
Logan memilih tinggal di perkebunan dia ingin dekat dengan kedua anaknya, walaupun hatinya terasa sakit melihat kemesraan Eduardo dan Cella dia terus bertahan.
Perhatian-perhatian yang di berikan Logan kepada putranya membuat anak itu mulai menyukai pria itu. Dia bahkan mengajari sang putra untuk memanggil dirinya dengan panggilan papi.
Awalnya Lucio tidak mau, Logan mengerti karena saat Cella meninggalkan dia putranya masih kecil dan belum tahu apa-apa. Tapi seiring waktu anak itu mulai memanggilnya papi mengikuti sang kakak.
Tidak lama lagi pernikahan Eduardo dan Cella akan di langsungkan, sepasang kekasih itu pergi mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat mereka akan menikah.
Lucio dan Sabrina tidak ikut dengan Cella, mereka berdua bermain dengan Logan di perkebunan. Pria itu sangat bahagia bisa bersama dengan kedua anaknya.
Sementara Cella dan Eduardo sedang mencoba pakaian yang akan mereka kenakan. Wanita itu mencoba gaun pengantin dan berdiri di depan cermin. Eduardo memeluknya dari belakang dan mengatur rambutnya Cella ke samping.
“Kamu terlihat sangat cantik dengan gaun ini,” bisik Eduardo lalu Cella tersenyum memandang pria itu dari cermin.
“Benarkah?” tanya Cella memegang tangan pria itu.
“Iya, Sayang. Kamu sangat cantik.” Cella memutar tubuhnya menghadap Eduardo kemudian di melingkarkan tangannya di punggung pria itu.
“Kamu juga terlihat tampan dengan pakaian ini,” ujar Cella dengan bercanda lalu Eduardo tertawa.
“Benarkah?” tanya Eduardo dengan mengernyitkan dahinya.
“Tentu saja, kalau tidak tampan mana mungkin aku akan menikah denganmu?” canda Cella lalu Eduardo tertawa kembali.
Cella juga ikut tertawa dan melepaskan tangannya dari punggung Eduardo lalu dia meminta pria itu membuka resleting gaun.
Cella melepaskan gaun itu kemudian dia menemui Eduardo yang sedang menunggunya di depan. Mereka berdua masuk ke mobil dan kembali ke perkebunan.
Dari jauh Cella melihat Logan dan Lucio sedang bermain di perkebunan, dia tersenyum melihat Lucio berlari sambil tertawa.
“Kamu lihat, Logan begitu cepat dekat dengan anak-anak,” ujar Eduardo sambil memarkirkan mobilnya kemudian dia turun dan membukakan pintu untuk Cella.
Cella hanya tersenyum dan memperhatika Lucio yang masih berlari-lari. Hm … kamu tidak tahu kalau dia anak Logan. Gumamnya dalam hati.
Cella turun kemudian dia masuk ke dalam rumah di ikuti Eduardo. Tiba di dalam pria itu langsung memeluk kekasihnya, mereka berdua saling berciuman dan memainkan lidah.
“Aku tidak sabar lagi ingin menikah denganmu,” ujar Eduardo seraya membelai wajah Cella.
“Tinggal beberapa hari lagi,” sahut Cella kemudian Eduardo kembali mencium bibir wanita itu.
Mereka berdua kembali saling berciuman dan memainkan lidah, tanpa mereka sadari Logan sedang memperhatikan aksi pasangan kekasih itu dari halaman belakang.
Logan menurunkan Lucio dan membiarkan dia bermain-main dengan sepedanya. Pria itu terus memperhatikan Cella dan Eduardo saling berciuman.
Dia menundukkan kepala saat melihat tangan Eduardo meremas dada Cella. Hatinya terasa sakit, dia menarik napas panjang dan memperhatikan pria itu membaringkan sang mantan di sofa dan menindih tubuhnya.
Pria itu tidak tahan lagi kemudian dia menggendong Lucio dan pergi. Dia mendudukan putranya di booster seat kemudian Logan masuk ke mobil dan menundukkan kepala di stir, mata terpejam. Terbayang saat Cella dan Eduardo berciuman, dadanya terasa sesak.
“Inilah yang dirasakan Cella saat itu, mungkin lebih sakit dari ini.” Logan mengangkat kepalanya dan menghidupkan mesin mobil kemudian membawa Lucio ke bungalow.
Sepanjang jalan ke bungalow air matanya menetes, dia tidak rela wanita itu dengan laki-laki lain. Logan tiba kemudian dia menngangkat Lucio, dan membiarkan anak itu berjalan di depannya.
“Papi Logan ayo main,” panggil Lucio lalu Logan tersenyum dan bermain bersama putranya.
Sementara di rumah besar itu terdengar desahaan-desahaan dari sepasang kekasih, mereka berusaha saling memberikan kenikmatan. Pria itu terus bekerja, dia ingin membuat calon istrinya mendapatkan kenikmatan.
Sementara wanita itu, dia terus mendesaah sambil tangannya terus membelai rambut sang kekasih. Permainan Eduardo membuat dia menjerit kenikmatan.
Pria itu semakin bergairah mendengar rintihan dari bibir Cella, dia melakukan dengan cepat lalu mereka berdua berpelukan dengan erat. Eduardo dan Cella mencapai puncak kenikmatan.
Eduardo terbaring di atas tubuh Cella, lalu dia mengecup bibir wanita itu. Dia berbaring di samping sang kasih dan menariknya untuk tidur di dada bidang berotot miliknya.
****
__ADS_1
Dari teras kamar kembali Logan melihat kemesraan Cella dan Eduardo, dia terus memperhatikan sepasang kekasih itu sedang berciuman di kolan renang. Pria itu mengingat saat kebersamaannya bersama sang mantan.
Terdengar tawa Cella saat Eduardo menarik dia ke dalam pelukannya, dia mencolek pinggang Cella lalu wanita itu tertawa dan menahan tangan sang kekasih.
“Geli, Honey,” ujar Cella sembari berenang menjauh dari Eduardo tapi pria itu dengan cepat menarik kakinya sehingga Cella terhenti dan tertawa. Dia langsung memeluk dan mengecup kening calon istrinya.
“Apakah kamu bahagia?” tanya Eduardo dengan melingkarkan tangannya di pinggang Cella.
“Iya, aku bahagia,” jawab Cella dengan melingkarkan tangannya di punggung pria itu.
Mereka berdua berciuman kemudian Eduardo meremas dada Cella. Pasangan kekasih itu saling memainkan lidah lalu Cella melingkarkan kakinya di pinggang Eduardo.
Sedangkan Logan tidak berhenti memperhatikan Cella dan Eduardo dari teras, dia memperhatikan jemari sang sepupu sedang memainkan dada wanita itu.
Menelan saliva’pun dia tidak sanggup saat melihat jari Eduardo menyelinap di antara paha Cella, Logan bersandar di dinding dan memejamkan mata. Air mata menetes di pipi, pria itu berjalan kemudian duduk di sisi tempat tidur.
Kembali dia mendengar pintu kamar di buka dan terdengar tawa Cella dan Eduardo. Logan berbaring dan mengingat semua kenangan indah dia bersama sang mantan di rumah ini.
Logan bangun lalu dia mendengar desahaan Cella. Dia tidak tahan lagi lalu pria itu keluar dan pergi, saat dia melewati kamar mantan Cella terhenti.
Dia melihat pintu itu terbuka sedikit, Logan mengintip dan melihat wanita itu sedang berkerja di atas tubuh sepupunya. Dada semakin sesak melihat kelincahan sang mantan serta rintihan kenimatan yang keluar dari bibir mereka.
Ternyata begini rasanya sakit melihat orang yang dicintai bercinta dengan pria lain, hati bagaikan diiris, dada terasa sesak, jantung bergemuruh. Tubuh seakan remuk, hidup bagaikan tidak ada harapan lagi. Rasanya ingin mati saja.
Inilah yang Cella alami saat mendapati sang suami sedang bercinta dengan wanita lain, kepercayaan yang dia bangun runtuh seketika bahkan hancur. Rumah tangga yang harmonis tidak bertahan lama hanya sekejap saja lalu berakhir.
Logan tidak berhenti, dia bahkan melihat sepupunya menghempaskan wanita itu di ranjang dan menindih tubuh yang masih telanjang itu. Pria itu memperhatikan Eduardo yang terus berusaha memberikan kenikmatan kepada Cella.
Dia bersandar di dinding dan memasukan tangan ke dalam celana jeans, pria itu memainkan benda yang sudah keras lalu kembali dia mengintip permainan mereka.
Logan menggerakkan dengan cepat tangannya saat mendengar erangan wanita itu. Dia melihat Cella mengalami pelepasan sedangkan Eduardo masih bekerja di atas tubuh sang mantan.
Logan tidak tahan lagi kemudian dia menggerakkan tangan dengan cepat lalu dia bersandar di dinding, dia mengalami pelepasan. Pria itu mengambil tissue dan membersihkannya kemudian meninggalkan rumah.
Dia pergi ke bungalow, sepanjang jalan terbayang apa yang di lakukan Cella dan Eduardo. Dia memukul gagang stir dan melajukan mobilnya. Logan tiba kemudian pergi ke mini bar dan mengambil minuman yang mengandung alkohol.
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.” Logan berteriak dan duduk di lantai. “Aku memang bodoh,” umpatnya seraya meminum minaman yang ada di tangannya.
Sementara di kamar, nampak pasangan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suami istri itu terbaring lemas di ranjang. Mereka berdua baru saja selesai melakukan olahraga yang mendatangkan kenikmatan.
“Aku sangat bahagia bisa memilikimu.” Eduardo berucap setelah mengatur napasnya menjadi teratur. Cella memutar tubuhnya menghadap pria itu.
“Ada yang ingin aku katakan padamu, tapi aku mohon kamu jangan marah.” Eduardo mengernyitkan dahi menatap sang kekasih.
“Katakan saja,” ujar pria itu seraya membelai rambut Cella.
“Kamu janji tidak akan marah?” tanya Cella seraya duduk di tempat tidur menghadap Eduardo. Lalu pria itu memegang tangannya.
“Aku janji, aku tidak akan marah. Katakan saja.” Cella menatap mata Eduardo kemudian dia menundukkan kepala. Pria itu bangun dan duduk kemudian mengangkat wajah kekasihnya.
“Ada apa?” Cella menatap mata pria itu, dia ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Aku minta maaf, aku sudah berbohong padamu,” ujar Cella dengan menundukkan wajahnya kembali.
“Berbohong apa, Sayang? Katakan padaku.” Cella menarik napas panjang dan memegang tangan Eduardo.
“Begini, Honey. Sebenarnya suamiku belum mati, tapi kami bercerai.” Pria itu terkejut dan menatap Cella dengan memicingkan matanya.
“Benarkah? Mengapa kalian bercerai?” tanya Eduardo, dia sangat penasaran dan ingin tahu cerita yang sebenarnya.
“Iya, kami bercerai. Setelah setahun lebih di Philipin aku mengurus perceraian dengan mantan suamiku.” Wajah pria itu berubah serius dan memegang tangan Cella.
“Mengapa? Apakah dia mengkhianatimu?” Cella menganggukan kepala kemudian dia menceritakan semuanya kepada Eduardo.
__ADS_1
“Sebenarnya aku masih ragu untuk menerima laki-laki karena aku takut dikhianati lagi,” ujar Cella dengan menyeka air mata. Dia belum ingin mengatakan kalau Logan adalah mantan suaminya.
“Aku janji, aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku akan selalu setia kepadamu,” kata Eduardo meyakinkan wanita itu.
“Oh ya apakah mantan suamimu masih tinggal di Brazil?” tanya Eduardo lagi.
“Iya, dia tinggal di Brazil dia mempunyai bisnis di Rio de Janeiro.” Eduardo mengangguk-anggukkan kepala dia ingin mencari tahu siapa mantan suami dari wanita itu.
“Apakah kalian berdua masih saling berkomunikasi?” Cella menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak pernah,” jawab Cella.
“Lalu, bagaimana tanggapan kedua orang tuamu?” tanya Eduardo lagi, dia begitu penasaran mendengar kisah cinta dan rumah tangga wanita itu.
“Sampai saat ini kedua orang tuaku tidak tahu kalau aku sudah bercerai, aku menyembunyikan semuanya dari keluarga.” Eduardo membelai rambut wanita itu dan terus mendengarkan penjelasan kekasihnya.
“Saat mereka ingin berkunjung ke Brazil aku selalu mengatakan kalau kami akan pergi ke Amerika. Aku tahu papa sangat rindu kepada Sabrina dan Lucio.” Eduardo tersenyum kemudian dia memegang tangan Cella.
“Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Apakah kamu tidak ingin kedua orang tuamu tahu?” Cella menatap Eduardo lalu dia menarik napas panjang.
“Iya, aku tidak ingin mereka tahu.” jawab wanita itu dengan menggelengkan kepala.
“Lalu siapa yang akan mendampingimu?” tanya Eduardo lagi dengan membelai wajah calon istrinya.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Cella dengan suara memelas.
“Bagaimana kalau Logan saja yang mendampingimu?” sela Eduardo. Cella terkejut dan ingin menolaknya.
“Tapi, Honey?” Eduardo tersenyum dan memegang kedua pipi wanita itu.
“Sayang, nanti aku yang akan bicara dengan Logan, kamu tenang saja.” Cella terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Eduardo menarik wanita itu ke dalam pelukkannya.
“Jadi kamu melihat dengan matamu mantan suamimu berselingku?” tanya Eduardo seraya meletakkan kepala wanita itu di dadanya.
“Iya, bahkan aku melihat dan mendengar desahaan mantan suamiku. Tangisan dan teriakan wanita itu meminta untuk berhenti tapi dia terus melakukannya.” Eduardo mengerutkan dahi mendengar penjelasan kekasihnya.
“Apakah wanita itu masih perawan?” tanya Eduardo dengan penasaran.
“Aku rasa tidak, mereka sering bertemu dan melakukan hubungan itu mana mungkin masih perawan.” Eduardo duduk kemudian dia menatap kekasihnya.
“Oh … mungkin mantan suamimu punya kelainan.” Cella menatap pria itu dengan heran.
“Maksudmu?” tanya Cella seraya ikut duduk.
“Wanita itu berteriak kesakitan karena mantan suamimu bermain di tempat pembuangan.” Cella membelalakan mata mendengar penjelasan Eduardo.
“Oh ya?” Dia masih tidak percaya Logan melakukan hal itu.
“Sayang, dia melakukan kepada wanita itu karena dia tidak bisa melakukan padamu dan semakin pasangannya berteriak dia akan semakin bergaira.” Cella terdiam dan berpikir.
Berarti Logan memiliki kelainan? Tanya Cella dalam hati. Dia tidak tahu mantan suaminya diajarkan oleh Maurent sehingga menjadi ketagihan dan kini melampiaskannya kepada Dylla sekaligus ingin balas dendam.
Lalu terdengar suara Sabrina memanggi Cella, mereka berdua memakai pakaian kemudian wanita itu membuka pintu. Dia tersenyum kepada putrinya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Cella dengan membelai rambut sang putri.
“Mommy, papi Logan di mana?” tanya Sabrina sambil melihat Eduardo yang sedang berbaring.
“Mungkin di kamarnya, Sayang,” sahut Cella.
“Kamu tidak mencariku, Sayang,” sela Eduardo lalu Sabrina tertawa dan berlari naik ke tempat tidur. Dia memeluk Eduardo dan mencium ke dua pipi pria itu.
“Aku mencari papi Logan karena dia bilang mau tidur bersamaku,” ujar Sabrina dengan mencubit pipi Eduardo lalu pria itu tertawa.
__ADS_1
“Oh begitu,” gumam Eduardo kemudian mengecup kening Sabrina
Cella tersenyum melihat Sabrina kemudian dia membelai dan mengecup ubun kepala putri kesayangannya. Sabrina turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Cella, kemudian dia mencari Logan.