SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Kunjungan tak terduga


__ADS_3

Alaram ponsel Carlos berbunyi dia bangun,  melihat Jessica masih tertidur pulas. Hari ini mereka akan pergi ke Imigrasi untuk pengambilan foto sekaligus interview. Carlos membangun Jessica, dia mencium keningnya  lalu gadis itu membuka matanya dan tersenyum.


“Selamat pagi sayang,” ucap Carlos sambil mengelus perut gadis itu.


“Pagi, Babe, kenapa kamu bangun begitu cepat?” tanya Jessica dengan suara serak khas baru bangun tidur.


“Hari ini kita akan ke kantor Imigrasi untuk interview.” Selesai menjawab pertanyaan Jessica Carlos mengecup perut gadis itu.


“Kenapa pagi sekali?” Kembali Jessica bertanya sambil menyusupkan jemari di rambut tebal pria itu.


“Sayang, batas pengambilan nomor antrian itu hanya sampai jam delapan, makanya harus pagi. Lagipula kantor Imigrasi jauh dari sini. Ayo bangun.” Carlos sudah sering ke Imigrasi makanya dia sangat mengetahuinya.


Carlos turun ke dapur mengambilkan air putih hangat untuk Jessica kemudian  kembali ke kamar dan memberikan minumnya kepada wanitanya.


Ini adalah kebiasaan Jessica, setiap pagi dia selalu minum air putih hangat sebelum minum susu. Katanya bagus untuk kesehatan.


Jessica mengambil gelas yang berisikan air putih dari tangan Carlos dan meminumnya, dia meletakkan benda itu di meja lalu berdiri mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi,


Carlospun mengikuti Jessica, mereka mandi bersama. Semenjak tahu Jessica hamil dia tidak pernah menyentuh Jessica lagi. Pria itu takut berpengaruh pada janinnya.


Selesai mandi mereka turun untuk sarapan, Jessica duduk di mejan makan sementara carlos membuatkan susu untuk si wanita hamil hasil kerja kerasnya.


Carlos membuat roti bakar, pagi ini sarapan mereka susu dan roti. Selesai, mereka kembali ke kamar dan mengganti pakaian, setelah itu pasangan kekasih itu keluar dari apartemen menuju ke basement. Carlos dan Jessica berangkat ke kantor Imigrasi.


Akhirnya Jessica dan Carlos tiba di kantor Imigrasi, pria itu pergi mengambil nomor antrian lalu kembali duduk di samping Jessica. Carlos tak melepaskan tangan Jessica lalu terdengar Jessica di panggil, dia masuk ke dalam ruangan sedangkan Carlos menunggu di luar.


Jessica di interview, petugas bertanya kenapa membuat paspor dan rencana mau jalan-jalan kemana. Jessica menjawab semuanya, gadis itu diminta melihat kamera dan mereka mengambil gambar setelah itu dia disuruh membuat tanda tangan di atas mesin.


“Mau E-paport atau biasa saja,” tanya petugas.


“E-pasport, Pak,” jawab Jessica kepada petugas sesaui pesan Carlos. Setelah selesai mereka harus membayar di Bank atau kantor pos.


Beruntung di luar kantor Imigrasi ada mobil pos keliling yang melayani pembayaran administrasi, Jessica dan Carlos membayar lewat pos. Selesai dari Imigrasi Jessica dan Carlos pergi ke kantor.


Tiba di kantor seperti biasa karyawan selalu memberi salam pada Carlos juga Jessica. Pasangan kekasih itu masuk ke ruangan lalu Jessica langsung rebahan di sofa sementara Carlos pergi ke meja kerjanya dan meyalakan komputer.


Carlos menghampiri Jessica,  melepaskan sepatunya dan mengangkat kepala Jessica lalu duduk sambil meluruskan kakinya di meja, Carlos meletakkan kepala Jessica di atas pahanya.


“Kamu lelah, Sayang?” tanya Carlos sambil membelai rambut Jessica.


“Iya, tidak tahu kenapa sekarang aku cepat lelah?” sahut Jessica dengan memejamkan mata.


“Mungkin karena kamu sedang hamil, Sayang. Nanti sebelum kita ke America kamu kontrol lagi ke dokter.”  Sambil berucap Carlos meletakan tangannya di perut Jessica dan mengelusnya dengan lembut.


“Iya,” sahut Jessica sambil memegang tangan Carlos yang berada di atas perutnya.


“Kamu sudah minum vitamin?”


“Belum, nanti sebentar aku minum,” kata Jessica sambil menikmati elusan tangan Carlos.

__ADS_1


Jessica dan Carlos mendengar keributan di luar lalu tiba-tiba pintu di buka, tenyata Jenny. Security tidak mengijinkan dia masuk tapi wanita itu tetap memaksa ingin menemui Carlos. Jessica ingin berdiri tapi sang kekasih menahannya.


“Jangan berdiri, tetap berbaring!” Carlospun tidak merubah posisinya, kaki tetap di atas meja. Jessica membuka buku dan membaca tapi tentu saja sambil pasang telinga ada apa Jenny ke kantor.


“Ada apa, Jenny?” Carlos menatap dingin menunjukan kalau dia tidak suka akan kehadiran wanita itu di kantornya.


“Carlos bisa kita bicara sebentar?” tanya Jenny dengan wajah memohon.


“Bicara saja,” sahut Carlos tanpa merubah posisi duduknya.


“Tapi aku ingin hanya kita berdua.” Carlos melirik kepada Jessica yang berpura-pura membaca buku. Dia ingin melihat reaksi sang kekasih, tapi Jessica terlihat cuek.


“Maaf, Jenn. Calon istriku harus tahu, jadi kalau kamu mau bicara silahkan  di depannya. Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu dengan orang yang aku cintai.” Jessica tersenyum mendengar perkataan Carlos kepada Jenny.


“Baiklah, aku hanya ingin mengatakan kalau aku masih mencintaimu.” Mendengar ungkapan hati Jenny, kekasih Carlos melengkungkan bibir sambil mengangkat kedua alisnya. Ternyata Carlos melihat expresi wajah Jessica.


“Mencintaiku, kamu sungguh lucu Jenny,” ujar Carlos dengan menahan tawa karena melihat wajah lucu Jessica yang disembunyikan di balik buku.


“Carlos, aku serius.” Carlos mengangkat kedua alisnya sehingga terbentuk kerutan di dahinya dan menatap Jenny.


“Ya, aku juga serius kamu itu sunggu lucu.” Jenny ingin mendekat tapi Carlos melarangnya.


“Jangan mendekat tetap berdiri di situ!” Jenny terhenti. “Kamu meninggalkanku dan pergi dengan laki laki lain, begitu  melihatku dengan wanita lebih cantik darimu  jauh lebih mudah darimu lalu kamu datang  mengatakan kalau kamu mencintaiku.” Carlos terkekeh lalu menggeleng-gelengkan kepala.


“Kenapa sekarang kamu datang dan bilang mencintaiku? Apakah kekasihmu sudah meninggalkanmu?”


“Carlos dengar dulu penjelasanku.”


“Jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Tinggalkan kami, kamu hanya mengganggu saja kesenanganku dengan calon istriku.” Jenny menatap marah pada Carlos lalu meninggalkan ruangan, dia menutup pintu dengan kencang. Jessica duduk dan menatap Carlos.


“Kenapa sayang, jangan menatapku seperti itu,” ujar Carlos dengan memegang pipi Jessica.


“Jadi dia itu mantan kamu, kenapa tidak pernah menceritakannya padaku?”


“Untuk apa aku ceritakan, dia hanya masa laluku. Sayang, sudahlah aku tidak ingin membahasnya. Yang terpenting sekarang aku sudah mempunyai masa depan  yaitu kamu dan anakku yang sedang kamu kandung. Aku menyayangi kalian berdua,”  tutur Carlos seraya mengusap pipi.


Jessica tersenyum lalu memeluk Carlos hatinya berbunga mendengar kata-kata manis pria itu.


“Sayang kamu dan anakku adalah kebahagiaanku sekarang.” Jessica melepaskan pelukan Carlos dan  duduk di pangkuan pria itu, lalu mencium bibir Carlos.


Carlos membalas ciuman Jessica. Mereka berciuman cukup lama lalu Jessica menatap Carlos dan mengelus rahang pria itu yang ditumbuhi bulu-bulu tajam karena pendek.


“Babe kenapa kamu tidak pernah menyentuhku lagi?”


“Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganmu. Usia kehamilanmu masih terlalu muda.” Terdengar pintu diketuk, Jessica segera turun dari pangkuan Carlos. Ternyata Tiara.


“Maaf mengganggu.”


“Ada apa Tiara?” tanya Carlos seraya memakai sepatunya.

__ADS_1


“Aku ingin memberikan laporan keuangan,” jawab Tiara dengan tersenyum kepada Jessica.


“Letakkan saja di atas meja.” Carlos berdiri dan menuju ke meja kerjanya dan mengambil bukti pembayaran di Imigrasi tadi.


“Tiara ini bukti pembayaran kami tadi, dua hari lagi bisa diambil. Mungkin suamimu bisa membantu untuk mengambilnya dan titipkan padamu. Kamu tahukan kantor Imigrasi jauh dari tempat kami.”


“Iya, Tuan. Nanti aku suruh suamiku yang mengambilnya,” sahut Tiara sambil mengambil lembaran dari tangan Carlos.


“Terima kasih Tiara, kamu sudah banyak membantu,” ucap Carlos.


“Tidak masalah, Tuan. Aku permisi.” Tiara pamit lalu meninggalkan Carlos dan Jessica.


Baru saja Carlos duduk ponselnya berbunyi, dia langsung menjawab telpon itu. Jessica melihat raut wajah Carlos berubah marah. ‘Siapa yang menelpon Carlos, kenapa wajahnya berubah begitu. Ada apa ya hmm, selalu saja ada masalah yang datang,’ gumam Jessica dalam hati lalu menatap Carlos menutup telpon dan menghampirinya.


“Ada apa? Siapa yang menelponmu?”


“Andrew yang menelpon, dia memberitahukan tentang masalah penculikan,” jawab Carlos.


“Siapa yang menculikku?” tanya Jessica penasaran.


“Sayang, Glen dan Olivia menyewa orang untuk menculikmu.” Jessica membulatkan mata menatap Carlos.


“Serius? Jadi Glen yang menculikku. Kenapa dia melakukannya?”


“Mereka ingin memisahkanmu dariku sayang,” jawab Carlos dengan meremas hidung Jessica.


“Lalu Olivia dengan Glen dimana sekarang?” Kembali Jessica bertanya, dia masih penasaran dengan kedua orang itu.


“Olivia sekarang sedang di tahan di kantor polisi sedangkan Glen baru saja Andrew memberikan informasi kalau dia melarikan diri.” Wajah Jessica terlihat kesal.


“Dasar pengecut, aku jadi benci dengan Glen.” Jessica melingkarkan kedua tangannya di pinggang Carlos lalu pria itu memeluknya.


“Aku menyesal mengenalkanmu pada Glen,” ujar Carlos seraya mengecup ubun kepada gadis itu.


“Sudahlah, semua sudah terjadi dan bersyukur aku tidak apa apa. Apakah kamu menuntut Olivia?” tanya Jessica dengan mendongakan kepalanya menatap Carlos.


“Iya, Sayang. Dia harus diberi pelajaran.”


“Sudahlah Babe, batalkan saja tuntutannya kasian dia.” Carlos mengerutkan dahi menatap heran kekasihnya


“Sayang, dia sudah berlaku jahat padamu, wanita itu pantas di penjara.” Jessica menggelengkan kepala, dia tidak setuju dengan Carlos.


“Yang melakukan bukan hanya Olivia tapi Glen juga, jangan Olivia yang menanggung semua. Sudah batalkan saja tuntutannya, dia pasti sudah jera.”


“Sayang ....” Carlos ingin membantah Jessica tapi sudah disela oleh gadis itu.


“Babe ... please! Batalkan tuntutannya.”


“Baiklah, terserah kamu saja. Kita pulang sekarang?” Jessica menganggukan kepala lalu Carlos mengambil tasnya kemudian mereka berdua pulang ke apartemen.

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2