
Reagen menjemput Tania, dia melihat Tania sudah menunggunya di depan.
Ezer melihat mobil Reagen lalu dia berteriak kegirangan.
"Mommy.. Papi." Kata Ezer sambil menunjuk mobil Reagen lalu dia tertawa.
Reagen keluar dari mobil kemudian dia menghampiri Tania. Dia mengecup kening Tania kemudian dia memeluk Ezer dan mencium kedua pipi Ezer.
"Kesayangan papi mau ikut mommy ke kantor?" Tanya Reagen sambil memegang pipi Ezer lalu Ezer menganggukan kepala dan melingkarkan tangannya di punggung Reagen
"Honey lebih baik kita berangkat sekarang." Kata Tania
"Baik sayang, kita ke apartemen dulu ya untuk sarapan." Kata Reagen lalu dia membuka pintu mobil dan mendudukan Ezer di booster seat dan memakaikan safety belt kepada Ezer.
Tania masuk ke dalam mobil di ikuti Reagen. Lalu Reagen menjalankan mobilnya menuju ke apartemen.
Sementara di kamar Kairos melihat Reagen Tania dan Ezer. Dia menundukan kepalanya
"Aku akan pergi ke Indonesia, aku rindu dengan putriku. Sekembalinya dari Indonesia, aku harus menikah dengan Tania. Aku yakin Tania tidak mencintai Reagen, dia hanya mencintaiku." Kata Kairos dalam hati.
Di mobil Tania hanya diam saja. Reagen memperhatikan Tania lalu dia memegang tangan Tania.
"Apakah kamu baik baik saja sayang."
Tania menatap Reagen lalu dia menganggukan kepala.
"Iya, aku baik baik saja." Jawab Tania lalu dia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.
Tania masih mengingat perlakuan Kairos terhadap Ezer. Hatinya terasa sakit.
"Lebih baik aku pergi dari rumah itu dan kembali ke seattle." Kata Tania dalam hati. "Tapi bagaimana dengan Reagen? Dia sangat mencintaiku."
Reagen kembali memperhatikan Tania.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Reagen sambil memegang pipi Tania.
"Tidak ada honey."
Lalu Tania memegang tangan Reagen.
Akhirnya mereka tiba di apartemen. Reagen menggendong Ezer lalu mereka masuk kedalam apartemen.
Tania melepaskan tasnya lalu dia menuju ke dapur. Reagen mengikuti Tania sambil menggendong Ezer.
"Kamu akan membuat sarapan?"
"Iya honey, oh ya susu Ezer masih ada?"
"Iya masih ada. Sebentar aku ambilkan."
"Papi.. "
"Ada apa sayang? Ezer mau main?" Tanya Reagen lalu Ezer menganggukan kepala."
Reagen membawa Ezer ke depan dan menurunkannya, kemudian Reagen mengambil semua mainan dan meletakkannya di lantai.
Reagen kembali ke dapur menemui Tania. Dia membuka lemari dan mengambil susu Ezer.
"Biar aku saja yang membuatkan susu untuk Ezer." Kata Reagen sambil mencubit pipi Tania lalu Tania tersenyum dan menganggukan kepala.
Tania menyediakan sarapan, sesekali dia menyeka air matanya. Dia teringat Kairos membentak Ezer dan mengusir dari kamarnya.
"Lebih baik aku pergi dari rumah itu." Kata Tania dalam hati. "Tapi bagaimana dengan papa dan mama? Mereka sangat menyayangi Ezer."
__ADS_1
Tanpa Tania sadari Reagen memperhatikannya. Reagen menghampiri Tania dan memeluk Tania dari belakang.
"Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat sedih? Apakah Kairos menyakitimu?"
Tania menyeka air matanya.
"Tidak Reagen." Kata Tania sambil mengangkat makanan dan meletakkannya di meja.
Reagen mengikuti Tania dan membelai rambut Tania.
"Jangan bohong padaku, katakan padaku. Apakah Kairos menyakitimu?" Tanya Reagen lagi sambil menatap mata Tania
"Kairos tahu cara menyakitiku, dia merasa tidak berhasil menyakitiku lewat Angel. Sekarang dia mencoba menyakitiku lewat Ezer."
"Apa yang Kairos lakukan kepada Ezer?" Tanya Reagen
Tania duduk di kursi dan menyeka kembali air matanya, Reagen juga duduk di kursi dan memegang wajah Tania.
"Tadi saat Ezer menangis, Kairos membentak Ezer dan mengusir aku dan Ezer dari kamarnya." Kata Tania sambil menangis lalu Reagen menarik Tania ke dalam pelukannya.
"Honey aku lelah, kalau aku tidak ingat papa dan mama, aku sudah pergi dari rumah itu."
"Sayang tinggalah bersamaku disini, aku janji aku tidak akan pernah menyakitimu juga Ezer. Aku sangat menyayangi Ezer." Kata Reagen sambil membelai rambut Tania.
"Aku tidak bisa honey, aku tidak ingin memisahkan Ezer dari papa dan mama. Mereka sangat baik dan menyayangi Ezer."
"Baiklah kalau begitu, kita sarapan dulu. Ezer sudah minum susu dan dia lagi bermain."
"Terima kasih honey."
Reagen tersenyum dan mengecup kening Tania.
Sementara di kantor Carlos mendapatkan telepon dari Charlie.
"Hallo Carlos, kami sudah mendapatkan informasi juga tempat mereka. Ada beberapa orang yang sudah kami kirim kesana untuk menjebak mereka. Nanti sore kami akan menyergap mereka. Apakah kamu mau ikut?" Tanya Charlie
"Tentu saja Charlie, aku ingin tahu siapa mereka itu." Kata Carlos dengan geram.
"Baiklah Carlos aku akan mengirimkan alamat tempat mereka berkumpul."
"Terima kasih Charlie." Ucap Carlos
"Sama sama Carlos, oh ya Carlos tolong kamu kirimkan jenis senjata yang di gunakan oleh Osvaldo dan Colby. Aku ingin mencari peluru untuk senjata mereka berdua di gudang senjata."
"Baiklah Charlie, aku akan hubungi Osvaldo dan menanyakannya."
"Ok Carlos, sampai nanti sore."
"Terima kasih Charlie." Ucap Carlos kemudian dia menutup teleponnya.
Carlos bersandar di kursi
"Aku tidak sabar lagi ingin tahu siapa mereka." Kata Carlos sambil memainkan pulpen di jarinya.
Carlos berdiri kemudian dia keluar dari ruangannya, Carlos pergi menemui Colby.
“Hi Colby, tolong kamu kirimkan kepada Charlie jenis senjata yang kamu dan Osvaldo gunakan.”
Colby berdiri dan menatap Carlos
“Ada apa Carlos?” Tanya Colby
“Charlie ingin mencari peluru yang cocok dengan senjata kalian, nanti sore kita akan menyergap orang orang yang menyerang rumah oarng tuaku.
__ADS_1
“Ohh.. begitu? Jadi Charlie sudah menemukan tempat mereka?”
“Iya Colby, nanti sore kita akan kesana. Kita kumpulkan semua anak buah, nanti di rumah ada beberapa polisi yang akan berjaga.” Kata Carlos lagi
“Itu bagus Carlos, aku tidak sabar lagi menghajar mereka.” Kata Colby sambil tersenyum.
“Jangan lupa Colby, kirim jenis senjata kalian kepada Charlie.”
“Baik Carlos.” Kata Colby lalu dia mengambil handphonenya dan menghubungi Charlie.
Panggilan terhubung lalu terdengar suara Charlie dari seberang telepon.
“Hallo Cloby, apakah Carlos sudah menyampaikan padamu?”
“Iya Charlie, Carlos baru saja mengatakannya. Oh ya mengapa kamu menanyakan jenis senjata yang aku dan Osvaldo gunakan?” Tanya Colby penasaran.
“Begini Colby, aku dan Swan tidak ingin kalian dan Carlos tertangkap jadi nanti kami akan mencari di Gudang peluru jenis peluru yang sama dengan senjata kalian.” Kata Charlie dari seberang telepon.
“Oh.. begitu.” Gumam Colby. “Ok senjata yang Osvaldo dan aku gunakan yaitu Cheytac M200 Intervention.
Terdengar tawa Charlie dari seberang telepon.
“Gila, apakah Carlos yang membelikan senjata itu untuk kalian?”
“Iya Charlie, Carlos yang membelikannya tapi atas petunjuk aku dan Osvaldo.” Kata Colby sambil tertawa
“Kalian benar benar gila, senjata yang kalian gunakan adalah senjata yang sangat sangat mematikan. Ternyata Carlos sudah mempersiapkan dengan matang. Ok aku akan mencari peluru untuk jenis senjata kalian, mudah mudahan jenisnya ada di Gudang peluru.” Kata Charlie lagi.
“Baiklah Charlie.” Kata Colby lalu dia menutup teleponnya.
Sementara di kediaman Carlos, terlihat Kairos mondar mandir di kamarnya.
“Ternyata lebih ampuh menyakiti Tania lewat Ezer daripada Angel. Kalau saja kamu tidak meminta mama untuk mengajakku kembali ke sini, aku tidak akan menyakitimu. Mentang mentang papa dan mama menyayanginya, seenaknya saja dia padaku.” Kata Kairos dalam hati
“Ezer mendapatkan kasih sayang dari papa dan mama tapi Chantiq dia tidak mendaparkan perhatian dari siapapun. Ini tidak adil, aku harus kembali ke Indonesia.” Kata Kairos lagi. “Nanti aku kembali dari Indonesia baru aku akan menikahinya.”
Sementara di apartemen terlihat Tania dan Reagen sedang bersenda gurau dengan Ezer di kamar Reagen.
Tania terlihat sangat bahagia melihat kedekatan Ezer dan Reagen.
"Reagen benar benar memperlakukan Ezer seperti anak kandungnya." Kata Tania sambil memperhatikan Ezer.
Reagen melihat Tania lalu dia tersenyum, dia mencolek pinggang Tania lalu badan Tania tersentak
"Honey..
Tania membelalakan matanya lalu Reagen tertawa dan menarik Tania kedalam pelukannya
"Kenapa sayang?" Tanya Reagen sambil memeluk Tania dengan erat.
"Gelik." Jawab Tania lalu Reagen tertawa lagi.
"Kalau ini gelik atau tidak?" Tanya Reagen lagi sambil mencium leher Tania lalu Tania tertawa dan berusaha mendorong kepala Reagen
Ezer melihat Tania dan Reagen lalu dia tertawa dan ikut memeluk Tania.
Reagen menarik Ezer lalu meletakkannya di atas dadanya.
"Kamu tidak tidur sayang?"
"No papi." Jawab Ezer sambil menggelengkan kepala lalu Tania tertawa.
"Sayang tidur dulu ya." Kata Tania lalu dia turun dari tempat tidur dan membuatkan susu untuk Ezer.
__ADS_1
Selamat membaca