SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Ku akui dia sangat tampan


__ADS_3

Akhirnya Cella melahirkan bayi laki-laki lalu Logan menamai anak mereka itu Lucio, kebahagiaan bertambah dengan lahirnya putra mereka. Logan selalu berada di rumah, dia mencurahlan perhatian kepada kedua anaknya.


Walaupun  sering memberikan waktu kepada anak dan istrinya tapi pria itu masih sering bertemu dengan Dylla. Dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai, yaitu mengambil kembali apa yang sudah di rebut oleh ayah wanita itu dari orang tuanya.


Saat Lucio berumur empat bulan, Cella kembali melakukan aktifitasnya. Dia kembali bekerja dan bertemu dengan rekan bisnisnya, Frank kembali membawa temannya untuk menjadi partner dari Cella.


Cella sangat senang karena Frank selalu mendukungnya, Frank dan Leo menjadi sahabat dekat wanita itu. Di ruang meeting Cella dan Frank sedang membahas perusahaan property yang akan mereka berdua dirikan lalu pintu terbuka,  Cella melihat Logan berdiri di depan disana lalu mengajak suaminya untuk bergabung bersama dia dan Frank untuk membahas rencana mereka berdua.


Logan menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Frank, Cella memperhatikan wajah suaminya lalu menggeleng-gelengkan kepala. Merasa dirinya tidak di sukai oleh Logan, Frank berdiri dan berpamitan kepada Cella dan pria itu.


Cella merasa tidak enak kepada Frank, lalu dia mengantar pria itu dan meminta maaf atas sikap suaminya. Frank tertawa, dia memakluminya, lalu  meninggalkan kantor.


Wanita itu kembali ke ruang meeting, dia tidak suka sikap suaminya kepada Frank. Dia masuk dan menarik kursi lalu  duduk.


“Mengapa sikapmu seperti itu kepada Frank?” Logan menarik kursi dan duduk kemudian menatap istrinya.


“Boleh aku bertanya kepadamu?” Cella mengeryitkan dahi dan menatap mata suaminya.


“Silahkan.” Logan memajukan kursi kemudian  memegang tangan sang istri.


“Apakah kamu punya hubungan dengan Frank?” Cella mengangkat kedua keningnya, dia  begitu heran mendengar pertanyaan suaminya.


“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya.” Logan menganggukan kepala dan kembali menatap istrinya.


“Katakan saja.” Cella kembali menatap mata suaminya dengan dalam, dia ingin melihat apakah suaminya jujur atau tidak.


“Apakah kamu punya hubungan dengan Dylla?” Logan tertegun, dia terlihat menjadi gugup.


“Ehm, aku dan Dylla tidak ada hubungan apa-apa. Hubungan kami hanya sebatas rekan bisnis saja.” Cella tersenyum kemudian dia memegang tangan suaminya.


“Begitu juga aku dan Frank, hanya sebatas teman bisnis saja. Kamu sendiri tahu aku sangat mencintaimu, kamu cinta pertama dan terakhirku.” Logan berusaha tersenyum dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Tapi.” Logan kembali menatap istrinya, jantungnya berdebar ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh wanitanya.


“Sekalipun aku mencintaimu tapi disaat kamu berbuat kesalahan atau bermain di belakangku, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku akan meninggalkanmu,” ujar Cella dengan tersenyum kepada suaminya.


“Aku sangat percaya kepadamu, jaga kepercayaan itu.” Sekali lagi wanita itu mengingatkan suaminya.


“Tentu saja, Sayang. Kamu juga tahu aku sangat mencintaimu.” Logan tidak pernah mengatakan kepada Cella kalau Dylla itulah wanita yang dia ceritakan saat mereka berdua belum menikah.


“Baiklah kalau begitu, aku ingin melihat Lucio.” Mereka berdua berdiri lalu meninggalkan kantor dan kembali ke rumah.


****


Kembali Cella mendapat kabar kalau keadaan opanya semakin kritis, orang tuanya meminta dia untuk ke Amerika. Cella mengajak suaminya untuk ikut bersamanya ke Amerika tapi Logan memintanya untuk pergi lebih dahulu.


Akhirnya Cella pergi bersama kedua anaknya dan pengasuh, Logan mengantar mereka ke airport. Dia memeluk kedua anaknya dan mencium kedua pipi Lucio dan Sabrina, Logan juga memeluk istrinya dan mengecup bibir mommy dari kedua anaknya.


“Besok lusa aku akan menyusulmu.” Cella hanya menganggukkan kepala kemudian dia  memegang tangan putrinya dan mengajaknya masuk, sedangkan Lucio di gendong oleh pengasuh.


Logan langsung kembali ke rumah dan bersiap-siap ke kantor, selesai dia langsung  berangkat. Logan tiba lalu masuk, dia menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Dylla sudah berada di ruangannya.


Banyak karyawan tidak suka kepada Dylla, semenjak memiliki hubungan dengan pria itu dia datang seenaknya di kantor. Tanpa permisi kepada asisten wanita itu masuk ke ruang kerja Logan seolah-olah dia adalah istri bos mereka.


Para karyawan membandingkan wanita itu dengan Cella, mereka sangat memuji istri dari Logan yang begitu sopan. Setiap datang berkunjung di kantor Cella selalu menyapa mereka.


Melihat Logan, Dylla berdiri dan mengecup bibir pria itu. Logan meletakkan tas kerja di meja kemudian duduk dan menyalakan komputer.

__ADS_1


“Aku sudah katakan kepadamu, jangan setiap hari datang ke sini.” Dylla berjalan menghampiri pria itu dan memeluknya.


“Tetapi aku selalu ingin bertemu  denganmu, ingin selalu bersamamu.” Logan melepaskan pelukan wanita itu kemudian  berdiri.


“Kamu tahu aku sudah beristri, tidak mungkin akan selalu bersamamu. Ingat itu!” Wanita itu memegang pipi Logan kemudian  mengecupnya.


“Aku mengerti,” ucapnya kemudian  mencium bibir Logan dan melepaskan satu persatu kancing kemeja pria itu.


Logan tidak menolak dengan apa yang di lakukan Dylla terhadap dirinya, dia membiarkan wanita itu mencium dada bidangnya. Bahkan Logan melepaskan ikat pinggang dan menurunkan resleting celananya kemudian  duduk di kursi dan membenamkan kepala wanita itu di antara pahanya.


Mereka berdua melakukan penyatuan di ruang kerja, walau’pun merasa tersiksa di perlakukan seperti itu oleh Logan tapi wanita itu selalu mencarinya.


Logan tidak peduli dengan tangisan wanita itu, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat melakukan itu. Logan menghentakkan pinggangnya berulang kali, dia mengalami pelepasan.


Dengan menahan sakit, Dylla kembali memakai pakaian dalamnya dan berjalan ke kamar mandi, tidak lupa Logan memberikan salep pereda sakit dan bengkak untuk dioles kebagian yang baru dia masuki tadi.


Setiap selesai melakukan hubungan di tempat itu, Dylla selalu mengoleskan salep agar area itu tidak sakit saat dia buang air besar. Wanita itu rela menjadi tempat pelampiasan nafsu Logan karena dia sangat mencintai pria itu.


Logan tersenyum kemudian ikut masuk ke kamar toilet dan membersihkan benda pusaka itu dengan sabun, dia selalu merasakan kenikmatan yang luar biasa.


****


Akhirnya Cella dan kedua anaknya serta pengasuh tiba di rumah opanya, Cella langsung  pergi ke kamar sang opa. Di sana keluarganya semua sudah berkumpul.


Dia masuk lalu melihat sang opa terbaring di tempat tidur, Jessica memperhatikan Cella kemudian mengambil Lucio dari putrinya. Cella duduk di sisi tempat tidur dan memperhatikan opanya yang sudah terlihat kritis.


“Kenapa Logan tidak datang?” tanya Carlos dengan berbisik kepada putrinya.


“Dia akan menyusul.” Cella menatap opanya kemudian  memegang tangannya. “Opa pasti sembuh,” hiburnya lalu sang opa berusaha tersenyum. Dia memperhatikan anak dan cucunya satu persatu kemudian kembali tersenyum dan  memejamkan mata.


“Opa pasti sembuh.” Carlos menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum kepada putrinya.


Cella tahu Carlos sangat menyayangi kedua orang tuanya, Carlos sering bercerita kepada mereka tentang opa dan oma mereka. Wanita itu memegang tangan Carlos lalu  menyandarkan kepala di lengan papanya.


“Oh ya, kenapa opa tidak di bawah ke rumah sakit,”  tanya Cella kepada omanya.


“Sejak awal opa tidak mau, kami sudah berusaha membujuknya tapi dia menolak,” jawab sang oma dengan wajah sedih.


Lalu ponsel Cella berbunyi, dia melihat panggilan dari Frank, dia berdiri kemudian menjawab telepon itu.


“Hi Frank, aku lagi di Amerika.” Terdengar suara Frank dari seberang telepon.


“Waow, kenapa kita berdua selalu bersamaan berada di Amerka, sepertinya kamu dan aku jodoh.” Frank bercanda di telepon lalu Cella tertawa, dia juga berpikir sama dengan Frank.


“Aku rasa kamu mengikutiku.” Cella ikut bercanda kepada Frank, mereka berdua memang sangat akrab walau’pun Logan sering cemburu tapi Cella tetap menjaga persahabatannya dengan Frank.


“Tebakanmu benar.” Terdengar tawa Frank di ujung telepon. “Maaf Cella aku hanya bercanda, kalau suamimu dengar dia bisa membunuhku.” Cella tergelak tawa mendengar candaan Frank.


“Oh ya, bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama,” ajak Cella.


“Baiklah, nanti malam kita bertemu di restoran saja.” Frank sangat senang di ajak olehnya wanita itu.


“Ok, sampai nanti malam.” Cella tersenyum kemudian menutup teleponnya dan kembali berbincang dengan keluarganya.


Sementara di Amerika terlihat Logan sedang bermesraan dengan Dylla, dia menggunakan waktu sebaik-baiknya selama sang istri di Amerika.


Dia dan wanita itu sedang berenang di villa dari orang tua wanita itu, Logan tidak mau mengajak Dylla ke villa atapun apartemen miliknya.

__ADS_1


Sementara berciuman di air lalu terdengar ponselnya berbunyi, dia cepat keluar dari kolam dan mengambil ponsel yang ada di meja lalu langsung menjawabnya.


“Hallo, Sayang. Kalian sudah tiba?” tanya Logan dengan memberi isyarat kepada Dylla untuk tidak bersuara.


“Iya, kami sudah tiba. Kamu di mana?” tanya Cella dari ujung telepon.


“Aku sedang di rumah, aku lagi berenang,” jawabnya dengan menjepit ponsel dengan kepala kemudian memakai handuk dan menjauh dari Dylla.


“Oh ya, Logan. Nanti malam aku mau makan malam bersama Frank, kebetulan dia juga berada di Torrance.” Wajah Logan langsung berubah mendengar istrinya akan makan malam bersama Frank. Dia begitu takut kalau sang istri tergoda kepada pria itu.


“Kamu pergi dengan siapa?” tanya Logan dengan duduk di kursi, dia tidak ingin menunjukkan kecemburuannya kepada sang istri.


“Tentu saja sendiri.” Wajahnya kembali berubah dia tidak ingin memberi ijin tapi dia takut Cella akan bertanya alasannya.


“Baiklah.” Dia berdiri kemudian menutup telepon dan memakai pakaiannya kembali lalu dia meninggalkan Villa tanpa berpamitan kepada wanita itu. Dylla tampak begitu kesal Logan pergi begitu saja.


Di dalam mobil dia memukul stang stir, Logan terlihat begitu kesal. ‘Mengapa setiap kali Cella ke Amerika Frank juga berada di sana, apakah sengaja dia mengikuti istriku? Aku  harus ke Amerika malam ini juga, aku tidak akan pernah membiarkan istriku dekat dengan pria itu. Dia melajukan mobil kembali ke rumah.


Tiba di rumah dia langsung berlari masuk ke kamar, Logan membuka laptop dan mencari tiket. Dia memukul meja karena penerbangan malam ini habis terjual, terpaksa dia membeli tiket untuk besok hari.


‘Dia pasti sudah mengaturnya dengan pria itu agar bertemu di Amerika, kalau di sini dia tidak bebas karena ada aku.’


Semenjak berhubungan dengan Dylla, sikapnya berubah posesive kepada Cella. Setiap kali sang istri bertemu dengan rekan bisnis dia langsung curiga.


Logan pergi berdiri di teras kemudian  menyalakan rokok, dia terus memikirkan sang istri yang akan bertemu dengan rekan bisnisnya. Dia mengepalkan tangan dan melayangkan tinju di tembok.


Di Amerika, Cella sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Frank. Sebelum berangkat dia bermain-main dengan putranya di kamar, Sabrina masuk kemudian  memeluk Cella.


“Mommy sangat cantik, apakah mommy akan pergi?” tanya Sabrina dengan memperhatikan wajah ibunya.


“Iya, Sayang. Teman mommy mengajak mommy untu makan malam,” jawab Cella seraya membelai rambut putrinya.


“Kapan papi datang?” tanya Sabrina lagi sambil memainkan jemari adiknya.


“Mungkin besok lusa, baiklah mommy pergi sekarang. Jaga adikmu ya.” Sabrina tersenyum kemudian mencium kedua pipi ibunya.


Cella meninggalkan Lucio dan Sabrina kemudian memanggil pengasuh untuk menjaga putranya. Dia mengambil kunci mobil dan pergi ke restoran yang  sudah dia pesan.


Dia tiba kemudian Cella masuk, dia di antar oleh pelayan ke meja yang sudah di bookingnya, sambil menunggu Frank dia mengirim pesan kepada suaminya kalau dia sedang berada di restoran.


Cella tidak tahu Logan sangat marah dan cemburu mendengar dia akan makan malam bersama pria itu, pesan darinya tidak di balas oleh suaminya. Cella berpikir mungkin Logan sedang sibuk.


Lalu terdengar seorang pria menyapanya, Cella menoleh ke arah suara itu kemudian  berdiri dan tersenyum melihat Frank dengan kaos yang ketat melekat di badan sehingga tubuh atletisnya sangat terbentuk.


“Sudah lama menungguku?” tanya Frank seraya menatap Cella dari ujung kaki sampai kepala.


“Um, aku juga bari sampai. Ayo duduk.” Frank menarik kursi kemudian  duduk.


Cella memberi isyarat kepada pelayan  untuk membawa buku menu. Cella dan Frank memesan makanan kesukaan mereka, lalu keduanya berbicang-bincang.


“Berapa lama kamu di sini?” tanya Frank seraya memperhatikan wajah cantik wanita itu.


“Mungkin seminggu, aku hanya datang melihat opaku yang lagi sakit. Kalau kamu?” tanya Cella kepada Frank.


“Aku akan kembali besok, urusanku sudah selesai.” Cella tersenyum dan mengagumi ketampanan dan kekarnya tubuh Frank dalam hati.


‘Wajar saja Logan cemburu, aku akui dia sangat tampan dan tubuh atletisnya membuat banyak wanita akan menyukainya. Selama ini aku hanya melihat dia memakai jas saja.’ Cella melayangkan mata ke pantai dia tidak ingin Frank tahu kalau dia sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2