
Menjelang siang hari Cella dan Logan keluar dari hotel, mereka ingin mencari restoran untuk makan siang. Pasangan kekasih itu berjalan kaki sambil berpegangan tangan.
Cella dan Logan masuk di restoran Italy, mereka disambut oleh pelayan lalu keduanya duduk. Pelayan memberikan buku menu kepada pria dan gadis itu.
Cella dan Logan membuka buku menu dan memesan makanan. Mereka berdua saling bertatap mata kemudian tertawa,
“Kamu membuat aku gila,” canda Logan dengan suara pelan lalu Cella tertawa kembali dan memegang pipi Logan.
“Kamu juga sudah membuat aku tergila-gila padamu,” ujar Cella sambil mencubit kedua pipi Logan lalu pria itu tertawa.
Mereka berdua asik bercanda lalu pesanan mereka datang. Cella mengambil makanan itu dan mencicipinya, dia mengangkat kedua kening lalu tersenyum.
“Logan, makanannya lesat ya,” puji Cella setelah menelan makanannya lalu Logan mencoba mencicipnya.
“Um ….” Sambil mengernyitkan dahi dan mengangguk-anggukkan kepala dia menikmati makanannya. “Iya makanannya lesat,” sahut Logan kemudian menyuapi Cella.
Logan dan Cella terlihat asik menikmati makanan mereka, sesekali Cella menyuapi Logan. Tampak kebahagiaan terpancar di wajah pasangan kekasih itu, terdengar tawa Cella saat Logan mengerjainya.
Selesai makan mereka berdua kembali ke hotel keduanya masuk lalu Cella langsung duduk di sofa di ikuti Logan, dia duduk di samping gadis itu dan menarik tubuh yang mungil itu ke dalam pelukannya.
“Bagaimana kalau kamu terus terang saja kepada orang tuamu tentang hubungan kita, aku ingin melihat apakah mereka akan memecatku atau tidak,” pinta Logan kepada Cella sambil membelai rambut coklat itu lalu gadis itu menarik napas panjang dan menatap kekasihnya.
“Logan, nanti saja dulu. aku takut kalau mereka tidak setuju lalu papa memecatmu dan melarang aku bertemu denganmu,” mohon Cella dengan wajah cemberut.
“Baiklah, tapi sampai kapan?” tanya pria itu sambil kembali membelai rambut Cella.
“Sabar saja, aku juga tidak mau kita sembunyi-sembunyi, tunggu saat yang tepat lalu aku akan mengatakan kepada papa dan mama,” jawab Cella dengan meyakinkan pria itu.
Logan menarik napas panjang kemudian dia berdiri dan berjalan ke depan jendela, Cella ikut berdiri lalu memeluk pria itu dari belakang.
“Kamu bisa bersabar?” tanya Cella dengan suara pelan.
“Iya, aku akan bersabar,” jawab Logan sambil memegang tangan Cella yang melingkar di perutnya.
“Terima kasih.” Cella terlihat sangat senang Logan mau bersabar.
“Iya,” Logan memutar tubuhnya dan memeluk gadis itu dengan erat.
“Aku hanya takut saja kehilanganmu,” ungkap pria itu kemudian lebih mengeratkan lagi pelukannya di tubuh Cella. Hatinya selalu berkata Carlos akan menentang hubugan mereka berdua.
“Aku juga takut kehilanganmu, kalau papa tidak menyetujui hubungan kita, bawah aku pergi. Aku ingin selalu bersamamu,” pinta gadis itu kemudian dia membenamkan wajahnya di dada Logan, perasaan takut meliputinya. Dia khawatir kalau papanya tidak setuju lalu Logan menyerah dan meninggalkannya.
“Iya, aku akan membawamu pergi, pergi jauh dari Amerika.” Logan sudah bertekad kalau orang tua dari gadis itu tidak setuju, dia akan membawa pergi Cella bersamanya.
‘Aku sangat mencintainya, aku akan pertahankan cintaku, sekalipun nyawaku taruhannya,’ gumam Logan dalam hati lalu dia memejamkan mata.
“Kamu janji?” tanya Cella seraya melepaskan tangannya dari pinggang Logan dan menatap mata pria itu.
“Iya aku janji,” ucap Logan meyakinkan gadis itu. Cella sangat senang lalu dia menarik Logan naik ke tempat tidur.
“Logan, aku ingin melakukan lebih denganmu,” ujar Cella sambil melepaskan pakaiannya satu persatu.
__ADS_1
“Cella, kalau kita melakukan sekarang, nanti kamu tidak bisa hadir di pernikahan Acel.” Dia menahan tangan Cella yang sedang melepaskan pakaiannya, dia belum ingin melakukan hubungan itu bersama Cella.
“Kenapa tidak bisa hadir?” tanya Cella dengan penasaran sambil mengkerutkan dahinya.
“Cella, kalau kita melakukan sekarang, besok badanmu akan terasa sakit dan mungkin kamu tidak akan bisa berjalan,” jelas pria itu kepada Cella, wajah gadis itu tampak kebingungan.
“Kenapa bisa begitu?” Cella menjadi sangat penasaran lalu Logan menjelaskan kepada gadis itu.
“Karena kamu baru pertama kali dan juga kamu masih perawan,” jawab Logan sambil tersenyum. “Nanti saja kalau kita sudah kembali ke Amerika, aku akan memasukan milikku ke situ,” canda Logan lagi dengan meraba milik Cella, lalu gadis itu tertawa.
Logan membaringkan Cella kemudian dia melakukan seperti apa yang selalu dia lakukan kepada Cella, dia ingin memberikan kenikmatan kepada gadis itu.
"Logan, kamu ... ah ... shit ...." Cella mendesah dan menikmati aksi dari jemari pria itu. Dia meremas rambut Logan lalu tubuhnya tergunjang Cella mengerang kenikmatan. Perlahan dia melepaskan tangannya dari rambut pria itu.
Logan berbaring di samping Cella kemudian dia tersenyum melihat sang kekasih yang sedang memejamkan mata menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia raih.
“Aku akan terus memberikan kenikmatan padamu,” bisik Logan di kuping gadis itu. Cella memegang tangan sang kekasih lalu tersenyum.
“Kamu membuatku gila,” ujar Cella dengan suara pelan lalu Logan tertawa dan meremas hidung Cella, dan mengecup kening gadis itu.
Cella bangun dan pergi ke kamar mandi kemudian membersihkan daerah intinya yang masih basah. Tidak lama kemudian dia keluar dan memakai pakiannya.
“Logan, aku harus kembali. Aku tidak ingin mereka curiga padaku, nanti malam aku kembali ke sini.” Dia mengambil kunci mobil kemudian duduk di sisi tempat tidur. Logan bangun lalu duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
“Baiklah, hati-hati ya,” pesan pria itu sambil tersenyum dan memegang pipi Cella.
“Iya, aku pergi ya,” pamit gadis itu kemudian dia berdiri dan mengecup bibir Logan.
Cella tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil, dia menjalankan kendaraannya meninggalkan hotel dan kembali ke rumah. Sedangkan Logan, dia kembali ke kamar, lalu berbaring. Dia memikirkan hubungannya dengan gadis itu.
Sementara itu Cella tiba di rumah, dia turun dari mobil dan melihat Kairos kakaknya lagi bermain dengan Ezer. Cella tersenyum kemudian dia berlari dan memanggil Kairos.
Kairos berhenti bermain dengan putranya lalu dia tersenyum kepada Cella, dia langsung memeluk gadis itu dengan erat.
“Kamu semakin cantik saja dan wajahmu terlihat lebih berseri,” canda Kairos dengan mengacak rambut Cella.
“Benarkah.” Cella balik bercanda seraya mengedipkan sebelah mata kepada kakaknya dan merapikan rambut yang di acak oleh Kairos.
“Iya, Cella.” Kairos kembali bercanda dan meremas hidung adiknya itu.
“Auh ... sakit Kairos,” rintih Cella lalu Kairos tertawa. “Oh ya, Tania mana?” tanya Cella sambil matanya mencari calon kakak iparnya.
“Dia sedang di kamar bersama Chantique dan Clau,” jawab Kairos kemudian dia menggendong Ezer.
“Baiklah, aku akan menemui Tania.” Cella langsung meninggalkan Kakaknya dan pergi ke kamar mencari Tania.
Dia masuk ke kamar dan melihat Tania sedang duduk di tempat tidur, dia berlari menghampiri Tania lalu memeluk calon kakak iparnya dengan erat.
“Aku sangat rindu dengan kalian,” ujar Cella dengan suara manja. Cella lebih dekat dengan Tania dari pada Sheren, dia juga sering bermanja kepada calon istri kakaknya itu.
“Ouw ... aku juga sangat rindu padamu,” ledek Tania dengan bercanda, dia memeluk Cella dengan erat lalu Cella melepaskan pelukannya kemudian berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
“Tania, Chantiq dan Clau dimana?” Tanya Cella sambil memutar tubuhnya menghadap Tania dan menyanggah kepala dengan tangan.
“Mereka berdua sudah tidur,” jawab Tania lalu dia ikut berbaring.
“Oh .…” gumam Cella. “Oh ya, Tania aku ingin bicarakan sesuatu denganmu, tapi jangan kamu katakan pada siapapun,” pinta Cella dengan wajah memohon.
“Apa yang ingin kamu bicarakan, katakan padaku,” tanya Tania kemudian duduk dan melipat kakinya. Cella ikut duduk lalu memegang tangan Tania.
“Tapi kamu janji ya tidak mengatakan kepada siapapun, apalagi papa dan mama,” pinta Cella lagi dengan wajah memohon. Tania mengerutkan dahi, dan menatap heran kepada Cella.
“Iya, aku janji. Cepat katakan padaku,” desak Tania. Dia menjadi penasaran apa yang ingin Cella bicarakan.
“Em ... begini, Tania. A-ku ... a-ku, ich! Kenapa aku jadi gugup?” Dia menjadi bingung, Cella tidak tahu harus memulai dari mana. Tania mengangkat kedua keningnya menatap wajah Cella dan tertawa.
“Kenapa kamu jadi gugup begitu, Cella?” Cella mengkerutkan dahi menatap Tania.
“Ah ... Tania aku bingung, aku tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Cella dengan suara manjanya.
“Katakan saja, ayo!” Tania lebih penasaran lagi. Cella menarik napas panjang lalu dia memegang kembali tangan Tania.
“Tania, aku jatuh cinta pada seseorang.” Tania membelalakan mata, dia tidak percaya kalau Cella bisa jatuh cinta karena selama ini dia tahu gadis yang ada di hadapannya ini hanya sibuk dengan kulia dan membaca. Dia tidak perduli dengan laki-laki.
“Benarkah Cella?” tanya Tania dengan heran sambil mengangkat kedua alisanya hingga membentuk kerutan di dahi serta dua bola mata membulat sempurna menatap gadis itu.
“Iya, Tania dan kami sudah pacaran lebih dari sebulan. Bahkan aku dan dia sudah melakukan hal-hal yang lebih.” Tania memicingkan matanya, dia tidak mengerti dengan perkataan Cella yang mengatakan ‘sudah melakukan hal yang lebih.’
“Aku tidak mengerti, Cella. Maksudmu?” tanya Tania dengan melengkungkan bibirnya.
‘Tania, aku dan Logan saling mencintai dan kami berdua sudah melakukan hal-hal .…” Cella menceritakan kepada Tania tentang apa yang dia lakukan dengan kekasihnya.
Kembali Tania membelalakan mata, dia tidak percaya Cella yang selama ini pendiam bisa melakukan hal itu.
“Cella?” Tania memegang pipi gadis itu lalu dia tertawa terpingkal-pingkal.
“Tania, jangan menertwaiku. Aku sangat mencintainya, aku merasa gila jauh dari Logan. Aku takut kalau papa tahu dia pasti akan memisahkan aku dan Logan,” ujar Cella dengan wajah sedih lalu dia menundukkan kepala.
“Tunggu saat yang tepat, lalu kamu katakan kepada papa dan mama. Mudah-mudahan papa dan mama menerima Logan seperti menerima aku dan Sheren,” saran Tania lalu Cella menganggukan kepala.
“Jadi kamu suda merasakan kenikmatan itu?” ledek Tania dengan mencolek pinggang Cella lalu gadis itu tertawa dan mencubit lengan Tania.
“Tania, kamu jangan meledekku,” ujar Cella di sertai tawa mereka berdua lalu Kairos masuk. keduanya langsung diam.
“Baiklah, Tania. Aku ke kamarku,” ujar Cella kemudian dia turun dari tempat tidur dan menghampiri Kairos, dia mencolek pinggang Kakaknya dan lari keluar dari kamar.
Kairos dan Tania tertawa melihat Cella, Kairos menggeleng-gelengkan kepala kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
Jangan lupa like dan komentar ya.
Oh ya baca juga karya terbaruku
AMOR PROHIBIDO ( CINTA TERLARANG )
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA