
Hari ini Jessica pulang cepat dari sekolah, seperti biasa Andrew selalu mengantarnya, sampai di apartemen Jessica langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Dia mendengar suara Carlos sedang berbicara di telepon, tapi dia tidak mau tahu dan perduli lagi kepada pria itu.
Jessica mengambil handuk lalu pergi mandi. Selesai, dia langsung mengenakan pakaian traning juga kaos, hari ini latihan terakhir karena besok mereka masuk babak semi final. Jessica memakai sepatu dan mengambil jacket, kemudian pergi mengetuk kamar Carlos.
Carlos membukakan pintu, dia melihat Jessica sudah rapi lalu bertanya. “Kamu mau kemana?”
“Aku ada latihan hari ini, besok kami masuk semi final. Aku harus sekarang,” jawab Jessica dengan wajah datar. Dia tidak mau menatap pria itu rasa sakit melihatnya dengan wanita lain masih dirasakan oleh Jessica.
“Aku ingin bicara denganmu.” Jessica beranikan diri menatap Carlos dengan mengernyitkan dahi.
“Nanti saja Carlos kalau aku sudah pulang kita bicara, aku sudah terlambat.” Sambil berucap Jessica melihat ke pergelangan tangan dimana jamnya melingkar.
“Tapi aku ingin bicara sekarang denganmu.” Carlos tetap ngotot ingin bicara dengan Jessica, lalu gadis itu menarik napas panjang.
“Carlos aku sudah terlambat, nanti saja selesai aku latihan.” Jessica juga tidak mau kalah keras, karena besok final gadis itu harus ikut latihan.
“Aku ingin bicara sekarang Jessi.” Carlos tetap bersi kuku ingin bicara dengan Jessica dan akhirnya gadis itu mengalah.
“Kalau begitu katakan sekarang apa yang ingin kamu bicarakan,” ujar Jessica dengan meletakkan tas punggung di lantai dan melipat kedua tangan di depa dadanya sambil mata menatap Carlos seolah-olah menantang pria itu.
“Aku ingin kamu hentikan segala aktifitasmu.” Jessica mengangkat kedua alisnya menatap Carlos sehingga membentuk kerutan di dahinya.
“Kenapa?” tanya Jessica dengan memicingkan matanya. Dia sudah berpikir pasti Carlos akan memberikan alasan yang tidak masuk akal.
“Aku tidak ingin sekolahmu terganggu.” Jessica terkekeh mendengar alasan yang di katakan oleh Carlos, sebuah alasan yang tidak tepat.
“Sekolah ku tidak akan terganggu, karena aku tahu kemampuanku Carlos.” Jessica membantah alasan Carlos, karena pikirnya pria itu hanya mengada-ngada saja.
“Jess, kamu harus dengarkan aku. Hentikan aktifitas mu itu, selesai sekolah kamu harus pulang.” Jessica menatap Carlos lagi dan mengangkat kedua alisnya.
“Oh ... jadi kamu mau mengekang aku?” celetuk Jessica dengan menunjukkan wajah protes.
“Ya, Kamu bisa keluar kalau bersamaku,” sahut Carlos dengan tegas.
“Sorry, Carlos. Jessi tidak bisa di kekang, aku akan pergi, sudah telat.” Jessica mengambil tas punggungnya dan ingin pergi.
“Kamu tidak boleh pergi!” Carlos menahan tangan Jessica. “Ingat aku yang membawamu kesini, aku membelikan segala keperluanmu disini. Semua yang melekat pada dirimu itu semua dariku, dan itu bukan barang murah. Jadi kamu harus mendengarkan aku.” Gila Carlos sampai bicara begitu kepada Jessica, ****! Jessica melepaskan tangannya dari Carlos dengan kasar.
“Carlos, aku berterima kasih karena sudah membawaku kesini, dan aku sangat sangat berterima kasih atas segala pemberianmu kepadaku, tapi ingat!” Sambil menahan air mata Jessica menatap Carlos dengan tajam. “Semua yang kamu berikan padaku itu tidak pernah aku minta, tapi aku berterima kasih.” Begitu berat Jessica menelan saliva karena merasakan sesak di dadanya.
“Oh ya satu hal lagi yang harus kamu ingat. Aku juga kehilangan perawanku disini dan kamu yang mengambilnya, tapi anggaplah itu balas budiku padamu.” Mata Jessica mulai berkaca-kaca saat dia mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.
“Dan setiap bangun pagi juga malam sebelum tidur aku melayani kamu di ranjang layaknya seorang istri, anggaplah itu aku lagi melunasi hutangku padamu. Walaupun aku lakukan itu dengan tulus.” Hati Jessica terasa sakit mendengar Carlos mengungkit semua yang dia berikan kepadanya. “Aku tahu itu belum seberapa tapi aku akan melunasinya. Tolong jangan halangi, aku sudah terlambat.” Carlos kembali menahan tangan Jessica.
“Sudah aku katakan kamu tidak boleh pergi.” Jessica melepaskan tangannya dari Carlos dan menatap pria itu dengan marah.
“Maaf, Carlos. Aku harus pergi.”
“Baik, silahkan pergi. Tapi ingat begitu kamu keluar dari pintu itu jangan pernah kembali.” Jessica terhenti dan membalikkan badan menghadap Carlos, dia tidak menyangka kalau pria itu akan mengusirnya.
“Kamu mengancamku Carlos?”
“Aku tidak mengancammu hanya mengingatka saja,” sahut Carlos sambil menatap marah kepada Jessica.
“Itu sama saja!” Jessica meninggalkan Carlos dan pergi ke kamar.
Jessica mengunci pintu kamarnya, lalu mengambil semua peralatan olahraga miliknya. Ponsel dia letakkan di meja, begitu juga dengan jam, kalung, anting semua yang Carlos beri untuknya, diletakkan di atas meja.
“Kamu pikir aku tidak bisa tanpamu, kamu pikir aku takut dengan ancamanmu. Kita lihat saja siapa yang akan tersiksa. Kamu mengekangku karena takut kalau aku tau kelakuanmu diluar, aku tidak sebodoh itu Carlos.” Jessica terlihat begitu marah.
Carlos berpikir Jessica tidak jadi pergi, dia duduk di sofa dan menatap keluar jendela. Carlos menghentikan kegiatan karena tidak ingin gadis itu bertemu dengan Glen.
“Bagus kalau kamu mengunci diri di kamar, itu lebih baik dari pada dia bertemu dengan Glen, kenapa aku mengenalkannya dengan pria itu,” gumam Carlos dengan geram.
Sementara di kamar Jessica sedang merapikan pakaiannya di dalam tas. “Ini yang aku tunggu-tunggu, aku akan meninggalkanmu.”
Jessica keluar dengan membawa tas olahraganya, dia hanya membawa sedikit pakaiannya. Saat berada di luar Carlos menatapnya dengan tajam.
“Aku pergi,” pamit Jessica sambil sambil berjalan menuruni tangga. Dia tidak ingin melihat kepada pria itu, Jessica terlihat sangat marah.
“Jess, ingat kata-kataku, kalau kamu keluar dari pintu itu jangan pernah kembali lagi.” Kembali Carlos mengingatkan ancamannya kepada Jessica dengan nada marah.
“Iya aku ingat.” Jessica turun ke bawah dan membuka pintu.
“Jess … kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku.” Carlos berteriak tapi Jessica tetap berjalan menuju lift, dia mendengar Carlos membanting sesuatu tapi Jessica tidak menggubrisnya.
__ADS_1
“Bye Carlos.” Jessica tiba di lobby lalu keluar dan memanggil taxi.
Taxi berhenti tepat di depan Jessica, dia membuka pintu kemudian masuk. Jessica meminta sopir untuk mengantarnya ke gedung tempat mereka latihan.
Jessica memiliki dua ponsel, yang satu pemberian Carlos sudah dia tinggalkan di meja dan satunya lagi dia beli hasil dari ikut lomba voli. Jessica menyalakan ponselnya lalu menghubungi Glen.
“Hi Glen kamu lagi di mana?”
“Aku lagi menyetir, Jess. Mau menjemput Fanya, kamu lagi dimana?” tanya Glen dari seberang telepon.
“Aku lagi di taxi, mau ke tempat latihan.”
“Jess, kamu turun dari taxi nanti aku jemput kamu, baru Fanya,” ujar Glen. Wajahnya terlihat sangat senang bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
“Baik aku turun di mall nanti aku tunggu kamu depan ya.”
“Ok, Jess.” Jessica menutup telpon dan menyuruh sopir untuk berhenti di mall.
Kepergian Jessica membuat Carlos tersadar, dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia katakan pada gadis itu.
“Kenapa aku bicara begitu pada Jessica, sekarang dia pergi. Aku sudah menyinggung perasaannya.” Carlos bergumam pada dirinya sendiri kemudian duduk di sofa.
“Ah, Jess. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Aku harus menelponnya ku ingin dia kembali, aku tidak mau kehilangan dia.” Carlos mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Jessica, tapi dia tidak tahu kalau ponsel yang di berikannya pada Jessica sudah ditinggalkan gadis itu di meja.
“Hem … ponselnya tidak aktif.” Kemudian Carlos masuk ke dalam kamar Jessica, dia duduk di tempat tidur lalu matanya tertuju di meja. Carlos berdiri dan melihat ponsel, jam tangan, kalung, anting semua ada di sana.
Carlos mengambil ponsel itu dan menghidupkannya lalu dia terkejut. Wallpaper di benda pipi itu ada foto dia dan Olivia. Carlos membuka galeri album, disana juga ada berebapa foto dia dan wanita itu.
“Ternyata dia sudah tahu semuanya.” Kata Carlos dalam hati, dia duduk di tempat tidur dan menatap keluar jendela. “Dia sudah tahu semuanya, pantas saja dia begitu nekat meninggalkanku. Aku harus mencarinya.”
Sementara Jessica tiba di mall lalu menunggu Glen, tidak lama kemudian dia melihat mobil Glen masuk dan berhenti tepat di depan gadis itu. Jessica membuka pintu dan menatap Glen yang sedang tersenyum melihatnya.
“Apa kabar kesayangan, Carlos?” Glen menggoda Jessica, dia tidak tahu kalau Jessica sudah meninggalkan Carlos.
“Sudahlah, Glen. Jangan menyebut nama Carlos lagi di depanku.” Jessica terlihat kesal lalu dia duduk dan memakai sabuk pengaman.
“Ada apa kamu dengan Carlos? kamu bertengkar dengannya?” tanya Glen dengan mengernyitkan dahin menatap Jessica.
“Bukan bertengkar lagi, Kami sudah putus.” Glen membelalakan mata, dia tidak percaya dengan apa yang Jessica katakan.
“ Seriously?” Jessica memutar bola mata dengan malas melihat raut wajah Glen seperti itu.
“Tapi kenapa wajah mu tidak terlihat sedih?” tanya Glen sambil memperhatikan wajah Jessica.
“Untuk apa bersedih, sudah cukup semalam aku menangis. Sekarang Jessi mau berubah, kita mau menjemput Fanyakan?” Jessica mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin Glen melihat kesedihannya.
“Iya,” jawab Glen sambil menjalankan mobilnya.
Glen masih merasa heran melihat sikap Jessica yang hanya biasa saja, tapi dia tidak tahu hati gadis itu sangat sakit. Kalau saja di hutan dia sudah berteriak.
Jessica dan Glen tiba di tempat kos Fanya. Disana Fanya sudah menunggu mereka di depan. Dia menghampiri mobil Glen lalu Jessica menyuruh Fanya duduk di depan.
“Fanya kamu di depan saja biar aku yang di belakang,” ujar Jessica sambil membuka pintu mobil.
“Sudah disitu saja kamu, Jess. Gak apa-apa,” sahut Fanya sambik masuk dan duduk tepat di belakang Jessica.
“Jess sudah duduk saja di sampingku, biar aku lebih semangat menyetir mobil.” Glen bercanda dengan menggoda Jessica, dia sangat senang gadis itu meninggalkan Carlos. Pikirnya ini kesempatan dia untuk mendekati Jessica.
“Ich … Fanya kamu yang di depan aku gak mau dekat Glen.” Saat Jessica akan turun, Glen menahan tangan gadis itu. Fanya malah menertawai Jessica.
“Sudah, Jess. Duduk saja.” Jessica menatap Fanya dengan kesal.
Dalam hatinya ‘Kalian pacaran apa gak sich.’
Glen mengantar Jessica dan Fanya ke tempat latihan dan akhirnya mereka tiba, Fanya dan Jessica langsung masuk ke dalam. Disana mereka semua sudah berkumpul, Jessica dan Fanya langsung bergabung. Lalu tini menghampiri kedua sahabatnya itu.
“Dari mana kalian? Kok baru tiba?” tanya Tini sambil memperhatikan Glen yang baru saja masuk dan duduk.
“Dari kosan, maklum jalanan macet,” jawab Fanya dengan santai.
“Oh … begitu,” gumam Tini.
Jessica tidak semangat untuk berlatih dia hanya lebih banyak duduk. Jessica masih ingat pertengkaran dia dan Carlos yang berbuntut dirinya meninggalkan pria itu.
“Kamu baik baik saja, Jess?” Jessica tersadar dari lamunannya lalu menatap coach.
__ADS_1
“Iya, aku hanya merasa sedikit lelah,” jawab Jessica dengan berusaha tersenyum kepada coach. Dia tidak ingin pria itu tahu kalau sebenarnya dirinya lagi tidak baik-baik saja.
“Kalau begitu kamu beristirahat saja dulu.” Jessica tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Iya coach, terima kasih.” Coach berdiri dan meninggalkan Jessica.
Perginya coach Jessica menunduk dan memegang kepalanya, dia berpikir untuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan sekolah. beruntung Jessica punya tabungan, sewaktu kelas satu mereka membuka tabungan pelajar dari salah satu bank pemerintah dan Jessica selalu menyimpan uang jajannya serta hasik dari bermian voli. Ini bisa dia gunakan untuk membayar kos.
Glen memperhatikan Jessica lalu dia berdiri dan menghampiri gadis itu dan duduk di sampingnya.
“Bagaimana selanjutnya, kamu akan tinggal dimana, Jessi?” tanya Glen dengan menatap gadis itu.
“Untuk sementara aku akan sewa kos, sebenarnya aku punya keluarga di Jakarta tapi aku tidak ingin bertemu mereka. Aku ingin menjalani hidupku sendiri, ingin berusaha untuk tidak merepotkan orang lain.” Jessica tidak ingin menunjukkan kesusahan di depan pria itu.
“Kalau mau, kamu bisa tinggal denganku di Pondok Indah.” Jessica tersenyum dan menggelengkan kepala, cukup sudah pengalamannya dengan Carlos. Dia tidak ingin jatuh lagi.
“Thanks, Glen. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Dia menolak secara halus penawaran dari pria itu.
“Jess, kamu tidak merepotkanku.” Glen meyakinkan Jessica agar tinggal bersamanya, dia ingin lebih dekat dengan gadis itu.
“Tempat tinggalmu terlalu jauh dari sekolahku, aku ingin mencari tempat kos yang dekat saja.” Kembali Jessica menolak penawaran Glen, dia tahu pria itu sangat menyukainya. Untuk saat ini Jessica tidak ingin terikat dengan siapa’pun. Cukup Carlos yang menjadi pengalaman pahitnya.
“Kamu bisa pindah, di dekat tempat tinggalku banyak sekolah yang bagus.” Glen tidak menyerah dia terus membujuk Jessica untuk tinggal bersamanya.
”Oh ... no… no... aku ingin berusaha sendiri.” Jessica terus menolak pernawaran Glen, Jessica tidak ingin hal yang sama terjadi lagi padanya.
“Pikirkan, Jess. Setiap bulan kamu membayar kos dan uang sekolah, belum kehidupanmu sehari hari. Aku tahu uang sekolahmu tidak murah karena bertaraf Internasional, bagaimana caranya kamu bisa memenuhi semua kebutuhanmu.” Jessica tersenyum menatap Glen, dengan tenang dia berucap.
“Glen, semuanya pasti ada jalan keluar, aku yakin itu.” Glen tidak dapat lagi memaksa Jessica, prinsip gadis itu sangat kuat.
“Aku kagum padamu, kamu begitu kuat. Jess, jangan segan-segan meminta bantuanku, aku pasti menolongmu,” ujar Glen sambil memegang tangan Jessica.
“Terima kasih, Glen. Kamu baik.” Glen tersenyum dan menganggukkan kepala.
Sementara dalam hati Glen. ‘Carlos kamu bodoh melepas orang yang begitu baik, cantik pintar dan masih muda lagi. Ini saatnya aku akan membuat dia cemburu, kamu akan merasakan rasa sakit seperti yang Jessica rasakan. Aku akan mengatur siasat dengan Fanya.’
Jessica mencari informasi tempat kos lewat ponsel, dia membuka website dan mencari tempat tinggal yang dekat dengan sekolah.
“Hm ... ada dua kamar yang available, sebentar aku akan ke sana.” Jessica bergumam dalam hati lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
“Sudah dapat?” tanya Glen dengan memperhatikan wajah Jessica.
“Iya, kebetulan dekat dengan sekolahku.” Sambil menjawab pertanyaan Glen mata Jessica melihat rekan-rekannya sedang latihan.
“Aku antar ya.” Glen menawarkan bantuan lalu Jessica menganggukkan kepala.
“Iya, terima kasih,” ucap Jessica.
Latihan sudah selesai Jessica, Glen dan Fanya berjalan keluar. Fanya ingin langsung pulang ke tempat kosnya lalu Glen mengantarnya terlebih dahuku. Sedangkan Jessica duduk di belakang dan Fanya di depan. Jessica tahu Glen selalu memperhatikannya lewat kaca spion.
‘Dasar, sudah tau ada Fanya di sampingya masih saja begitu. ternyata semua laki laki sama.’ Jessica mengalihkan pandangan keluar jendela, kembali dia teringat kepada Carlos.
Selesai mengantar Fanya kini Jessica dan Glen langsung mencari tempat kos, Jessica memberikan alamat yang dia dapatkan dari website kepada Glen lalu pria itu langsung menjalankan mobilnya menuju ke sana.
Tidak menunggu lama Jessica dan Glen tiba di tempa itu, merek turun kemudian bertemu dengan pemilik kos, Jessica berbincang bincang lalu sang pemilik menunjukan kamar yang dimaksud Jessica.
Merasa cocok Jessica memberitahukan kalau dia akan masuk hari ini juga. Pemilik kos langsung membersihkan kamar itu di bantu oleh Jessica. Selesai, sang pemilik memberikan kunci pada Jessica kemudian gadis itu meletakkan tasnya di kamar.
Depan kamar kos ada teras dan kursi, Jessica dan Glen duduk lalu berbincang bincang. Tidak terasa sudah malam lalu Glen berpamitan pulang kepada gadis itu.
Sementara di apartemen Carlos mengkhawatirkan Jessica, dia mondar-mandir di depan jendela kaca dan memikirkan dimana gadis itu berada.
“Ini sudah malam kamu di mana, Jess? Kamu tidur dimana?” Carlos begitu memikirkan Jessica. Dia sangat mengkhawatirkannya, Carlos merasa menyesal sudah menyakiti gadis itu.
“Kemana aku akan mencarimu, aku tidak begitu mengenal kota ini. Aku juga tidak mengenal teman-temannya.” Carlos berdiri di depan kaca jendela dan memandang keluar.
Sedangkan di tempat kos, begitu Glen pergi Jessica langsung masuk ke kamar dan berbaring. Pikirannya melayang kepada Carlos, dia tidak percaya dengan ucapan pria itu tadi.
‘Gila Carlos bisa bicara begitu padaku, sakit mendengarnya.’ Jessica memejamkan mata tak terasa air sebening kristal menetes. Dia teringat pengkhianatan pria itu.
Jessica berusaha untuk tidur tapi tidak bisa, dia mencoba mengambil buku dan membacanya.
Selamat Membaca
Jangan lupa like dan komentar ya.
__ADS_1
Oh ya, baca juga Novelku yang berjudul:
AMOR PROHIBIDO ( CINTA TERLARANG )