
Saat Logan pergi ke Amerika, Cella dan kedua orang tuanya memilih tinggal di perkebunan sambil menunggu pria itu kembali.
Di perkebunan terlihat Cella sedang berjalan pagi bersama Carlos, Jessica, serta adik bungsu dan keponakannya.
Setiap pagi Carlos selalu mengajak Cella berjalan pagi seperti yang dia lakukan kepada Jessica saat mengandung ke tiga anaknya.
Cella terlihat sangat bahagia melihat Carlos yang begitu antusias, dia memegang tangan papanya dan berkeliling perkebunan. Sedangkan mamanya sedang memperhatikan putri bungsu dan cucunya yang sedang berlarian di sekitar perkebunan.
“Udaranya sangat bagus,” ujar Carlos sambil menepuk-nepuk tangan putrinya yang berada di lengannya.
“Iya, Pap. Udara pagi di sini sangat segar,” sahut Cella sambil memejamkan mata dan menghirup udara.
“Kapan Logan akan kembali?” tanya Jessica seraya berjalan di samping Cella.
“Dia hanya seminggu di Chili mungkin beberapa hari lagi,” jawab Cella dengan tersenyum kepada mamanya.
“Oh … begitu,” gumam Jessica kemudian dia pergi menghampiri para pekerja dan berbincang-bincang dengan mereka.
Amerika
Logan bangun kemudian mengambil ponsel dan menghubungi istrinya, terdengar nada panggil tapi tidak ada jawaban. Dia kembali meletakkan gawai itu di atas meja lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi. Selesai, kembali Logan mencoba menghubungi istrinya tapi tidak ada jawaban.
“Apakah dia masih tidur?” Dia mengerutkan dahi kemudian memakai kaos. “Tapi biasanya jam begini dia sudah bangun.”
Logan keluar dari kamar dan pergi ke dapur, dia membuat kopi dan duduk sambil merokok. Logan hanya bisa merokok kalau tidak ada Cella.
Kembali dia berdiri dan pergi ke kamar, dia mengambil ponsel lalu menghubungi istrinya lalu terdengar suara Cella di telepon.
“Hallo, Logan. Maaf tadi saat kamu menelponku, aku sedang di perkebunan bersama papa dan mama. Ponsel aku tinggalkan di kamar.” Logan menarik napas lega mendengar suara istrinya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Logan seraya merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Iya, aku baik-baik saja. Kapan kamu akan kembali?” tanya Cella dari seberang telepon
“Kalau semua sudah selesai aku segera kembali,” jawab pria itu dengan memindahkan ponsel ke telinga satunya.
“Baiklah kalau begitu, apakah kamu sudah sarapan?” tanya Cella dengan suara manja.
“Belum, Sayang. Nanti saja aku sarapan aku tidak lapar,” ujar Logan. “Baiklah, Sayang. Nanti aku telepon lagi. Aku mencintaimu.” Terdengar lagi suara di telepon.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu.” Logan tersenyum kemudian menutup telepon. Kembali dia mengutak atik ponsel, Logan ingin menghubungi Colby dan meminta pria itu untuk datang ke rumah, dia ingin mengajak Colby dan rekan-rekannya untuk ikut bersamanya ke San Jose. Logan keluar dan duduk di ruang tamu, dia menunggu Colby sambil merokok.
Tidak lama kemudian Colby dan rekan-rekannya datang, Logan langsung pergi membukakan pintu buat mereka.
Dia mengajak semua masuk ke dalam, mereka berbincang-bincang lalu Logan berdiri dan kembali pergi ke kamar. Dia mengambil pistol dan menyelipkan di pinggang kemudian keluar dan menemui Colby.
“Baiklah kita berangkat sekarang,” ajak Logan lalu Colby dan rekan-rekannya berdiri.
Mereka keluar dan masuk ke mobil, Logan semobil dengan Colby. Semua langsung menuju ke San Jose. Mereka saling bergantian menyetir, malam hari Logan dan Colby serta rekan-rekannya tiba di San Jose.
Mereka langsung pergi ke hotel, Logan memesan kamar untuk dia dan Colby juga rekan-rekannya.
***
Logan besiap-siap pergi ke rumah Maurent, dia keluar dari kamar dan menemui Colby di lobby. Suami Cella langsung mengajak pria itu dan rekan-rekan untuk pergi ke tempat si wanita licik. Di dalam mobil Logan memberikan arahan kepada Colby.
“Baik, Logan. Nanti aku perintahkan mereka untuk ikut arahanmu,” ujar Colby sambil fokus menyetir.
“Terima kasih, Colby.” Logan masih merasa was-was, dia takut rekaman itu tidak di temukan, dia nampak gelisah di dalam mobil.
Akhirnya mereka tiba di kediaman wanita itu, Logan turun dan menghampiri mobil yang di tumpangi rekan Colby. Dia meminta mereka mengawasi di luar sedangkan dia dan Colby akan masuk ke dalam untuk mencari rekaman itu.
“Apakah Nona Maurent di rumah?” tanya Logan sambil matanya melihat-lihat ke dalam.
“Nona Maurent sedang di kamarnya,” jawab pelayan itu sambil memperhatikan Colby.
“Aku ingin menemui nona Maurent.” Mata Logan masih memperhatikan keadaan rumah wanita itu.
“Baiklah, silahkan masuk.” Logan dan Colby masuk, mata Logan tertuju ke ruang kerja wanita itu. Dia langsung menyuruh Colby untuk masuk ke sana, sementara dia akan mengawasi Maurent keluar dari kamarnya.
Colby langsung masuk ke ruang kerja dan mencari rekaman itu, sedangkan Logan dia duduk di ruang tamu menunggu Maurent. Logan melihat Maurent turun kemudian dia berdiri dan menyapa wanita itu.
“Hi, apa kabarmu?” tanya Logan seraya tersenyum paksa kepada wanit itu.
“Hei, Logan. Aku baik-baik saja,” sahut Maurent sambil berjalan menghampiri Logan. “Ada apa kamu datang ke sini?” Logan berjalan menghampiri wanita itu.
“Aku mau minta tolong kepadamu.” Maurent mengernyitkan dahinya, dia tidak percaya pria itu datang meminta tolong padanya.
“Oh ya? minta tolong apa, Logan?” tanya wanita itu dengan duduk di sofa dan memangku kakinya sehingga paha putih mulus itu terlihat.
__ADS_1
Logan menelan saliva saat melihat paha putih mulus itu yang sengaja ditunjukkan wanita itu kepada dirinya. Dia duduk dan mulai berbincang dengan Maurent.
“Aku ingin rekaman itu.” Maurent berdiri dan tersenyum kepada Logan, dia duduk di samping suami Cella dan membelai jenggot pria itu.
“Aku akan memberikan rekaman itu, tapi dengan satu syarat.” Dia berhenti bicara kemudian menghembuskan napasnya di telinga Logan.
Sementara di ruang kerja terlihat Colby masih berusaha mencari rekaman yang di maksud Logan. Dia membongkar semua lemari yang ada di ruangan itu, tapi Colby belum menemukan apa yang dia Cari.
Pria itu berdiam diri dan menatap sekeliling ruang kerja milik wanita itu, kembali dia membuka laci meja kerja dan mencari rekaman itu, Colby mencoba meraba di atas maupun bawa laci tapi dia tidak menemukannya.
Sementara di ruang tamu Maurent masih terus merayu Logan, tapi pria itu terus berusaha menghindar.
“Tolonglah, Maurent. Berikan rekaman itu padaku,” pinta Logan dengan memohon dia menatap mata Maurent tapi pikirannya kepada Colby.
‘Apakah Colby belum juga menemukan rekaman itu? tanya Logan dalam hati, sedangkan Maurent semakin agresif.
“Aku akan berikan kepadamu, tapi dengan satu syarat.” Dengan cepat Logan menatap Maurent, dia ingin tahu apa syarat yang akan diberikan wanita itu kepadanya.
“Apa syaratnya?” tanya Logan dengan penasaran.
“Puaskan aku,” ujar Maurent dengan membelai pipi pria itu.
‘Aku akan mengulur waktu sampai Colby menemukan rekaman itu,” guma Logan dalam hati. Dia memikirikan syarat yang diberikan wanita itu kepadanya.
“Baiklah, aku akan mengikuti kemaunmu,” ujar Logan sambil matanya tertuju ke ruang kerja.
“Ok, kalau begitu ayo ke kamarku,” ajak Maurent seraya berdiri dan menarik tangan Logan.
“Tapi kamu harus berjanji untuk memberikan rekaman itu kepadaku,” mohon Logan kepada wanita itu.
“Tentu saja, Logan. Aku akan menepati janjiku,”sahut Maurent dengan terseyum.
Mereka berdua naik ke atas dan masuk ke dalam kamar lalu wanita itu langsung melepaskan pakaiannya di depan Logan.
Pemandangan yang indah nampak di hadapan pria itu, tanpa sehelai benang’pun menempel di tubuh itu. Terlihat jakun suami Cella bergerak menelan saliva, napas naik turun, matanya terus memandang tubuh seksi itu.
Logan berusaha menahan diri saat melihat wanita itu tidak memakai apa-apa lagi, disaat Maurent melepaskan kemejanya, suami Cella hanya diam dan memejamkan mata. Dia berusaha mengendalikan dirinya dan tidak tergoda dengan wanita itu.
Walau’pun dia mengingat bagaimana panasnya dan nikmatnya penyatuan yang pernah mereka lakukan tapi Logan berusaha untuk tetap sada kalau saat ini dia sudah memiliki istri.
__ADS_1