
Karena setiap hari bertemu di perpustakaan, membuat sang pengawal menjadi curiga. Kali ini tanpa sepengetahuan gadis itu, Erick mengikutinya masuk ke dalam. Dia melihat gadis itu naik ke lantai dua.
Erick langsung mengikutinya, dia mencari Cella dan melihat gadis itu sedang duduk di pangkuan sang kekasih.
Erick menghampiri Cella dan Logan lalu dia mengajak gadis itu pulang. Cella terkejut melihat Erick kemudian dia berdiri dan menatap pengawalnya itu.
“Erick?” Cella menjadi gugup dan khawatir. “Tolong jangan katakan kepada papa dan mama,” mohon Cella kepada pengawalnya.
“Ayo kita pulang,” ajak Erick sambil menatap sinis kepada Logan.
Cella berdiri diikuti Logan, kemudian dia memeluk dan mengecup bibir pria itu dan berbisik.
“Aku akan mencari cara untuk bertemu denganmu.” Cella melepaskan pelukkannya dan mengambil tas yang ada di atas meja lalu Logan tersenyum dan membelai rambut gadis itu.
“Aku akan selalu menunggumu,” ucap Logan kemudian dia mengecup kening Cella. “Pulang sekarang, nanti si penjilat ini melaporkanmu kepada papa kamu,” bisik Logan lalu Cella menganggukkan kepala.
Cella meninggalkan Logan di perpustakaan kemudian dia masuk ke dalam mobil di ikuti Erick. Sang pengawal langsung menjalankan kendaraan roda empat ke kediaman orang tua gadis itu.
Sedangkan Logan, dia naik ke atas motor dan memakai helm, dia langsung kembali ke condominium. Logan tiba lalu masuk ke dalam, dia pergi ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
“Dasar penjilat,” umpatnya. Dia begitu kesal kepada Erick, Logan memejamkan mata dan memikirkan hubungannya dengan Cella.
Dia merasa rumit berhubungan dengan gadis itu, Logan menyadari dia tidak memilik apa-apa, dia bukan orang kaya seperti yang di harapkan Carlos dan Acel. Logan menarik napas panjang kemudian bangun dan pergi duduk di teras.
Sementar itu Cella tiba di rumah, dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam menuju ke kamarnya. Cella meletkkan tas di meja kemudian dia menghempaskan tubuhnya di ranjang, dia begitu kesal kepada Erick.
“Orang-orang baru itu semua penjilat, beda dengan orang-orang dari pilihan mama. Sayang sekali Hank sudah pergi, aku akan meminta mama agar Bane atau Emil yang mengantarku. Aku tidak suka Erick,” ujar Cella kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
Cella berdiri kemudian dia pergi ke kamar mamanya, gadis itu mengetuk pintu lalu terdengar suara Jessica dari dalam menyuruhnya masuk.
Cella membuka pintu kemudian dia berjalan menghampiri mamanya yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptop.
Jessica merasa senang melihat Cella, dia meletakkan laptopnya kemudian berdiri dan memeluk putrinya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Jessica dengan suara yang lembut sambil membelai rambut putrinya.
“Mam, aku ingin Bane yang mengantarku ke kampus, aku tidak ingin Erick,” ujar Cella dengan wajah cemberut. Jessica tersenyum lalu dia menarik Cella duduk di sampingnya
“Kenapa, Sayang?” tanya Jessica lagi.
“Tidak kenapa-kenapa, aku sudah terbiasa dengan Bane, emil , alex dan Mauricio. Sayang saja Hank sudah tiada,” jawab Cella sambil memegang tangan mamanya.
__ADS_1
“Baiklah, besok mama akan meminta Bane untuk mengantarmu ke kampus,” sahut Jessica kemudian dia mencubit pipi Cella. “Apakah kamu masih berhubungan dengan Logan?”
“Iya, Mam. Aku masih berhubungan dengan Logan, aku tidak bisa meninggalkannya. Kami berdua saling mencintai,” jawab Cella dengan menatap Jessica, wajahnya terlihat sangat sedih. Jessica tersenyum kemudian dia membelai kembali rambut putrinya.
“Apakah kalian masih sering bertemu?” tanya Jessica penasaran, dia ingin bertanya lebih kepada Cella tapi dia ingin melakukannya secara pelan-pelan.
“Iya, Mam. Aku sering bertemu dengan Logan, tadi juga kami berdua bertemu tapi di pergoki Erick,” jawab Cella sambil menunduk.
“Oh ... jadi itu sampai kamu tidak ingin Erick yang mengantarmu?” Jessica bertanya kembali lalu Cella menganggukan kepala.
“Iya, Mam,” jawab Cella lagi dengn wajah tertunduk.
“Em, boleh mama bertanya sesuatu padamu?” tanya Jessica lagi, dia ingin mengetahui sejauh mana hubungan putrinya dengan pria itu. Cella menatap Jessica lalu dia menganggukan kepalanya lagi.
“Baiklah, Sayang. Mama ingin bertanya, sejauh mana hubungan kamu dengan Logan?” Cella mengangkat kepala dan menatap mamanya.
“Maksud Mama?” tanya Cella, dia tidak mengerti dengan pertanyaan Jessica.
“Maksud mama begini,Sayang ....” Jessica terhenti kemudian dia menatap mata Cella. “Apakah kamu sudah melakukan hubungan itu dengan Logan?”
Cella kembali tertunduk, dia tidak berani menatap mamanya lalu Jessica memegang wajah Cella dan mengangkatnya.
“Jawab dengan jujur, mama tidak akan marah,” ujar Jessica meyakinkan putrinya.
“Apakah kalian berdua sering melakukannya?” tanya Jessica lagi dengan suara kecewa.
“Iya, Mam. Aku dan Logan setiap kali bertemu melakukan hubungan itu,” jawabnya dengan wajah menunduk. Dia tahu Jessica kecewa padanya.
“Maafkan aku, Mam,” ucap Cella sambil memeluk mamanya. Jessica kembali bertanya kepada Cella sambil membelai rambut putrinya.
“Apakah kamu tidak takut hamil?”
“Um ....” Cella ragu-ragu menjawab, “Logan … em … dia selalu mengeluarkannya di luar,” jawab Cella dengan mengkerutkan dahinya lalu Jessica menarik napas panjang kemudian dia melepaskan pelukan gadis itu.
“Baiklah, mama akan bicarakan dengan papa,” ujar Jessica, “Mudah-mudahan papa bisa mendengarkan mama,” sambungnya lagi.
“Mam, jangan dulu sampaikan kepada papa, aku takut papa akan marah besar kepada Logan,” pinta Cella dengan wajah memohon.
“Tapi, sayang. Kalau kalian sembunyi-sembunyi terus tidak baik juga,” sanggah Jessica sambil menatap mata Cella.
“Mam, please. Jangan beritahu papa, aku takut,” pinta Cella lagi dengan memohon-mohon kepada Jessica sambil memegang tangan mamanya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, jangan terlalu lama menyimpan semua ini,” pesan Jessica lalu Cella menganggukan kepala. Dia memeluk Jessica dan mencium kedua pipi mamanya.
“Terima kasih, Mam,” ucap Cella kemudian dia berdiri dan meninggalkan kamar Jessica..
Jessica hanya menatap Cella keluar dari kamar, ada perasaan kecewa dalam dirinya saat mengetahui putrinya sudah melakukan hubungan itu dengan Logan. Dia tidak percaya, Cella yang pendiam bisa sejauh itu dengan pria itu. Kembali dia mengambil laptop dan meletakkan di pangkuannya.
Sementara itu Cella masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Dia memikirkan mamanya, dia tahu Jessica kecewa padanya.
“Maafkan aku mam, aku memang sudah salah,” batinnya kemudian dia menutup wajah dengan bantal.
Terdengar telepon rumah berdering lalu tidak lama kemudian kamar Cella di ketuk, suara Jessica memanggil Cella. Gadis itu bangun dan pergi membuka pintu.
“Ada apa, Mam?” tanya Cella
“Chico meneleponmu,” jawab Jessica dengan tersenyum dan membelai pipi putrinya.
“Chico? Ada apa dia meneleponku?” tanya Cella dengan heran.
“Um ... mama tidak tah, Sayang. Cepat terima teleponnya,” sahut Jessica kemudian Cella meninggalkan kamar dan pergi menerima telepon Chico.
“Hallo, Chico. Apa kabar?” tanya Cella lalu terdengar suara Chico dari seberang telepon
“Hi, Cella. Aku baik-baik saja, oh ya besok aku akan ke Amerika. Bagaimana kalau kita bertemu?” sapa Chico dari ujung telepon.
“Baiklah, jam berapa kamu tiba di Amerika?” tanya Cella lagi seraya memainkan kabel telepon
“Um, siang hari. Apakah kamu sibuk?” Chico balik bertanya.
“Oh, aku tidak sibuk. Baiklah aku akan menjemputmu besok.” Terdengar suara Chico sangat senang.
“Terima kasih, Cella,” ucap Chico
“Sama-sama, Chico,” balas Cella kemudian dia menutup teleponnya. Cella kembali ke kamar dan berbaring.
Mudah-mudahan Logan tidak cemburu dengan kedatangan Chico, kata Cella dalam hati.
NOTICE :
Novel ini sudah aku tulis sampai tamat jadi jangan khawatir tidak akan putus bab dan pasti tiap hari up 2-3 bab.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar
Terima kasih