SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Mulai Lagi


__ADS_3

Carlos membuka gorden kamar, nampak sinar matahari terpancar di danau yang menyilaukan mata Jessica, wanita berperut buncit itu meregangkan badanknya di tempat tidur. melihatnya Carlos tersenyum dan menghampiri calon istrinya.


“Selamat pagi, Sayang. Tidurmu sangat pulas,” ucap Carlos sambil membelai pipi Jessica. Wanita itu tersenyum dan melingkarkan tangan di pinggang Carlos. “Kamu masih mengantuk, Sayang?”


Dengan suara serak. “Iya, Babe, peluk aku!” pintanya dengan manja.


Carlos naik ketempat tidur, berbaring di samping sang kekasih. Dia memeluknya dengan erat sambil berkata. “Dasar manja.”


Jessica tertawa dan melingkarkan tangannya di perut Carlos “Tapi kamu suka’kan  aku bermanja padamu.”


Carlos tertawa dan mencium kening Jessica lalu berkata. “Iya aku suka, Sayang.” Sambil memiringkan badannya menghadap wanitanya.


Jessica memegang pipinya,  meraba bibir Carlos. Lalu pria itu memegang tangan Jessica,  memasukkan jari telunjuk wanitanya ke mulutnya.


Wanita itu tersenyum, melingkarkan tangan di pinggang sang pria lalu memeluknya erat, karena  hanya memakai underwear boxer, Jessica bisa merasakan milik Carlos sudah mengeras di bawah sana.


Tangannya’pun mulai bergerak ke bawah dan masuk di dalam boxernya,  memegang serta mengelusnya dengan lembut. Carlos tertawa dan melirik kepada Jessica.


“Kamu mulai nakal, Sayang.” Jessica tersenyum dan berkata,


“Tapi kamu sukakan, Babe.”  Sambil memejamkan mata Carlos menganggukan kepala.


“Iya, Sayang. Aku suka.” sambil mendesaah di kuping Jessica.


Jessica mencium dada berbulu Carlos lalu turun ke perutnya, melepaskan boxernya dan melihat milik Carlos sudah berdiri tegak. Wanita itu tersenyum, kembali mengelus benda itu kemudian memasukan ke dalam mulut.


Carlos merasakan saliva membasahi miliknya, dia membelai rambut Jessica dan menikmati apa yang dilakukan oleh wanita itu. Carlos tidak tahan lagi lalu melepaskan gaun tidur Jessica.


Membuka paha sang wanita lalu membenamkan kepalanya disana, memainkan lidah sehingga membuat calon istrinya menjadi gelisah.


Lidah Carlos membuat Jessica seolah terbang ke nirwana, aliran darah memompah keseluruh organ tubuh. Dia tidak tahan lagi, tubuh Jessica membusung sempurna saat mengalami pelepasan.


Carlos memposisikan tubuhnya di antara paha Jessica lalu menuntun miliknya masuk ke dalam inti wanita berperut buncit itu.


“Ah  Babe hati-hati perutku!” desaah Jessica saat merasakan benda panjang dan keras itu menerobos masuk.


“Iya, Sayang. Aku tahu.” Carlos melakukannya dengan lembut, dia mencium bibir Jessica sambil pinggulnya tidak tinggal diam untuk mencari kenikmatan.


Desahaan-desahaan keluar dari bibir mereka berdua, Carlos ingin bermain cepat tapi takut dengan kandungan wanita itu. Tidak menunggu lama cukup lima belas menit akhirnya Carlos dan Jessica mengalami pelepasan.


Kini mereka berdua saling berpelukan menikmati sisa-sisa pelepasan yang baru saja keduanya rengkuh. Terdengar ponsel Carlos berbunyi, Jessica melihat Federico yang menelepon.


“Babe, daddy menelepon.” Carlos membuka matanya, mengambil ponsel dari tangan Jessica lalu tedengar suara Federico disana


“Hallo, Nak. Kalian dimana, kenapa semalam tidak pulang?” tanya Federico penuh khawatir. “Mommy mengkhawatirkan Jessica.”


“Maaf, Dadd. Tidak mengambarkan kalian, aku dan Jessica tidur di villa.”


“Cepat pulang, Jessica harus ke dokter.” Kembali terdengar suara  Federico dari seberang telepon.


“Iya, kami segera pulang.” Carlos menutup telepon lalu menatap Jessica.


”Ayo siap-siap, Sayang. Kita pulang, mommy sangat khawatir padamu.”


Jessica dan Carlos masuk ke dalam kamar mandi, Carlos menyalakan shower kemudian menggosok punggung Jessica.


”Sayang, sekarang mommy lebih mengkhawatirkanmu dari pada aku, kamu lihat sendiri mereka sangat menyayangimu apa lagi daddy. Kamu sudah seperti anak kandung baginya.” Jessica membalikkan badannya menghadap Carlos, melingkarkan tangannya di punggung pria itu.


“Kamu iri ya, Babe?”


“Tidak, Sayang. Aku tentu saja sangat senang mereka menyayangimu,” sahut Carlos sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jessica dan mencium hidung wanitanya.


“Ayo selesaikan mandinya.” Jessica dan Carlos melanjutkan mandinya.


Kini Jessica sedang duduk di depan cermin sambil rambutnya disisir oleh Carlos.


“Sayang, kamu semakin cantik. Jangan-jangan anak kita perempuan,” celetuk Carlos sambil menatap sang wanita lewat cermin.


“Kamu suka anak perempuan atau laki-laki,” tanya Jessica.


“Laki-laki atau perempuan sama saja bagiku,” sahut Carlos dengan mencium ubun kepala Jessica.


“Ayo kita pergi sekarang.” Jessica berdiri dan memegang tangan Carlos, mereka berdua keluar dari villa menuju ke mobil.


Pasangan kekasih itu langsung kembali, selang dua jam mereka tiba. Nampak di depan rumah Liliana sedang berdiri menanti putra dan menantunya. Melihat mobil Carlos dia langsung tersenyum.


“Sayang, kenapa tidak pulang semalam. Aku mengkhawatirkan kalian,” ujar Liliana saat Carlos dan Jessica turun dari mobil.


“Mom, tidak perlu khawatir aku dan Jessica baik baik saja, kami hanya ingin berduaan saja disana.” Carlos memegang tangan Jessica masuk ke rumah.


“Baiklah kalau begitu, bukannya kalian harus kedokter untuk memeriksa kandungan Jessica?.”


“Iya, Mom. Aku  kekamar sebentar.” Kali ini Jessica yang menyahut, dia dan Carlos langsug menuju ke kamar mengganti pakaian mereka.


Tidak lama kemudian Jessica dan Carlos menemui Federico dan Liliana, disana suami istri itu sudah menunggu putra dan calon menantu mereka. Carlos menghampiri mommy dan daddynya.


“Ok, Mom. Ayo kita pergi.” Mereka berempat langsung berangkat ke klinik. Begitu tiba Carlos langsung mendaftarkan Jessica kemudian kembali duduk di samping wanitanya.


Tidak menunggu lama, akhirnya giliran Jessica. Keempatnya masuk, mereka duduk lalu dokter meminta Jessica menimbang badan terlebih dahulu, setelah itu berbaring di brankar.


Terlihat wajah Liliana dan Federico begitu bahagia, mereka tidak sabar lagi ingin melihat janin di dalam perut Jessica

__ADS_1


Dokter mengoles gel di perut Jessia kemudian menggerakan alat tranducer. Semua mata tertuju ke layar monitor Carlos memegang tangan sambil mengusap dengan lembut.


“Kira-kira jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan?” tanya Carloa sambil mata tak lepas dari laya monitor.


“Sayang, itu cucu kita.” Federico ikut berucap, wajah penuh kebahagiaan melihat janin di perut Jessica.


“Iya, Sayang,” sahut Liliana sambil berdiri di sisi brankar, tersenyum kepada Jessica.


“Wah, dia laki-laki.” Dokter menunjukan kepada Carlos antena janin. Nampak wajah Carlos berbinar dia langsung mengecup kening kekasihnya.


“Cucu kita laki-laki?” tanya Federico. Sebenarnya dia menanti cucu perempuan tapi berhubung janin laki-laki dia tetap menerimanya dengan gembira.


“Iya, Tuan. Cucu Anda laki-laki, selamat ya,” tutur dokter sekaligus mengucapkan ucapan bahagia.


Selesai memeriksa, dokter membersihkan gel yang ada di perut Jessica lalu kembali duduk. Sementara Carlos membantu Jessica san mendudukan sang wanita di dekat Liliana.


“Janinnya sehat pertumbuhannya juga sangat bagus,” tutur dokter sambil menulis sesuatu di lembar kecil. “Tetap rajin minum vitamin, makan makanan bergisi tak lupa minum susu juga.”


“Iya, Dok,” sahut Jessica dengan memegang tangan Carlos.


Kemudian dokter memberikan resep untuk di tebus kepada Carlos. Keempatnya berpamitan, sebelum pulang Carlos pergi menebus vitamin yang diresepkan dokter untuk Jessica.


Selesai, mereka’pun kembali ke rumah, Jessica langsung naik ke lantai dua masuk ke kamar. Mengganti pakaiannya lalu pergi duduk di teras.


****


Dua hari lagi mereka  akan ke Spain, malam ini Carlos mengajak Jessica untuk ke rumah temannya, karena sudah lama tidak bertemu mereka mengajak kekasih Jessica untuk bertemu.


Carlos ingin mengenalkan sang kekasih kepada teman-temannya tapi Jessica tidak ingin pergi, dia lebih memilih tinggal di rumah. Jessica merasa lelah untuk pergi kemana-mana, apalagi sudah malam.


“Sayang ikutlah denganku malam ini saja temani aku bertemu dengan temanku,” pinta Carlos dengan wajah memohon sambil mengelus perut buncit Jessica.


“Babe, aku lelah kamu saja yang pergi ya, aku ingin istirahat.” Jessica tetap menolak, hamil membuat dia malas untuk keluar.


“Baiklah, Sayang. Aku tidak akan memaksamu.” Akhirnya Carlos menyerah, dia mencium kening Jessica kemudian mengambil jaket dan memakainya.


“Jangan minum alkohol ya, Babe,” pesan Jessica sambil melingkarkan tangannya di punggung pria itu.


Dia tidak ingin sang kekasih pulang dalam keadaan mabuk dan tidur bersamanya. Jessica tidak suka bauh alkohol.


“Iya, Sayang, tapi kalau mereka menawariku bagaimana?” Jessica berdecak, kemudian menatap Carlos.


“Boleh tapi hanya sedikit saja, jangan sampai mabuk. Kalau kamu mabuk aku tidak akan tidur denganmu.” Carlos terkekeh, kembali dia mengecup kening wanitanya.


“Baiklah, aku minum sedikit saja.”


“Janji ya, Babe. Awas kalau berbohong, aku akan kunci kamar ini dan kamu tidur di luar.” Carlos tertawa dan mencubit pipi Jessica.


“Tentu saja, aku tidak akan bukakan pintu. Sudah pergi sana, jangan pulang larut malam.” Setelah berucap Jessica melepaskan pelukannya.


“Baiklah aku pergi ya. Aku  hanya sebentar saja,” ujar Carlos kemudian mencium kening Jessica serta bibirku lalu pergi.


Perginya Carlos, Jessica menyetel instrumen music dan berbaring di tempat tidur sambil membaca buku, akhirnya dia tertidur.


Jessica terbangun karena ingin buang air kecil, melihat kesamping Carlos tidak ada, mata langsung melihat jam sudah hampir pukul dua belas.


“Hm, belum pulang juga dia,” gumam Jessica  seraya bangun dan mengayunkan langkah ke kamar mandi. Selesai buang air kecil Jessica kembali berbaring tapi dia tidak bisa tidur.


Akhirnya Jessica menunggu Carlos pulang, ingin  telepon tapi ponselnya ada pada pria itu. Dia berdiri dan membuka pintu arah ke teras Jessica duduk menanti Carlos pulang. Dia tidak akan tidur sebelum sang kekasih kembali.


Sekitar satu jam kemudian ada dua cahaya lampu kendaraan masuk ke dalam pekarangan. Jessica memperhatikan mobil yang satu milik Carlos tapi yang lainnya lagi entah siapa.


Jessica membuka pintu kamar, keluar lalu melihat dari atas Carlos dibopong masuk oleh kedua temannya. Jessica kembali dan mengunci pintu.


“Dia sudah berjanji tidak akan mabuk dan tidak  pulang larut malam, tapi nyatanya dia bohong padaku.” Jessica terlihat sangat kesal.


Wanita itu berbaring di tempat tidur, dia tidak ingin Carlos masuk, membiarkan sang kekasih tidur di luar.  Akhirnya Jessica tertidur kembali.


“Pagi hari sudah berisik siapa lagi yang dimarahi daddy?” gumam Jessica dengan mengucek matanya.


Jessica bangun dan mencoba mendengar siapa yang dimarahin oleh Federico. “Oh ... ternyata Carlos sedang di marahi daddy.” Dia cekikikan dan terus mendengar omelan Federico kepada kekasihnya.


“Dimana pikiranmu membiarkan sendiri Jessica yang sedang hamil dan pergi mabuk-mabukkan dengan temanmu.” Jessica tersenyum mendengarnya.


“Kalau belum siap menikah dan masih ingin hura-hura dengan temanmu katakan saja nanti daddy akan membatalkan pernikahanmu biar mommy dan daddy yang akan mengurus Jessica.” Kembali Jessica cekikikan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Rasakan,” Jessica yang masih berdiri di depan pintu kamar.


“Jangan, Dadd aku ingin …  menikah dengan Jessica. Aku sangat mencintainya,” sahut Carlos dengan memohon kepada Federico.


“Kamu mencintainya tapi kenapa tinggalkan dia sendiri, kamu lebih memilih teman temanmu dari pada Jessica.” Kembali Federico memarahi Carlos.


“Iya, aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya.”


“Jangan minta maaf padaku tapi minta maaf kepada Jessica.” Mendengar Federico menyuruh Carlos untuk minta maaf padanya, Jessica meletakan kedua tangan didadanya.


“Sukurin, aku akan bersikap dingin padanya biar dia kapok.” Jessica kembali mengunci pintu, tidak ingin Carlos masuk.


Jessica pergi ke kamar mandi, menanggalkan pakaiannya dan meletakan di keranjang. Menyalakan shower, membiarkan air membasahi tubuhnya.


Jessica pergi ke walk in closet mengambil pakaian dan memakainya. Saat dia membuka pintu Carlos sudah berdiri disana. Jessica hanya menatapnya dingin tanpa senyuman, berjalan menuju tangga. Melihat sikap Jessica Carlos langsung menahan tangan wanita itu.

__ADS_1


“Sayang, maaf aku sudah salah padamu,” pinta Carlos dengan menunjukan wajah bersalah tapi tidak menyentuh hati Jessica.


Wanita itu hanya menatapnya, melepaskan tangan dari sang kekasih,  turun ke ruang makan disana ada Liliana dan Federico.


Mereka berdua menatap Jessica, Federico berdiri dan memeluknya, sementara Carlos mengikuti Jessica dari belakang. Permintaan maafnya belum diterima oleh wanita hamil itu.


“Bagaimana tidurmu semalam, Nak,” tanya Federico dengan mengusap rambut Jessica.


“Pulas, Dadd,” sahut Jessica dengan mengembangkan senyumnya.


“Baguslah, Sayang. Ayo duduk disini kita sarapan,” ajak Liliana kemudian mengambilkan sarapan untuk Jessica.


Sementara Carlos duduk di dekat Jessica menatapnya dengan terus menunjukan wajah rasa bersalah, tapi lagi-lagi tidak menyentuh hati Jessica. Wanita itu tetap dingin padanya walau’pun di depan kedua orang tuanya.


Carlos sangat tersiksa kalau Jessica mendiamkannya. Selesai makan Jessica berdiri pamit kepada Liliana dan Federico. Pergi ke kamar, Carlos mengikutinya dari belakang.


Sampai di kamar Jessica mengambil buku dan duduk di teras, Jessica tahu Carlos mengkutinya tapi dia memilih diam.


Carlos juga  duduk, dia ingin bicara tapi takut,  hanya menatap Jessica dan diam. Tidak tahan  akhirnya Carlos buka suara.


“Sayang ....” Carlos memanggil Jessica tapi wanita itu tidak mau menjawab seolah-olah bukan dia yang di panggil Carlos. “Sayang, tolong dengarkan aku, please.” Jessica menatap Carlos dengan mengernyitkan dahinya.


“Dengarkan apa, jelas-jelas kamu sudah berbohong padaku. Apa lagi yang harus aku dengar?” Jessica berdiri, kembali masuk ke kamar, dan berbaring.


Carlos’pun iku masuk, berbaring di samping Jessica yang membelakanginya. Carlos mencoba memeluknya tapi Jessica menepiskan tangan tangan pria itu.


Jessica menutup kepalanya dengan bantal, dia ingin membuat sang kekasih benar-benar kapok.


Akhirnya Carlos menyerah dan tidur, Jessica bangun dan mengganti pakain kemudian turun ke lantai satu menuju ke halam belakang menemui Liliana dan Federico,


Jessica melihat mereka lalu menghampiri kedua calon mertuanya. Dia ingin minta ijin untuk pergi ke toko buku.


“Mom aku ingin ke toko buku ada yang ingin aku beli.”


“Iya, Sayang. Kamu pergi dengan Carlos?” tanya Liliana sambil mata mencari putanya.


“Tidak, Mom. Aku pergi sendiri saja. Carlos lagi tidur aku tidak ingin membangunkannya.”


“Jangan, Nak. Kamu tidak boleh pergi sendiri panggil saja Rick atau Garry,” sela Federico


“Baiklah, Dadd.” Federico memanggil Garry dan menyuruhnya menemani Jessica ke toko buku.


Federico dan Liliana tidak bisa menemani Jessica karena mereka akan pergi bertemu dengan rekan bisnisnya. Akhirnya Jessica diantar oleh Garry ke toko buku.


Kini wanita berperut buncit itu sudah berada di dalam toko, langsung mengayungkan kaki mencari majalah hamil. Jessica berhenti di salah satu dan memperhatikan semua buku dan majalah yang tertata rapi.


Tidak banyak memilih, di tangan Jessica sudah ada dua majalah dan dua buku novel. Dia tidak ingin berlama-lama, langsung pergi ke kasir dan membayarnya.


Sementara di rumah Carlos terbangun, mencari Jessica tapi sang kekasih tidak ada. Orang tuanya juga sudah pergi. Dia pergi ke pondok mungkin saja wanita buncit itu ada di sana, tapi sayang dia tidak menemukannya.


Carlos kembali ke rumah dan berpapasan dengan salah satu pengawal yang bernama Marco.


“Marco, mommy dan dadd kemana?” tanya Carlos sambil mata melihat sana-sini mencari sang kekasih.


“Sudah pergi, Tuan.”


“Kalau Jessica?” Kembali dia bertanya dengan meletakan tangan di pinggang.


“Oh … nona Jessica pergi ke toko bukua.” Carlos mengernyitkan dahi.


“Dia pergi sendiri?”


“Tidak, dia pergi dengan Garry.” Jawaban Marco membuat Carlos menjadi tenang tapi ada rasa kesal juga kepada kekasihnya.


“Ohh begitu, terima kasih, Marco.” Carlos meninggalkan pengawal itu. “Kenapa dia tidak membangunkanku, main pergi saja,” gerutu Carlos dengan mengusap rambutnya dengan kasar.


Sebuah mobil berhenti di depan, nampak Jessica turun dari mobil, mengayunkan kaki masuk ke rumah, dia melihat Carlos lagi menatapnya tapi wanita buncit itu hanya diam. Carlos menyambut Jessica.


“Sayang, kamu dari mana?” tanya Carlos tapi Jessica tidak menjawabnya, dia naik ke atas, masuk ke kamar. Carlos masih mengikuti Jessica


“Bicaralah jangan diam seperti itu.” Jessica tetap diam mengambil handuk, masuk ke kamar mandi serta menguncinya.


“Sayang, please jangan diam seperti itu padaku. Aku tahu sudah salah padamu, maafkan aku, janji tidak akan mengulanginya lagi.” Jessica tetap diam membiarkan Carlos bicara sendiri.


Sebenarnya Jessica sudah tidak marah dia diam hanya acting saja. Jessica keluar dari kamar mandi , melihat Carlos menghampirinyanya.


Sambil memegang tangan Jessica. “Sayang, please maafkan aku, janji tidak akan mengulanginya.” Jessica menatap Carlos.


“Mana ponselku?” Sambil menadahkan tangan, menatap Carlos dengan dingin.


“Iya, Sayang. Aku akan berikan ponselmu tapi jangan marah lagi ya.” Carlos mengambil ponsel milik Jessica dan memberikannya kepada wanita itu.


“Sayang, ini ponselmu.” Jessica mengambil gawainya dari tangan Carlos, berjalan ke teras mencoba menghubungi Andrew sahabat baiknya.


Carlos mengikuti Jessica, memeluknya dari belakang mencium dengan dalam aroma sabun di tubuh wanita itu.


‘Hm … ponsel Andrew tidak aktif. Aku sangat rindu padanya,’ gumam Jessica. Melepaskan tangan Carlos di perutnya kemudian kembali ke kamar berbaring di ranjang diikuti Carlos.


Kembali Jessica membiarkan tangan sang pria melingkar di perutnya. Sementara Carlos terlihat sangat senang wanita berperut buncit kesayangannya tidak marah lagi. Dia mencium kening Jessica dan kembali berbaring sampingnya.


Selamat membaca

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih setia memberi like dan koment


__ADS_2