidur kembali.


Acel dan Cella terbangun, mereka turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar Jessica. Mereka masuk dan langsung naik ke tempat tidur memeluk Jessica dan Carlos. Merasakan sesak di ranjang, Jessica membuka matanya dan menatap Cella.


“Good morning, Sayang.” Sambil membelai rambut Cella.


“Good morning, Mama.” Cella mencium pipi Jessica.


Jessica melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukan pukul enam, Jessica melepaskan pelukan Cella kemudian turun dari tempat tidur.


“Mama akan siapkan sarapan untuk kalian.” Carlos juga berdiri dari tempat tidur dan mengikuti Jessica turun ke dapur.


Carlos membantu Jessica menyiapkan sarapan. Selesai, Jessica naik ke atas dan menyuruh ketiga anaknya sarapan.


Selesai sarapan Jessica membereskan pakaian anak-anaknya dibantu oleh Carlos. Selesai, pasangan suami istri itu bersiap-siap.


Selesai, Jessica menelepon Pak Bambang untuk menjemput mereka di apartemen kemudian duduk bersama ketiga anakny.


“Mama aku tidak sabar lagi ingin bertemu dengan opa dan oma di Manado,” ujar Acel dengan begitu semangat.


“Aku juga, Acel. Tidak sabar ingin bertemu dengan mereka,” sambung Cella kembarnya.


Jessica tersenyum pada Acel dan Cella lalu dia mencium kedua anaknya itu.


Tidak lama kemudian ponsel Jessica berbunyi, dia melihat ada pesan dari Pak Bambang. Sopir memberitahukan kalau dia sudah di bawah.


“Babe, jemputan sudah di bawah,” seru Jessica seraya berdiri.


“Iya, Sayang.” Carlos mengangkat kedua koper dan menurunkan di lantai satu.


“Ayo anak anak kita ke lobby, Kairos tarik kopermu!” ajak Jessica seraya mengambil tasnya dan turun ke lantai satu.


“Iya, Mama.” Kairos mengambil kopernya yang kecil dan membawanya turun ke lantai satu, mereka keluar dari apartemen dan menuju lobby.


Sampai di lobby, Pak Bambang langsung membantu mengangkat barang-barang milik mereka dan memasukkannya kedalam mobil.


Jessica dan anak-anak naik ke dalam mobil begitu juga dengan Carlos, dia duduk di samping Pak Bambang


Mereka langsung meluncur ke airport. Tidak menunggu lama mereka tiba, pak Bambang turun dan langsung mengambil troli dan meletakkan barang-barang di troli. Setelah selesai Jessica juga memberikan uang kepada Pak Bambang.


“Terima kasih bu Jessica.”


“Sama sama, Pak. Nanti aku akan telepon kalau akan kembali ke Jakarta,” Kata Jessica.


“Baik bu.” Jessica, Carlos dan anak anak masuk ke dalam dan melakukan check in.


Selesai check in mereka boarding dan pergi keruang tunggu dan tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam pesawat.


Mereka langsung menuju ke tempat duduk kemudian Carlos mengambil tas punggung Acel dan Cella lalu memasukan ke dalam kabin kemudian duduk dekat Acel.


Jessica duduk bersama Kairos dan Cella. Akhirnya pesawat Takeoff, Jessica memperhatikan Cella yang sedang melihat kota Jakarta dari balik kaca jendelanya. Jessica memegang tangan sang putri kemudian Cella menatap mamanya sambil tersenyum.


Tiga jam kemudian mereka tiba di Samratulangi Airport, Jessica Family's keluar dari pesawat dan mengambil barang-barang mereka di tempat pangambilan barang.


Setelah keluar, Jessica langsung memesan mobil yang memiliki enam seat lalu meminta mereka untuk mengantar ke hotel.


Mereka menginap di hotel Four points yang terletak di pinggir pantai dan tersambung dengan mall. Jessica pergi ke receptionis dan memesan kamar dengan extra bed.


Selesai memesan, mereka di antar oleh petugas hotel ke kamar. Jessica dan Carlos serta ketiga anak mereka masuk lalu petuga meletakan barang-barang mereka di lantai.


Jessica memberikan tip kemudian petugas hotel keluar dan Jessica menutup pintu kamar.


Jessica langsung mengeluarkan laptop dan menghidupkannya. Dia ingin mencari rental mobil lewat internet lalu Kairos mendekati Jessica.


“Mama viewnya bagus ya,” ucap Kairos seraya duduk dekat Jessica. “Oh ya, rumah opa dan oma dimana?”


“Masih jauh dari sini, Sayang. Opa tinggal di kota Tomohon, kalau dari sini sekitar satu jam perjalanannya,” jawab Jessica dengan mata di laptop.


“Mama, kita akan ke rumah opa sekarangkan?” Kali ini si kembal Acel yang bertanya sementara Cella sedang bermain dengan Carlos di tempat tidur.


“Kalau kamu tidak lelah, Sayang,” sahut Jessica kepada Acel.


“Mama, aku tidak lelah. Kita ke rumah opa sekarang, ya!” pinta Acel dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Jessica.


“Baik, Sayang. Mama cari mobil untuk di sewa terlebih dahulu ya.” Acel terlihat senang kemudian melepaskan pelukannya da ikut bermain bersama Cella dan Carlos.


Jessica mencari sewa mobil via internet, begitu menemukannya dia langsung menelepon rental tersebut lalu terdengar suara dari seberang telepon.


“Hallo, selamat sore rental mobil disini, ada yang bisa di bantu?”


“Selamat sore, Pak. Aku mau tanya mobil apa saja yang di sewakan?” tanya Jessica sambil berdiri di depan jendela dengan mata memandang ke pantai.


“Disini ada Avansa, Xenia, Terios , Rush dengan Fortuner.”


“Kalau Fortuner bisa lepas kunci?” Kembali Jessica bertanya.


“Oh ... bisa, Bu,” jawab pemilik rental dari seberang telepon. “Kalau Fortuner lepas kunci satu juta, Bu.”


“Bisa di antar ke hotel mobilnya, Pak?”


“Bisa, Bu. Kalau boleh tahu menginapnya di hotel mana?” Jessica memberitahukan hotel tempat mereka menginap pada pemilik rental.


“Oh iya, Bu. Akan saya antarkan sekarang mobilnya, kalau boleh tunggu di lobby ya. Saya hanya dekat dengan hotel tempat Ibu menginap."


“Ok, kalau begitu saya tunggu di lobby sekarang, tapi itu matickan?” tanya Jessica.


“Iya, Bu. Ini mobil matic.”

__ADS_1


“Ok kalau begitu.” Jessica menutup telepon lalu melihat Carlos yang tertidur di sofa.


Jessica mengambil dompetnya dan turun kemudian duduk di lobby menunggu mobil yang akan di antar oleh pemilik rental.


Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari pemilik rental. Jessica keluar dari hotel dan menemui pemilik mobil.


“Ibu yang akan pakai mobil ini?” tanya pemilik mobil.


“Iyo kita yang mo pake om.” (Jessica menggunakan logat manado.)


“Oh ... orang Manado kote takira Jakarta (Oh ternyata orang Manado kirain orang Jakarta) Jessica tertawa.


“Percaya pa kita to, Om?” canda Jessica (percaya sama akukan om?)


“Oh, percaya no, Bu. Masa kwa nyanda. Nda mungkin Ibu pe cantik bagini kong mo batipu orang.” Jessica langsung tertawa mendengar candaan pemilik rental. (Oh percayalah Bu, masa sich tidak. Tidak mungkin wanita secantik Ibu mau menipu orang)


“Ok dang, kita somo selunas sekarang atau panjar dulu?” (Ok lah, aku lunaskan sekarang atau panjar dulu?)


“Terserah pa Ibu jo, berapa hari so ibu mo pake tu oto?” (Terserah ibu saja, memang berapa hari Ibu akan pakai mobilnya?)


“Tujuh hari, kalau begitu aku bayar setengah dulu ya. Aku belum ambil uang di atm.”


“Iya tidak apa-apa, ini kuncinya, Bu.”


“Ok makase dang ne.” (Ok terima kasih ya)


Jessic kembali ke kamar dan melihat Carlos sudah bangun.


“Babe kita ke Tomohon sekarang?” tanya Jessica sambil meletakan kunci mobil di meja.


“Terserah, Sayang. Kamu tidak lelah?” tanya Carlos seraya berdir dan memperhatikan ketiga anaknya sedang bermain.


“Sedikit, tapi anak-anak inginnya pergi sekarang. Aku sudah sewa mobil juga.”


“Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang!” Carlos mengambil dompet dan memasukan ke dalam saku celananya.


“Kamu yang menyetir, Sayang?” tanya Carlos sambil berjalan di samping Jessica.


“Iya aku yang akan menyetir,” jawab jessica. “Anak anak ayo kita pergi sekarang ke rumah opa.”


“Yes, kita kerumah opa,” ujar Acel dengan gembira.


Mereka pergi ke parkiran dan masuk kedalam mobi, Jessica menjalankan kendaraanya keluar dari kawasan mall. Carlos menatap Jessica sambil tersenyum.


“Kamu masih ingat arah ke Tomohon, Sayang?”


“Tentu saja Babe, masa aku lupa,” jawab Jessica sambil tersenyum kemudian Carlos memegang tangan Jessica dan menciumnya.


Jessica menjalankan mobilnya menuju ke Tomohon. Sepanjang perjalanan ke kota kelahirannya Jessica memperhatikan ketiga anaknya dari kaca spion.


Mereka sangat menikmati perjalanannya, saat berada di puncak Tinoor, Kairos melihat pemandangan Kota Manado kemudian Jessica memperlambat mobilnya.


“Mama itu kota Manado ya?” tanya Kairos sambil menurunkan kaca jendela.


“Iya, Sayang. Itu Kota Manado,” jawab Jessica sambil tetap fokus menyetir.


“Itu Manado Tua, Sayang. Nah disana ada pulau namanya Bunaken juga Siladen.


“Nanti kita kesana ya!” pinta Acel lagi tanpa mengalihkan pandanganya dari jendela.


“Iya, nanti kita kesana.” Jessica kembali menjalankan mobilnya menuju ke rumah papanya.


“Mama rumah opa masih jauh?” kali ini Cella yang bersuara.


“Sudah dekat, Sayang,” jawab Jessica dengan tersenyum kepada putrinya lewat kaca spion.


Mereka masuk ke pusat Kota, Jessica memperlambat mobilnya dan tersenyum menatap Carlos.


“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Carlos dengan mengerutkan dahi.


“Kamu ingat toko itu?” Tanya Jessica sambil menunjuk toko yang ada di sudut jalan lalu Carlos langsung tertawa.


“Tentu saja aku ingat, Sayang. Tempat pertama aku bertemu denganmu di depan toko itu.” Jessica dan Carlos tertawa di mobil.


“Kita bernostalgia lagi di Tomohon.” Carlos tertawa dan memperhatikan toko tersebut.


“Sayang, tidak disangka kita bertemu di toko itu dan tak disangka juga kamu bisa menjadi istriku.” Mereka berdua tertawa lagi. “Resort tempat aku dan kamu menginap kira-kira masih ada?”


“Tidak tahu, mungkin masih ada,” jawab Jessica dengan kembali fokus menyetir.


Jessica menjalankan mobilnya dengan pelan keluar dari pusat kota, dia langsung menuju ke rumah orang tuanya. Jessica melihat jam sudah pukul 16:30pm.


Akhirnya mereka tiba depan rumah orang tua Jessica.


“Mama ini rumah opa?” tanya Kairos sambil memperhatikan lingkungan tempat orang tua Jessica tinggal.


“Iya, Sayang. Itu opa lagi duduk di teras.”


“Oh ... itu opa Jonny, Ma?” tanya Cella.


“Iya itu opa Jonny,” sahut Jessica, mereka belum turun dari mobil.


Papa Jessica melihat mobil yang di parkir depan rumahnya tapi dia tidak tahu kalau itu Jessica dan anak-anak.


Jessica turun dari mobil di ikuti anak-anak, papa Jessica terkejut melihat putrinya. Dia langsung berdiri dan memeluk Jessica.


“Sayang, papa rindu sekali padamu, Nak.” Jessica dan papanya berpelukan.


“Jessi juga rindu sama papa.” Jessica melepaskan pelukkannya. “Pa ini anak-anak Jessi, itu kairos.”


Kairos datang mendekat dan memeluk papa Jessica.


“Halo, Opa. Apa kabar?” tanya Kairos dengan memeluk papa Jessica.


“Opa baik baik saja, kamu sudah besar ya.”


“Iya, Opa,” sahut Kairos sambil melepaskan pelukannya.


“Pa, kalau ini Marcel dan Marcella.” Kembali Jessica mengenalkan anak kembarnya.

__ADS_1


Papa Jessica memeluk Acel dan Cella.


“Jessi, anakmu ganteng-ganteng dan cantik.” Jessica terkekeh kemudian papanya melihat Carlos dan memeluknya, Papa Jessica mengajak mereka masuk ke dalam.


“Pa, mama mana?” tanya Jessica sambil melihat ke arah kamar.


“Mama lagi pergi ke arisan, sebentar lagi juga pulang.”


“Oh begitu, kalau Linda sama Titin?” Kembali Jessica bertanya kedua adiknya.


“Kedua adikmu itu sedang bekerja di toko,” jawab papa Jessica sambil tak lepas memperhatikan ketuga cucunya.


“Mereka tidak kuliah pa?” Papa Jessica menggelengkan kepala.


“Tidak, Jessi. Papa tidak sanggup untuk menguliahkan kedua adikmu.”


“Pa, tiap bulan Jessi kirim uang kepada papa. Apakah tidak cukup untuk membayar kuliah kedua adikku?” Jessica rutin mengirim uang kepada papanya dan itu tidak sedikit. Dia begitu heran kedua adiknya tidak kuliah.


“Sayang, uang yang kamu kirim itu selalu diambil sama mama dan mama kamu itu sangat boros.” Jessica menjadi kesal mendengar kedua adiknya tidak kuliah


“Kalau begitu aku akan kirimkan langsung pada Linda dan Titin, aku ingin kedua adikku kuliah, Pa!”


“Kamu bicarakan dulu denga Linda dan Titin kalau mereka mau kulia atau tidak.” Carlos hanya diam dia tidak mengerti bahasa Jessica dan papanya.


Tidak lama kemudian mama Jessica pulang, dia sangat terkejut melihat Jessica, wanita itu langsung memeluk Jessica.


“Sayang, mama sangat rindu padamu,” ucap mama Jessica sambil memeluk Jessica.


Papa Jessica melihat istrinya memeluk Jessia dia mengernyitkan dahi menatap sang istri. 'Rindu untuk memukul' Begitu kira-kira yang ada di kepala papa Jessica.


“Mama sehat-sehatkan?” tanya Jessica seraya melepaskan pelukan mamanya.


“Iya mama sehat,” jawab mama Jessica lalu dia melihat anak-anak Jessica. “Jessi, ini anak-anakmu?”


“Iya ma ini anak anak Jessi dan itu Carlos suamiku.”


Ketiga anak mereka memeluk mama Jessica sedangkan Carlos hanya bersalaman saja.


Mereka berbincang-bincang di ruang tamu, kemudian Linda dan Titin datang. Mereka juga terkejut melihat Jessica. Linda dan Titin memeluk Jessica.


“Kaka so lebe cantik do eh.” (kaka makin cantik aja) Kata Linda pada Jessica.


Mereka berbincang bincang dan tak terasa sudah jam sepuluh malam. Jessica pamit pada orang tuanya.


“Pa, ma. Jessi kembali ke hotel dulu ya, anak-anak sudah terlihat lelah. Nanti besok Jessi kesini lagi.”


“Baiklah, Nak, hati-hati ya!” ucap papa Jessica.


“Iya, Pa.” Anak-anak Jessica memeluk papa dan mama Jessica kemudian pergi ke mobil.


Jessica juga memeluk papa dan mamanya, begitu juga dengan Carlos lalu masuk ke mobil.


“Jessi, hati-hati menyetir ya!” pesan mama Jessica.


“Iya, Ma.” Jessica masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca. “Jessi pergi dulu ya, besok kesini lagi.


“Iya hati-hati ya!” kata papa Jessica lagi.


Jessica menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya, lalu dia menatap Carlos.


“Kamu lelah Babe?”


“Sedikit, kamu masih sanggup menyetir?” tanya Carlos karena dia lihat Jessica seperti kelelahan.


“Masih sanggup, tenang saja,” ujar Jessica dengan bercanda sambil memegang pipi Carlos.


Jessica langsung meluncur ke hotel, dia melihat dari kaca spion ketiga anaknya sudah tertidur.


“Anak kita sudah tertidur, mereka sudah kelelahan.” Carlos melihat ketiga anaknya dan tersenyum. “Babe, kalau kamu mengantuk tidur saja!”


“Tidak, Sayang. Aku ingin menemanimu.” Tidak lama kemudian mereka sampai di hotel, Jessica memarkirkan mobilnya lalu membangunkan ketiga anaknya.


“Anak-anak, kita sudah sampai, ayo turun!”


Mereka bangun dan turun dari mobil.


Mereka berjalan masuk kedalam hotel, Carlos pergi ke receptionis dan memesan satu kamar lagi dekat dengan kamar mereka kemudian pergi masuk ke dalam lift dan menuju ke kamar mereka.


Dia membuka pintu dan langsung merebahkan diri di sofa, Carlos melihat Jessica keluar dari kamar mandi. Dia berdiri dan memeluk wanitanya.


“Kamu lelah, Sayang?” tanya Carlos sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jessica.


“Sedikit, Babe. Kenapa?” Carlos melihat anak anaknya yang sudah tertidur kembali kemudian berbisik.


“Aku ingin melakukakannya, kemarin kita tidak bisa di apartemen karena ada anak-anak.


“Ini juga ada anak-anak,” sahut Jessica kemudian Carlos menarik tangan sang istri keluar dari kamar.


“Kita mau kemana?” tanya Jessica dengan mengerutkan dahi menatap suaminya.


“Ikut saja, Sayang.” Carlos membuka kamar yang sudah dia pesan, mereka berdua masuk lalu Carlos langsung memeluk Jessica dari belakang.


Dia mulai mencium leher Jessica sambil tangan mulai meremas dada sang istri dengan lembut.


Terdengar Jessica mendesah, dia memutar badannya menghadap Carlos dan melingkarkan tangannya di leher leher pria itu kemudian kembali berciuman.


Tangan Carlos mulai melepaskan baju Jessica, dia membuka kancing dan resleting celana sang istri. Sambil berciuman mereka berjalan ke tempat tidur.


Carlos menghampaskan tubuh Jessica di ranjang dan kembali mencium bibir istrinya.


Mereka berdua melepaskan pakaian lalu melakukan foreplay, beberapa hari tidak mendapatkan vitamin, pasangan suamibm itu bermain dengan liar.


Rintihan kenikmatan menggema di kamar, dinginnya ac tidak dirasakan lagi. Tubuh mereka mandi dengan keringat, panasnya permainan Carlos membuat Jessica mengalami beberapa kali pelepasan.


Kini mereka berdua terbaring lemas di ranjang, napas serta detak jantung masih tidak teratur. Jessica merapatkan tubuhnya ke Carlos dan meletakan kepalanya di dadang bidang berbulu itu.


Selamat membaca


Jangan lupa like dan komen ya

__ADS_1


__ADS_2