
Logan pergi ke rumah boss barunya, dia tiba dan melihat rumah sang atasan begitu megah. Lalu datang seorang pelayan rumah membukakan gerbang. Dia masuk bersama mobil dan memarkirkannya. Logan turun kemudian melangkahkan kaki berjalan bersama pelayan pergi ke dalam rumah.
Pelayan langsung mengantar Logan ke ruang kerja kemudian pergi mengetuk pintu lalu terdengar suara wanita dari dalam menyuruhnya masuk.
Pelayan itu membuka pintu dan menyuruh Logan untuk masuk. Pria itu mengikuti perintah sang pelayan dan menyapa seorang wanita yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
“Selamata pagi, Nona. Aku Logan, orang tuamu memintaku untuk datang kesini,” ucap Logan sambil memperhatikan wanita itu. Dia cantik sekali, gumam Logan dalam hati jakunnya bergerak menelan saliva melihat kedua bukit yang begitu menonjol di depan dada wanita itu. lalu wanita itu menatap Logan dan tersenyum.
“Oh, yah. Selamat pagi, Logan. Silahkan duduk,” sapa wanita itu dengan ramah dan menyuruh Logan duduk. Logan duduk di kursi tepat di depan meja kerja.
“Oh ya, jangan panggil aku nona. Panggil saja Maurent,” ujar Maurent seraya menyandarkan badannya di sandaran kursi. Dia memperhatikan wajah logan lalu dia berkata dalam hati. Dia tampan sekali, tidak cocok untuk di jadikan bodyguard.
“Oh ya, umurmu berapa?” tanya Maurent dengan memperhatikan tubuh pria itu.
“Um … aku 30 tahun,” jawabnya dengan tersenyum.
“Hm ... ternyata kita hanya berbeda 4 tahun ya,” seloroh Maurent sambil tersenyum kemudian dia berdiri.
“Apakah kamu sudah sarapan?” tanya Maurent lagi.
“Em, iya. Sebelum kesini aku sudah sarapan di hotel,” jawab Logan sambil ikut berdiri.
“Baiklah kalau begitu aku sarapan dulu, dan kamu bisa menungguku disini atau di depan.” Logan mengikuti wanita itu dari belakang sambil memperhatikan tubuh seksi itu, dia menggeleng-gelengkan kepala untuk menetralkan rasa kagum kepada wanita itu.
‘Ingat kamu sudah memiliki Cella.’ Logan mengingatkan dirinya sendiri kalau dia sudah memiliki kekasih.
“Aku tunggu di depan saja,” ujar Logan lalu mereka berdua keluar dari ruang kerja.
Maurent pergi ke ruang makan sedangkan Logan, dia keluar dan pergi duduk di taman. Dia mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi kekasihnya, ada nada panggil lalu terdengar suara manja gadis itu.
“Hallo, Logan. Kenapa semalam kamu tidak meneleponku?" Pria itu tersenyum mendengar suara manja sang kekasih.
“Maaf, aku tiba di San Jose sudah larut malam, jadi aku pikir kamu pasti sudah tidur,” jawab Logan sambil mondar-mandir di halaman depan.
“Semalam aku belum tidur, aku menunggu teleponmu. Kamu tahu, aku sangat khawatir padamu,” sahut Cella dengan menunjukkan wajah cemberutnya walau’pun sang kekasih tidak melihatnya. Tapi Logan sudah bisa membayangkan bagaimana mimik wajah Cella kalau sedang manja.
“Jangan khawatir padaku, aku baik-baik saja. Apakah kamu kuliah hari ini?” tanya Logan lagi.
“Iya, tapi nanti siang. Oh ya kamu bilang setiap minggu akan datang kan?” tanya Cella dengan manja.
__ADS_1
“Iya tentu saja, sayang. Ahh ... sehari tidak bertemu denganmu sudah membuat aku rindu padamu,” canda pria itu lalu terdengar tawa Cella dari seberang telepon.
“Aku juga rindu padamu,” ujar Cella. “Kamu tahu aku tidak bisa jauh darimu,” sambungnya lagi lalu pria itu tertawa.
“Baiklah, Sayang. Aku harus bekerja nanti aku telepon lagi. Aku mencintaimu,” ucap Logan sambil tersenyum sendiri.
“Aku juga mencintaimu, hati-hati ya,” balas Cella kemudian terdengar telepon di tutup.
Logan memasukkan kembali ponsel ke saku celana kemudian dia duduk di taman dan menunggu Maurent selesai.
****
Cella keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan, disana sudah duduk semua anggota keluarga. Dia menarik kursi kemudian dia duduk dan membuka piring, Cella mengambil sarapan dan makan. Sedangkan Jessica memperhatikan putrinya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
“Apakah kamu kuliah hari ini?” tanya Jessica membuka percakapan.
“Em ... iya, Mam. Tapi siang nanti,” jawab Cella seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya. “Oh ya, Mam. Aku pergi sendiri saja ke kampus, tidak usah khawatir. Logan tidak ada di kota ini. Dia sudah pergi ke kota lain untuk bekerja,” ujar Cella kemudian dia mengambil gelas dan menuang orange juice dan meminumnya. Dia tidak memperdulikan Acel, sedangkan Carlos, dia hanya diam saja.
“Baiklah, Sayang,” ucap Jessica kemudian dia berdiri dan mencium ubun kepala putrinya dan membawa piring kotor ke tempat cuci piring.
Cella berdiri dan kembali ke kamarnya, dia masuk dan duduk di meja belajar kemudian menghidupkan laptopnya.
San Jose
Mereka tiba lalu Logan turun dan membukakan pintu kepada Maurent. Wanita itu turun dan langsung masuk ke dalam kantor, sedangkan Logan dia memarkirkan mobil dan menunggu di ruang tunggu. Dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Cella lalu masukkan kembali ke dalam saku celana.
Selang 2 jam, terlihat Maurent Keluar dari lift bersama seorang pria, dia adalah rekan bisnis wanita itu. Maurent melihat Logan lalu dia berjalan bersama rekannya menghampiri Logan yang sedang duduk.
“Hi, maaf sudah menungguku terlalu lama,” ujar Maurent dengan memberikan senyumannya yang indah kepada Logan. Pria itu berdiri dan tersenyum kepada Maurent juga rekan bisnisnya.
“Tidak apa-apa, bukankah itu sudah menjadi tugasku,” canda Logan lalu Maurent tertawa.
Maurent mengajak Logan untuk pergi ke kantornya, mereka berdua keluar dari perusahan itu dan masuk ke dalam mobil. Kali ini Maurent tidak mau duduk di belakang, dia ingin duduk di depan bersama pria itu.
Logan langsung menjalankan mobilnya menuju ke kantor, sepanjang jalan mereka berdua berbincang-bincang.
“Apakah kamu sudah lama menekuni profesimu ini?” tanya Maurent sambil memperhatikan wajah samping pria itu.
“Um, belum lama. Aku menekuni profesi sebagai bodyguard baru satu tahun,” jawab Logan sambil tatapannya lurus kedepan.
__ADS_1
“Oh, belum lama ya,” sahut Maurent di ikuti anggukan kepala pria itu. “Oh ya sebentar lagi kita sampai di kantor. Nanti di persimpangan sana kamu belok kiri ya,” jelas Maurent sambil menunjuk dengan jari ke depan.
“Iya, Nona,” jawab pria itu dengan bercanda lalu Maurent tertawa dan menggerakkan jari telunjuknya mengarah kepada Logan.
“Jangan memanggil aku nona lagi, ok!” tegas Maurent dengan bercanda lalu Logan tertawa kembali.
Akhirnya mereka tiba di perusahan. Maurent dan Logan turun dan masuk ke dalam kantor, Maurent mengajak Logan untuk ikut bersamanya ke ruang kerja.
Logan mengikuti Maurent dari belakang, mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja kemudian pria itu langsung duduk di sofa.
Sedangkan Maurent dia meletakkan tas di meja kemudian dia duduk dan menghidupkan komputernya.
Logan memperhatikan ruang kerja bosnya yang begitu luas, dia juga memperhatikan foto yang terpajang di ruang kerja itu.
“Apakah dia itu pacarmu?” tanya Logan sambil memperhatikan foto Maurent bersama seorang pria. Wanita itu mengangkat kepala dan melihat bingkai foto itu kemudian dia tersenyum.
“Dia bukan pacarku, dia itu kakaku. Tapi dia sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu karena kecelakaan, aku belum punya pacar,” jawab wanita itu sambil tersenyun dan memperhatikan komputer.
“Maaf, aku turut prihatin. Oh ya, wanita secantikmu tidak punya pacar? Aku tidak percaya,” ujar Logan lalu wanita itu tertawa.
“Iya, aku serius. Aku belum punya pacar. Semenjak kakakku pergi aku yang mengurus perusahaan orang tuaku di sini,” jawab Maurent, “Aku tidak ada waktu untuk pacaran karena sangat sibuk,” sambungnya lagi dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja.
“Apakah setiap hari kamu bekerja sehingga tidak ada waktu untuk pacaran?” tanya Logan lagi, dia begitu penasaran wanita secantik Maurent tidak punya pacar.
“Aku sudah pernah mencoba tapi akhirnya hubungan kami kandas karena aku sibuk, aku sering ke luar kota.” Pria itu menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Oh begitu,” gumam Logan lalu Maurent tersenyum dan memperhatikan wajah pria itu.
“Baiklah, aku tunggu kamu di bawah saja,” ujar Logan seraya berdiri dari duduknya.
“Tidak apa-apa, kamu tunggu di sini saja,” pinta wanita itu sambil berdiri dari duduknya.
“Tapi aku mau merokok, jadi sebaiknya aku keluar nanti kembali lagi,” kata Logan lagi.
“Baiklah kalau begitu,” sahut Maurent lalu Logan keluar dari ruang kerja. Wanita itu memperhatikan kekasih Cella yang berlalu dari ruang kerjanya kemudian dia tersenyum sendiri.
“Dia sangat tampan, aku menyukainya," gumam Maurent, “Aku suka jenggotnya,” katanya lagi sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah pria itu.
Selamata membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih.