
Mereka tiba di rumah sakit, Charlie langsung turun dan membantu Carlos mengangkat Cella lalu mereka berlari membawa gadis itu ke dalam. Jessica berlari ikut dengan mereka sambil menangis, sementara petugas langsung menangani Cella.
Jessica duduk di kursi dan menundukkan kepala, dia tidak mau melihat wajah Carlos. Sedangkan Carlos dia hanya berdiri dan bersandar di dinding. Dia juga menunduk dan tidak berani menatap istrinya.
Charlie duduk di samping Jessica dan berusaha menenangkannya, dia memegang tangan Jessica lalu wanita itu memeluk Charlie.
“Dia akan baik-baik saja,” bisik Charlie di telinga Jessica.
“Aku tidak percaya Carlos bisa melakukan itu kepada Logan, sungguh aku tidak percaya, Charlie.” Jessica terus menangis di pelukan Charlie.
“Apakah kamu ingin aku menangkap Robert dan James?”
“Iya, tangkap saja mereka berdua.” Jessica merasa geram kepada Robert dan James, dia dari awal tidak menyukai keempat pengawal dari Mike itu.
“Tapi Carlos juga akan di tangkap kalau mereka mengaku di kantor polisi.” sahut Charlie lalu Jessica terdiam.
“Aku tidak tahu lagi, Charlie.” Jessica melepaskan pelukannya kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans dan menghubungi Bane pengawal setia Jessica. Panggilan terhubung.
"Bane, kamu dimana?" tanya Jessica lalu terdengar suara Bane dari seberang telepon.
"Aku sedang di rumah, ada apa, Jessi?"
"Bane, tolong kamu ke rumah. Temui Robert dan James, tanyakan kepada mereka dimana mereka membuang mayat Logan,” perinta Jessica dengan tegas, nampak kemarahan di wajah wanita itu.
"Apa? Mayat Logan? Robert dan James membunuh Logan?" Bane terkejut mendengar Logan meninggal.
"Iya, Bane. Cepat ke rumah, panggil Colby juga Jack dan Mauricio kemudian kalian interogasi mereka berdua."
"Baik, Jessi. Aku segera ke rumah kalian," sahut Bane dari seberang teleopon.
"Terima kasih, Bane." Jessica menutup telepon kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir, dia belum mau bicara kepada Carlos.
Mendapat perintah dari Jessica, Bane langsung pergi ke kediaman Jessica dan Carlos. Pria itu tiba lalu langsung mencari Jack dan Colby.
Dia melihat Colby kemudian Bane memanggilnya. Colby menoleh lalu dia tersenyum dan berjalan menghampiri rekannya itu.
"Kamu dari mana saja? Ada kejadian besar di rumah,” info Colby dengan menepuk pelan lengan Bane.
"Apa yang terjadi?" tanya Bane penasaran.
"Cella mencoba untuk bunuh diri, dia sedih karena Carlos berhasil membunuh Logan." Bane membulatkan mata mendengar informasi dari Colby.
"Oh ya? Lalu dimana Cella sekarang?" Nampak wajah Bane begitu cemas, dia sangat menyayangi gadis itu. Bane sudah menganggap Cella seperti putrinya sendiri karena sedari kecil sudah bersamanya.
"Mereka sudah membawanya ke rumah sakit," sahut Colby lalu dia mengeluarkan rokok dan menawarkannya kepada rekannya. Bane mengambil sebatang, lalu mengapit dengan bibirnya.
"Colby, Jessica tadi meneleponku. Dia meminta kita mencari Robert dan James,” tutur Bane setelah selesai menyalakan rokok.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Colby dengan mengerutkan dahi menatap Bane.
"Untuk mencari tahu di mana mereka membuang mayat Logan.” Bane mengisap rokok dan menghirup asap itu lalu mengeluarkan dari mulutnya.
“Mereka berdua sepertinya sudah pulang, lebih baik kita pergi ke rumah Robert,” ujar Colby
“Baiklah kita pergi ke rumah Robert sekarang.” Bane mematikan rokok di asbak kemudian mengajak Colby untuk memanggil Jack dan Mauricio.
Bane juga Colby pergi ke halaman belakang, melihat kedua pria yang dia cari berada di sana Bane memanggil Jack dan Mauricio untuk ikut dengan mereka berdua.
Mereka masuk ke mobil lalu meluncur ke tempat Robert. Mauricio yang menyetir sedangkan Colby, Bane dan Jack menyiapkan pistol mereka untuk berjaga-jaga.
Keempat pria itu tiba di kediaman Robert. Bane dan Colby langsung turun di ikuti oleh Jack juga Mauricio. Mereka berempat berdiri di depan pintu rumah Robert kemudian Bane mengetuk benda kayu itu.
Sedangkan Jack, Colby dan Mauricio bersiap-siap dengan pistol mereka. Pintu terbuka lalu Bane langsung mendorong tubuh Robert diikuti todongan senjata dari Colby dan Jack.
Robert terduduk di sofa matanya tertuju ke pistol yang di todongkan ke arahnya lalu dia menatap Bane dengan mengernyitkan dahi.
“Di mana kalian membuang mayat Logan?” tanya Bane seraya menepuk pipi Robert dengan pelan.
“Aku dan James membuangnya di pinggir Kota,” jawab Robert sambil matanya tetap mengawasi Colby dan Jack.
“Kamu tahu, aku dan Mauricio sudah bekerja kepada Jessica sedari Cella masih kecil. Aku sudah menganggap Cella itu putriku, dan kamu membuat dia kehilangan orang yang dicintainya. Aku ingin membunuhmu.” Bane mengeluarkan pistol dari balik pinggang lalu mengarahkan ke kepala Robert.
Robert memejamkan mata, dia pasrah dengan apa yang akan di lakukan Bane kepadanya. Dia tahu Bane sangat membencinya, Robert merasakan ujung pistol sudah menempel di dahinya. Jantung pria itu berdetak begitu cepat.
Melihat Bane menarik pelatuk, Colby langsung memegang tangan rekannya itu. Dia mengambil pistol dari tangan Bane dan memberikan senjata itu kepada Jack.
Colby menarik Bane lalu membawanya keluar, dia menenangkan pria itu lalu Colby berteriak kepada Jack dan Mauricio untuk membawa Robert ke mobil.
Jack menarik Robert dan memasukkan ke dalam mobil, Jack meminta Robert untuk mengantar mereka ke tempat di mana dia membuang mayat Logan.
Mereka tiba di tempat Robert membuang mayat Logan, Bane dan Colby langsung mencari Logan. Mereka melihat ada sisa-sisa darah yang sudah mengering di rumput tapi tidak menemukan kekasih Cella disana. Para pengawal Jessica sudah berkeliling tapi hasilnya nihil.
Sedangkan Kairos, dia mendapatkan kabar dari Jack kalau Cella sedang di rumah sakit karena mencoba untuk bunuh diri. Kakak Cella itu terkejut kemudian membeli tiket ke Amerika.
****
Akhirnya Kairos tiba di Amerika, dari airport dia langsung menuju ke rumah sakit tempat Cella di rawat. Sepanjangan perjalanan, pikiran Kairos tidak tenang. Dia ingin segera tiba tidak sabar lagi melihat keadaan sang adik.
Setengah jam perjalanan Kairos tiba, dia langsung berlari pergi ke ruangan tempat Cella di rawat, dia membuka pintu dan melihat Jessica sedang menyuapi Cella.
Kairos langsung berlari memeluk Cella, dia mencium kedua pipi adiknya dan menghapus air mata yang mengalir lewat sudut mata gadis itu lalu Cella memegang tangan Kairos.
"Bawah aku pergi dari sini, aku tidak ingin melihat papa dan Acel lagi. Aku sangat membenci mereka berdua," pinta Cella sambil menangis.
"Iya, aku akan membawamu dari sini. Kamu akan tinggal bersama aku dan Tania." Kairos memegang pipi dan mencium kembali kening Cella lalu dia tersenyum kepada Jessica dan memeluknya.
__ADS_1
"Aku sangat rindu padamu, Mam," bisik Kairos kemudian Jessica tersenyum dan melepaskan pelukan sang putra lalu mencium kedua pipi Kairos.
"Mama juga rindu pada kalian, bagaimana kabar Tania dan cucu mama?" tanya Jessica dengan memegang pipi Kairos.
"Mereka baik-baik saja," sahut Kairos lalu pintu terbuka, mereka melihat Carlos yang masuk. Cella menatap papanya dengan marah, dia menunjukkan tatapan penuh kebencian kepada Carlos.
"Aku tidak ingin melihatmu, keluar!" Cella mengusir Carlos dengan berteriak kepada pria itu, Jessica duduk di sisi brankar dan menenangkan putrinya.
Sedangkan Kairos dia membawa Carlos keluar dari ruangan. Dia tidak ingin Cella berteriak terus melihat papanya. Kairos mengajak Carlos duduk dan memperhatikan wajah pria itu yang tertunduk.
"Aku akan membawa Cella pergi denganku," kata Kairos membuka percakapan. Carlos mengangkat kepalanya dan menatap putra tertuanya.
"Dia tidak akan kemana-mana, Cella tetap akan di sini!" sahut Carlos dengan tegas dia tidak ingin putri kesayangannya keluar dari rumahnya.
"Walau’pun papa menghalanginya, aku tetap akan membawa Cella ikut denganku." Kairos tetap bersih kuku ingin membawa sang adik ke Mexico, dia tidak ingin melihat Cella menderita tinggal di rumah itu.
"Kamu jangan berbantah denganku, aku tidak akan pernah mengijinkan Cella pergi kemana-mana!" Tiba-tiba terdengar suara Jessica.
"Bawah saja dia Kairos, kalau ada yang menghalangimu, dia akan berhadapan dengan mama." Carlos langsung menatap Jessica dengan tatapan tajam tapi wanita itu tidak perduli.
"Bawah Cella pergi dari sini, mama tidak ingin dia menjadi depresi dengan melihat terus manusia yang sudah membunuh orang yang dicintainya." Mendengar perkataan Jessica seperti itu, Carlos langsung berdiri dan meninggalkan rumah sakit. Dia langsung kembali ke rumah.
Jessica tidak perduli dengan kepergian suaminya kemudian dia masuk ke ruangan dan duduk di samping brankar diikuti Kairos yang langsung berdiri berseberangan dengan Jessica.
"Bagaimana dengan kandunganmu? Apakah baik-baik saja?" tanya Kairos dengan membelai rambut adiknya.
“Iya, baik-baik saja.” Air sebening kristal kembali mengalir dari sudut mata Cella lalu Kairos menyekanya.
“Begitu kamu sembuh, aku akan langsung membawamu bersamaku.” Kairos tersenyum kemudian dia kembali membelai pipi sang adik.
“Terima kasih, Kairos. Aku sangat menyayangimu.” Cella memegang tangan Kairos yang berada di pipinya dan berusaha tersenyum.
“Aku juga sangat menyayangimu.” Jessica tersenyum melihat Kairos dan Cella, Mereka bertiga saling berpegangan tangan.
****
Akhirnya Cella sudah di ijinkan pulang, Jessica mengatur pakaian-pakaian sang putri dan memasukkan ke dalam koper. Cella dan Kairos akan berangkat ke Mexico dari rumah sakit, karena Cella tidak ingin kembali ke rumah.
Colby sudah menunggu di parkiran dia tersenyum melihat Cella dan Kairos, dia langsung mengambil koper milik Cella dan memasukkan ke dalam bagasi. Colby membukakan pintu untuk Cella kemudian gadis itu masuk dan duduk.
Begitu juga Kairos dan Jessica mereka berdua masuk ke mobil, Kairos duduk di depan sedangkan Jessica di samping Cella. Colby mengantar mereka ke airport.
Sementara di kediaman Carlos, terlihat pria itu sedang duduk di ruang kerjanya. Dia merasa kesal kepada Jessica karena sudah menentangnya. Carlos berdiri kemudian berjalan mondar-mandir, dia mengepalkan tangan dan melayangkan tinju di dinding lalu berteriak.
Carlos mengambil kunci kemudian meninggalkan ruang kerja dan masuk ke mobil. Dia langsung pergi ke villa pinggir danau, pria itu ingin menenangkan dirinya di sana. Dia melajukan mobilnya dan memukul gagang stir.
“Kamu tega sekali mempermalukanku di depan anak-anak, ahhh … shiit … shiit.” Carlos berteriak dan melampiaskan kekesalannya dengan kembali memukul-mukul gagang stir.
__ADS_1
Lalu dia tiba di Villa, Carlos turun dari mobil lalu berjalan ke arah danau. Dia duduk dan memejamkan mata.
Terima kasih buat kesetian kalian