SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Tiba di America


__ADS_3

Akhirnya Jessica dan Carlos tiba di airport Lax pada pukul 10:00am, Carlos mengantarkan Jessica menuju ke Imigrasi untuk mendapatkan stamp di paspor setelah itu pasangan kekasih itu keluar menunggu taxi.


Carlos memanggil taxi, meletakkan barang-barang di bagasi kemudian masuk dan meminta kepada sopir untuk mengantar kerumahnya di daerah Torrance. Jaraknya tidak jauh hanya sekitar 20 - 30 menit.


Tidak lama kemudian mereka tiba, seseorang membukakan pintu. Dari gerbang masih ada jarak sekitar 100m untuk sampai dirumahnya. Jantung Jessica berdebar saat sudah dekat dengan kediaman orang tua Carlos.


Carlos tersenyum menatap Jessica, menggenggam tangan wanita hamil itu dan menenangkannya, dia tahu sang kekasih gugup akan bertemu dengan kedua orang tuanya.


“Carlos aku takut bertemu dengan orang tuamu, apakah mereka akan menerimaku?” bisik Jessica saat taxi berhenti tepat di depan kediaman orang tua Carlos.


“Sayang, jangan takut orang tuaku baik. Mereka suka  kepadamu,” ujar Carlos sambil mengelus tangan Jessica.


Jessica menganggukan kepala tapi jantungnya masih berdebar.  Jessica dan Carlos turun dari taxi lalu datang seseorang menghampiri kekasih Jessica dan memeluknya.


“Carlos, kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang?” tanya pria itu sambil melepaskan pelukannya.


“Aku ingin memberi kejutan pada orang tuaku, oh ya mereka dimana, Garry?” Pria itu adalah pengawal setia orang tua Carlos yang sudah bekerja selama belasan tahun. Carlos sudah menganggapnya sebagai keluarga.


“Ada di halaman belakang,” jawab Garry sambil mengambil barang milik Carlos dan Jessica dari bagasi.


“Baiklah, terima kasih.” Setelah membayar taxi Carlos memegang tangan Jessica, mengajaknya masuk menuju ke halaman belakang.


Dari dalam Carlos sudah melihat orang tuanya lagi duduk santai, dia membuka pintu dan menyapa mereka.


“Hi, Mom, Dadd. Apa kabar?” Mereka berdua terkejut melihat Carlos, Liliana langsung berdiri dan memeluk putranya.


“Sayang, kenapa tidak memberitahu kami kalau mau datang.” Liliana belum melihat kalau Carlos datang bersama Jessica.


“Ah, Nak. Kamu selalu membuat kejutan,” ujar Federicao sambil memeluk Carlos.


“Aku merindukan kalian,” sahut Carlos sambil melepaskan pelukannya dan menarik tangan Jessica, memperkenalkannya kepada Federico dan Liliana.


“Mom, Dad ini Jessica.” Liliana tersenyum menatap Jessica, menghampiri wanita itu dan memeluknya.


“Kamu cantik sekali,” puji Liliana dengan melepaskan pelukannya dan membelai pipi Jessica.


“Terima kasih, Nyonya. Oh ya, selamat ulang tahun,” ucap Jessica kemudian mencium kedua pipi liliana.  Carlos tesenyum dan senang melihat Jessica


“Terima kasih,” balas Liliana sambil memegang tangan Jessica, Federico’pun memeluk kekasih Carlos.


“Selamat datang, Nak,” ucap Ferderico kemudian melepaskan pelukannya.


“Oh ya, Mom. Happy birthday,” ucap Carlos dengan memeluk kembali Liliana. “Aku menyayangimu.” Carlos melepaskan pelukannya lalu memberikan sebuah amplop kepada wanita itu.


“Apa ini, Sayang?” tanya Liliana dengan mengernyitkan dahi sambil mengambil amplop itu dari tangan Carlos.


“Buka saja, Mom.” Sambil berucap Carlos  mendekat kepada Jessica, melingkarkan tangannya di punggung sang kekasih. Jesica tidak ketinggalan dia melakukan hal yang sama tapi di pinggang Carlos.


“Ayo dibuka, Mom, itu hadia satu-satunya dari aku dan Jessica.” Liliana membuka amplop itu,   melihat selembar kain kecil berwarna biru mudah. Kembali dia menatap Carlos dengan wajah kebingungan.


“Sayang, apa artinya ini?” tanya Liliana penasaran.


“Buka saja, Sayang. Lihat di balik kain itu apa.” Federico juga terlihat tidak sabar ingin tahu apa isi amplop itu.


Liliana membuka kain itu, matanya terbelalak  melihat foto hasil USG, dia menatap Jessica dan Carlos seakan tak percaya


“Sayang, ini ... Federico lihat.” Liliana tidak bisa berkata apa-apa dia terlalu terkejut, perasaannya sangat bahagia.

__ADS_1


Federico juga melihat foto itu, menutup mulut dengan kedua tangannya. Melihat Jessica dan Carlos seakan tak percaya. Liliana menghampiri Jessica, menatap kekasih Carlos dengan wajah masih kebingungan.


“Kamu hamil?” Jessica mengangguk dengan pelan. Sontak Liliana berteriak histeris,  melompat-lompat kegirangan. Dia memeluk Federico yang masih terbengong-bengong.


Jessica dan Carlos tertawa melihat Liliana yang begitu riang mengetahui sebentar lagi akan memiliki cucu. Federico menghampiri Jessica dan memeluk wanita itu.


“Terima kasih, akhirnya kami akan memiliki cucu.” Liliana juga memeluk Jessica dan mengecup kening kekasih Carlos.


“Sayang, ini hadia yang luar biasa. Terima kasih sudah memberikan kami kebahagiaan.” Tak henti-hentinya Liliana memeluk Jessica dengan penuh kebahagiaan.


“Sama sama, Nyonya.”


“No! Jangan memanggilku nyonya lagi, kamu akan menjadi menantuku, berarti kamu bagian dari keluarga ini juga,” ujar Liliana “Kamu juga anakku jadi panggil seperti Carlos memanggil kami.” Jessica tersenyum dan menganggukan kepala.


Liliana dan Federico mengajak Jessica dan Carlos ke dalam mereka duduk di sofa lalu berbincang-bincang. Liliana tidak melepaskan tangan Jessica dia nampak sangat bahagia.


Sementara Jessica, dia sangat senang. tadinya pikir wanita itu kedua orang tua Carlos tidak akan menerimanya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Carlos benar.


“Carlos ajak Jessica untuk beristirahat, kalian  pasti lelah apa lagi calon istrimu sedang mengandung,” ujar Federico kala melihat wajah kelelahan Jessica.


“Baiklah, Dad.” Carlos berdiri dan mengajak Jessica untuk pergi ke kamar.


“Permisi, Tuan.” Federico menggeleng-gelengkan mendengar sebutan Jessica kepada dirinya.


“Jessica, jangan panggil aku tuan kamu sekarang sudah menjadi anak kami juga, ok.”


“Baik .…” Federico mengangkat kedua alisnya menatap Jessica. “Dadd.” Pria tua itu langsung tersenyum.


“Bagus, Anakku.” Carlos tertawa lalu mengajak Jessica ke kamarnya.


Jessica terkesima saat masuk ke kamar Carlos, dua memperhatikan ruang tempat sang kekasih tidur begitu besar. Ada walk in closet, teras  yang luas.


Carlos tersenyum melihat Jessica, menghampirinya dan  memeluk wanitanya dari belakang. Sementara Jessica masih tidak percaya kalau dia sudah berada di kediaman Carlos.


“Babe, aku seperti bermimpi.” Jessica membalikan badan berhadapan dengan Carlos,  melingkarkan tangan di punggung sang kekasih


“Kamu tidak bermimpi sayang, ini nyata.” Carlos mencubit pipi Jessica untuk membuat sang kekasih percaya kalau itu bukan mimpi.


“Auh … sakit, Babe.” Carlos terkekeh, mengecup lembut kening wanita yang sedang mengandung hasi kerjanya.


“Itu tandanya kamu tidak bermimpi,  kamu sudah sudah lihat sendiriorang tuaku sayang padamu.” Jessica tersenyum, memeluk Carlos.


“Baiklah, kita istirahat sekaran.” Jessica melepaskan pelukannya, mengikuti Carlos masuk kembali ke kamar. Merebahkan tubuh di ranjang sambil mata menatap sang kekasih sedang melepaskan kaos juga celana jeans.


Carlos berbaring di samping Jessica, menarik sang wanita itu untuk tidur di dadanya. Tangan kembali mengusap rambut hitam panjang Jessica serta mengecup ubun kepalanya.


“Kamu lelah, Sayang?” tanya Carlos.


“Sedikit, kenapa?” jawab Jessica sambil tangan mengelus dada bidang berotot itu.


“Aku lagi ingin.” Jessica tertawa, mencubit perut Carlos sehingga pria itu merintih kesakitan.


Jessica mengikuti keinginan Carlos, yaitu bercinta. Walau’pun lelah tapi wanita itu selalu melayani sang kekasih melepaskan hasratnya.


Pasangan kekasih itu saling berciuman, mengesap lidah yang dimainkan di dalam mulut sambil tangan ikut bergerilya. Berganti saliva tidak merasa jijik lagi.


Berdua terlena dengan ciuman yang penuh dengan nafsu itu, pakaian Jessica satu persatu dilepas oleh Carlos lalu menindih sang kekasih dengan menumpukan kedua tangan di masing-masing sisi wanita itu agar tidak membebani tubuhnya yang berat.

__ADS_1


“Ah … pelan-pelan, Babe,” ujar Jessica dengan mendesaah saat merasakan benda keras itu mulai memasuki dirinya.


“Iya, Sayang. Intimu selalu sempit, padahal sering ku masuki.” Sempat-sempatnya Carlos memuji milik  saat berhasi memasukinya.


“Ough … ini nikmat sekali.” Carlos merasakan miliknya dijepit di dalam sana. Dia mulai menggerakan pinggulnya dengan perlahan-lahan.


Jessica menikmati setiap tusukan yang diberikan oleh Carlos, tangan membelai dada bidang berbulu itu kemudian menarik Carlos agar lebih dekat dengannya. Mengesap dengan kuat leher pria itu sehingga meninggalkan tanda pemilikan disana.


Carlos melajukan gerakannya, dia tidak ingin bermain lama karena tahu Jessica pasti lelah. Tersalur saja hasratnya cukup membuatnya puas.


Tidak menunggu lama sepuluh menit saja akhirnya mereka berdua mengalami pelepasan. Jessica langsung merapat ke tubuh Carlos meletakan kembali kepala di dada bidang berotot dan berbulu itu.


Karena lelah keduanya tertidur tanpa membersihkan tubu mereka.


****


Terdengar pintu di ketuk, Jessica membuka matanya dan membangunkan Carlos yang masih tertidur di sampingnya.


“Babe ada yang mengetuk pintu.” Carlos berdiri dan pergi membuka pintu, ternyata Liliana.


“Sayang, bangunkan Jessica sudah waktunya makan. Dia sedang hamil tidak boleh terlambat makan.”


“Iya, Mom.” Liliana kembali turun setelah membangunkan Carlos dan mengajak mereka makan.


“Sayang kita makan dulu nanti istirahat lagi.” Jessica bangun dan masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang lengket dengan keringat hasil bercinta mereka tadi.


Carlos dan Jessica turun lalu pergi ke ruang makan, disana sudah ada Federico dan Liliana. Mereka berdua tersenyum melihat Jessica. Mommy Carlos memberikan isyarat kepada Jessica agar duduk di dekatnya dengan menggeserkan kursi.


Jessica duduk di dekat Liliana berhadapan dengan Carlos dan Federico, Liliana mengambilkan makan untuk Jessica dan meletakan piring di hadapan calon istri putranya.


“Terima kasih, Mom,” ucap Jessica, dia merasakan kehangatan keluarga calon suaminya.


“Makan, Sayang. Supaya kamu dan cucuku sehat.” Jessica tersenyum dan menganggukan kepala.


beruntung Carlos sering mengajak Jessica makan masakan luar jadi dia sudah terbiasa. Dia merasakan masakan Liliana sangat enak, atau mungkin bawaan janin yang ada dalam kandungannya.


Jessica sangat bahagia karena kedua orang tua Carlos menerimanya dan menyayangi dia seperti anak kandung mereka.


Selesai makan mereka  bersantai di halaman belakang Jessica duduk dekat mommy Carlos berhadapan dengan Federico dan suaminya.


“Sayang, sudah berapa bulan kandunganmu,” tanya Liliana membuka percakapan seraya memegang perut Jessica.


“Sudah empat dua minggu, Mom.”


“Aku akan segera mengatur pernikahan kalian berdua,” sela Federico sambil meletakan tangannya di punggung Carlos. "Kalian ingin menikah dimana?” tanya Federico pada Carlos.


Carlos melirik Jessica tapi wanita itu hanya mengedikan bahu, dia juga tidak tahu dan menyerahkan semua kepada calon suaminya.


“Dad, karena keluarga kita semua berada di Spanyo jadi sebaiknya aku dan Jessica menikah disana,” tutur Carlos lalu dia menatap Liliana. “Bagaimana, Mom?”


“Ide yang bagus, kita adakan di Spanyol saja, kapan rencana kalian akan menikah, Sayang?” Giliran Liliana yang bertanya.


“Bulan depan minggu kedua, Mom,” jawab Carlos, dia menatap Federico. “Dad, bisa bantu mengurus visa ke Spanyol untuk Jessica?”


“Tentu saja, kamu jangan khawatir masalah visa Jessica, daddy akan urus secepatnya.” Jessica hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, dalam hatinya, ‘ternyata Carlos sudah punya rencana untuk pernikahan kami nanti.’


Selamat membaca

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan komentar.


__ADS_2