
Kairos dan Cella tiba di Mexico, mereka berdua dijemput oleh Mauritio. Kakak beradik itu langsung masuk ke mobil dan pergi ke kediaman Kairos, sepanjang perjalanan Cella memilih diam.
Dia terus memikirkan Logan, sesekali dia menyeka air matanya. Mereka tiba lalu Kairos turun dan membukakan pintu kepada Cella dan membantu sang adik turun dari mobil.
Cella berjalan sambil memegang lengan Kairos lalu dia melihat Tania sedang berjalan menyambutnya. Cella langsung memeluk kakak iparnya dan menangis.
“Aku tidak menyangka papa setega itu membunuh Logan, papa tidak memikirkan kalau aku sedang mengandung anak Logan.” Cella terus menangis lalu Kairos dan Tania menenangkan gadis itu.
“Sayang, ingat kandunganmu. Nanti anak yang ada di dalam sini sedih mendengarmu menangis,” ujar Tania dengan mengelus perut Cella kemudian mengajak adik iparnya ke dalam.
Mereka menuju ke ruang santai lalu Cella duduk di samping Tania sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak ipar. Kairos ikut duduk di dekat Cella kemudian membelai rambut adiknya.
“Lebih baik kamu istirahat dulu, nanti Tania akan menemanimu di kamar,” ujar Kairos dengan membujuk sang adik yang tidak berhenti menangis.
Cella menganggukan kepala dan berdiri diikuti oleh Tania dan mengantar sang adik pergi ke kamar, mereka berdua masuk kemudian Cella langsung berbaring di tempat tidur. Tania duduk di sisi ranjang dan memegang tangan Cella.
“Istirahat ya, aku akan di sini menemanimu,” kata Tania dengan menghapus air mata yang mengalir di sudut mata Cella.
Tania menjadi kasihan melihat Cella, dia tidak menyangka Carlos bisa berbuat hal itu. Dia terus menemani Cella sampai gadis itu tertidur.
Melihat Cella sudah tertidur, Tania berdiri perlahan-lahan lalu meninggalkan Cella dan menemui Kairos di kamar Chantique. Tania membuka pintu melihat Kairos sedang bermain dengan Chantiq serta Clau, dia tersenyum melihat mereka bertiga kemudian dia duduk dan memangku Chantique.
“Apakah Cella sudah tidur?” tanya Kairos dengan menahan Clau yang sedang naik di punggungnya.
“Iya, Honey. Dia sudah tertidur, aku sangat kasihan melihatnya. Kenapa papa bisa setega itu kepada Logan?”
“Aku juga tidak habis pikir, Sayang. Papa dan Acel sangat egois, mereka tidak memikirkan anak yang sedang di kandung Cella.” Kairos menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau tidak memikirkan mama, sudah ku hajar Acel.” Kairos terlihat begitu geram.
“Sudahlah, Honey. Sekarang kita fokus saja kepada Cella, aku tidak ingin dia berlarut-larut dalam kesedihan. Aku khawatir dengan kandungannya,” ujar Tania seraya berdiri dan meletakkan Chantique di box.
Kairos juga berdiri dan membawa Clau ke kamarnya, lalu meletakan Clau di box kemudian dia pergi menemui Tania di dapur.
Sementara di Amerika, Bane dan Colby pergi ke kantor Jessica, mereka berdua menuju ke ruang kerja lalu Colby mengetuk pintu dan terdengar suara Jessica dari dalam menyuruh mereka berdua masuk.
Colby membuka pintu lalu dia dan Bane masuk. Mereka berdua langsung menyapa Jessica yang sedang duduk di balik meja kerja.
“Selamat siang, Jessi.” Melihat Colby dan Bane yang datang Jessica berdiri lalu menyuruh kedua pengawal itu untuk duduk.
“Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan mayat Logan?” tanya Jessica seraya duduk di singel sofa.
“Belum, Jessi. Kami sudah berusaha mencarinya tapi tidak menemukan mayat Logan,” sahut Bane dengan mengerutkan dahinya.
“Apakah kalian yakin mayat Logan dibuang di pinggir kota?” tanya Jessica dengan ragu.
“Iya, Jessi. Kami melihat sendiri sisa-sisa darah yang sudah kering di rerumputan, tapi aku bingung kenapa mayatnya tidak di sana?” Colby memegang dagu dan menggaruknya seolah gatal sambil berpikir.
“Bane, Colby. Tolong temukan mayat Logan, aku tidak tenang selama jasadnya tidak di temukan,” pintahnya dengan memohon. Pikirannya langsung tetuju kepada Cella.
“Baiklah, aku dan Colby akan terus mencari tahu di mana Robert dan James membuang mayat Logan. Aku akan kembali menemui Robert.” Jessica menganggukkan kepala dan berharap kedua pengawal itu bisa menemukan mayat kekasih Cella.
“Terima kasih, Bane, Colby. Kalian sudah banyak membantuku,” ucap Jessica lalu Bane dan Colby tersenyum.
“Bukankah itu sudah menjadi tugas aku dan Bane?” canda Colby lalu mereka bertiga tertawa bersamaan.
Bane dan Colby berpamitan kepada Jessica dan kembali pergi menemui Robert.
****
__ADS_1
Kairos terkejut mendengar teriakan Cella, dia berlari menuju ke kamar. Kairos masuk dan langsung memeluk dan membelai rambut Cella.
“Cella, tenangkan dirimu. Aku di sini.” Kairos memeluk erat Cella lalu Tania masuk dan duduk di sisi tempat tidur. Dia menghapus air mata yang jatuh di pipi Cella.
“Kairos, dimana Logan? Aku ingin bertemu dengannya?” Cella menangis dan terus memanggil-manggil Logan kemudian Tania menarik Cella dan memeluknya. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
“Cella, ingat anak yang ada di dalam kandunganmu. Kalau kamu begini terus nanti dia juga ikut sedih.” Tania mencoba membujuk Cella dan membaringkan gadis itu.
“Tania, tolong cari Logan. Dia tidak mati,” ujar Cella sambil menangis lalu Kairos naik ke tempat tidur dan memegang tangan Cella.
“Cella, tenangkan dirimu. Kasihan anak yang sedang kamu kandung, apakah kamu tidak menyayanginya?” Kairos menyeka air mata sang adik yang tak henti-hentinya mengalir kemudian Cella memutar tubuhnya membelakangi Kairos dan menangis.
Kairos turun dari tempat tidur kemudian dia meninggalkan kamar Cella dan pergi ke ruang kerja. Kairos mengambil ponsel kemudian menghubungi Jessica. Panggil tersambung.
“Hallo, Mam. Apakah kamu sibuk?” tanya Kairos sembari berdiri dan berjalan ke depan jendela.
“Tidak, Sayang. Bagaimana keadaan Cella?” tanya Jessica di ujung telepon, dia juga sangat mengkhawatirkan putrinya.
“Dia terus dan terus menanyakan Logan, setiap hari dia menangis. Bagaimana kalau mama datang ke sini dulu?” saran Kairos, mungkin dengan kehadiran Jessica membuat sang adik menjadi tenang.
“Baiklah, Sayang. Besok pagi mama ke Mexico,” sahut Jessica dari seberang telepon.
“Terima kasih, Mam. Aku akan menjemput Mama,” ucap Kairos dengan tersenyum kemudian dia kembali duduk.
“Baiklah, Sayang. Mama kembali bekerja dulu, sampai bertemu besok,”
“Iya, Mam.” Kairos menutup telepon kemudian bersandar di kursi.
Melihat keadaan Cella seperti itu, Kairos merasa marah kepada Carlos dan Acel. Dia tidak habis pikir kenapa papanya dan kembar Cella bisa seperti itu. Kairos menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.
****
Sedangkan Carlos, dia juga tidak mau bicara kepada Jessica. Dia masih marah karena sang istri menentangnya di depan Kairos.
Jessica masuk ke kamar dan melihat Carlos masih berbaring di tempat tidur, dia tidak menyapa pria itu. Begitu juga dengan Carlos, dia tidak mau melihat Jessica.
Jessica membuka lemari dan mengambil beberapa potong pakaian kemudian memasukan ke dalam koper. Carlos melihat apa yang dilakukan sang istri, dia langsung bangun dan duduk di sisi tempat tidur. Carlos terus memperhatikan Jessica.
“Mau kemana kamu?” tanya Carlos sambil berdiri dan menghampiri Jessica tapi sang istri hanya diam saja dan terus mengatur pakaiannya.
Carlos menahan tangan Jessica dan mengambil pakaian di koper kemudian memasukan kembali ke dalan lemari.
“Kamu tidak boleh pergi kemana-mana.” Jessica diam dan mengambil kembali pakaian-pakian itu dan memasukan kembali ke dalam koper. Dia tidak perduli lagi dengan Carlos.
Kembali Carlos menahan tangan Jessica dan mengambil pakaian itu, Jessica merebutnya dari tangan Carlos dan menatap suaminya dengan marah.
“Cukup, Carlos! Aku ingin pergi ke Mexico, aku ingin merawat anakku. Dia lagi mengandung dan aku tidak ingin dia depresi karena kehilangan orang yang dia cintai.” Carlos diam lalu pergi duduk di sofa dan melihat Jessica yang memasukan kembali pakaiannya di dalam koper. Dia tidak bisa menahan sang istri lagi.
Jessica menarik koper keluar kamar dan menemui Colby. Dia meminta pengawal itu untuk mengantarnya ke airport. Colby mengangkat barang Jessica kemudian memasukan ke bagasi, dia langsung menjalankan mobil ke airport.
Sedangkan Carlos, dia hanya melihat kepergian Jessica dari jendela ruang kerjanya. Carlos menunduk kemudian pergi ke kamar dan berbaring. Sementara di mobil, Jessica hanya diam sambil mata memandang keluar jendela, tanpa terasa air mata menetes di pipinya.
Dia menghapus air bening itu kemudian memejamkan mata, Jessica terbayang wajah Carlos. ‘Semestinya aku tidak bersikap kasar kepadanya,’ gumam Jessica dalam hati. Dia merasa bersalah kepada Carlos.
Selama ini Jessica tidak pernah kasar dan berteriak kepada suaminya, dia menarik napas panjang kemudian membuka matanya dan mengambil ponsel.
Jessica mencari nomor telepon Carlos lalu menguhubunginya tapi ponsel sang suami tidak aktif. Jessica memasukan kembali gawai itu ke dalam tas dan memandang keluar jendela.
__ADS_1
Colby memperhatikan Jessica dari kaca spion, dia sempat melihat wanita itu menyeka air matanya. ‘Pasti sedang bermasalah dengan Carlos,’ kata Cobly dalam hati. Dia ingin bertanya tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Akhirnya mereka tiba di airport, Colby menghentikan mobil kemudian turun dan membuka bagasi lalu mengangkat koper milik Jessica.
“Terima kasih, Colby. Tolong jaga mereka di rumah, Oh ya, Colby. Tolong jangan ijinkan keempat orang itu masuk ke rumahku. Kalau Carlos tanya, katakan saja aku yang menyuruhnya.” Colby tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Baiklah, Jessi. Sekarang lebih baik kamu masuk, nanti ketinggalan pesawat,” ujar Colby.
Jessica masuk untuk check in. Sedangkan Colby langsung meninggalkan airport dan kembali ke kediaman Carlos.
Setelah check in Jessica langsung pergi ke Imigrasi untuk mendapatkan stamp di pasport, kemudian pergi ke ruang tunggu.
Sementara di rumah, nampak Carlos sedang mondar-mandir di dalam kamar, dia terlihat khawatir dengan kepergian sang istri. Dia berpikir Jessica tidak akan kembali lagi ke rumah. Tiba-tiba kamarnya di ketuk, Carlos membuka pintu lalu melihat Acel sedang berdiri dengan membelakangi benda kayu.
“Ada apa, Acel?” Acel memutar tubuhnya setelah mendengar suara papanya.
“Mama mana, Pap?”
“Mama pergi ke Mexico,” sahut Carlos sembari keluar dari kamar dan pergi ke ruang santai diikuti Acel. Mereka berdua duduk dan berbincang-bincang mengenai Cella. Ada perasaan menyesal dalam dirinya sudah menghilangkan nyawa Logan. Carlos tertunduk lalu Acel memegang punggung papanya.
“Apa yang papa pikirkan?” tanya Acel seraya menatap Carlos yang sedang menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Semestinya papa tidak menyuruh Robert untuk membunuh Logan, tapi semua sudah terjadi.” Carlos meletakan kedua tangan di kepala sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
“Tidak usah di sesali, apa yang papa lakukan itu sudah benar.” Carlos hanya diam, kemudian dia berdiri kembali dan pergi ke mini bar. Seperti biasa dia mengambil red wine lalu pergi ke halaman belakang.
Sementara itu Jessica tiba di airport pada siang hari, terlihat Kairos sudah menunggunya di depan pintu kedatangan. Kairos melihat Jessica sedang berjalan ke arahnya sambil menarik koper. Kakak Cella menyambut Jessica, dia memeluk wanita itu dengan erat. Mereka berdua saling berpelukan, kemudian Kairos mencium kedua pipi Jessica.
“Bagaimana keadaan Cella?” tanya Jessica seraya melepaskan pelukannya.
“Kita bicarakan di mobil.” Kairos mengangkat koper Jessica dan memasukan ke dalam bagasi. Kairos dan Jessica masuk ke mobil lalu langsung meluncur ke kediaman Kairos. Jessica tidak sabar lagi ingin melihat Cella, dia meminta Kairos untuk melajukan kendaraannya.
“Mama terus memikirkan Cella, mama bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Mama bisa merasakan perasaan Cella saat ini,”
“Aku juga, Mam. Bagaimana papa bisa seegois begitu, dia pernah merasakan bagaimana kehilangan mama waktu itu. Tapi mengapa dia berbuat seperti itu.” Kairos tidak habis pikir dengan Carlos. Dia juga pernah merasakan bagaimana dia sempat kehilangan Tania.
“Acel juga seperti itu karena dia belum merasakan bagaimana kehilangan orang yang dia cintai,” ujar Kairos sambil menyetir.
“Mama juga tidak habis pikir mengapa papa dan Acel bisa seperti itu,” sahut Jessica seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka tiba kemudian Kairos turun dan mengambil koper Jessica di bagasi lalu terdengar teriakan Cella memanggil Logan sambil menangis.
Jessica langsung berlari menuju ke kamar, dia masuk dan duduk di sisi tempat tidur. Jessica memeluk Cella dengan erat, dan menangis melihat keadaan putrinya. Dia membelai dan mengecup ubun kepala Cella.
“Sayang, ingat kamu sedang hamil.” Jessica berusaha menenangkan Cella.
“Mam, aku ingin Logan. Cari dia, Mam. Logan belum mati, dia masih hidup.” Air mata kembali menetes di pipi Jessica, dia merasa prihatin melihat keadaan sang putri.
Jessica terus membelai rambut putrinya lalu Kairos masuk dan berdiri di dekat Jessica dan Cella, serta mengusap kepala sang asik. Dia merasa sangat sedih melihat keadaan Cella.
“Cella, aku akan mencari Logan tapi kamu harus berjanji padaku.” Cella melepaskan pelukannya dari Jessica lalu menatap Kairos.
“Kairos tolong cari Logan,” mohon Cella sambil menangis.
“Aku akan mencari Logan asalkan kamu berjanji padaku tidak akan menangis lagi dan menjaga kandunganmu, kamu harus makan dan minum susu.” Cella menganggukan kepala dan meraih tangan sang kakak dan menggenggamnya.
“Iya, aku janji. Aku akan makan dan minum susu. Tolong cari Logan sekarang,” pinta Cella seraya menghapus air matanya.
Kairos tersenyum kemudian mengecup ubun kepala Cella dan meninggalkan kamar lalu pergi ke ruang kerja. Kairos menghidupkan komputer, dia ingin memesan tiket ke Amerika.
__ADS_1