SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Kisah menyedihkan


__ADS_3

Akhirnya mereka tiba di Spain, ternyata Federico juga punya landasan sendiri di sana. Pesawat sudah landing , Carlos siap-siap untuk turun dia mengambil tas Jessica dan memegang tangan wanitanya.


Jessica dan Carlos turun terlebih dahulu, sementara di dekat pesawat sudah ada dua mobil untuk menjemput mereka. Pasangan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suami istri itu menunggu Liliana dan Federico yang masih berada di dalam burung besi.


Tidak lama kemudian Liliana dan Federico keluar dari pesawat mereka turun dan menghampiri Jessica dan Carlos.


“Ayo, kita langsung jalan saja, sudah malam Jessica harus cepat istirahat.” Kata Federico


“Iya, Dadd. Carlos dan Jessica masuk ke dalam mobil. Begitu juga Liliana dan Federico masuk ke kendaraan lainya.


Mobil yang ditumpangi Jessica dan Carlos  mengikuti mereka dari belakang. Akhirnya mereka’pun tiba di kediaman orang tua Carlos.


Kediaman mereka ini berbentuk villa dan lebih besar dari rumah yang ada di America. Halamannya sangat luas, mereka’pun masuk di sana sudah berjejer para pelayan untuk menyambut kedatangan Jessica dan Carlos serta kedua orang tua Carlos .


Saat turu para pelayan menyambut mereka dengan menggunakan bahasa Spanish, Jessica hanya tersenyum karena tidak mengerti.


“Bienvenido, Señor. Bienvenida, Señora.” Federico dan Liliana tersenyum atas sambutan para pelayan.


“Gracias,” balas Federico dan Liliana bersamaan lalu meminta mereka untuk membawa semua barang yang masih ada di bagasi mobil. Federicoa tersenyum melihat Jessica yanng terbengong mendengar mereka berbahasa Spanis.


“Nak, istirahat sekarang, kamu pasti sangat lelah.” Jessica menganggukan kepala lalu Carlos mengajak Jessica ke kamar.


“Sayang, kamu istirahat ya,” ujar Carlos dengan membaringkan Jessica di ranjang.


“Iya, Babe. Tapi jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut,” sahut Jessica seraya menahan lengan Carlos.


“Iya, aku hanya ingin mengambil air minum untukmu. Tunggu sebentar ya.” Carlos mengecup kening Jessica dan mengelus sebentar perut wanitanya.


“Jangan lama-lama.” Carlos terkekeh dan mengacak rambut Jessica.


“Iya, aku langsung kembali.” Carlos keluar dari kamar sementara Jessica menunggu Carlos, dia tidak ingin tidur kalau pria itu tidak bersamanya.


Tidak lama kemudian Carlos datang sambil membawa air minum untuk Jessica, dia meletakkannya di meja kemudian duduk di sisi tempat tidur dan memegang perut Jessica.


“Sayang, pinggangnya masih sakit?” tanya  memastikan wanitanya serta janin di dalam perutnya baik-baik saja.


“Sedikit, Babe,” jawab Jessica dengan memegang tangan Carlos.


“Baiklah,  kamu istirahat ya.”


“Iya, tapi belakangku di elus ya,” pinta Jessica dengan suara manja.


“Minum airnya.” Carlos mengambil gelas yang berisikan air putih dan memberikan kepada Jessica. Lalu wanita itu meminumnya.


“Berbalik, aku akan mengelus belakangmu.” Jessica memunggungi Carlos dan terasa tangan pria itu mengelus belakangnya, merasa nyaman dia,pun tertidur.


Melihat sang wanita tertidur pulas, dia memakaikan selimut kemudian mencium kening Jessica. Carlos berdiri meninggalkan kamar menuju ke ruang tv, disana ada Liliana juga  Federico.


Carlos duduk bersama kedua orang tuanya dan becakap-cakap, mereka membicarakan tentang pernikahan Carlos dan Jessica, ternyata Federico sudah mengatur semuanya. Dia sudah menghubungi keluarga maupun wedding EO.


Mereka sudah memutuskan untuk tema pernikahannya tetap outdoor. Sudah larut malam Carlos berdiri dan masuk ke kamar, melihat sang wanita tertidur pulas, duduk di sisi tempat tidur. Mengelus dan mencium perut buncit itu kemudian berbaring di sampingnya, memejamkan mata, karena kelelahan dia’pun tertidur.


Jessica POV


Dua hari lagi pernikahan Jessica dengan Carlos, dan sudah tiga hari pasangan kekasih itu tidur di villa milik orang tua Carlos yang terletak di pinggir pantai.


Pagi hari Jessica terbangun melihat sang kekasih masih tertidur pulas,  dia tersenyum dan mengecup lembut kening prianya lalu turun dari tempat tidur, melangkahkan kaki ke kamar mandi.


Membasuh wajahnya kemudian keluar menuju ke teras, Jessica menghirup udara yang begitu segar. Melayangkan pandangan ke pantai, menggodanya untuk berjalan menyisir bibir pantai.


Tapi langkahnya terhenti, dia segera masuk kembali menuju ke kamar membangunkan Carlos.


“Babe, itu mobil siapa yang datang?” Carlos membuka mata,  berdiri dan melihat keluar.


“Oh, itu mobil daddy, Sayang,” jawab Carlos kemudian mengecup bibir wanitanya. “Morning kiss. Sayang.” Lalu masuk ke kamar mandi.


Sementara Jessica pergi ke depan menyambut calon mertuanya. Dia melihat Mike juga turun dari mobil.

__ADS_1


“Hi, Mike. Kamu sudah datang?” Jessica menyapa Mike sambil memeluk pria itu.


“Iya, Jessi. Aku baru saj tiba dan langsung datang kesini,” sahut Mike dengan mengecup kedua pipi Jessica.


Jessica juga melihat Federico dan Liliana turun  dari mobil, dia langsung menghampiri mereka berdua dan mencium kedua pipi calon mertuanya.


Mereka masuk kemudian duduk di teras menghadap pantai. Carlos datang dan menyapa kedua orang tuanya juga Mike lalu duduk disamping Jessica.  Federico membuka pembicaraan dengan bertanya kepada Jessica.


“Nak, bagaimana dengan orang tuamu. Apakah kamu tidak ingin mereka hadir di pernikahanmu?”


“Em, Dadd. Tanpa orang tuaku di pernikahanku tidak masalah,” jawab Jessica dengan melirik  kepada Carlos.


Federico berdiri kemudian duduk disamping Jessica  memegang tangan calon menantunya dan berkata,


“Begini, Sayang. Kalau kamu ingin orang tuamu hadir, kami bisa membawa mereka kesini.” Jessica menggelengkan kepala, dia tidak ingin orang tuanya hadir di pernikahannya.


“Ah ... Dadd. Aku pikir tidak perlu mereka hadir.”


“Tapi kenapa, Sayang?” tanya Federico. Biasanya seorang anak akan senang dengan kehadiran orang tua di pernikahannya tapi berbeda dengan Jessica, membuat Federico penasara.


‘Apakah harus aku ceritakan semuanya kepada mereka kalau aku belum bisa memaafkan mamaku, mungkinkah aku katakan bagaimana mama menyiksaku dari umurku lima tahun. aku tidak ingin mengingatnya lagi.’ Wajah Jessica nampak sedih, lalu Carlos menggenggam tangannya.


“Maaf, Aadd. Aku hanya tidak ingin saja mereka hadir.” Mike Liliana dan Carlos menatap Jessica dengan wajah heran.


“Tapi kenapa, Sayang?” Kali ini Liliana yang bertanya sambil memegang tangan Jessica.


“Maaf, Mom. Aku belum bisa memaafkan mamaku.” Mereka semua menatap Jessica dengan terkecuali Carlos karena dia sudah tahu mengapa wanitanya belum memaafkan mamanya.


“Apa yang telah di perbuat olehnya, sampai kamu tidak bisa memaafkannya?” tanya Federico  sambil berdiri dan meminta Carlos untuk pindah karena ingin dekat dengan Jessica. Dia meraih tangan kekasih Carlos adn memegang tanganku.


Jessica menunduk dan berpikir, ‘Aku harus menjelaskan semuanya.’ Jessica menarik nafas panjang lalu menatap Federico.


“Begini, Dadd. Sebenarnya aku tidak ingin mengingat semua yang terjadi padaku dari umurku lima tahun sampai aku bertemu dengan Carlos, tapi aku tidak ingin kalian berpikir yang tidak baik padaku, baiklah akanku jelaskan semuanya kenapa aku belum bisa memaafkan mamaku.” Jessica mulai bercerita tentang kisah hidupnya.


“Saat umurku lima tahun, mama selalu menyiksaku tanpa alasan, dia marah pada papaku tapi melampiaskannya kepadaku.” Kembali Jessica menarik napas begitu dalam sambil melayangkan mata ke pantai.


“Bukan hanya itu saja, dia sering memukulku dengan menggunakan sebatang kayu itu usiaku masih lima tahun. Aku hanya menangis, papaku tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau dia membelaku maka mama tidak akan berhenti memukulku.” Nampak Liliana menyeka air matanya.


Jessica tertunduk, merasakan dada begitu sesak, kembali mengarahkan pandangannya ke pantai kemudian melanjutkan ceritanya.


“Itu berlangsung terus-menerus dan banyak kejadian-kejadian yang sampai saat ini tidak bisa aku lupakan dan itu masih membekas. Waktu umurku enam tahun tanpa sebab mama memukulku dengan setrika yang masih panas, tapi aku menangkisnya itu membekas di tanganku. Aku bersyukur bekas luka itu tidak terlihat jelas.” Sambil menunjukkan bekas luka di tangannya, merasakan tangan digenggam erat tangan oleh Liliana.


“Dia seperti bukan mamaku, dari kecil aku tidak pernah mendapatkan kasih, terkadang aku berpikir apakah dia mamaku atau bukan, dan kejadian yang tidak pernahku lupakan. Aku hampir diperkosa oleh kakak tertuaku, mama mengetahuinya tapi dia membiarkan ulah kakaku. Tapi lagi-lagi Tuhan masih sayang kepadaku.


“Saat kakak tertua mencoba memperkosaku kakak perempuanku datang, dia menyelamatkanku dan itu terjadi diusiaku sepuluh tahun.” Liliana dan Federico menggeleng-gelengkan kepala mendengar kisah Jessica, begitu juga Mike dan Carlos.


“Setiap kakak tertuaku datang aku selalu menghindar,  pergi bermain kerumah teman. Aku menunggu kakak perempuanku pulang, dan  mama selalu memukulku dengan sebatang kayu. Tapi aku lebih memilih di pukul dari pada di perkosa oleh kakak tertuaku.” Tak terasa air mata Jessica jatuh di pipi.


“Semua itu terjadi saat papa tidak di rumah, karena papa waktu itu polisi dia sering dinas di luar dan aku tidak mau memberitahukan semuanya kepada papaku. Kekejaman mama berlangsung terus menerus sampai akhirnya aku bertemu dengan Carlos. Aku tidak tahan lagi lalu melarikan diri dari rumah, Carlos membawaku ke Jakarta.”


Jessica tidak bisa menahan lagi air matanya kemudian menangis, Carlos langsung melingkarkan kedua tangannya di leher sang kekasih memeluknya dari belakang.


“Maaf, Babe. Aku tidak ingin bertemu dengan mamaku, tolong jangan bawa dia kesini,” pinta Jessica dengan memohon kepada Carlos sambil menangis.


“Iya, Sayang. Aku tidak akan membawa mama kamu kesini,  tenang ya ingat kamu lagi hamil,” ujar Carlos sambil membelai rambut wanitanya.


Liliana mengelus punggung Jessica sambil mengusap airmata yang menetes di pipi, dia bisa merasakan penderitaan wanita itu.


“Maaf, Mom. Aku belum bisa memaafkan mamaku,” sahut Jessica dengan terisak di pelukan Carlos.


“Iya, Sayang. Tidak apa-apa kami mengerti.” Liliana menarik Jessica dan memeluknya dengan erat.


“Terima kasih, mommy dan daddy sudah menyayangiku seperti anak kalian sendiri. Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari mamaku.” Jessica masih menangis di pelukan Liliana.


“Tapi aku menemukan kasih sayang itu dari kalian, kasih sayang yang begitu tulus aku rasakan.” Kembali Liliana meneteskan airmata, dia membelai rambut Jessica dengan penuh kasih sayang.


“Aku berterima kasih padamu, Babe. Entah apa yang akan terjadi kalau aku tidak bertemu denganmu.” Carlos memegang tangan Jessica dan menciumnya, dia juga menyeka air mata wanitanya.

__ADS_1


“Apa yang papa kamu lakukan saat melihatmu di pukul oleh mama kamu?” Federico belum puas juga dia ingin mendengarkan semua kisah Jessica.


“Dia tidak bisa berbuat apa-apa, kalau papa membelaku mama akan marah dan mereka berdua bertengkar;” sahut Jessica dengan menyeka airmatanya.


“Kalau mereka bertengkar mama suka berteriak dan semua tetangga mendengarnya, makanya papa memilih diam,” sambungnya lagi.


“Kalau mama selesai memukulku papa menemuiku di kamar dan memelukku, dia selalu minta maaf, karena tidak bisa melindungiku dan selalu bertanya. ‘Dimana yang sakit, Nak. Sini papa obati.’ Itu yang selalu papaku lakukan, mengobati bekas pukulan mama dengan berlinang air mata. Dia sangat menyayangiku.”


Jessica memeluk Carlos dan kembali menangis mengingat semua perlakuan mamanya kepada dirinya.


Carlos memeluknya dengan erat dia memberi isyarat kepada Federico, agar berhenti bertanya lagi. Dia tidak ingin Jessica merasa sedih dengan mengingat apa yang terjadi padanya.


Carlos  mengajak Jessica masuk ke kamar. Dia membaringkan wanita berperut buncit itu kemudian duduk di sisi tempat tidur, menyeka airmata yang terus mengalir di pipi kekasihnya.


“Jangan bersedih lagi, nanti anak kita juga ikut sedih melihat mamanya menangis.” Sambil mengelus perut Jessica, dia mencium kening serta kedua pipi juga mengecup bibir Jessica kemudian berdiri hendak keluar tapi Jessica menahannya.


“Mau kemana, Babe?” tanya Jessica dengan mengerutkan dahi.


“Aku akan mengambil air minum untukmu, Sayang,” sahut Carlos dengan melepaskan tangan Jessica.


“Baiklah, jangan lama-lama.” Carlos menganggukan kepala kemudian pergi mengambilkan air untuk wanitanya. Sementara Jessica memejamkan mata, masih merasakan kesedihan yang dialaminya.


Saat akan kembali ke kamar, Carlos berpapasan dengan Federico dan berkata.


“Sebenarnya daddy tidak perlu menanyakan hal itu kepada Jessica, kalau dia tidak ingin mamanya hadir berarti ada sesuatu. Kita jangan memaksanya, aku tahu Jessica, Dadd. Aku tidak ingin kesedihannya berpengaruh pada kandungannya.”


“Iya maafkan daddy, Nak.” Carlos meninggalkan Federico dan masuk kedalam kamar, tapi pria itu melihat Jessica sudah tertidur.


Carlos menghampirinya dan mencium keningnya serta memakaikan selimut padanya, kemudian dia keluar kamar pergi ke teras.  Dia bertemu dengan Mike lalu Carlos mengajak kakak angkatnya duduk di pinggir pantai, dia berbincang bincang dengan Mike.


“Aku tidak habis pikir Carlos tentang mama Jessica, kenapa sekejam itu pada anaknya sendiri,” ujar  Mike membuka percakapan.


“Aku juga, Mike. Ada ya orang tua seperti itu.” Liliana datang dan duduk bersama mereka.


“Sayang, bagaimana dengan Jessica. Apakah dia baik-baik saja?”


“Iya, Mom. Dia sedang tidur sekarang,” sahut Carlos dengan melayangkan mata ke pantai.


“Ah, Sayang. Mommy merasa kasihan padanya, dia diperlakukan buruk oleh mamanya sendiri,” ujar Liliana dengan menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir mengapa mama Jessica begitu kejam kepada putrinya sendiri.


“Iya, Mom. Entah apa jadinya kalau dia tidak bertemu denganku. Jessica membantuku saat aku traveling ke kotanya, Mom. Saat di resort dia datang padaku sambil menangis, tangan serta kakinya merah karena di pukul mamanya,” tutur Carlos menceritakan saat dia dan Jessica bertemu.


“Sayang, kamu sudah menyelamatkan Jessica, sayangi dia  buat dia bahagia,” pesan Liliana dengan memegang pipi Carlos.


“Tentu saja, Mom. Aku sangat mencintainya.”


“Bagus kalau begitu,” sahut Liliana dengan senang. Dia sangat yakin putranya sanggup membahagiakan Jessica.


Hari semakin sore Liliana, Federico dan Mike akhirnya berpamitan kepada Jessica dan Carlos. Pasangan kekasih itu mengantar mereka sampai depan. Begitu kedua orang tua Carlos dan Mike pergi, Jessica masuk kedalam.  Tiba-tiba perut wanita itu berbunyi, dia menatap Carlos dan tersenyum.


“Babe, aku lapar.  Perutku sudah berbunyi,” ujar Jessica dengan bergelayut manja di lengan Carlos.


“Baiklah, ayo kita makan.” Jessica dan Carlos menuju ke ruang makan, disana sudah tersedia makanan.


Jessica dan Carlos duduk di meja makan kemudiam Carlos mengambilkan makanan untuk Jessica dan ingin menyuapi wanitanya.


“Sayang, aku suap ya,” pinta Carlos dengan meletakan piring yang sudah berisikan makanan di hadapannya.


“Aku makan sendiri saja,” sahut Jessica seraya menarik piring dari Carlos.


“Sayang, aku suap saja. Sini buka mulutnya.” Carlos mengambil makanan dengan sendok dan menyuapi wanitanya.


Carlos sangat memanjakan Jessica.


Selamat membaca


Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment

__ADS_1


__ADS_2