
Keluarga Cella dan Logan masih berbincang-bincang soal pernikahan pasangan kekasih itu, sesekali mereka bersenda gurau dan tertawa.
Miguel berdiri dan mengajak mereka berjalan ke perkebunan. Semua ikut berdiri dan mengikuti Miguel pergi ke area yang ingin di tunjukkan oleh paman Logan.
Sedangkan Logan, dia mengajak Cella untuk pergi ke tempat pernikahan mereka, wanita berperut buncit itu terkejut melihat tempat dia dan Logan akan melangsungkan pernikahan. Cella memeluk Logan dan mengecup bibir yang tertutup dengan kumis dan jenggot.
“Logan, ini sangat indah. Kamu membuat kejutan padaku,” ujar Cella sambil memperhatikan tempat dia dan Logan akan di berkati. Logan tersenyum kemudian dia membelai rambut calon istrinya.
“Kamu bahagia bersamaku?” tanya Logan dengan menatap mata kekasihnya.
“Iya, aku sangat bahagia,” jawab Cella kemudian mereka berdua berciuman dan memainkan lidah.
Sementara di perkebunan terlihat Miguel sedang menjelaskan kepada Carlos dan orang tua Carlos juga orang tua Jessica di sana ada Kairos kakak tertua Cella.
“Oh ya, semua lahan kopi juga pabrik kopi ini, adalah milik orang tua Logan yang di wariskan kepada Logan.” Carlos terkejut mendengar penjelasan Miguel.
“Milik Logan? Benarkah?” tanya Carlos tak percaya seraya menatap istrinya.
“Iya, semua perkebunan dan pabrik kopi adalah milik Logan,” jawab Miguel meyakinkan orang tua Cella.
“Lalu dimana orang tua Logan?” tanya Carlos lagi lalu Miguel menarik napas panjang, dan melayangkan pandangannya ke kebun kopi.
“Saat Logan berumur delapan tahun, kedua orang tuanya meninggal.” Miguel menunduk dan kembali menarik napas panjang. Dia mengangkat kepala lagi dan melanjutkan ceritanya.
“Apakah meninggal karena sakit?” Terlihat Carlos begitu penasaran sehingga dia bertanya terus kepada Miguel.
“Tidak, mereka meninggal dibunuh oleh rekan bisnisnya dan Logan menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tuanya ditembak.” Carlos dan Jessica membelalakan mata, mereka terkejut mendengar penjelasan dari paman Logan.
“Saat aku ke rumah kakaku, aku melihat mereka sudah terbaring di lantai dengan bersimbahkan darah. Saat itu aku teringat Logan, aku langsung mencari anak itu dan menemukan dia berada di rumah pohon dalam keadaan ketakutan.” Wajah Miguel berubah menjadi sedih kemudian dia melanjutkan kembali ceritanya.
“Logan menjadi anak yang pendiam, lalu aku membawa dia ke terapi.” Carlos begitu tertarik mendengar kisah dari kedua orang tua Logan.
“Mengapa mereka membunuh kedua orang tua Logan?” Miguel melayangkan pandangannya ke perkebunan dan melanjutkan ceritanya.
“Mereka ingin membeli perkebunan kopi serta pabrik, tapi suami kakaku tidak ingin menjualnya.” Terlihat Carlos mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Miguel tidak ingin mengingat kembali kejadian itu lalu dia mengajak mereka ke bungalow.
“Baiklah aku akan mengantar kalian ke bungalow milik orang tua Logan.” Mereka semua naik ke mobil lalu Miguel mengantar mereka ke tempat penginapan.
Mereka tiba lalu turun dari mobil, Carlos memperhatikan bungalow yang terletak di bukit lalu dia memandang ke arah perkebunan.
“Pemandangan di sini sangat bagus,” ujar Carlos kepada sang istri. Jessica tersenyum kemudian masuk ke dalam bungalow.
__ADS_1
Miguel memanggil pelayan dan meminta mereka untuk mengangkat semua barang-barang milik Carlos dan Family. Terlihat Acel memperhatikan pemandangan di sekitar bungalow. Dia mengajak istrinya berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan di tempat itu.
“Tidak di sangka ternyata perkebunan seluas ini milik Logan,” ujar Carlos membuka percakapan.
“Iya, tapi mengapa dia tidak mengurusnya. Malah memilih menjadi bodyguard.” Jessica mengerutkan dahi kemudian duduk.
“Aku juga bingung,” sahut Carlos sambil menarik Jessica kedalam pelukkannya.
Sementara itu Logan mengajak Cella ke rumah yang sangat besar. Dia memegang tangan sang wanita dan masuk ke dalam, Logan membawa calon istrinya ke kamar.
Mereka berdua masuk lalu Logan mengunci pintu, dia memeluk kekasihnya dari belakang dan mengecup leher jenjang itu.
“Aku ingin melakukannya, seminggu aku tidak menjamah tubuhmu.” Bisikan Logan di telinga Cella membuat bulu kuduk wanita bergidik. Dia tersenyum dan memegang tangan Logan yang melingkar di perutnya.
Logan mulai melepaskan pakaiannya juga pakaian Cella kemudian membaringkan wanita berperut buncit itu di tempat tidur. Cella tersenyum dan membelai wajah Logan lalu mereka berdua melakukan hubungan itu.
Setelah mengalami pelepasan bersama, Cella meletakan kepalanya di dada bidang itu sambil mengusap dengan jemarinya.
“Aku tidak sabar lagi ingin melihat anakku lahir,” ujar Logan dengan menatap mata kekasihnya.
“Empat bulan lagi dia akan lahir, itu tidak lama,” sahut Cella dengan membelai jenggot tipis itu.
“Iya, kapan kita bisa melihat jenis kelaminnya?” tanya Logan seraya mengusap perut buncit Cella.
“Sama saja sayang, laki atau perempuan tidak masalah bagiku,” sahut Logan dengan mencubit pipi Cella.
Logan berdiri dan memakai kembali pakaiannya kemudian menarik tangan Cella untuk bangun lalu pergi bersama ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Tidak lama kemudian pasangan kekasih itu keluar dan memakai pakaiannya.
Logan mengajak Cella berkeliling di dalam rumah. Wanita berperut buncit itu memperhatikan foto yang terpajang di dinding.
“Logan. Itu foto siapa?” Logan tersenyum kemudian memeluk Cella dari belakang.
“Itu foto kedua orang tuaku dan yang di tengah itu aku.” Cella mengernyitkan keningnya kemudian memutar tubuhnya menghadap pria itu.
“Jadi rumah besar ini milik orang tuamu?” tanya Cella lagi dengan heran lalu Logan menarik sang kekasih dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu.
“Aku akan menjelaskannya padamu,” kata Logan sambil menatap mata Cella.
“Begini, Sayang. Perkebunan dan pabrik kopi itu adalah milik orang tuaku. Saat orang tuaku meninggal, paman Miguel yang mengurus semuanya.” Logan melepaskan tangannya dari pinggang Cella kemudian duduk dan mengajak wanita itu duduk di pangkuannya.
“Saat aku berumur 17 tahun paman Miguel mengembalikan perkebunan dan pabrik kepadaku, tapi aku tetap meminta dia untuk mengurus semuanya.”
__ADS_1
“Lalu mengapa kamu harus menjadi bodyguard?” Logan tersenyum dan membelai perut Cella.
“Begini, Sayang. Saat aku kuliah aku menyembunyikan identitasku, karena tidak ingin wanita menyukaiku hanya melihat apa yang melekat di diriku. Dan benar saja, mereka lebih memilih pria yang lebih kaya.” Cella belum mengerti dia begitu penasaran dengan kisah calon suaminya.
“Lalu kenapa kamu berhenti kuliah?” Cella menyela penjelasan Logan lalu pria itu tertawa dan menjelaskan kembali.
“Um, aku berhenti kuliah karena aku ingin menghindar dari seorang wanita yang sangat aku cintai. Dia adalah cinta pertamaku.” Cella mengkerutkan dahi dan menatap Logan.
“Apakah dia meninggalkanmu?” tanya Cella lagi.
“Iya, dia meninggalkanku. Orang tuanya juga tidak suka padaku karena mereka mengira aku tidak punya apa-apa. Aku kecewa karena dia tidak mau berjuang untuk mempertahankan cinta kita.” Cella mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar cerita dari calon suaminya.
“Apakah kamu pernah bertemu orang tuanya?” tanya Cella lagi. Dia benar-benar ingin mendengar kisah dari Logan.
“Tidak pernah,” jawab Logan dengan menggelengkan kepala.
“Lalu?” Logan tertawa melihat antusiasnya sang kekasih ingin mengetahui kisah hidupnya.
“Dia menikah dengan pria yang sangat mapan, aku meninggalkan Brazil dan pergi ke Mexico. Aku tinggal di sana selama beberapa tahun untuk melupakannya.” Cella menatap pria itu dengan heran.
“Apakah di Mexico kamu punya pacar juga?” tanya Cella lagi.
“Iya, tapi karena mereka pikir aku bekerja hanya sebagai bodyguard, mereka meninggalkanku dan akhirnya aku ke America,” jawab Logan dengan melingkarkan tangan di pinggang wanitanya.
“Lalu?” Cella masih penasaran dengan kisah kekasihnya.
“Aku tinggal di America, rumah tempat kita bertemu itu adalah milikku. Aku membelinya saat empat bulan aku tinggal di America dan menyamar lagi sebagai orang yang tidak punya apa-apa.” Cella mengangkat kedua keningnya.
“Jadi itu rumahmu? Mengapa kamu membohongiku?” Logan tertawa dan mengecup pipi gadis itu.
“Maaf, Sayang. Aku hanya ingin melihat ketulusan cintamu,” jawab pria itu dengan bercanda.
“Lalu mengapa kamu sempat menjadi penjahat?” Kembali pria itu tertawa dan mengecup kening wanitanya.
“Agar penyamaranku tidak terbongkar, aku menerima tawaran teman-temanku. Dan terakhir aku menerima tawaran untuk menculikmu,” jelas Logan seraya mencubit kembali pipi Cella.
“Tapi tidak di sangka aku menyukaimu,” ujar Logan sambil tertawa dan memeluk Cella.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mau berjuang mempertahankan cinta kita dan mau mencintaiku apa adanya.” Cella melingkarkan kedua tangannya di punggung Logan dan mengecup dahi pria itu.
“Jadi rumah yang kamu sewa di Rio de Janeiro hanya ingin menguji aku juga?” Kembali Logan tertawa dan menganggukkan kepala, nampak wajah wanita berperut buncit itu berubah. Dia mencubit pinggang Logan lalu kembali pria itu tertawa.
__ADS_1
Logan tidak menceritakan kepada Cella bagaimana kedua orang tuanya meninggal, dia berbohong kepada gadis itu kalau orang tuanya mati karena sakit. Dia tidak ingin mengingat kisah sedih itu.