SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Teman berkunjung


__ADS_3

Jessica  terbangun dan melihat di luar kaca jendela sudah terang, dia meraba disamping Carlos tidak ada. Jessica bangun dan keluar kamar menatap Carlos lagi di depan laptop.


Carlos tersenyum melihat Jessica, dia berdiri  menghampiri sang kekasih lalu menarik tangannya lalu duduk kembali dan meletakan kepala Jessica di pahanya. Membelai rambut panjang hitam dengan lembut serta mengecup keningnya lalu Jessica menguap.


“Masih mengantuk?” tanya Carlos sambil membelai rambut Jessica.


“Iya, habis semalam kamu terlalu rakus.” Mendengar Jessic berkata begitu Carlos langsung tertawa. Mereka sudah bisa bercinta karena kandungan Jessica sudah masuk empat bulan.


“Semalam bukannya kamu yang miinta?” goda Carlos dengan meremas pelan hidung mancung Jessica.


“Iya, aku yang minta tapi belum lama istirahat kamu sudah minta lagi, aku jadi capek,” sahut Jessica dengan wajah cemberut.


“Iya maaf, tapi suka’kan. Kamu bahkan mendesaah begitu kuat sampai punggunggku sakit karena goresan kukumu. ” Di goda Carlos wajah Jessica langsung memerah, dia tertawa dan mencubit perut Carlos.


“Kamu tidak kekantor?” tanya Jessica untuk mengalihkan pembahasan yang membuat dia jadi malu.


“Tidak, Sayang. Aku ingin menemanimu disini,” jawab Carlos dengan mengecup sekilas bibir Jessica.


“Ke kantor saja,  Fanya dan Tini akan datang kesini. Aku tidak apa-apa.”


”Baiklah kalau begitu, Aku buatkan susu untukmu.”  Jessica duduk di sofa lalu Carlos berdiri pergi ke dapur.


Carlos membuatkan susu untuk Jessica, tidak lama kemudian dia naik sambil membawa gelas juga roti dan meletakan di meja.


“Sayang, habiskan susunya supaya kamu dan anak kita sehat.” Jessica mengambil susu dan meminumnya juga memakan roti sambil memperhatikan Carlos yang lagi memeriksa emailnya dari ipadnya.


“Ada email dari kedutaan, mereka memberitahukan tentang visa kamu,” ujar Carlos sambil mata tetap di ipad.


“Mereka memberikan visa padaku?”


“Iya, kamu berhasil mendapatkan visa. Berarti lima hari lagi kita akan berangkat ke America.”  Jessica meletakan gelas yang sudah kosong di meja lalu menatap Carlos.


“Hari apa kita akan berangkat, Babe?”


“Sesuai dengan tiket hari selasa, inikan hari kamis berarti lima hari lagi, Sayang,” jawab Carlos dengan mengacak rambut Jessica.


Jessica berdiri membawa piring dan gelas ke dapur, dia mencuci kedua benda itu lalu merasakan tangan melingkar di perutnya. Jessica tidak terkejut karena sudah pasti itu calon suaminya.


Carlos mengatur rambut Jessica ke samping lalu mencium punggung sang wanita sambil  mengelus perut yang sudah mulai kentara itu. Kini ciuman berpindah ke leher seraya tangan satu meremas salah satu dada Jessica.


“Babe, apa yang kamu lakukan?”


“Aku ingin melakukannya sebelum ke kantor, Sayang,” bisik Carlos di telinga Jessica, membuat bulu kuduk wanita itu merinding.


“Semalam kita sudah melakukannya.” Jessica mencoba menghindari Carlos dengan memiringkan kepala menahan rasa geli akibat ulah tangan sang kekasih.


“Semalam lain, Sayang.” Napas Carlos semakin tidak teratur, Jessica tidak dapat menahan hasrat Carlos lagi.


“Dasar nakal.” Carlos tertawa lalu mencium kembali leher Jessica. Tangannya mulai menggerayaangi tubuh wanitanya dan meremas dadanya dengan lembut.


Carlos mengangkat kimono Jessica serta menurunkan sedikit pantie berwarna hitam dan membuka sedikit kedua kaki sang wanita lalu mengarahkan miliknya yang panjang serta keras bagaikan kayu ke inti Jessica. Tangannya satunya melingkar di leher Jessica sementara sebelahnya  menahan perut sang kekasih.


Aku merasakan milik Carlos yang panjang dan keras menusuk nusuk dari belakang, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa, mereka saling berciuman dan memainkan lidah.


"Ah … Babe. Aku suka,"  desaah Jessica


"Kamu suka milikku, Sayang,” tanya Carlos dengan berbisik di telinga Jessica sambil menggerakan pinggulnya maju mundur.


Carlos merapatkan kedua kaki Jessica, dia  memeluknya dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat.


"Ah, Sayang. Aku mau keluar.” Napasnya semakin tidak beraturan, dia mencium leher Jessica sambil memacu dengan cepat.


"Oh ... Sayang. Ough … **** .…” Carlos semakin memacu gerakannya lalu memeluk Jessica dengan erat. Dia menyentakan pinggulnya berulang kali melepaskan sisa-sisa kenikmatan.


Jessica sangat menikmati permainan Carlos, dia juga mengalami dua kali pelepasan. Dia merasakan cairan hangat milik Carlos mengalir di pahanya.


"Terima kasih, Sayang,” bisik Carlos lalu mengecup ubun kepala Jessica.


Carlos menggendong Jessica dan membawanya ke kamar mandi, mereka berdua membersihkan tubuh yang berkeringat dari hasil sisa-sisa percintaan.


Carlos bersiap-siap untuk ke kantor, dia memakai kemeja juga celana slim di depan Jessica lalu dia duduk di sisi tempat tidur dan memegang tanganku wanitanya.


“Fanya dan Tini datang jam berapa?” tanya Carlos.


“Mungkin sebentar lagi,” sahut Jessica sambil tangan membelai rahang Carlos yang ditumbuhi bulu-bulu hitam pendek dan tajam.


“Baiklah kalau begitu, aku berangkat ke kantor sekarang.” Carlos mencium kening dan bibir serta mengecup perut Jessica.


“Sayang, papa pergi dulu ya. Baik-baik kamu di dalam sana.” Jessica tersenyum dan menyusupkan jemarinya di rambut hitam Carlos.


“Hati-hati,” pesan Jessica seraya bangun dan duduk di sisi tempat tidur.


“Terima kasih, Sayang.” Carlos berdiri di ikuti Jessica lalu turun ke lantai satu. Kembali dia mengecup kening calon istrinya lalu berangkat ke kantor.

__ADS_1


****


Jessica terbangun karena ponselnya berbunyi, dia mlihat pesan dari Tini, ternyata mereka sudah di lobby. Jessica harus turun menjemput mereka karena tidak bisa masuk lift tanpa kartu.


Tiba di lobby dia melihat kedua sahabatnya sedang duduk Jessica tersenyum dan memanggil kedua wanita itu.


“Fanya Tini ayo masuk.” Jessica menahan tombol agar pintu tetap terbuka, Fanya dan Tini langsung masuk kedalam lift


“Jess, berarti tidak boleh sembarang orang masuk kesini ya?” tanya Tini setelah berdiri di samping Jessica.


“Iya, khusus yang tinggal disini jadi kalau ada tamu kita jemput di lobby.”


“Oh begitu.” Tini bergumam sambil mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


Akhirnya mereka sampai Jessica memasukan kode pengaman lalu membuka pintu.


“Pintu saja pake pengaman ya, enak tinggal disini tidak takut kemalingan,” celetuk sambil masuk mengikuti Jessica dari belakang.


“Waow … apartemennya besar ya, Jess. Pemandangannya juga bagus, pantas saja kamu betah,” ujar Fanya sambil berjalan dan berdiri di depan jendela kaca.


“Ah, tidak juga, terkadang aku bosan disini. Kalian belanja apa?” tanya Jessica seraya berjalan ke dapur di ikuti oleh kedua sahabatnya.


“Tentu saja belanja untuk kita masaklah,” celetuk Tini dengan meletakan belanjaan di pantri.


“Kalian mau masak apa?” Kembali Jessica bertanya.


“Aku mau coba bikin bistik Jess,” sahut Fanya sambil mengeluarkan belanjaan dari kantonr kersek.


“Baiklah, kalian masak saja dulu ya, aku mau rebahan sebentar.”


Entah mengapa akhir-akhir ini Jessica ingin selalu mengantuk dan ingin tidur. Dia berbaring di sofa,  membiarkan kedua sahabtanya memasak di dapur.


Sementara di dapur terjadi percakapan antara Tini dan Fanya.


“Fanya, Jessica beruntung ya dapat pacar seperti Carlos. sudah ganteng, baik, kaya pula,” ujar Fanya dengan membersihkan daging sapi.


“Bukan Jessica yang beruntung, Tini. Tapi Carlos yang beruntung mendapatkan Jessica. Teman kita itu  cantik, tinggi , pintar terus masih muda lagi.” Tini manggut-manggutkan kepalanya dan berpikir.


“Umur Jessica itukan baru enam belas tahun lalu Carlos tiga puluh satu, umur mereka sangat berbeda jauh.” Kembali Tini menganggukan kepala mendengarkan Fanya bicara.


“Iya juga sich, tapi namanya kalau sudah cinta umur tidak di pandang lagi,” celetuk Tini sambil tertawa.


“Iya, aku senang melihat mereka berdua, romantis banget cinta mereka begitu kuat,” sahut Fanya dengan bersandar di meja pantri.


“Aku juga Tin.” Mereka berdua saling pandang lalu tertawa.


Sementara di ruangan lain, Jessica bangun dan menghampiri kedua sahabatnya, mereka belum selesai masak.


“Belum selesai juga?” tanya Jessica seraya menarik kursi dan duduk.


“Sedikit lagi, Jess. Kamu sudah lapar?” tanya Tini sambil duduk di dekat Jessica.


“Belum, aku mau bikin juice dulu.” Jessica berdiri, mengeluarkan alpukat dari kulkas dan mengupasnya lalu  memasukan ke mesin juicer.


Selesai bikin juice dia kembali duduk diikuti Fanya dan Tini. Jessica ingin berterus terang kepada kedua sahabatnya itu, selama ini mereka tidak tahu kalau Jessica sedang hamil.


“Fanya, Tini. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian.” Jessica memberanikan diri untuk berterus terang.


“Apa itu, Jess?” tanya Fanya seraya menatap Jessica.


“Katakan, kamu mau ngomong apa?” seloroh Tini, tidak sabar menunggu apa yang ingin dikatakan sahabatnya. Lalu Jessica menarik napas panjang dan menatap kedua sahabatnya itu.


“Um … begini, aku dan Carlos akan segera menikah.” Fanya dan Tini membulatkan mata dengan sempurnah mereka berdua terkejut sambil mulut terbuka.


“Serius, Jess?” tanya mereka berdua dengan serempak


“Kapan dan dimana kalian akan menikah?” tanya Fanya dengan rasa tidak percaya.


“Rencananya bulan depan, kami akan menikahnya di Amerika.” Tini menatap Jessica dengan heran, sambil berpikir.


“Ehm … Jess. Kenapa kamu begitu cepat mau menikah dengan Carlos?” tanya Tini curiga. “Apa kamu ... Jess.” Tini membelalakan matanya tatapan langsung tertuju ke perut Jessica. “Apakah kamu sudah te’dung?”


“Tin apa itu te’dung?” tanya Fanya dengan menatap Tini heran.


“Fan, masa kamu tidak thau itu,” sahut Tini sambil mempraktekkan tangan di perutnya. Fanya langsung menatap Jessica.


“Jess kamu hamil?” Jessic hanya menganggukan kepala. “Serius?” Kembali Fanya bertanya seolah-olah tidak percaya


“Iya serius, makanya minggu depan aku dan Carlos akan segera ke Amerika. Visaku sudah keluar.”


“Jadi Carlos berhasil membobol gawangmu?” Fanya langsung menyentil dahi Tini mendengar candaan temannya itu. Sementara Jessica hanya tersenyim melihat kedua sahabatnya.


“Jadi kamu akan meninggalkan kita berdua, Jess?” tanya Fanya dengan wajah sedih, baru kali ini dia mendapatkan sahabat seperti Jessica dan Tini.

__ADS_1


“Iya Jess kamu akan tinggalkan aku dan Fanya? Aku jadi sedih tidak ada lagi yang bakal iseng padaku,” tutur Tini dengan menekukan wajahnya.


“Kita bisa video call, aku tidak akan melupakan kalian.” Fanya langsung memeluk Jessica, dia merasa sedih karena  akan ditinggalkan sahabatnya.


“Kenapa kamu sedih, aku juga belum pergi.” Kedua sahabatnya itu tertawa lalu kembali berbincang-bincang.


“Oh ya,  sudah berapa bulan?” tanya Fanya sambil mengelus perut Jessica.


“Empat bulan, Fan,” jawab Jessica sambil tersenyum dan memperhatikan tangan Fanya yang sedang mengelus perutnya.


“Sayang, ini aunty Fanya kalau yang jelek itu namanya Tini.” Sambil menunjuk ke Tini  Fanya dan Jessica tertawa.


Tini melihat Fanya dengan wajah cemberut, lalu meletakan tangannya di perut Jessica.


“Enak saja bilang aunty Tini jelek, Sayang biar aunty kamu ini hitam tapi manis.” Mereka bertiga  bercanda  bel pintu berbunyi.


“Biar aku yang buka,” ujar Fanya sambil berdiri tapi Tini menahan tangan sahabatnya.


“Eh, lihat dulu siapa yang datang jangan langsung buka,” kata Tini.


“Itu pasti Andrew, dia sudah sering kesini. Security sudah mengenalnya karena dia juga tinggal di apartemen cuma kita beda tower makanya dia bebas masuk.”


“Ohh begitu, ya sudah buka pintunya, Fanya.” Fanya pergi membuka pintu dan benar saja Andrew yang datang. Pria itu langsung masuk dan menyapa Tini juga Fanya lalu dia duduk dekat Jessica.


“Ehm, sepertinya bau gosong,” ujar Andrew sambil hidungnya mengendus-endus mencari asal darimana asal bau itu. Fanya dan Tini saling pandang lalu berlari ke dapur.


“Untung tidak gosong,” celetuk Fanya dan Tini secara bersamaan. Jessica dan Andrew menertawai mereka.


“Sudah masak?” tanya Jessica kepada kedua sahabatnya yang berjalan menghampirinya.


“Sudah, Jess. Malah hampir gosong,” jawab Fanya dengan terkikik.


Mereka membawa makanan dan diletakkan di meja, sementara Tini mengambil piring dan nasi. Jessica tidak  merasa lapar karena baru saja minum juice


“Jess, ayo makan,” ajak Tini sambil meletakan piring di depan Jessica.


“Aku masih kenyang kalian saja yang makan.” Fanya menatap Jessica dengan mengerutkan dahi.


“Kamu harus makan demi keponakanku yang ada di dalam perutmu.”


“Iya, Jess. Kamu harus makan, aku ingin keponakanku sehat.” Andrew ikut-ikutan.


“Tapi masih kenyang, aku baru saja minum juice alpukat.”


“Jess! Makan ya aku tidak mau keponakanku yang di perutmu itu sakit, ayo makan.” Kini Tini yang ikut-ikutan menyuruh Jessica makan.


Tini mengambilkan makanan untuk Jessica sedangkan andrew mengambilkan air putih lalu duduk di dekat sahabatnya itu.


“Sini  aku yang suapin kamu makan.” Fanya mengambil piring yang sudah berisikan makanan lalu duduk di samping Jessica.


“Fanya aku bisa sendiri aku bukan anak kecil terus disuapin.” Jessica dibuat seperti anak kecil oleh ketiga sahabatnya.


Andrew serta Tini tertawa melihat Jessica dan Fanya lalu terdengar pintu dibuka Jessica melihat Carlos datang yang datang, dia berdiri menyambut sang kekasih, memeluknya serta mengecup sekilas bibir pria itu. Kemesraan mereka berdua membuat Fanya dan Tini saling pandang.


“So sweet, aku juga mau.”  Tini menyikut Fanya lalu mereka berdua cekikikan.


“Kamu sudah makan, Sayang?” tanya Carlos dengan mengelus rambut Jessica.


“Belum, kamu sudah makan, Babe?” jawab Jessica dan mengajukan pertanyaan kepada pria itu.


“Belum, Sayang.”


“Kalau begitu, ayo kita makan bersama. Kebetulan Fanya dan Tini baru saja selesai memasak.” Jessica menarik tangan Carlos pergi ke ruang makan.


Mereka berlima duduk di meja makan, lalu Jessica mengambilkan makanan untuk Carlos. Pria itu mencicipi masakan Fanya dan Tini.


“Hm ... makanannya least, kalian pintar masak ya,” ujar Carlos setelah menelan makanannya.


“Iya kamu juga pintar, tapi pintar bikin anak,” sahut tini dalam Bahasa Indonesia, Carlos tidak mengerti.


Jessica hampir tersedak mendengar Tini bicara begitu, Fanya mencubit lengan Tini dan tertawa. Andrew’pun ikut tertawa sementara Carlos melihat mereka dengan heran.


“Ada apa, Sayang. Mengapa tertawa?”


“Tidak apa-apa, Babe. Tini hanya melucu saja,” jawab Jessica lalu melanjutkan makannya.


“Oh,” gumam Carlos sambil menyuapi Jessica.


Selesai makan Tini dan Fanya membereskan meja serta mencuci piring, Carlos naik ke atas  mengganti pakaiannya kemudian turun lagi.


Selesai cuci piring mereka berbincang-bincang di ruang tamu, tidak terasa hari sudah sore. Tini Fanya dan Andrew akhirnya pamit pulang, aku mengantar mereka sampai depan lift.


Selamat membaca dan jangan bosan ya.

__ADS_1


“Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment”


__ADS_2