
Sudah tiga hari Jessica diculik dan sampai saat ini belum ada kabar dari polisi. Andrew selalu mendampingi Carlos, sementara Carlos dua hari tidak ke kantor karena memikirkan Jessica, dia menyalakan rokok dan sempat terlihat oleh Andrew kekasih Jessica menyeka air matanya. Andrew merasa kasihan, dalam hatinya. ‘Begitu besar cinta Carlos kepada Jessica.’
Andrew mengeluarkan ponsel dari sakunya dan membuka aplikasi tempat dia dan Jessica berkirim pesan. Pria itu membaca riwayat percakapan dia dan Jessica. ‘Maafkan aku, Jess yang tidak sempat menolongmu.
Andrew menekan panggil mencoba menghubungi Jessica lewat aplikasi lalu dia terkejut di ponselnya tertera berdering itu tandanya gawai Jessica aktif. Andrew menempelkan benda pipi itu ke telinganya dan terdengar nada panggil.
“Carlos ponsel Jessica aktif, ini aku coba telpon lewat aplikasi dan ada nada panggil.” Carlos langsung mengambil ponsel Andrew dan menempelkan di telinganya, dia juga mendengar ada nada panggil.
“Iya ini ada nada panggil, tapi kenapa aku telpon tidak aktif?” tanya Carlos dengan mengerutkan dahi, dia tidak tahu kalau Jessica memiliki dua ponsel.
“Kamu telepon pakai aplikasi?” Carlos menggelengkan kepala.
“Tidak, Ndrew. Aku menelpon biasa di nomornya langsung.” Andrew mengangkat kedua alisnya, dia bingung menatap Carlos.
“Carlos, Jessica memiliki dua ponsel yang satu hanya untuk telepon dan satunya lagi untuk internetan,” turu Andrew.
“Yang untuk internet ponsel apa?” Kembali Carlos bertanya.
“Ponsel yang dari kamu.” Carlos menggeleng-gelengkan kepala, dia terlihat sangat kesal.
“Kenapa tidak beri tahu dari awal, ponsel itu aku hubungkan dengan milikku juga macbook, jadi kalau itu hilang aku bisa temukan lagi.” Carlos cepat-cepat menyalakan macbooknya dan menghubungkan, dia mulai mencari lokasi ponsel Jessica berada.
“Ndrew coba hubungi lagi ponsel Jessica” Andrew menghubungi lagi ponsel Jessica dan masih terdengar nada panggil disana, kemudian muncul map dan titik merah yang kedap-kedip di layar macbook.
“Ndrew posisi ponsel sekarang ada disini.” Carlos mengarahkan macbooknya kepada Andrew.
“Carlos coba di zoom.” Begitu di zoom terlihat jelas alamatnya. “Carlos ayo kita ke kantor polisi.”
Carlos langsung menutup macbook dan membawanya, mereka berdua berlarian menuju lift dan turun ke basement.
Kembali Carlos dan Andrew berlari menuju ke mobil. Mereka berdua masuk dan Andrew langsung menjalankan kendaraan milik Carlos menuju kantor polisi.
Rumah Kosong
Sementara di rumah kosong Jessica masih terikat, dia tidak diberi makan dan minum, badannya semakin lemah. Jessica menahan rasa lapar juga haus, dia terbaring di lantai. Air bening keluar dari sudut matanya. ‘Mungkin aku akan mati sekarang,’ katanya dalam hati. Kesadaran Jessica sudah mulai hilang, dia menutup matanya sambil berkata. “Carlos aku mencintaimu.”
Sementara itu Carlos dan Andrew tiba di kantor polisi dan menunjukkan posisi terakhir ponsel Jessica.
“Pak mungkin dia ada di alamat ini, bagaimana kalau kita coba lihat kesana,” pinta Andrew dengan menunjukan posisi ponsel Jessica lewat macbook milik Carlos.
Pak Henrik menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Carlos dan Andrew. Beberapa polisi naik ke mobil patroli dan mengikuti kendaraan yang ditumpangi Carlos.
Andrew menginjak gas mobilnya dan melaju menuju ke titik merah yang tertera di macbook Carlos dan polisi mengikuti mereka. Tiba di tempat, Andrew memberhentikan kendaraannya jauh dari rumah kosong itu.
Dia dan Carlos turun dan menghampiri mobil polisi, mereka mengamati tempat itu dari jauh lalu Andrew melihat seorang laki-laki keluar dari rumah kosong itu.
“Pak itu salah satu orang yang menculik Jessica,” ujar Andrew seraya tangannya menunjuk kepada pria yang baru saja keluar dari rumah.
Polisi melihat orang itu dan mulai mengatur strategi, mereka membagi kelompok dan menyebar. Petugas mulai mengepung rumah kosong itu.
Andrew dan Carlos mengikuti komandan, mereka berjalan mengarah ke tempat Jessica di sekap. Sementara polisi yang lain mulai mendekati rumah itu dan tiba-tiba ada yang keluar, polisi langsung menodongkan senjata pada orang itu.
Carlos dan Andrew langsung berlarian bersama salah satu polisi masuk ke dalam rumah itu dan polisi langsung menodongkan senjata pada penculik.
Carlos langsung mencari Jessica, dia menemukan sang kekasih di dalam ruangan dalam keadaan terbaring di lantai dengan tidak sadarkan diri. Carlos melepaskan ikatan di tangan dan kaki Jessica, lalu menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu.
“Sayang, bangun please. Ayo bangun.” Carlos berteriak memanggil Andrew. Mendengar suara Carlos memanggil namanya Andrew masuk ke dalam ruangan. “Ndrew kita kerumah sakit sekarang.” Sambil berucapa Carlos mengangkat Jessica. “Ndrew ambil tas Jessica.”
Andrew mengambil tas Jessica dan mengikuti Carlos, mereka berlari menuju mobil. Andrew membuka pintu lalu Carlos masuk sambil menggendong Jessica yang sudah tidak sadarkan diri.
Andrew ikut masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas, mereka mencari rumah sakit yang terdekat. Sementara para penculik di bawah ke kantor polisi untuk di interogasi.
Carlos dan Andrew masih mencari rumah sakit, Carlos sangat khawatir. Dia menepuk-nepuk kembali pipi Jessica tapi gadis itu tidak bergerak lalu Andrew melihat rumah sakit.
“Carlos itu rumah sakit, kita bawa Jessica ke sana saja,” seru Andrew lalu mengarahkan mobil ke rumah sakit itu.
“Iya yang penting rumah sakit ndrew ayo cepat,” ujar Carlos penuh khawatir sambil memeluk Jessica.
Sampai di rumah sakit Carlos langsung membawa Jessica ke dalam dan para petugas langsung meletakkan gadis itu di brankar lalu tidak lama kemudian dokter datang.
“Maaf kalian harus menunggu di luar,” Kata petugas rumah sakit pada Carlos dan Andrew.
__ADS_1
Carlos dan Andrew langsung keluar, kekasih Jessica begitu gelisah dia mondar-mandir lalu tiba-tiba suster berlari keluar menuju ke ruangan lain dan dia kembali bersama seorang dokter. Mereka berlarian dan membawa obat-obatan.
Carlos semakin khawatir melihat dokter dan suster berlarian masuk ke dalam ruangan, ‘ada apa dengan Jessica.’ Carlos duduk dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
“Ada apa dengan Jessica, kenapa dokter begitu panik.” Andrew melihat Carlos begitu khawatir, dan sesekali menyeka air matanya.
‘Kenapa dokter berlari dan kelihatan panik, ada apa dengan Jessica?” Andrew juga brertanya dalam hati.
Tidak lama kemudian dokter itu keluar dan menghampiri Carlos.
“Apakah anda suaminya?” tanya dokter pada Carlos.
“Iya benar saya suaminya.” Dia berbohong pada dokter. “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Carlos pada dokter penuh khawatir.
“Tadi saat anda membawa istri anda, keadaan jantung istri dan Janinnya lemah karena tidak ada asupan makanan, tapi syukur detak sudah kembali normal tapi istri anda harus di rawat dulu karena kondisinya masih lemah.” tutur dokter menjelaskan keadaan Jessica dan janin yang ada di dalam perut sang kekasih.
“Baik dokter terima kasih.” Carlos terkejut dengan penjelasan dokter. ‘Janin, apa maksud dokter dengan janin? apakah Jessica sedang hamil saat ini?’ tanya Carlos dalam hatinya.
Kembali dia memegang kepalanya dan duduk, Carlos tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, rasa bahagia dan takut bercampur aduk. Carlos masuk ke dalam ruangan dan melihat Jessica sudah siuman. Dia menghampiri sang kekasih lalu Jessica tersenyum.
“Babe, aku pikir aku akan mati,” ujar Jessica dengan suara lemas.
“Jangan bicara seperti itu, Sayang. Aku tersiksa mendengar kamu di culik dan tidak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku.” Carlos memegang tangan Jessica dan mengecupnya.
“Babe .…” Jessica menarik dan memeluk Carlos.
Dalam hati Carlos. ‘Apakah Jessica sudah tahu kalau dia lagi hamil.’ Baru saja Carlos akan menanyakannya, suster masuk dan memberitahukan akan memindahkan Jessica ke ruang perawatan. Carlos meminta untuk memindahkannya di ruang VIP
Andrew masuk dan menghampiri Jessica lalu menyapa sahabtnya itu.
“Hi, bagaiman keadaanmu. Kalu di culik undang aku.” Andrew bercanda sambil berdiri di samping brankar.
“Dasar gila,” umpat Jessica lalu Andrew tertaw. “Aku masih merasa pusing, mungkin karena tidak makan.” Jessica menjawab pertanyaan Andrew sambil memegang tangan Carlos.
“Iya, mungkin,” celetuk Andrew dengan tersenyum.
Suster masuk lalu membawa Jessica menuju ruang VIP. Carlos dan Andrew mengikuti dari belakang. Sampai diruang suster langsung meninggalkan mereka. Carlos duduk di samping tempat tidur dan memegang tangan Jessica dan menciumnya.
“Ndrew, tolong temani Jessica sebentar aku mau menemui dokter.” Andrew menganggukan kepala lalu menarik kursi dan duduk di samping brankar.
“Baik, Carlos,” sahut Andrew
“Sayang aku tinggal sebentar ya, aku mau bicara dengan dokter,” pamit Carlos kemudian mengecup kening sang kekasih.
“Iya ... jangan lama-lama ya.” Carlos tersenyum dan menganggukan kepala. Kembali dia mencium kening Jessica dan pergi meninggalkan ruangan menemnui dokter kandungan.
Carlos mengetuk pintu dan suster membukanya lalu menyuru Carlos masuk. Pria itu duduk lalu mulai bertanya.
“Dok, kira-kira berapa usia kandungan istriku?” Carlos berbohong dengan menyebut Jessica istrinya karena tidak ingin dokter tahu kalau dia dan sang kekasih belum menikah.
Kalau di negaranya tidak masalah pasangan yang belum menikah tinggal bersama bahkan sampai tua sudah memiliki anak belum juga menikah dan itu baik-baik saja di mata mereka. Tapi Carlos berpikir ini adalah Indonesia, berbeda dengan negara asalnya. Segala sesuatu akan menjadi pergunjinga.
“Oh, usia kandungan istri Anda sekitar tujuh minggu. Tapi untuk memastikannya Anda bisa membawanya untuk di usg.” Carlos menganggukan kepada tanda mengerti dengan penjelasan dokter.
“Oh … begitu ya Dok. Sudah bisa terlihat jenis kelaminnya?” Dokter terkekeh mendengar pertanyaan Carlos, maklum saja ini pengalaman pertamanya akan memiliki anak.
“Beluk bisa, biasanya jenis kelamin bisa terlihat saat janin berusia sekita 5-6 bulam,” tutur dokter menjelaskan kembali kepada Carlos.
“Terima kasih, Dok. Kalau begitu aku permisi.” Carlos berdiri kemudian meninggalkan ruangan dokter kandungan dan kembali ke VIP tempat Jessica di rawat.
Carlos masuk dan melihat Andrew dan Jessica lagi bercanda, dia tersenyum melihat mereka berdua kemudian Carlos menghampiri sang kekasih lalu duduk di sisi brankar dengan memegang tangan Jessica.
“Babe aku mau mandi, beberapa hari aku tidak mandi badanku gatal, apa lagi aku tidurnya di lantai,” ujar Jessica dengan manja kepada kekasihnya.
“Iya, Sayang, tapi kamu tidak punya pakain dalam, apartemen jauh dari sini.” Jessica menarik napas panjang dan menatap sang kekasih.
“Beli saja yang sekali pakai, pasti ada yang jual,” pinta Jessica dengan memohon. Tiga hari di culik selama itu juga dia tidak mandi.
“Sini biar aku yang pergi beli.” Andrew menawarkan bantuan kepada Jessica. “Ukurannya apa, Jess?” Jessica mengerutkan dahi menatap Andrew. Dia malu kalau pria itu yang akan pergi membeli pakaian dalamnya.
“Tidak usah, Ndrew. Biar Carlos saja yang pergi beli.” Jessica menolak tawaran Andrew, walau’pun dia begitu dekat dengan pria itu tapi bukan berarti seeanaknya saja.
__ADS_1
“Sudah, biar aku saja yang pergi. Carlos tetap menemani kamu saja.” Andrew sengaja menawarkan bantuan agar pasangan kekasih itu leluasa untuk berbincang. “Ayo, ukuran apa?”
“Baiklah, beli saja ukuran M kalau tidak ada L juga bisa.” Carlos memberikan ATM juga pin pada Andrew kemudian pria itu langsung pergi.
Carlos menatap Jessica, dia ingin membicarakan tentang kehamilan gadis itu tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana, dan akhirnya dia memberanikan diri lalu mulai bertanya pada Jessica.
“Sayang, aku mau bertanya sesuatu padamu.” Jessica langsung menatap Carlos dan memegang pipi pria itu.
“Tanya apa?”
“Um … begini, Sayang.” Carlos bingung mau bertanya bagaimana pada Jessica.
Jessica menatap Carlos, dia menunggu apa yang mau ditanyakan pria itu padanya lalu Carlos memegang tangan Jessica.
“Sayang, aku mau bertanya padamu, kapan kamu terakhir period?” Pertanyaan pertama Carlos, dia belum ingin langsung memberitahukan kalau Jessica sedang hamil.
“Sebentar aku ingat ingat,” sahut Jessica sambil berpikir. “Ehm … tapi kenapa kamu bertanya hal itu, ada apa?” tanya Jessica dengan mengkerutkan keningnya
“Tidak apa-apa sayang aku hanya ingin tahu saja.” Sambil berucap dia mengelus tangan Jessica.
“Um ... terakhir aku period empat hari sebelum kamu masuk rumah sakit,” jawab Jessica dengan masih bingung karena tiba-tiba saja sang kekasih menanyakan masalah periodnya.
“Setelah itu kamu tidak pernah period lagi?” Kembali Carlos bertanya dengan menatap mata sang kekasih.
”Iya, tapi aku pernah waktu masih SMP terhenti selama enam bulan, kata dokter kadangkala siklusnya begitu, Babe.” Jessica belum mengerti juga yang dimaksud oleh Carlos
“Tapi kamu pernah merasa pusing atau mual?” Carlos bertanya lagi dia berharap Jessica mengerti dengan pertanyaannya.
“Iya dua minggu yang lalu, Babe. Aku merasa pusing dan mual karena asam lambungku naik." Carlos hanya mengangguk-anggukan kepala dan menarik napas yang dalam mencari cara untuk menyampaikan kepada sang kekasih kalau sedang hamil.
“Oh, begitu,” gumam Carlos. ‘Ah, dia belum mengerti, aku harus mengatakannya tapi bagaimana cara menyampaikannya, aku tidak tau harus memulai dari mana,’ kata Carlos dalam hati.
“Sayang, begini.” Carlos diam sejenak dan memegang kembali tangan Jessica. “Kita sudah sering melakukan hubungan seperti suami istri bukan?” Jessica menganggukan kepala menjawab pertanyaan Carlos.
“Kamu tahu akibat dari melakukan hubungan seperti itu?” Jessica mengernyitkan dahi dan kembali menganggukan kepala dengan pelan.
“Iya aku tahu, kenapa?” tanya Jessica kembali.
“Tidak apa-apa, Sayang. Lalu akibatnya apa?”
“Akibatnya hamil.” Jessica terdiam dan menatap Carlos. “Wait ... Babe, jangan bilang kalau aku sedang hamil sekarang.” Jessica memandang Carlos dengan wajah serius sehingga membuat pria itu menunduk dan memegang kepalanya. Jessica memegang dagu Carlos dan mengangkatnya.
“Sayang .…” Carlos tidak tahu harus bicara apa, dia hanya menatap Jessica dengan wajah memohon karena berpikir gadis itu akan marah besar padanya.
“Katakan dengan jujur padaku, apakah aku hamil?” tanya Jessica lalu Carlos menganggukan kepalanya. Dia begitu takut kalau Jessica marah padanya karena Carlos tahu Jessica masih ingin sekolah.
Jessica memegang wajah Carlos dan berkata. “Kenapa kamu tidak katakan langsung, malah memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang membuat aku bingung,” gerutu Jessica dengan wajah cemberut.
“Sayang, aku takut kamu marah padaku, karena aku tahu kamu masih ingin sekolah,” tutur Carlos sambil menunjukan wajah bersalahnya agar sang kekasih tidak marah.
“Aku memang masih ingin sekolah, tapi kalau sudah jadi begini tidak ada yang perlu di salahkan. Aku harus terima.” Wajah Carlos langsung ceria, dia tersenyum dan memeluk sang kekasih.
”Kamu tidak marah padaku?” tanya Carlos dengan raut wajah yang gembira.
“Untuk apa marah, ini salahku juga,” ujar Jessica dengan memegang tangan Carlos.
“Terima kasih, Sayang. Kita harus segera menikah ya.” Setelah berucap Carlos mencium kening Jessica, dia terlihat sangat bahagia akhirnya akan memiliki baby dari wanita yang dia cintai.
”Kita harus segera ke Amerika, aku akan menyuruh Tiara untuk membuat paspormu.” Kembali dia berucap dengan semangat.
“Iya, aku lelah mau istirahat,” sahut Jessica sambil membaringkan tubuhnya di brankar.
“Istirahat, Sayang. Carlos memegang perut Jessica dan mengelusnya. “Hm … tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ayah,” kata Carlos dalam hati. Carlos sangat bahagia, apalagi Jessica tidak marah padanya.
“Aku akan membuat kejutan pada orang tuaku, ini adalah hadiah terindah diulang tahun mommy.” Kembali dia bergumam dalam hati sambil mengelus perut Jessica yang masih rata itu.
Author lapar nanti di lanjut lagi ya.
Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan komen.
Selamat membaca
__ADS_1