
Akhirnya logan tiba di Amerika, dia langsung pergi ke rumahnya dan menghubungi teman-temannya. Dia’pun menambah orang untuk membantunya, bahkan suami Cella sudah memesan senjata-senjata yang akan mereka gunakan.
Logan tahu yang ingin membunuhnya itu orang yang berbahaya, dia tidak ingin keluarganya menjadi korban dari masa lalunya. Tanpa sepengatahuan Carlos dan Jessica Logan juga meminta bantuan Colby, salah satu anak buah terbaik yang dimiliki oleh Jessica.
Colby juga menyiapkan orang-orang terbaik untuk Logan lalu membawa rekan-rekannya bertemu dengan suami Cella di kediamannya.
Terlihat Logan sedang mondar-mandir di dalam rumah, pria itu sedang menunggu Colby juga Bruno dan Luan temannya. Terdengar suara mobil behenti di depan, Logan mengintip dari jendela kemudian pergi membuka pintu.
Logan langsung menyambut Bruno dan Luan, dia memeluk mereka berdua dan mengajak kedua pria itu masuk.
“Akhirnya kamu menikah juga, Logan,” ujar Luan seraya duduk di sofa dan memperhatikan rumah besar itu. Logan tersenyum dan ikut duduk.
“Mengapa kalian tidak datang, padahal aku sudah mengirim uang pada kalian berdua,” tanya Logan seraya mengambil rokok milik Bruno kemudian menyalakannya.
“Maaf aku tidak bisa datang karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku,” jawab Bruno dengan tersenyum dan menepuk lengan Logan.
“Tidak apa-apa,” sahut Logan lalu dia mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.
Mereka bertiga langsung mengeluarkan pistol kemudian Logan kembali mengintip dari jendela, dia tersenyum lalu memberi isyarat kepada Bruno dan Luan untuk menyimpan pistol mereka.
Logan pergi membuka pintu dan mengajak Colby dan rekan-rekannya untuk masuk ke dalam. Logan memperkenalkan Colby kepada Bruno dan Luan. Mereka duduk dan berbincang-bincang.
Colby memperkenalkan kepada Logan ke empat temannya, kemudian mereka mulai menyusun rencana. Colby memberikan petunjuk kepada Logan dan terlihat suami Cella mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Aku suka, Colby. Aku hanya ingin memberi pelajaran kepadanya, dan ingin membuat dia tahu siapa aku. Tapi kalau dia tetap menjadi ancaman buat keluargaku, terpaksa aku harus melenyapkannya,” ujar Logan seraya mengisap rokok dan menarik ke dalam mulut asap itu kemudian menyemburkan keluar dari mulutnya.
“Apapun perintahmu akan aku lakukan.”
Logan tersenyum kemudian menepuk punggung Colby, dia sangat percaya kepada Colby karena pria itu sudah menjadi pengawal di keluarga Cella sedari istrinya masih kecil.
“Baiklah Colby, kamu yang tahu persis tentang senjata jadi aku serahkan semuanya kepada kamu dan rekan-rekanmu,” kata Logan lagi seraya berdiri kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil cek.
Logan menulis sejumlah angka di atas kertas cek itu kemudian keluar menemui Colby dan memberikan cek itu kepada pria itu.
Colby mengambil cek itu dari tangan Logan kemudian berpamitan dan pergi. Logan kembali duduk dan bebincang-bincang dengan Bruno dan Luan.
“Bagaimana dengan yang lainnya?” tanya Logan kepada Luan dan Bruno.
“Semua sudah siap, sekarang mereka tinggal menunggu kabar darimu. Oh ya, kamu sangat hebat dalam menyamar, aku sampai-sampai terpedaya olehmu.” Logan langsung tertawa mendengar Bruno berkata begitu.
“Benar sekali, Bruno. Aku juga berpikir dia tidak memiliki apa-apa, ternyata ….” Luan menggeleng-gelengkan kepala lalu Logan kembali tertawa dan menepuk punggung Luan.
“Aku sangat pintar bersandiwara bukan,” canda Logan dengan terkekeh kepada kedua temannya.
__ADS_1
“Ok, kalau begitu kami pergi dulu. Nanti kalau sudah akan beraksi hubungi saja, kapan saja kami siap,” ujar Bruno seraya berdiri di ikuti Luan. Logan berdiri dan menepuk punggung Bruno.
“Secepatnya aku kabari kalian,” kata Logan kemudian mengantar kedua sahabatnya sampai di depan lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Dia pergi ke kamar lalu mengambil ponsel, dia berbaring dan mengutak-atik benda berukuran 6,7 inch itu. Dia mencari nomor telepon Cella kemudian mengubunginya. Terdengar suara sang istri dari seberang telepon.
“Hallo, Logan. Bagaimana kabarmu?” Dia tersenyum mendengar suara wanita yang dicintainya.
“Aku baik-baik saja, Sayang,” jawab Logan sembari membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
“Kamu sudah bertemu dengan rekan bisnismu?” tanya Cella lagi.
“Belum, besok aku bertemu dengannya,” bohong Logan. “Oh ya, jaga baik-baik ya kandunganmu.”
“Iya, tentu saja.” Suaran manja istrinya membuat dia tersenyum kembali.
“Baiklah kalau begitu, nanti aku telepon kamu lagi.” Logan menutup telepon kemudian memejamkan mata dan tidur.
****
Logan dan yang lain sudah berkumpul di kediamannya, Colby menghampiri Logan dan memberikan pistol kepada pria itu.
“Oh ya, mengapa mereka ingin membunuhmu?” tanya Colby penasaran
“Kamu tidak usah khawatir. Kalau kamu ingin, kami bisa menghabisi mereka,” ujar Colby seraya mengisap rokoknya dan menyemburkan assp keluar dari mulutnya.
“Jangan dulu membunuhnya, kecuali kalau dia melawan, aku serahkan kepadamu.” Colby menganggukkan kepala dan memperhatikan rekan-rekannya sedang mempersiapkan senjata mereka.
“Tenang saja, aku akan melakukan sesuai perintahmu.” Mereka semua masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat tujuan yang sudah di beri tahu Logan, yaitu ke tempat tinggal orang yang ingin membunuhnya.
Mereka tiba lalu memarkirkan mobil sedikit jauh dari rumah itu, Logan dan yang lain turun dari mobil dan memperhatikan rumah itu dari kejauhan, Colby mencari tempat yang tepat untuk menembak.
Sedangkan rekan-rekan Colby ikut dengan Logan, Bruno dan Luan bersama rekan-rekannya. Mereka semua bersenjata lengkap, terdengar di talkie walkie suara Colby.
“Hati-hati, di depan rumah ada empat penjaga bersenjata.” Logan langsung melihat empat orang pria yang di katakan Colby.
“Baik, Colby. Aku akan masuk secara baik-baik, tolong kamu awasi aku, dan yang lain sebaiknya langsung berpencar. Aku masuk dengan temanmu Colby.” Logan menyelipkan pistol di pinggang dan mengajak beberapa rekan dari Colby untuk ikut bersamanya.
“Baik, Logan. Hati-hati, aku akan terus mengawasi mereka.” Kembali Colby mengingatkan Logan sembari matanya tetap mengawasi suami Cella dan rekan-rekannya.
“Terima kasih, Colby.” Logan dan rekan Colby berjalan menghampiri ke empat pria berbadan besar itu, sedangkan yang lain sudah berpencar mengepung rumah itu.
Logan berjalan masuk ke dalam halaman rumah itu, lalu penjaga yang berada di depan menodongkan pistol kepadanya.
__ADS_1
Logan tersenyum kepada penjaga itu, dia tidak mengangkat tangannya tetapi tetap berjalan menghampiri ke empat pria yang bersenjata itu.
“Aku ingin bertemu dengan boss kalian,” ujar Logan tanpa ada rasa takut.
“Ada urusan apa?” tanya salah satu penjaga.
“Um, aku ada urusan penting dengannya, katakan saja kepada boss kalian Logan ingin bertemu.” Terdengar suara dari dalam memerintahkan anak buahnya untuk membiarkan Logan masuk.
Logan kembali tersenyum kemudian dia melewati ke empat penjaga diikuti oleh rekan Colby. Sedangkan Colby dia terus mengawasi Logan dari jauh.
Dia masuk ke dalam kemudian salah satu penjaga mengantar Logan ke ruang kerja boss mereka. Suami Cella masuk, tanpa di suruh dia langsung duduk di sofa dan menyilangkan kakinya di atas meja. Orang itu menatap Logan dengan emosi dia berdiri di hadapan pria itu.
“Apakah dirimu tidak diajarkan sopan santun kalau bertamu di rumah orang?” Logan tertawa dan menurunkan kedua kakinya dari atas meja.
“Apakah kamu juga diajari sopan santun oleh orang tuanmu, saat bertamu di tempatku? Oh ya, aku pikir kamu itu hebat, tapi ternyata hanya seorang pengecut.” Wajah pria itu memerah, dia terlihat sangat emosi mendengar hinaan Logan.
“Berani sekali kamu berkata begitu di tempatku, apakah kamu ingin mati?” Logan tertawa dan berdiri kemudian dia menatap Pria itu.
“Aku tidak pernah takut kepada siapapun, makanya aku datang ke tempatmu. Oh ya, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, jangan pernah menggangguku lagi. Kalau tidak ….” Logan berhenti dan kembali menatap pria itu.
“Kalau tidak apa?” Pria itu menyela perkataan Logan. “Ingat, kamu berada di tempatku dan aku tidak akan membiarkan kamu keluar hidup-hidup dari rumah ini,” ujar pria itu dengan emosi.
“Ouww … aku takut,” ledek Logan kemudian dia tertawa. “Kamu pikir aku takut, aku sama sekali tidak takut. Oh ya, rumahmu sudah di kepung oleh orang-orangku, kalau kamu macam-macam, akanku menghabisi kamu dan anak buahmu!” Kembali terlihat pria itu menjadi emosi.
“Kamu tidak tahu siapa aku? Kamu pikir aku takut?” Pria itu mengeluarkan pistol dan menodongkan kepada Logan.
Rekan Colby tidak tinggal diam mereka juga langsung mengeluarlan pistol dan menodongkan kepada pria itu.
Begitu juga anak buah pria itu, mereka juga tidak tinggal diam, kini rekan Logan dan mereka saling menodongkan pistol.
Logan hanya tertawa kemudian dia mengangkat tangan dan menjentikkan jarinya, tiba-tiba salah satu anak buah pria itu ambruk.
Pria itu terkejut melihat anak buahnya tersungkur di lantai dengan dua tembakan di dada lalu dia menatap Logan.
“Bangsat kamu, ku bunuh kau!” Logan hanya tertawa dan mendekati pria itu.
“Kalau kamu ingin selamat, menjauh dariku dan jangan ganggu aku lagi. Kalau tidak, kamu mati. Aku tidak main-main, ingat itu!” bentak Logan kemudian dia mengajak rekan Colby untuk meninggalkan ruang kerja.
Pria itu menurunkan pistol dia terdiam dan hanya menatap Logan serta rekan Colby meninggalkan ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kerjanya, dengan napas yang tidak teratur lalu dia memanggil anak buah yang lain untuk membawa orang yang tertembak itu.
Dengan tersenyum, Logan meninggalkan rumah itu. Dia mengajak semua rekan-rekannya untuk pergi.
Mereka semua meninggalkan kediaman pria itu dan kembali ke tempat Logan. Tiba di rumah, Logan langsung merencanakan rencana dia untuk ke San Jose, dia mengajak Colby dan rekan-rekannya untuk ikut bersamanya.
__ADS_1