
Tak … tuk … tak … tuk ….
Bunyi langkah sepatu terdengar saat seorang wanita yang cantik memasuki kantor Reagen, mata karyawan tertuju kepadanya.
“Maaf ruangan tuan Reagen dimana?” tanya wanita itu kepada salah satu karyawan
“Nyonya naik saja ke lantai enam,” jawab karyawan itu
“Terima kasih,” ucap wanita itu kemudian dia berjalan menuju lift.
Dia menekan tombol lalu lift terbuka, dia masuk dan menekan angka enam. Liftpun bergerak naik, tiba di lantai enam dia keluar dari lift. Dia melihat kekiri dan kekanan,
“Dimana ruangan tuan Reagen?”
Salah satu karyawan lewat di depannya
“Maaf tuan, aku ingin bertanya padamu,” ujar wanita itu
“Oh … silahkan Nyonya.”
“Dimana ruang kerja tuan Reagen?” tanya wanita itu
“Itu ruang kerja tuan Reagen,” jawab karyawan itu sambil menunjuk ruang kerja Reagen
“Terima kasih.”
“Sama-sama Nyonya.”
Wanita itu melangkah menuju ke ruang kerja Reagen, dia mengetuk pintu lalu terdengar suara Reagen dari dalam menyuruhnya masuk.
Wanita itu membuka pintu kemudian dia masuk. Dia tersenyum kepada Reagen juga menyapa Reagen
“Selamat pagi tuan Reagen.”
Reagen terkejut melihat wanita yang sangat cantik di depannya, dia menatap wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Matanya tak berkedip, dia menganggumi kecantikan wanita itu
“Selamat pagi tuan Reagen,” sekali lagi wanita itu memberi salam kepada Reagen
“Ah … em … selamat pagi,” balas Reagen sedikit gugup. “Maaf Anda siapa?”
“Oh … iya, perkenalkan namaku Ambar
“Um … aku Reagen. Oh ya silahkan duduk,” ujar Reagen
Ambar duduk di sofa begitu juga Reagen, dia duduk tepat di depan Amber. Matanya tertuju terus kepada Ambar
“Dia cantik sekali,” gumam Reagen dalan hati
“Maaf tuan Reagen, apakah aku mengganggumu?” tanya ambar sambil tersenyum kepada Reagen
“Em … tidak, aku tidak sibuk. Ada yang bisa aku bantu?”
“Begini tuan Reagen, bossku menyuruhku untuk bertemu dengan Tuan. Dia ingin aku presentasikan product perusahaan kami kepada Tuan.”
“Oh … begitu,” gumam Reagen sambil matanya tak lepas dari dua bukit milik Ambar yang di lapisi kemeja tipis
“Iya Tuna, kalau tuan berkenan aku akan menjelaskan product-product ini kepada Tuan,” ujar Ambar sambil mengeluarkan brosur-brosur product dari dalam tasnya kemudian dia meletakkannya di meja.
Ambar mulai presentasikan prouduct-prouduct kepada Reagen, tapi Reagen tidak konsentrasi. Matanya tertuju ke dada Ambar.
Ambar tahu Reagen sedang memperhatikannya, dia tersenyum saat melihat tatapan Reagen di dadanya. Ambar berpura pura mengatur kemejanya.
“Bagaimana Tuan, apakah anda tertarik dengan product kami?”
Reagen masih diam, dia masih memperhatikan Ambar
“Tuan, apakah anda mengerti dengan apa yang aku jelaskan?” tanya Ambar lagi
“Oh … um … ya, aku mengerti. Aku suka dengan productnya,” kata Reagen sengan terbata-bata
“Terima kasih Tuan, kalau Tuan tertarik nanti bisa langsung menghubungi aku atau Leaderku.”
“Um … lebih bagus aku menghubungimu saja,” ujar Reagen sambil tersenyum
“Terima kasih Tuan.”
“Em … jangan panggil aku Tuan, panggil saja Reagen.”
“Baiklah Reagen, kalau begitu aku permisi dulu dan ini kartu namaku,” ujar Ambar
“Terima kasih, secepatnya aku akan menghubungimu,” kata Reagen sambil mengambil kartu nama yang di berikan Ambar padanya.
Ambar berdiri lalu dia berjalan ke arah pintu. Begitu juga Reagen, dia berdiri dan mengantar Ambar sampai di depan Kantor.
Ambar masuk kedalam mobil lalu dia meninggalkan parkiran. Sedangkan Reagen dia kembali masuk kedalam ruang kerjanya, kemudian dia duduk di kursi kerja.
“Dia cantik sekali, aku suka padanya,” gumam Reagen lalu terdengar pintu d ketuk
Reagen menyuruhnya masuk, pintu terbuka lalu masuk seorang wanita yang sering jalan bersama Reagen.
“Hmm … dia lagi,” gumam Reagen. “Ada apa Dela?”
“Nanti siang aku ingin mengajakmu makan siang bersamaku.”
“Aku tidak bisa Dela, aku akan makan siang di rumah,” ujar Reagen sambil matanya di computer
“Makan siang di rumah atau sudah janjian dengan wanita itu?”
Reagen menatap Dela
__ADS_1
“Kalau iya, kenapa?”
“Kamu jangan bermain-main denganku Reagen, ingat semua rahasiamu ada padaku!”
Reagen berdiri kemudian dia menarik lengan Dela
“Kamu jangan mengancamku, kamu pikir aku takut. Kalau sampai kamu buka mulut, maka aku akan membunuhmu,”
“Coba saja kalau kamu berani,” tantang Dela sambil mengibas tangan Reagen “Ingat jangan macam-macam denganku,” ujar Dela kemudian dia meninggalkan ruang kerja Reagen.
Reagen duduk kembali di kursi
“Shit … berani sekali dia mengancamku, aku harus melenyapkannya kalau tidak semua rahasiaku bisa terbongkar,” gumam Reagen dalam hati “Aku akan minta James untuk melenyapkannya.”
Reagen berdiri kemudian dia keluar dari kantor menuju ke parkiran, dia melihat James sedang duduk dan merokok. Reagen menghampiri James dan menyapa James
“Hi James, Robby mana?” tanya Reagen
“Oh … Robby lagi pergi ke kantor Mike, tadi Mike meneleponnya dan meminta dia untuk ke kantor.”
“Baiklah, aku akan kembali ke rumah. Oh ya James ada yang ingin aku bicarakan denganmu tapi nanti kalau sudah di rumah.”
“Ok Reagen, kita pulang sekarang?”
“Iya Jack,” jawab Reagen kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Sementara di kantor Carlos terlihat Carlos sedang berbincang-bincang dengan Acel.
“Oh ya Acel, pernikahanmu akan di langsungkan di Spanyol. Bagaimana menurutmu?” tanya Carlos
“Terserah papa saja, mau di langsungkan di sini juga tidak apa. Yang penting aku menikah dengan Sheren,” ujar Acel
Carlos tertawa dan menepuk punggung Acel
“Kamu sudah ingin sekali menikah ya?” canda Carlos lalu Acel tertawa
“Iya pap, aku juga sudah ingin punya anak. Lagi pula kuliahku sudah terhenti jadi lebih baik aku menikah saja,” kata Acel lalu dia tertawa
Carlos memeluk Acel dan mencium kening Acel
“Papa akan mengatur pernikahanmu dengan Sheren,”
Acel membalas pelukan Carlos
“Terima kasih pap, aku sangat menyayangimu,” ucap Acel sambil memeluk Carlos dengan erat
“Papa juga sangat menyayangi kalian, sekarang harapan papa hanya pada kamu dan Cella. Kairos sudah pergi,” ujar Carlos dengan wajah yang sedih
Acel menunduk kemudian dia memeluk kembali Carlos
“Aku sangat rindu kepada Kairos, aku rindu mereka bertiga. Sampai saat ini Ezer belum di temukan, aku rindu sekali padanya,” kata Acel
Acel ikut berdiri lalu mereka berdua meninggalkan ruang kerja, Carlos dan Acel pergi keparkiran lalu masuk ke dalam mobil
Carlos langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
Mexico
Kairos dan Mauritio sedang berbincang bincang dengan pemilik lahan mereka sedang bernegosiasi di kantor yang di sewa Kairos.
“Bagaimana tuan?” tanya Kairos sambil memainkan pulpen yang ada di apit di jarinya
“Aku pikirkan dulu, nanti aku beri kabar secepatnya.”
“Baiklah kalau begitu, aku tunggu kabar darimu Tuan,” Uujar Kairos
Akhirnya pemilik lahan meninggalkan kantor Kairos. Kairos berdiri lalu dia mengajak Mauritio ke ruang kerjanya.
Mereka berdua masuk ke ruang kerja lalu Kairos menyuruh Mauritio duduk.
“Mauritio kita harus mencari lahan lain, tidak perlu dekat pantai,” Kata Kairos sambil duduk di kursi kerjanya
“Baik Kairos, nanti aku akan mencoba mencari di daerah lain. Kalau disini banyak sudah menjadi milik perusahaan,” ujar Mauritio
“Iya Mauritio dan sudah pasti lahannya sangat mahal.”
“Benar Kairos, lahannya sudah mahal,” sahut Mauritio
“Baiklah kalau begitu, sebentar lagi kita makan siang. Bagusnya kita makan di mana Mauritio?” tanya Kairos
“Um … terserah kamu saja Kairos. Disini banyak restoran, kamu pilih saja,” jawab Mauritio sambil tersenyum.
“Ok, setelah menelepon mama kita cari restoran yang bagus,” ujar Kairos
Kairos mengeluarkan handphonenya kemudian dia menghubungi Jessica
Torrance
Jessica sedang menyiapkan makan siang mereka lalu handphonenya berbunyi, dia melihat panggilan dari Kairos. Jessica langsung pergi ke kamar, dia masuk ke dalam kamar mandi lalu dia menjawab telepon Kairos.
“Hallo sayang, apakah kalian baik-baik saja?” tanya Jessica
“Iya mam, kami baik- baik saja, oh ya Tania ada di Kota Torrance,” kata Kairos kepada Jessica
Jessica terkejut mendengar Tania berada di Kota Torrance
“Apaa?? Mengapa dia di Kota Torrance? Apa yang dia lakukan disini? Bagaimana kalau Mike dan Reagen tahu kalau dia masih hidup?” tanya Jessica, dia menjadi cemas Tania berada di Kota Torrance
Terdengar tawa Kairos di seberang telepon
__ADS_1
“Mam, pertanyaannya banyak sekali. Mama tidak usah cemas, Tania akan baik-baik saja disana,” jawab Kairos
“Terus Ezer dimana?” tanya Jessica lagi
“Ezer ada di Seattle, di rumah aunty Joly,” jawab Kairos dari sebernag telepon
“Oh … begitu,” gumam Jessica, “kalau begitu kamu hati-hati disana ya. kalau ada apa-apa cepat hubungi mama,” kata Jessica lalu terdengar suara Carlos memanggil Jessica. “sayang sudah dulu ya, papa kamu sudah pulang,” ujar Jessica kemudian dia langsung menutup teleponya.
Jessica memasukan handphone ke saku celananya kemudian dia keluar dari kamar mandi. Jessica langsung menemui Carlos.
“Hi beb, kamu sudah pulang?” tanya Jessica sambil matanya mencari Acel, “Acel mana beb?”
“Dia pergi ke kamarnya, kamu sudah selesai memasak?” tanya Carlos sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jessica
“Iya beb, aku sudah selesai memasak. Sebentar aku akan memanggil mereka untuk makan siang,” ujar Jessica kemudian dia melepaskan tangan Carlos dari pinggangnya.
Jessica naik ke atas dan memanggil Acel dan Cella, dia juga masuk ke kamar Isabell dan mengajak Isabell untuk makan siang. Jessica menggendong Chantiq kemudian dia turun bersama Isabell.
Mereka menuju ke ruang makan, di susul Acel dan Cella. Jessica mendudukan Chantiq di kursi bayi kemudian dia mengambilkan makanan untuk Carlos.
Jessica juga mengambilkan makanan untuk Acel, Cella dan Isabell. (ibu yang baik ya. he … he .. he)
Mereka makan bersama, sesekali Jessica menyuapi Chantiq dengan makanan bayinya. Carlos memperhatikan Chantiq lalu dia menghentikan makannya, dia teringat Kairos lagi. Airmata jatuh menetes di pipinya.
Jessica menatap Carlos kemudian dia berdiri dan memeluk Kairos, Acel dan Cella juga ikut menangis.
“Aku sangat merindukannya,” bisik Carlos dengan menahan tangisnya
“Aku juga beb, aku sangat merindukan mereka,” ujar Jessica kemudian dia menghapus airmata Carlos, “kita makan lagi.”
“Iya ayo!” kata Carlos sambil menganggukan kepala, kemudian Jessica duduk kembali
Jessica tersenyum kepada Acel dan Cella
“Ayo makan sayang!” ujar Jessica
“Iya mam,” ucap Acel sambil memasukan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
Sementara di kediaman Mike terlihat Rebecca sedang menidurkan Clau lalu Reagen masuk, dia tersenyum kepada Rebecca. Reagen menghampiri Clau kemudian dia mencium kening Clau.
“Anak papi mau tidur,” ujar Reagen sambil membelai pipi Clau
Rebecca berdiri lalu dia meninggalkan Reagen dan Clau, dia duduk di taman lalu dia melihat Sonia dan Mike sedang berbincang-bincang di taman. Rebecca duduk di dekat mereka dan berpura-pura merapikan meja dia ingin mendengar apa yang di rencakan Mike dan Sonia
“Apakah kamu sudah dapat orang untuk membunuh Acel?” tanya Sonia
“Iya, akut akan membunuh Acel bukan dengan cara menembaknya atau menikam. Tapi aku akan meminta orang itu untuk memasukan racun kedalam minuman Acel, dan racun ini tidak akan membuat Acel langsung mati. Tapi dia akan bekerja selama seminggu di tubuh Acel dan setelah itu, finish,” ujar Mike dengan bangga
Sonia tertawa lalu dia memeluk Mike
“Kamu sangat hebat sayang, kita harus segera menjalankan rencana ini supaya perusahaan Federico bisa kita miliki,” kata Sonia dengan senyuman sinisnya
“Tentu saja Sonia, aku akan segera menjalankan rencana ini. Aku tidak sabar lagi untuk memliki perusahan Federico. Lagi pula aku yang membuat perusahaan itu menjadi besar,” ujar Mike dengan nada kesal
Rebecca mendengar semua percakapan Mike dan Sonia, dia tersenyum kemudian dia berdiri meninggalkan Mike dan Sonia. Rebecca masuk kedalam lalu dia berpapasan dengan Reagen dan Clau, Rebecca mengambil Clau dari Reagen kemudian dia kembali ke taman.
Disana masih ada Mike dan Sonia, Rebecca duduk dan bermain-main dengan Clau.
Reagen datang lalu dia duduk dekat Sonia,
“Bagaimana? Apakah sudah ad acara untuk membunuh Acel?” tanya Reagen kepada Mike
“Kamu tenang saja Reagen, aku sudah menemukan cara untuk melenyapkan Acel,” ujar Mike sambil berdiri, dia menghampiri Rebecca dan Clau kemudian dia mencium pipi Clau
“Apa rencannya Mike?” tanya Reagen dengan penasaran
Mike duduk kembali kemudian dia menceritakan kepada Reagen semua rencananya.
“Itu rencana yang bagus, jadi kalau Acel mati tidak ada yang tahu kalau dia diracun,” ujar Reagen
“Kalau Acel mati, peruasahan minyak yang ada di Ecuador akan menjadi milikmu,” kata Sonia dengan gembira
“Tentu saja mom, aku anak satu-satunya,” canda Reagen lalu Mike tertawa
Tanpa mereka sadari percakapan mereka sudah di dengar dan di rekam oleh Charlie, setiap Rebecca pergi kerumah Mike Charlie selalu memasangkan alat sadap di badan Rebbeca.
Selamat membaca
untuk para pembacaku yang setia, aku ingin merekomendasikan novel yang sangat bagus untuk di baca, aku juga author tapi aku suka baca novel mereka karena alurnya sangat bagus dan semuanya ada di Noveltoon atau Mangatoon, bacanya juga gratis
Tawanan Cantik itu Istriku
Ketika Cinta Itu Datang (End)
Karena Dia Ali (End)
Amara
Putra Raja
Nestapa
Menikahi Bumi Yang Di Cintai Langit
Kepentok Cinta Dokter Sintal
I Feel Happy Or Sad
Aku gak suka baca novel Indonesia tapi begitu aku baca novel novel yang di atas aku sangat tertarik karena alurnya sangat bagus. coba aja mampir
__ADS_1
Cintai karya anak bangsa