
Besok pernikahan Jessica dengan Carlos akan di langsungkan, pasangan kekasih itu masih betah tinggal di villa pinggir pantai. Rencananya siang nanti Jessica dan Carlos akan pulang ke rumah. Kediaman orang tuanya juga tempat dimana pesta pernikahan mereka akan di langsungkan. Jessica berdiri di teras kamar menghadap pantai sedangkan Carlos masih tidur pulas.
Semalam Carlos tidak bisa tidur karena diminta Jessica untuk mengelus belakangnya, maka dari itu Jessica tidak ingin mengganggu tidur sang kekasih.
Jessica keluar kamar sambil membawa kain untuk jadikan sebagai alas dia mengayunkan langkah menuju ke arah pantai, dia ingin duduk-duduk di pasir.
Dia membentang kain di atas pasir kemudian duduk dan memperhatikan ombak yang datang silih berganti. Jessica merasakan desiran angin membelai kulitnya, mengibaskan rambut hitam sehingga tertutup di wajahnya.
“Hm.. terasa tenang hati ini.” Jessica berbaring, melepaskan segala lelah, beban, serta kesedihannya, memandang langit yang begitu cerah.
Jessica berdiri, berjalan menyisir bibir pantai sambil menikmati sejuknya udara di pagi hari, tak terasa dia sudah berjalan begitu jauh. Wanita buncit itu melihat ada batu di bibir pantai.
Dia pergi dan duduk di atas batu sambil menikmati ombak yang datang menyentuh kakinya. Melayangkan pandang ke sekeliling melihat dari jauh Carlos berlari lari menuju ke arahnya.
“Sejauh inikah aku berjalan sampai Carlos terlihat kecil dan villanya juga tidak terlihat.” Jessica tersenyum melihat Carlos.
Tadi saat bangun Carlos langsung mencari Jessica, terkejut sang kekasih tidak ada di villa. Dia langsung bergegas ke pantai dan melihat wanitanya sedang duduk.
Carlos berlari menghampiri Jessica, kini dia sudah berdiri di hadapan sang kekasih dengan napas yang tidak teratur karena berlari. Wajahnya nampak begitu khawatir.
“Sayang aku mencarimu ternyata kamu disini, apa yang kamu lakukan disini. Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ujar Carlos saat dia tiba di hadapan Jessica.
“Babe, aku hanya ingin jalan-jalan saja, tadi ingin membangunkanmu tapi kamu sangat pulas tidurnya. Jadiku pikir, jalan sendiri saja,” tutur Jessica dengan meraih tangan Carlos dan menggenggamnya.
“Sayang, lihat kamu berjalan jauh sekali aku takut dengan kandunganmu.” Sambil menujukan wajah khawatirnya dia mengatur rambut Jessica yang di tiup angin.
“Tidak apa-apa, Babe. Malah bagus kalau dalam keadaan hamil sering berjalan pagi, apalagi udara disini sangat bagus,” sahut Jessica.
“Kamu sudah sarapan?” Jessica menganggukan kepala.
“Iya, tadi aku minum susu dan makan roti.” Carlos tersenyum dan mengecup ubun wanita kesayangannya.
“Kalau begitu kita kembali ke villa ya.” Jessica berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang Carlos sambil menatap pria itu.
“Sebentar lagi, aku masih ingin disini.”
“Baiklah, Sayang. Tapi jagan lama-lama ya.” Jessica menganggukan dengan senang.
Kini dia dan Carlos duduk di batu. Jessica memainkan kakinya di air sambil melayangkan pandangannya ke pantai. Carlos tersenyum melihatnya, dia membelai rambut Jessica.
Mereka berdua saling bertatap mata, Carlos menempelkan kedua tangannya di pipi Jessica kemudian mengecup bibir wanita berperut buncit itu dengan lembut.
“Aku sangat beruntung memilikimu,” ucap Carlos sambil jempol membelai bibir Jessica.
“Aku mencintaimu, Babe.” Carlos berdiri di hadapan Jessica, mengusap lembut wajah wanita yang dia cintai.
“So do I, more than anything,” balas Carlos dengan terus membelai bibir merah Jessica.
Jessica berdiri kemudian melingkarn tangan di pinggang Carlos, menatap lekat sang kekasih kemudian pria itu mencium bibir Jessica.
Wanita buncit itu’pun membalas ciuman Carlos jugan memainkan lidahnya di dalam mulut pria itu mengabsen semua isi yang ada di dalam sana.
Carlos melepaskan kemeja mengalasnya di atas pasir dan membaringkan Jessica kemudian kembali mencium bibir wanitanya, Carlos ingin bercinta dengan sang kekasih di alam terbuka.
Awalnya Jessica menolak takut ada yang memergoki mereka tapi Carlos meyakinkan kalau tempat itu sangat privasi, tidak ada yang bisa masuk kecuali keluarga.
__ADS_1
Kini Carlos sedang berkerja di atas tubuh wanitanya, Carlos memang suka berfantasi bercinta di alam terbuka kini terpenuhi apa yang dia inginkan. Ada sensasi yang berbeda, begitu juga dengan Jessica, akhirnya dia menikmatinya.
Ternyata bercinta di alam terbuka sangat nikmat Jessica sudah dua kali mengalami pelepasan sedangkan Carlos sama sekali belum, ingin mengganti posisi tapi sang wanita tengah hamil.
Dengan sabar Carlos terus menggerakan pinggulnya dengan sedikit cepat, ingin meraih kenikmatan yang tiada tara itu.
Sementara Jessica sudah merasakan kembali kenikmatan itu, dia mendesaah serta meremas lengan Carlos yang bertumpuh di sisinya. Jessica merasakan milik Carlos mulai membesar di dalam sana, itu tandanya sang kekasih akan segera mengalami pelepasan.
Benar saja, Carlos kembali menggerakan pinggulnya dengan sedikit cepat lalu dia mengalami pelepasan. Carlos mengecup bibir Jessica kemudian berbaring di samping wanita berperut buncit itu.
Sinar matahari mulai menyengat kulit, akhirnya Jessica merapikan pakaiannya dan mengajak Carlos untuk kembali ke Villa.
Jessica dan Carlos berjalan di bibir pantai sambil tangan wanita itu melingkar di pinggang prianya. sesekali Carlos mencium ubun kepala Jessica.
Akhirnya pasangan kekasih itu tiba di villa, Jessica dan Carlos langsung masuk kedalam menuju kamar, mengambil handuk kemudian pergi mandi.
Selesai mandi Jessica duduk di depan teras kamar sambil meluruskan kakinya, Carlos duduk di samping wanitanya.
“Babe, besok kita akan menikah aku jadi nervous.” Carlos terkekeh kemudian memegang tangan Jessica.
“Kenapa nervous sayang?”
“Karena ini pertama dalam hidupku,” sahut Jessica sambil mata tetap di pantai.
“Sayang, tidak perlu nervous. Daddy yang akan mendampingi, yang harusnya nervous itu aku, karena hanya sendiri berdiri di depan menunggumu kamu dan daddy.” Carlos menjelaskan kepada Jessica sambil tangan tak berhenti mengelus perut wanita itu.
“Oh, begitu ya. Jadi aku jalan ke depan bersama daddy?” Carlos menganggukan kepala.
“Baiklah, aku lapar. Temani aku makan.” Carlos dan Jessica berdiri kemudian pergi ke ruang makan.
disana pelayan sudah menyiapkan makan siang untuk pasangan kekasih itu, Jessica dan Carlos duduk, kemudian Carlos mengambilkan makanan untuk wanita pujaannya.
****
Sambil menunggunya, Carlos menyuru Jessica masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian Carlos datang dan langsung menjalankan kendaraannya.
Tidak lama kemudian mereka tiba di kediaman orang tua Carlos, Jessica turun dari mobil serta melihat rumah sangat ramai. Banyak keluarga dari Federico juga Liliana berkumpul di sana.
Saat Jessica dan Carlos masuk semua mata menatap pasangan kekasih itu. Liliana berdiri menghampiri Jessica serta memeluknya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Liliana dengan mengelus rambut Jessica.
“Iya, Mom.” Liliana memperkenalkan Jessica kepada keluarga mereka.
Jessica hanya senyum-senyum karena tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Mereka memeluk dan mencium Jessica. Carlos memegang tangan Jessica, mengajaknya melihat decorasi di taman.
“Wow, Babe. Ini sangat indah.” Mata Jessica membulat saat melihat taman yang akan mereka gunakan sudah tertata dengan indah.
Carlos tersenyum kemudian mengajak Jessica untuk keliling taman, dia menarik tangan wanitanya dan dilingkarkan di pinggangnya.
Mereka berdua berjalan dan memperhatikan orang-orang yang sedang mendekorasi taman. Jessica melihat dekorasi tempat dia dan Carlos akan mengucapkan janji pernikahan telah di tata dengan idah.
Lelah berkeliling, akhirnya Carlos mengajak Jessica masuk ke dalam rumah dan memintanya untuk beristirahat. Jessica langsung menuju kamar, mengambil buku serta pemutar musik kemudian merembahkan tubuhnya di ranjang.
****
__ADS_1
Hari ini akan di langsungkan pernikahan Jessica dan Carlos, nampak wanita itu tidak tenang dan mondar mandir di dalam kamar. Carlos masuk, melihat calon pengantinnya gelisah, dia tersenyum menghampiri wanitanya.
“Kenapa kamu terlihat gelisah, ada apa?” tanya Carlos sambil memegang tangan Jessica.
“Aku gugup, Babe.” Carlos terkekeh kemudian melingkarkan tangan di pinggang Jessica, menariknya sehingga tidak ada jarak antara dia dan sang kekasih.
“Sayang, tidak perlu gugup. Tenangkan pikiranmu,” ujar Carlos. Jessica menganggukan kepala kemudian Liliana masuk dan menghampiri Jessica.
“Sayang penata rias yang akan make up kamu sudah ada di luar, kamu mau make up dimana?” Jessica melepaskan pelukan Carlos dan memperhatikan kamarnya.
“Make up di kamar ini saja, Mom.”
“Baiklah, Sayang.” Liliana meninggalkan Carlos dan Jessica. Tidak lama kemudian dia masuk bersama dengan penata rias. Mereka membawa peralatan make up juga gaun penngantin yang akan Jessica pakai.
Jessica duduk di depan cermin kemudian mereka mulai melakukan make up di wajah wanita itu. Para penata rias sudah terlatih, mereka melakukannya dengan cepat dan sekarang mereka menata rambut Jessica.
Wanita itu tersenyum melihat mereka dari cermin, dia tidak bisa berbincang dengan para penata rias karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris.
Akhirnya selesai, salah satu dari penata rias memakaikan gaun pengantin pada Jessica setelah selesai mereka berkata. “Hermosa.” Sambil memegang pipi Jessica.
Jessica hanya tersenyum, tidak lama kemudian Liliana masuk ke dalam kamar dia menatap Jessica dan menghampiri sang pengantin.
“Sayang, kamu cantik sekali,” puji Liliana sambil memegang tangan Jessica.
“Terima kasih, Mom. Mommy juga sangat cantik.” Mereka berdua saling memuji lalu pintu terbuka.
Ternyata Federico, pria itu masuk dan menghampiri Jessica. Dia juga memuji kecantikan wanita itu.
“Ah … anakku kamu cantik sekali.” Jessica terkekeh mendengar pujian Federico.
“Terima kasih, Dadd.”
“Kamu sudah siap, Nak?” Jessica menganggukan kepala kemudian melihat ke cermin.
“Iya, Dadd. Tapi aku sedikit gugup.” Mendengar Jessica berkata begitu, Federico langsung tertawa dan memegang tangan wanita itu.
“Nak, tidak perlu gugup. Daddy akan mendampingimu ok.” Jessica menganggukan kepala dan menarik napas dengan dalam untuk menetralkan rasa gugupnya. Sementara Liliana meninggalkan Jessica dan Federico di kamar dia langsung pergi ke taman tempat Jessica dan Carlos di berkati.
“Carlos dimana, Dadd?”
“Dia sudah di depan, mereka sudah menunggu kita ayo kita keluar sekarang.” Jessica dan Federico berjalan keluar dari kamar menuju ke pintu arah ke taman.
Jessica menatap Federico kemudian menggandeng lengan pria itu dan berjalan menuju arah ke taman sampai depan pintu, Jessica melihat Carlos sudah berdiri di depan bersama pastor.
“Kamu sudah siap, Nak?” tanya Federico dengan setengah berbisik.
“Iya, Dadd. Aku siap,” jawab Jessica disertai anggukan kepala.
Jessica dan Federico berjalan perlahan-lahan, wanita itu memegang kuat lengan Federico. Nampak dia sangat gugup, apalagi semua mata memandangnya. Tanpa sengaja mata Jesssica menangkap seorang pria yang sangat dia kenal sedang tersenyum padanya.
Langkahnya terhenti dan menunduk, Jessica menarik nafas panjang. Melihat pria itu berjalan menghampirinya, dia memeluk Jessica lalu berbisik.
“Jangan menangis nanti make upmu berantakan.” Jessica tersenyum dan menyeka air matanya.
Siapakah pria itu? Tunggu episode selanjutnya
__ADS_1
Selamat membaca
"Terima kasih yang masih setia memberi like dan koment"