
Logan hanya dua hari di Amerika, kini dia harus kembali ke Brazil karena pekerjaannya sangat banyak, nampak Sabrina bergelayut manja di pelukan papinya. Dia belum ingin Logan kembali ke negaranya.
“Sayang, papi harus bekerja,” bujuk Logan dengan mencium kening Sabrina.
“Tapi aku ikut,” ujar Sabrina dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Logan.
“Sabrina nanti pulang bersama mommy.” Cella membelai rambut Sabrina dan membujuk putrinya itu.
Sabrina melepaskan pelukannya kemudian mencium kedua pipi Logan. Cella tersenyum kemudian memeluk suaminya dan mengecup bibir pria itu.
“Hati-hati,” ucap Cella dengan membelai pipi Logan.
“Terima kasih, Sayang. Jangan lama-lama disini, aku tidak bisa tidur kalau jauh dari kalian berdua.” Cella terkekeh dan kembali memeluk suaminya.
“Iya, aku dan Sabrina minggu depan pulang.” Logan tersenyum kemudian mencium bibir Cella juga mengecup kedua pipi putrinya.
“Aku pergi.” Cella mengantar Logan sampai di depan kemudian kembali memeluk pria itu.
Logan diantar oleh Bane ke aiport, perginya sang suami Cella mengajak Sabrina untuk masuk dan meminta pengasuh untuk menjaganya.
Cella menuju ke kamar Federico dan duduk di sisi tempat tidur sambil menatap opanya yang tertidur pulas. Jessica masuk kemudian berdiri di dekat Cella dan mengelus rambut putrinya.
“Bagaimana kandunganmu?” tanya Jessica seraya duduk di dekat Cella.
“Baik-baik saja,” sahut Cella dengann tersenyum kepada mamanya. “Senin depan aku dan Sabrina akan kembali ke Brazil.” Jessica menganggukan kepala mengerti.
“Mama akan ke sana saat kamu akan melahirkan.” Cella terlihat sangat senang kemudian memeluk Jessica.
Brazil
Akhirnya Logan tiba di Brazil, dia langsung menuju ke kediamannya. Logan meletakan koper dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dia masih curiga akan hubungan sang istri dengan Frank.
Begitulah laki-laki, kalau mereka sudah selingku di belakang pasti akan mencurigai kalau pasangannya juga berbuat hal yang sama seperti dirinya.
Apa yang dipikirkan Cella benar, hanya saja dia belum mendapatkan bukti. Wanita itu masih percaya kepada pria itu, selama dia tidak berbuat maka Cella percaya suaminya juga tidak melakukan hal itu. Itulah prinsip Cella.
Karena terlalu banyak memikirkan hubungan sang istri dan Frank pria itu tertidur. Pagi hari dia terbangun dan melihat jam digital yang ada di nakas sudah menunjukan pukul 08:20am.
Logan segera bangun dan pergi mandi, hari ini dia akan pergi ke kantor. Selesai, dia masuk ke walk in closet dan mengambil kemeja serta celana slim dan memakainya.
Begitu selesai dia segera turun ke ruang makan dan mengambil roti lalu mengolesnya dengan selai, merasa kesepian tidak ada Cella dan putrinya di rumah.
Logan langsung berangkat ke kantor, hari ini dia akan mengadakan meeting dengan para kepala bagian dan staf di perusahannya. Logan tiba sebelum masuk ke ruang kerja, dia meminta Sara untuk memberitahukan kalau meeting akan segera di mulai.
Suami Cella meletakan tas kerja di meja kemudia menarik kursi dan duduk, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Cella tapi tidak ada jawaban dari sang istri.
Pria itu berdiri dan pergi ke ruang meeting, disana sudah berkumpul para kepala bagian dan beberapa staf. Mereka berdiri memberi hormat kepada Logan lalu duduk kembali.
Logan duduk dan mengambil laporan yang diberikan sara lalu memeriksanya, nampak raut wajahnya berubah. Dia terlihat kesal karena pekerjaan yang di percayakan kepada mereka belum dikerjakan secara maksimal.
Dia meninggalkan ruang meeting dan kembali ke ruang kerja, dia mengambil ponselnya lalu melihat beberapa panggilan dari istrinya. Logan menelepon kembali tapi tidak ada jawaban.
Kembali ponselnya berbunyi, dia melihat bukan dari istrinya tapi dari pekerja yang ada di lapangan. Dia langsung menjawab telepon itu.
“Halo, ada kabar apa dari pelabuhan.” tanya Logan seraya duduk di kursi.
“Tuan, kapal Logistik yang akan menuju Asia sedang bermasalah dengan mesinnya.” Logan menggeleng-gelengkan kepala kemudian berdiri.
“Aku segera ke sana.” Dia menutup telepon dan memanggil sopir juga manager bagian lapangan ikut bersamanya.
Sopir mengantar mereka ke pelabuhan, begitu tiba Logan langsung turun dan menemui karyawannya, dia menyuruh bagian mesin untuk menemuinya.
“Sudah berapa lama mesinnya bermasalah?” tanya Logan dengan wajah terlihat kesal.
“Baru kali ini, Tuan. Kami sedang memperbaikinya.” Logan memperhatikan beberapa kapal milik perusahaannya.
“Kapal itu akan menuju kemana?” Manager melihat jadwal kapal tersebut di laptop yang dia bawah.
“Itu ke beberapa negara di asia juga.” Logan memperhatikan kontainer-kontainer yang sedang di muat di kapal itu.”
“Untuk pengiriman menggunakan kapal itu ada berapa kontainer?” Kembali manager melihat ke laptop dan menjelaskan kembali kepada bosnya.
“20 kontainer, Tuan,” jawab sang manager kemudian kembali Logan bertanya.
“Kapasitas kapal berapa kontainer?”
__ADS_1
“100 Kontainer, Tuan.” Tampak wajah Logan berubah marah.
“Kenapa tidak kalian satukan saja di kapal itu untuk pengiriman ke Asia?” Manager terdiam kemudian Logan memanggil bagian mesin.
“Kapal ini masuk dok.” Pria itu menganggukkan kepala kemudian Logan meninggalkan pelabuhan dengan keadaan emosi.
“Mengurus hal itu saja harus aku yang turun tangan.” Dia masuk ke mobil kemudian meminta sopir mengantarnya kembali ke kantor.
Hari ini pria itu terlihat sangat kesal, istrinya tidak menjawab telepon dan pekerjaan para staff tidak ada yang benar.
****
Seminggu di Amerika akhirnya Cella kembali ke Brazil, dia tidak memberitahukan kepada suaminya kalau dia akan kembali. Cella bersama putrinya tiba di Brazil siang hari. Saat sampai di kediaman mereka Sabrina langsung berlari ke kamarnya.
Begitu juga Cella, dia pergi ke kamar kemudian meletakkan koper dan mengambil handuk, dan mandi. Dia berencana ingin mengunjungi kantor suaminya.
Sementara di kantor, terlihat Logan sedang bermesraan dengan Dylla. Dia tidak tahu kalau istrinya sudah berada di rumah, pria itu terlihat asik berciuman di sofa.
Ruangan di ketuk lalu mereka berdua menghentikan ciuman, Logan berdiri dan pergi membuka pintu. Dia melihat asistennya kemudian menyuruhnya masuk.
Sarah tidak masuk dia hanya memberikan map yang berisikan laporan kepada Logan kemudian dia langsung meninggalkan mereka, Sarah tidak suka melihat Dylla.
Logan meletakkan laporan yang di berikan di atas meja kemudian memeriksanya, Dylla berdiri kemudian dia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
“Bagaimana kalau kita makan siang di luar?” Logan melepaskan tangan wanita itu dari lehernya lalu memutar kursi dan menatap wanita itu.
“Baiklah.” Dia berdiri dan mengambil kunci mobil lalu memasukkan ponsel di sakunya. Mereka meninggalkan ruangan dan pergi ke parkiran.
Bersamaan mobil Cella masuk di parkiran, Cella turun dan melihat Logan keluar dari kantor bersama wanita. Dia langsung berjalan menghampiri suaminya, sedangkan Logan dia terkejut melihat istrinya. Dia menjadi gugup tapi dengan cepat dia menyapa wanitanya.
“Sayang, kapan kamu datang?” tanya Logan seraya memeluk dan mengecup bibir istrinya. Sementara Dylla merasa cemburu melihat kemesraan Logan dan Cella.
“Tadi jam sebelas siang,” jawab Cella dengan membalas mengecup bibir suaminya sambil mata tertuju kepada wanita di belakang suaminya.
“Mengapa tidak mengabariku?” Cella tersenyum dan melingkarkan tangan di pinggang sang suami.
“Ingin memberikan kejutan padamu.” Logan tersenyum kemudian memeluk erat tubuh istrinya.
“Aku sangat rindu padamu.” Logan melepaskan pelukannya kemudian mengecup perut Cella.
“Oh ya, kalian akan kemana?” tanya Cella dengan melirik wanita itu.
Wanita itu terlihat begitu kesal karena batal makan bersama dengan Logan, dia masuk ke mobil lalu dia meninggalkan parkiran. Sedangkan Cella dan Logan mereka berdua kembali ke rumah, Logan sangat rindu kepada putrinya.
Tiba di rumah dia langsung berlari ke dalam dan memanggil putrinya, mendengar suara ayahnya Sabrina keluar dari kamar kemudian berlari memeluk Logan.
“Papi, aku sangat rindu padamu.” Suara mungil putrinya membuat dia tertawa, Logan langsung menggendong Sabrina dan mencium kedua pipinya.
“Papi juga sangat rindu padamu, Sayang.” Kembali dia mencium kedua pipi putrinya. Sedangkan Cella, dia tersenyum melihat suaminya dan Sabrina.
Amerika
Terlihat Acel berlari keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil Jessica, wajahnya terlihat cemas.
Carlos dan Jessica terkejut mendengar teriakan Acel mereka berdua keluar dari kamar dan melihat kembar Cella sedang berlari turun dari tangga.
“Ada apa, Acel? Mengapa kamu berteriak?” tanya Carlos dengan khawatir.
“Mam, tolong ke kamarku. Sheren sedang muntah di kamar mandi dan wajahnya terlihat sangat pucat,” ujar Acel dengan wajah cemas.
Jessica dan Carlos langsung bergegas ke kamar Acel, mereka berdua masuk di ikuti oleh kembar Cella. Jessica langsung pergi ke kamar mandi, dan melihat Sheren sedang membungkuk di wastafel.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Jessica dengan memijit punggung Sheren.
“Aku merasa mual, Mam,” sahut Sheren sambil membersihkan mulutnya dengan air.
“Oh, jangan-jangan kamu hamil?” Sheren menatap Jessica dan mengkerutkan dahinya kemudian bersandar di wastafel.
“Bisa jadi, Mam. Aku sudah beberapa bulan tidak period,” ujar Sheren dengan mentap Jessica.
“Um, untuk memastikannya lebih baik kita ke dokter saja,” kata Jessica dengan membelai rambut Sheren.
“Baiklah, Mam.” Jessica dan Sheren keluar dari kamar mandi lalu Acel dan Carlos langsung menghampiri mereka berdua.
“Bagaiman keadaan Sheren?” tanya Carlos kepada Jessica.
__ADS_1
“Iya, Mam. Apakah Sheren baik-baik saja?” tanya Acel dengan khawatir. Jessica tersenyum dan mencubit pipi Acel.
“Sheren tidak apa-apa, kita ke dokter sekarang,” sahut Jessica kepada Acel dan Carlos.
“Kalau tidak apa-apa, mengapa Sheren harus ke dokter?” tanya Acel penasaran.
“Um, kamu akan tahu kalau sudah di sana,” jawab Jessica sambil berjalan bersama Sheren keluar dari kamar.
Carlos dan Acel juga keluar dari kamar, mereka mengikuti Sheren dan Jessica dari belakang. Acel membuka pintu mobil lalu Jessica dan Sheren masuk diikuti Carlos, mereka berempat langsung berangkat ke klinik.
Mereka tiba di klinik lalu Acel dan Carlos langsung pergi mendaftarkan Sheren. Tidak lama kemudian Sheren disuruh masuk oleh perawat.
Mereka semua masuk lalu Jessica dan Sheren duduk, sedangkan Carlos dan Acel berdiri di samping Jessica.
Jessica menjelaskan kepada dokter lalu dokter tersenyum dan menyuruh Sheren untuk berbaring. Istri Acel berdiri dan mengikuti perintah dokter.
Perawat mengoleskan gel di perut Sheren lalu dokter menggerakkan alat usg di atas perut Sheren lalu dia tersenyum.
Acel berdiri di samping brankar lalu matanya tertuju ke layar monitor, begitu juga Carlos dan Jessica.
“Dia sedang hamil, dan usia kandungannya masuk 14 minggu.” Acel membelalakan mata kemudian menatap Carlos dan memeluk pria itu.
“Pap, aku akan memilik anak,” ujar Acel dengan gembira. Carlos tertawa dan memuk erat putranya.
“Papa sangat senang,” kata Carlos kemudian melepaskan pelukkannya.
Dokter selesai memeriksa kemudian kembali duduk begitu juga dengan Sheren. Lalu mereka berbincang-bincang mengenai kehamilan, dokter memberikan resep untuk Sheren.
Selesai dari klinik mereka langsung pulang.
****
Walaupun kandungan semakin besar, Cella tetap bekerja tapi hanya di rumah saja. Dia ke kantor kalau ada hal penting atau ada yang ingin bertemu dengannya.
Seperti hari ini, Cella menerima tamu di ruang meeting. Mereka berbincang-bincang lalu Frank masuk bersama temannya, Cella melihat pria itu kemudian berdiri dan menyambutnya. Frank mengenalkan Cella kepada temannya.
“Oh ya, Cella kenalkan ini Leo rekan bisnisku.” Cella tersenyum kepada Leo dan bersalaman dengannya.
“Senang bertemu denganmu,” ucap Cella dan bersalaman dengan Leo.
“Sama-sama, Nyonya. Ternyata apa yang di katakan Frank benar, Anda sangat cantik.” Cella tertawa dan melirik kepada Frank.
“Jangan panggil aku nyonya, aku seperti terlihat tua,” canda Cella lalu mereka tertawa. “ Panggil saja, Cella.” Cella mengajak mereka ke ruang meeting kemudian mereka kembali berbincang-bincang.
“Oh ya, Cella. Leo pengeksport hasil perkebunan di Eropa.” Cella menatap Leo dan mengangkat kedua alisnya.
“Benarkah?” Leo menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya.
“Bagaimana kalau aku kenalkan kamu kepada suamiku? Perusahaannya bergerak di bidang logistik export import.
“Ide yang bagus,” sela Frank lalu Leo tertawa.
“Baiklah, kapan kamu akan pertemukan aku dan suamimu?” tanya Leo seraya memperhatikan Cella, dia sangat mengagumi kecantikan wanita itu.
“Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke kantor suamiku.” Leo dan Frank saling bertatap mata kemudian mereka berdua berdiri.
“Ayo kalau begitu.” Mereka bertiga langsung meninggalkan ruang meeting dan pergi ke kantor suami dari Cella.
Sementara di kantor, Logan kedatangan Dylla, dia menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dylla tersenyum kemudian melangkahkan kaki menghampiri Logan yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Dylla langsung duduk di pangkuan Logan, dan membelai pipi dan jenggot pria itu kemudian mengecupnya.
Logan dan Dylla berciuman, Dylla membuka resleting Celana Logan lalu dia mengeluarkan milik pria itu.
Dia mengelus milik Logan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Logan memejamkan mata dan membelai rambut Dylla. Dia meraskan Saliva membasahi miliknya.
Sedangkan di mobil, sepanjang perjalanan ke perusahan suaminya Cella tidak berhenti berbincang dengan Leo dan Frank, wanita itu begitu antusias mempromosikan bisnis suaminya.
Leo dan Frank menjadi pendengar setia, terkadang mereka berdua tertawa mendengar candaan Cella. Kedua pria itu sangat senang bebincang dengan istri Logan.
Ketiganya tiba mereka turun dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke kantor, Cella menyapa security kemudian menekan tombol lift.
Begitu Lift terbuka Cella, Frank dan Leo masuk. Kembali Cella menekan tombol angka delapa, lalu dia tersenyum kepada kedua pria itu.
Sementara di ruang kerja Dylla dan Logan sedang berpacu untuk mencapai kenikmatan, Dylla terus beraksi di atas pangkuan Logan.
__ADS_1
Pria itu membantu menggerakkan pinggulnya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu dan menggerakkannya dengan cepat.
Di Luar, Cella, Frank dan Leo tiba di lantai delapan. Cella langsung mengajak mereka bertiga untuk pergi ke ruang kerja suaminya.