
Hari ini Jessica tidak masuk sekolah, dia meminta ijin kepada wali kelas dan bersyukur ibu wali sangat baik kepada gadis itu. Walau’pun sering tidak masuk tapi Jessica selalu mengerjakan tugas dan nilainya sangat bagus.
Kali ini Jessica menunggu Glen untuk menjemputnya, hari ini babak semi final. Jessica berharap dia bisa bisa konsentrasi dan memenangkan pertandingan.
Masalahnya hati Jessica saat ini masih korslet, jujur saja dia belum bisa melupakan Carlos dan tidak semudah itu untuk melupakannya, Jessica sudah terlanjur jatuh cinta padanya.
Terdengar bunyi klakson mobil di depan Jessica melihat keluar, dan ternyata itu mobil Glen. Jessica mengambil tas yang berisikan perlengkapan olahraga lalu dia menemui Glen kemudian menyapanya.
“Selamat siang, Glen.” Glen tersenyum dan membukakan pintu untuk Jessica.
“Selamat siang, Cantik.” Glen membalas dengan menggoda Jessica tapi Jessica hanya tersenyum smirk sambil masuk ke mobil.
“Mau jemput Fanya?” tanya Jessica sambil menutup pintu mobil dan memakai sabuk pengaman.
“Tidak, Jess. Kita langsung ke gedung pertandingan karena Fanya sudah pergi bersama Tini,” sahut Glen sambil menghidupkan mesin mobil.
“Oh begitu,” gumam Jessica. “Kalau begitu kita langsung saja kesana.” Glen menjalankan mobilnya, sepanjang jalan Jessica hanya diam. Pikirannya melayang kepada Carlos, dia sangat rindu kepada pria itu.
“Jess, kamu baik-baik saja?” Pertanyaan Glen membuyarkan lamunan Jessica, dia menatap pria itu dan berusaha tersenyum.
“Iya, aku baik-baik saja.” Glen menatap sekilas kepada Jessica lalu kembali mengalihkan pandangannya lurus kedepan dan konsentrasi menyetir.
“Kamu masih memikirkan, Carlos?” tanya Glen lagi dengan wajah datar.
“Tidak usah bahas Carlos, Glen. Nanti hilang konsentrasiku bermain.” Jessica tidak ingin Glen tahu kalau dia sedang memikirkan Carlos.
“Baiklah, kamu harus bermain bagus, Jess. Kata Fanya banyak pejabat negara yang akan hadir. Ini adalah kesempatan baik buat kamu.” Glen memberikan saran juga semangat kepada Jessica, dia tahu sebenarnya gadis itu masih memikirkan Carlos.
Tidak lama kemudian Jessica dan Glen sampai di gedung perrtandingan, Glen memarkirkan mobilnya. Selesai, mereka berdua turun. Jessica melihat Fanya sedang berjalan menghampiri dia dan Glen, gadis itu langsung bertanya pada Fanya
“Kenapa tidak datang bersama, Glen?”
“Tadi Tini nongkrong di kosanku jadi sekalian aja bareng,” sahut Fanya seraya berjalan di samping Jessica.
“Kalian nongkrong gak ngajak-ajak aku,” ujar Jessica dengan wajah cemberut.
“Sorry, kirain kamu ingin sendiri jadi aku gak mau ganggu kamu, Jess.” Jessica tersenyum dan menarik tangan Fanya.
“Tidak apa apa, ayo masuk.” Mereka’pun masuk ke dalam, Jessica mendekati coach dan berbisik. “Aku ingin Glen duduk di dekat pemain cadangan supaya dekat aku dan Fanya.” Coach memberi ijin lalu Jessica memanggil Glen dan mengantar pria itu duduk dekat pemain cadangan.
Jessica melihat Glen mengeluarkan stick camera lalu memasang kamera kecil itu dan menyambungkan ke ponselnya.
‘Apa yang akan di lakukan, Glen? Hm … ada-ada saja pria ini,’ gumam Jessica dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Jessica dan Fanya masuk keruang ganti, sementara mengganti pakaian, Fanya datang menghampiri Jessica.
“Jess, kamu bisakan?” tanya Fanya karena dia tahu suasana hati Jessica saat ini.
Jessica menganggukan kepala, lalu memakai sepatu dan pelindung lutut. Kemudian dia keluar menemui Glen lalu aku duduk di samping pria itu.
Jessica melayangkan pandangannya ke seluruh gedung dan melihat sudah banyak penonton, mereka adalah karyawan-karyawan yang ingin memberi semangat untuk tim utusan kantor mereka.
Jessica kembali menatap Glen, yang sibuk dengan cameranya. Kembali gadis itu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Untuk apa camera itu?” tanya Jessica dengan mengernyitkan dahinya.
“Aku ingin merekam kalian bermain.” Jessica tertawa dan kembali menggeleng-gelengkan kepala, akhirnya tim Jessica keluar kemudian mereka duduk di dekat gadis itu. Coach memberikan merea briefing.
“Kita pakai Formasi 6-2. Jess kamu siapkan? kamu babak pertama masuk,” ujar coach denga menatap Jessica memastikan gadis itu siap.
“Siap, coach. Aku ingin Tini setter,” pinta Jessica pada coach, karena Tini tahu cara mengukur dalam mengumpan bola pada smasher. Tini hebat dalam hal itu.
“Tini siap ya,” seru coach pada Tini.
“Siap, coach,” sahut Tini sambil tersenyum pada kepada Jessica dan mengacungkan kedua jempolnya.
Akhirnya mereka masuk ke lapangan, wasit menyuruh memilih sisi coin dan tim Jessica memilih angka lalu wasit melemparkan coin ke atas dan menangkapnya kemudian dia membuka telapak tangannya, akhirnya tim mereka yang lebih dulu melakukan service.
Aulia melakukan service, sudah di mulai lalu di terima oleh pihak lawan, mereka mencoba melakukan smash tapi di block oleh Fanya dan Okta. Bola di ambil Tini, Jessica keluar ke sisi lapangan untuk bersiap melakukan smash.
Tiba-tiba emosi datang saat dia mengingat Carlos, lalu terdengar teriakan dari Tini.
“Jess, ambil.” Jessica refleks melompat dan melampiaskan amarahnya dengan memukul bola. Benda bulat itu di terima lawan tapi sayang keluar lapangan, skor pertama bagi tim Jessica.
__ADS_1
Jessica mendengar teriakan Glen lalu gadis itu menatapnya, ternyata Glen sedang merekam mereka. Jessica tersenyum dan mengacungkan jempol padanya.
Masih Aulia melakukan service tapi sayang service Aulia terlalu kencang dan bola di biarkan oleh lawan. Service over, skor menjadi sama.
Tim lawan melakukan service, di terima oleh Okta dan di berikan pada Tini. Tini mengumpan bola lalu di smash oleh Fanya tapi bola masih di terima kembali oleh tim lawan dan langsung berpindah ke tim Jessica.
Bola langsung di sambar oleh Iren, pukulan smash Iren sangat kencang dan benda bulat itu masuk ke daerah lawan. Kini service berpindah ke tim Jessica, giliran Endah yang melakukan service.
Sudah di lakukan, bola di terima lawan, mereka melakukan smash Jessica dan Fanya melompat untuk melakukan block dan mereka berhasil. Tini mengumpan bola pada Jessica, lalu gadis itu langsung melompat dan melakukan pukulan smash, bola masuk. Skor bertambah, babak pertama tim mereka menang. Skor 25 – 16
Babak kedua Jessica tidak masuk di gantikan oleh Indah gadis itu duduk dekat Glen dan memperhatikan mereka bermain. Jessica tahu Glen selalu memandangnya tapi gadis itu berpura-pura melihat pertandingan.
Pada saat tim memasukan bola Jessica melompat dan bersorak, Glen selalu merekamnya. Teriakan-teriakan penonton memberikan semangat kepada tim saling berbalasan. Babak kedua terjadi rally point tapi tim Jessica kalah.
Masuk babak ketiga Jessica ikut bermain. Service dilakukan oleh tim lawan, Enda menerima bola lalu diberikan kepada Tini. Tini mengumpan bola pada Fanya dan Fanya melakukan smash, bola masuk merekapun berpelukan.
Giliran Fanya melakukan service, sudah di lakukan. Fanya berlari ke depan net, tim lawan melakukan smash Jessica dan Fanya melakukan block.
Bola berpindah kepada Tini lalu Tini langsung mengumpan bola kepada Jessica, gadis itu melakukan smash tapi bola masih bisa di terima oleh pihak lawan.
Kemudian mereka melakukan smash Jessica dan Fanya melompat untuk melakukan block akhirnya bola jatuh di daerah lawan.
Skor saat ini 24-24 dan kembali terjadi rally poin. Mereka harus mencari dua poin lagi, giliran Jessica melakukan service. Untuk memenangkan pertandingan Jessica dan timnya harus bekerja keras. Di dalam gedung semakin bergemuruh sorak-sorak penonton dalam memberikan dukungan pada masin- masing tim. Jessica menjadi gugup.
“Ayo, Jess. Kamu pasti bisa.” Jessica memberikan semangat kepada dirinya sendiri, dia memutar-mutar bola di tangannya.
Jessica melempar bola ke atas lalu melompat tinggi, dia melakukan smash service. Bola di terima lawan dan langsung berpindah tangan ke tim Jessica.
Tini mengambil bola sementara Jessica segera berlari ke luar sisi lapangan untuk menerima umpan dari Tini, Tini mengangkat bola lalu Jessica melompat berbarengan dengan Fanya lalu Fanya melakukan smash dengan cepat dan keras. Bola masuk tepat di tengah daerah lawan.
Masih Jessica melakukan service, dia melihat coach memberikan semangat kepadanya. Jessica juga mendengar suara teriakan Glen.
“Ayo, Jess kamu bisa.” Jessica melihatnya entah kenapa hatinya begitu sedih, dia membayangkan seandainya Carlos yang disitu dan memberikannya semangat. Jessica menunduk dan memainkan bola di tangannya.
Terdengar Fanya bertepuk tangan dan berteriak. “Jess ayo tinggal satu lagi.” Jessica mengangkat kepalanya, terdengar lagi sorak-sorak penonton. Mereka memberi semangat pada tim mereka.
Jessica menarik nafas panjang lalu melempar bola ke atas, dia melompat dan melakukan service. Jessica mengeluarkan segala amarahnya kemudian memukul bola dengan kencang sehingga tim lawan tidak berhasil mengembalikan benda bulat itu.
Sementara di apartemen Carlos merasa kesepian, dia sangat merindukan Jessica dia tidak tahu lagi kemana akan mencari gadis itu. Carlos mengambil minuman di mini bar dan duduk di meja makan, dia menuangkan red label di gelasnya lalu meminumnya.
“Tempat ini terasa sepi, sehari tidak melihatnya terasa gila. Entah dimana dia sekarang.” Carlos berucap sambil menuang lagi minuman ke dalam gelas dan kembali meminumnya.
“Kamu dimana, Sayang? pulanglah, kembalilah padaku.” Sudah banyak minuman yang masuk ke dalam perut Carlos, dia sudah terlihat mabuk dan meracau seperti orang gila memanggil Jessica.
Carlos tidak berhenti menuang minuman ke dalam gelas walau’pun sudah dalam keadaan mabuk. Dengan minum Carlos bisa melupakan kesedihan atas perginya gadis itu. Dia sangat rindu canda Jessica serta manjanya.
“Semua ini menyiksaku.” Dia mengumpat lalu Carlos berdiri dan mengambil lagi minuman kali ini dia mengambil red wine. Sambil berjalan ke depan jendela dia meminum langsung red wine dari botol.
“Aku menginginkan Jessicaku, sayang kamu dimana.” Sambil memanggil Jesica Carlos melangkah ke atas dengan membawa botol red wine. dia masuk ke dalam kamar Jessica dan melihat foto-foto gadis itu yang masih terpajang di dinding kamar.
Carlos memegang foto Jessica dan menciumnya. “Kembalilah sayang.” Kata Carlos lagi sambil membelai wajah Jessica di foto itu.
Carlos duduk di lantai dan memegang foto Jessica, dia minum kembali minuman yang ada di botol. Carlos melihat kemeja yang bekas Jessica pakai, dia mengambilnya dan mengirup aroma parfum khas Jessica yang masih menempel di kemeja itu.
Carlos memeluk kemeja itu sehingga membuat dia semakin merindukan Jessica. Carlos menghabiskan minuman yang di botol lalu dia naik dan berbaring di tempat tidur Jessica sambil memeluk kemeja gadis itu.
Kembali ke arena pertandingan, akhirnya tim Jessica menang dan masuk ke babak final. Jessica berjalan menuju ruang ganti tiba-tiba ada yang memanggilnya, Jessica berhenti dan menoleh kepada orang tersebut. Seorang pria menghampiri Jessica lalu menyapanya.
“Hi aku dari perusahan advertising, namaku Donald. Boss ku ingin bertemu dengan mba Jessica, apa Anda punya waktu?” Jessica tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ok, nanti selesai ganti pakaian aku temui bos kamu.” Pria itu terlihat sangat senang Jessica mau menemui bossnya.
“Baik, Mba Jessica. Kami tunggu ya,” ucap Donald sambil tersenyum dan memperhatikan Jessica masuk ke ruang ganti.
Jessica mengganti pakainnya dengan traning dan kaos, lalu keluar menemui Donal. Pria itu langsung mengantarnya untuk menemu bossnya. Boss dari Donal sedang duduk di bangku penonton. Saat tiba Donal langsung mengenalkan Jessica kepada Bossnya.
“Jessica ini pak Rudy bossku.” Jessica tersenyum kepada pak Rudy dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan pria itu.
“Jessica.” Pak Rudy tersenyum memandang Jessica dan menyambut tangan gadis itu untuk bersalaman. “Ada apa Pak Rudy ingin bertemu denganku?” tanya Jessica seraya melepaskan tangan pak Rudy.
“Begini, Jessica. Aku ingin menawarkan kamu untuk menjadi iklan di product kami. Jessica’kan cantik tinggi pula, jadi cocok untuk menjadi bintang iklan kami,” puji pak Rudy sambil memperhatikan wajah cantik Jessica dan mengaguminya.
“Um … maaf, Pak. Kalau boleh tahu produknya apa ya?” tanya Jessica dengan mengernyitkan dahi, dia sebenarnya senang mendapat penawaran seperti tapi Jessica sangat berhati-hati. Dia takut dirinya dipermainkan.
__ADS_1
“Produknya susu, kalau Jessica mau bisa langsung dikontrak.” Kembali pak Rudy menjelaskan kepada Jessica, gadis itu mulai tertarik.
”Ehm … aku pikir-pikir dulu ya pak.” Jessica belum langsung setuju dengan penawaran itu, dia ingin melihat apakah pak Rudy benar-benar serius.
“Iya, tapi jangan lama-lama berpikirnya,” ujar pak Rudy dengan bercanda.
“Iya, Pak. Secepatnya aku akan menghubungi pak Rudy.” Pria itu terlihat sangat senang dan berharap Jessica mau menjadi bintang iklan di produk mereka.
“Ini kartu namaku, nanti beri kami kabar secepatnya ya,” pinta pak Rudy sambil memberikan kartu Namanya pada Jessica.
“Pasti, Pak. secepatnya akan aku kabari, aku permisi dulu ya,” pamit Jessica setelah mengambil kartu nama yang diberikan oleh pak Rudy kepadanya.
“Iya, jangan lupa.” Pak Rudy mengingatkan lagi lalu Jessica menganggukan kepala dan meninggalkan pak Rudy juga Donald. Jessica melihat Glen serta Fanya memperhatikannya, kemudian gadis itu menghampiri mereka berdua.
“Siapa mereka, Jess?” tanya Fanya dengan penasaran sambil memperhatikan pak Rudy dan Donald
“Oh, mereka pak Rudy dan Donal,” sahut Jessica sambil tersenyum.
“Kamu mengenal mereka?” Kembali Fanya bertanya dengan mengernyitkan dahinya.
“Aku baru kenal tadi, Fan.” Fanya mengangkat Alisnya menatap Jessica.
“Kenapa mereka?” Fanya begitu penasaran apa yang dibincangkan pak Rudy dan Donald kepada Jessica.
“Oh, pak Rudy menawarkan aku untuk menjadi bintang iklan di produk mereka.”
“Bagus itu, terus kamu sudah setuju?” Kembali Fanya bertanya dengan wajah gembira, dia senang kalau sahabatnya itu ada penghasilan sampingan, mengingat saat ini Jessica tinggal sendiri di Jakarta.
“Um ... belum, Fan. Nanti aku kabari mereka.”
“Jess, ambil saja, itu kesempatanmu.” Fanya mendesak Jessica agar menerima tawaran itu. “Kamu bisa tunjukan pada Carlos tanpa dia juga kamu bisa.” Jessica hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Hm, Carlos lagi Carlos lagi.” Jessica bergumam dalam hati, setiap nama itu di sebut terasa sakit hati gadis itu.
“Aku mau pulang, aku capek.” Gadis itu mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin Fanya membahas Carlos.
“Jess, Direktur utama mengajak kita makan nanti malam,” uajr Fanya sambil berjalan di samping Jessica
“Iya aku pulang dulu mau istirahat.” Jessica dan Fanya berjalan keluar dari gedung dan menuju parkiran.
Jessica membuka pintu mobil lalu masuk sedangkan Fanya duduk di depan, Glen menjalankan kendaraannya meninggalka parkiran. Jessica berpikir Glen akan mengantarnya lebih dulu tapi ternyata Fanya yang duluan di antar.
Tiba di tempat kos Fanya turun lalu Jessica dan Glen langsung pergi, Jessica diam di mobil lalu pria itu membuka pecakapan.
“Jess, kamu bermain sangat bagus,” puji Glen dengan melirik gadis itu.
“Bermain apa?” tanya Jessica dengan bercanda lalu pria itu mengernyitkan dahinya.
“Bermain voli, Jess. Masa bermain di ranjang.” Jessica langsung tertawa dan menepuk pelan lengan Glen. “Pikiran kamu itu aneh, aku lagi bahas voli malah berpikir lain. Pakai bertanya bermain apa.” Kembali Jessica tertawa melihat mimik wajah Glen.
Akhirnya mereka tiba di kos tempat Jessica tinggal, gadis itu itu turun diikuti oleh Glen. Jessica masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas olahraganya, tanpa dia sadari Glen mengikutinya masuk ke kamar. Jessica menatap Glen dengan mengerutkan dahinya.
“Aku mau ke kamar mandi,” ujar Glen dengan melihat mimik wajah Jessica yang menatapnya dengan heran.
“Ohh, masuk saja.” Jessica memberi jalan kepada Glen, lalu mengeluarkan pakaian volinya dan memasukan kedalam keranjang baju kotor.
Glen keluar dari kamar mandi, kemudian menghampiri Jesssica dan tiba tiba dia mencium bibir gadis itu. Jessica terdiam lalu menolak secara pelan badan Glen.
“Apa yang kamu lakukan, Glen?” Jessica menatap Glen dengan raut wajah aneh
“Ahh sorry, Jess. Aku tidak tau apa yang aku lakukan tiba-tiba saja aku ingin menciummu, jangan marah ya.” Jessica hanya menganggukan kepala lalu Glen keluar dari kamar dan duduk di teras depan.
Tidak lama kemudian Glen pamit pulang, begitu pria itu pergi Jessica masuk ke dalam kamar dan berbaring. Pikiran dan badan terasa lelah, dia memejamkan mata dan tertidur.
Jangan lupa Like dan Komentar ya.
Oh ya, baca juga Novel terbaruku dengan judul
AMOR PROHIBIDO (CINTA TERLARANG)
KALAU JUDULNYA TIDAK DITEMUKAN, MASUK SAJA KE PROFILE KU DAN LIHAT KARYAKU
Selamat membaca
__ADS_1