
Tidak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya, Carlos meminta Mauricio pergi ke Brazil. Dia memilih pria itu karena berasal dari Negara tersebut.
Mauricio tiba di negaranya, dia langsung menghubungi Cella dan menanyakan di mana posisi wanita itu saat ini.
Cella memberitahukan kalau di sedang menginap di hotel. Mendapat alamat putri kesayanagn Carlos, Mauricio mencari orang untuk membantunya mengawasi Cella dan Logan atas perintah Carlos.
Mauricio bertemu teman lamanya yang pernah menjadi tentara bersama dia dulu, dia mengajak untuk ikut bersamanya. Mauricio bertemu denga Cella dan Logan di hotel, dia menunggu pasangan kekasih itu di lobby hotel.
Tidak lama kemudian Cella dan Logan datang menemui Mauricio. Cella langsung menyapanya lalu mereka duduk dan berbincang-bincang.
“Oh ya, Cella. Ini Esteban temanku, dia akan membantuku mengawalmu di sini atas permintaan papa kamu.” Mauricio memperkenalkan Esteban kepada Cella lalu wanita itu tersenyum kepada Esteban.
“Terima kasih, Mauricio. Tapi sebenarnya tidak perlu Cella di kawal, ada aku disini. Tidak mungkin aku membiarkan calon istriku disentuh orang lain,” ujar Logan sambil memegang tangan calon istrinya.
“Maaf, Logan. Ini atas permintaan Carlos, jadi aku harus mengikutinya. Kamu tahukan, Cella putri kesayangannya.” Candaan Mauricio membuat Cella tertawa, dia tidak melarang papanya mengirim pengawal untuk dirinya.
“Tidak apa-apa, Logan. Biarkan saja, aku lebih merasa aman banyak yang menjagaku.” Cella balik bercanda lalu Logan tersenyum dan mencubit pipi wanita kesayangannya
“Ok kalau begitu,” sahut Logan kemudian dia berdiri. “Aku akan melihat rumah untuk dikontrak, aku sudah janji untuk bertemu dengan pemilik rumah hari ini.”
“Baiklah, aku ikut denganmu. Aku tidak mau hanya berdiam diri di hotel.” Cella ikut berdiri dan memegang lengan kekasihnya.
Logan kembali tersenyum lalu mereka semua meninggalkan Hotel dan masuk kedalam mobil, Esteban langsung menjalankan kendaraan menuju ke rumah yang akan di lihat Logan.
Mereka tiba lalu Logan dan Cella turun dari mobil, Logan mengeluarkan ponsel dari saku celana kemudian menghubungi pemilik rumah.
Sedangkan Cella memperhatikan rumah yang terlihat sangat sederhana yang dan tidak pernah di rawat itu. Catnya sudah luntur dan dindingnya terlihat kotor sekali. Mauricio juga memperhatikan tempat tinggal itu lalu dia berbisik kepada Cella.
“Apakah kamu mau tinggal di tempat seperti ini?” tanya Mauricio sambil memperhatikan Logan yang sedang menelepon pemilik rumah. Cella tersenyum kepada Mauricio lalu dia balas berbisik kepada pengawal itu.
“Tidak apa-apa, Mauricio. kalau sudah di cat rumah ini akan terlihat bagus.” Cella menghargai pilihan Logan, dia tidak ingin membuat kekasihnya tersinggung.
“Baiklah, nanti aku akan membantumu untuk merapikan rumah ini,” ujar Mauricio. Cella tersenyum dan menepuk punggung pria itu.
__ADS_1
“Terima kasih, Mauricio. Kalian sangat baik padaku,” ucap Cella sambil memperhatikan Logan yang mondar-mandir menelepon.
“Tidak perlu berterima kasih, Kalian sudah ku anggap keluargaku,” sahut Mauricio.
Tidak lama kemudian pemilik rumah datang, dia langsung mengajak Logan dan Cella untuk masuk ke dalam. Pasangan kekasih itu mengikuti pemilik rumah dari belakang.
Mereka masuk dan melihat di dalam rumah sangat berantakan dan jorok. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, ruang tamunya tidak besar. Dapur tersambung dengan ruang makan.
Cella melihat-lihat kedua kamar yang tidak besar itu, sementara Logan memperhatikan Cella yang menutup hidungnya lalu dia berbisik kepada wanita berperut buncit itu.
“Aku hanya mampu rumah seperti ini, aku tidak sanggup menyewa rumah yang mewah. Kamu tahu sendiri sekarang aku tidak bekerja. Nanti kita cat dan bersihkan tempat ini.” Cella tersenyum dan menganggukan kepala.
“Aku mengerti, tempat ini kalau sudah di cat pasti akan terlihat bagus,” hibur Cella kepada Logan, dia tidak ingin kekasihnya kecewa.
“Terima kasih, Sayang. Aku pikir kamu tidak akan suka tempat ini,” sahut Logan kemudian mengecup kening Cella.
Logan bernegosiasi dengan pemilik rumah dan akhirnya dia membayar sewa tempat tinggal itu. Selesai melihat-lihat, Logan mengajak mereka untuk makan siang. Keempat orang itu masuk di salah satu restoran yang tidak terlalu mewah, mereka duduk dan memesan makanan.
Begitu selesai membeli semua yang dia butuhkan, Logan meminta Mauricio untuk mengantarnya kembali ke rumah yang sudah dia sewa.
“Sayang, nanti kamu istirahat saja di hotel ya. aku saja yang akan membersihkan rumah itu.” Wajah wanita itu langsung berubah, dia tidak mau hanya berdiam diri di hotel.
“Ah … tidak, Logan. Aku ingin ikut denganmu, aku juga ingin membersihkan rumah itu,” ujar Cella sambil memegang tangan kekasihnya.
“Sayang. Kamu sedang hamil, aku ingin kamu istirahat saja.” Cella menggeleng-gelengkan, dia tetap ingin ikut mereka pergi ke rumah itu.
“Tidak, Logan. Aku ingin ikut dengan kalian.” Cella bersih keras ingin ikut dan akhirnya Logan mengalah.
Esteban langsung menjalankan mobil menuju ke rumah itu, mereka tiba lalu Logan mengambil semua yang dia beli tadi dan membawanya masuk ke dalam.
Cella mengambil sampu dan mulai membersihkan rumah, sedangkan Logan, Mauricio dan Esteban, mereka mengambil air dan kain lalu membersihkan tembok bagian luar.
Mereka ingin memulai dari luar, terlihat Logan menyiram dengan air tembok bagian luar dan menyikatnya. Sedangkan Cella menyapu seluruh ruangan, dia merasa lelah lalu menarik kursi dan duduk. Logan memperhatikan Cella kemudian masuk dan menghampiri calon istrinya.
__ADS_1
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Logan sambil membelai rambut Cella.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya lelah sedikit,” jawab Cella dengan tersenyum.
“Tidak usah bekerja lagi, kamu istirahat saja.” dia khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan Cella.
“Iya. Aku akan istirahat,” sahut Cella kemudian dia berdiri dan keluar bersama Logan.
Cella memperhatikan Mauricio dan Esteban yang sedang membersihkan dinding yang sangat kotor itu. Logan juga ikut membantu mereka membersihkan tembok rumah. Cella terseyum melihat ketiga pria itu.
Menjelang sore hari mereka berhenti lalu Mauricio mengantar pasangan kekasih itu kembali ke hotel. Begitu tiba Cella dan Logan langsung menuju ke kamar mereka.
Mereka masuk lalu Cella langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi di susul Logan. Selesai membersihkan tubuh, Cella langsung naik ke tempat tidur dan berbaring, karena merasa lelah dia langsung tertidur.
Logan memperhatikan Cella, dia duduk di sisi tempat tidur kemudian membelai wajah wanita itu. ‘Aku tahu dia tidak suka tempat itu tapi dia tidak mau menunjukkan kepadaku, dia tidak ingin membuat aku kecewa. Ah … kamu sangat baik, gumamnya kemudian mengelus perut Cella dan mencium kening calon istrinya.
Dia berdiri kemudian membuat kopi dan duduk di depan jendela kaca lalu melayangkan pandangan keluar menatap gedung-gedung bertingkat yang ada di kota Rio de Janeiro.
****
Akhirnya mereka selesai membersihkan dan mengecat rumah itu. Sekarang tempat yang akan mereka tempati terlihat bagus, Logan dan Cella pergi membeli peralatan dapur, pasangan kekasih itu juga membeli tv, kulkas, meja makan dan kursi, juga tempa tidur, sofa dan lemari pakaian.
Terlihat Cella sangat senang, tampak kebahagiaan di wajahnya. Mauricio membantu merapikan barang-barang yang di beli Cella dan Logan. Sementara Cella duduk di sofa dan memperhatikan Mauricio, Logan dan Esteban mengatur peralatan dapur. Logan tersenyum melihat sang kekasih lalu dia duduk di samping wanita itu dan membelai rambutnya.
“Setelah dicat rumah ini langsung terlihat bagus.” Cella kembali tersenyum dan memperhatikan tempat tinggal mereka.
“Iya, aku suka rumah ini,” sahut Cella sambil memperhatikan Mauricio dan Esteban, “Aku akan membuatkan kopi untuk kalian.”
“Tidak usah, Sayang. Kamu istirahat saja, nanti aku saja yang akan membuat kopi untuk Mauricio dan Esteban,” kata Logan seraya berdiri dan mengecup kening Cella, dia sangat senang karena calon istrinya suka dengan rumah yang disewanya.
Logan pergi ke dapur, dia mengambil mesin pembuat kopi yang baru saja dia beli lalu dia memasukan kopi dan air ke dalam mesin. Begitu selesai dia mengajak Mauricio dan Esteban duduk di ruang makan dan minum kopi. Cella ikut bergabung dengan mereka.
keempatnya berbincang-bincang dan bersenda gurau, tampak kebahagiaan terpancar di wajah Logan dan Cella.
__ADS_1