
Sudah empat hari Logan berada di Torrance, tapi dia belum berani mengatakan kepada Cella tentang apa yang dia dan Maurent lakukan. perasaan takut ditinggal sang kekasih membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Logan keluar dari kamar dan melihat Nicky dan Nasya sedang bersantai di ruang tengah, sedangkan Cella dia sudah pulang ke rumahnya.
Logan menghampiri Nasya serta Nicky kemudian dia duduk di sofa, dan menatap pasangan kekasih itu. Pria itu berusaha tersenyum kepada mereka berdua. Nasya memperhatikan ada yang lain di diri Logan.
“Logan. apakah kamu baik-baik saja?” tanya Nasya membuka pembicaraan karena melihat pria itu seperti gelisah.
“Um, iya. Aku baik-baik saja, hanya ….” Dia terhenti lalu Nasya berdiri dan duduk di samping pria itu.
“Ada apa, Logan? Katakan padaku,” ujar Nasya.
“Nasya, aku takut Cella meninggalkanku,” sahut Logan dengan mengerutkan dahi dan menatap pasangan kekasih itu secara bergantian. Nicky mengangkat keningnya dan menatap Logan dengan heran.
“Kenapa Cella harus meninggalkanmu? Kekasihmu itu sangat mencintaimu, apakah kamu sudah berbuat sesuatu tanpa sepengetahuan Cella?” tanya Nicky dengan memicingkan mata curiga kepada kekasih Cella.
Lalu Logan menarik napas panjang, ‘Apakah aku jujur saja kepada Nicky dan Nasya, mungkin saja mereka bisa membantuku,’ gumamnya dalam hati.
“Logan?” panggil Nasya melihat Logan hanya diam tidak menjawab pertanyaan Nicky. Logan tersadar lalu dia menatap pasangan kekasih itu.
“Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian berdua, semoga kamu dan Nicky bisa membantu aku mencari jalan keluarnya.” Nicky dan Nasya saling pandang mereka berdua menjadi penasaran apa yang ingin di katakan oleh kekasih Cella.
“Katakan saja, Logan,” sahut Nasya seraya menatap mata pria itu, dia sangat penasaran apa yang telah dilakukan oleh sehingga dia begitu takut Cella meninggalkan dirinya.
"Begini, Nasya .…” Logan menceritakan semua apa yang sudah dilakukan Maurent serta ancaman wanita itu terhadap dirinya. Tampak wajah Nasya dan Nicky berubah mereka berdua saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku sudah curiga, pertama aku melihatnya di rumah sakit. Gelagatnya sangat mencurigakan, ternyata dia itu wanita busuk," ujar Nasya dengan kesal, dia heran ternyata di dunia ini ada spesies seperti itu.
“Lebih baik kamu jujur kepada Cella, aku yakin Cella akan memaafkanmu, apalagi dia sedang mengandung anakmu,” saran Nicky kepada Logan di ikuti anggukan kepala Nasya.
“Iya, apa yang dikatakan Nicky sangat benar,” sambung Nasya sambil memegang lengan Logan.
“Kamu tidak usah takut, dari pada Cella mengetahui dari Maurent lebih baik dia dengar langsung darimu,” kata Nicky lagi di ikuti anggukan kepala Logan.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mengatakan semuanya kepada Cella,” ujar Logan sambil berdiri.
“Itu bagus,” sahut Nasya sambil tersenyum kemudian Logan berdiri dan kembali ke kamar. Nampak dia tidak tenang, pria itu masih takut untuk terbuka kepada kekasihnya.
Sore hari Cella tiba di rumah Nicky, dia langsung masuk dan menemui Logan di kamar. Dia tersenyum kepada kekasihnya, lalu mengecup bibir pria itu dan duduk di kursi.
“Apakah pinggangmu masih sakit?” tanya Cella dengan memegang tangan pria itu.
“Tidak sakit lagi, aku sudah sembuh,” jawab Logan dengan berusaha tersenyum kepada gadis itu.
“Aku senang mendengarnya, apakah kamu akan kembali ke San Jose?” tanya gadis itu lagi.
“Aku ingin bertemu orang tuamu, aku ingin segera menikahimu dan membawa kamu ke negaraku,” sahut Logan sambil menarik tangan Cella dan menyuruh gadis itu duduk di pangkuannya.
“Baiklah.” Nampak kebahagiaan di wajah gadis itu saat mendengar perkataan Logan, dia sangat senang akan menikah dengan orang yang dicintainya.
“Sebelum bertemu orang tuamu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Dia memberanikan diri untuk bicara kepada Cella tentang dia dan Maurent.
“Katakan saja, aku akan mendengarnya,” sahut gadis itu seraya melingkarkan tangannya di leher sang kekasih.
“Kenapa aku harus marah,” tanya Cella dengan heran.
“Um .…” Logan menjadi ragu-ragu untuk menceritakannya kepada gadis itu.
“Katakan padaku, ada apa?” Cella bertanya lagi, lalu dia berdiri dan duduk di kursi berhadapan dengan Logan kemudian pria itu memegang tangan Cella dan menatap matanya.
“Aku ingin menceritakan tentang Maurent padamu, aku .…” Belum selesai dia bicara sudah disela oleh gadis itu.
“Apakah kamu tidur dengan Maurent?” Pria itu terdiam dan menatap mata sang kekasih.
“Cella dengarkan aku dulu, jangan menyela pembicaraanku nanti kamu salah paham padaku,” ujar Logan dengan suara yang pelan dan meraih tangan Cella.
“Baiklah ceritakan padaku.” Perasaan gadis itu tidak tenang, dia mencurigai kekasihnya sudah tidur dengan Maurent. Dia mulai mendengarkan satu persatu penjelasan Logan, Dia menunduk kepala dan menangis.
__ADS_1
“Mengapa kamu tidak menolaknya?” tanya gadis itu dengan mengusap air matanya.
“Aku sudah berusaha menolaknya, tapi dia terus memaksa dan aku tidak bisa menghindar karena ternyata di dalam juice itu sudah dicampur dengan obat perangsang. Sayang, aku tidak menikmati apa yang dilakukan Maurent padaku, aku .…” Belum selesai dia bicara sudah disela oleh gadis itu
“Kamu bohong, buktinya kamu sudah sering melakukannya dengan dia,” sela Cella sambil menangis. Dia berdiri dan ingin meninggalkan Logan tapi pria itu menarik lengan sang kekasih. Cella berusaha melepaskan tangan pria itu darinya.
“Lepaskan aku Logan, aku tidak ingin melihatmu. Kembali saja kamu ke San Jose, aku akan mengurus anak ini sendiri,” ujar gadis itu seraya menangis. Dia tidak percaya orang yang dia cintai telah mengkhianatinya.
“Jangan tinggalkan aku, aku mohon padamu. Aku sangat mencintaimu, ya aku salah, mengapa saat itu tidak menolaknya. Itu kesalahanku, berikan aku kesempatan lagi,” mohon Logan kepada Cella tapi gadis itu melepaskan tangannya dan meninggalkan Logan, dia keluar dari kamar sambil menangis, Cella tidak percaya Logan melakukan hal itu.
Sedangkan di kamar, Logan duduk di sisi tempat tidur dan menangis. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu dan anaknya.
“Kalau kamu meninggalkanku lebih baik aku mati,” ucapnya lirih.
Sementara itu Cella keluar dari rumah tanpa pamit kepada Nicky dan Nasya, dia masuk ke mobil dan langsung pulang. Sepanjang jalan dia menangis, dia memukul gagang stir dan berteriak.
“Aku membencimu, aku begitu percaya padamu tapi kamu mengkhianatiku.” Dia melajukan mobil dan akhirnya tiba di rumah.
Cella turun dan berlari masuk ke kamar, dia menghempaskan tubuh di kasur dan kembali menangis.
Sedangkan Logan terlihat mondar-mandir di kamar, dia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin dia menyusul sang kekasih tapi takut bertemu dengan orang tua gadis itu. Logan merapikan pakaiannya kemudian keluar dari kamar menemui Nicky dan Nasya yang sedang duduk di halaman belakang.
Nasya dan Nicky melihat raut wajah Logan kemudian mereka berdua berdiri dan menghampiri pria itu.
“Bagaimana, Logan. Apakah kamu sudah katakan kepada Cella.” Logan hanya diam kemudian dia menarik kursi dan duduk.
“Logan!” panggil Nasya seraya duduk di samping pria itu.
“Iya, aku sudah mengatakan semuanya kepada Cella tapi dia tidak mau mendengarkanku, dia sangat marah dan meninggalkanku.” Nicky duduk di depan Logan, dia merasa kasihan melihat pria itu.
“Kamu sabar saja, besok kamu temui dia dan bicara lagi. Kalau saat ini dia masih dalam keadaan marah.” Logan hanya menganggukkan kepala kemudian dia berusaha tersenyum kepada Nasya dan Nicky.
“Terima kasih, kalian berdua sangat baik. Aku akan kembali ke tempat tinggalku, besok aku akan coba menghubungi dia.” Logan berdiri dan kembali ke kamar sedangkan Nasya dan Nicky hanya memandang pria itu masuk ke dalam.
__ADS_1
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komentar ya