
Pagi hari Carlos sudah bangun dan dia langsung pergi mandi, Carlos akan pergi ke sekolah Jessica dia ingin membawa gadis itu pulang bersamanya. Carlos berjanji tidak akan pernah menyakiti Jessica lagi.
“Dia pasti hari ini ke sekolah.” Kata Carlos dalam hati. Selesai mandi dia langsung mengganti pakaian, lalu keluar dari apartemen. Carlos turun ke basement dan menuju ke mobilnya dan membuka pintu,
Dia masuk dan menyalakan mobil kemudian langsung jalan menuju sekolah Jessica.
Tidak menunggu lama akhirnya pria itu sampai di Jessica menimba ilmu.
Carlos memarkirkan kendaraannya dan menunggu Jessica di dalam mobil. Dia mengawasi setiap murid yang masuk, Carlos berharap bisa bertemu dengan Jessica. Dia sangat merindukannya, sudah satu jam Carlos menunggu tapi pria itu tidak melihat gadis pujaannya.
Carlos berpikir mungkin Jessica sudah di dalam dan akhirnya dia memutuskan akan menunggu sampai gadis itu pulang. Carlos tidak tahu kalau Jessica tidak masuk sekolah karena akan mengadakan pertandingan voli.
Sementara di tempat kos, nampak Jessica sedang duduk di sisi tempat tidur, tiga hari tidak sekolah dia sangat rindu teman temannya dan sebentar juga babak final akan di mulai.
Jessica ingin Andrew menonton pertandingan voli. ‘Nanti aku akan menghubungi Andrew, aku sangat rindu padanya. Dia temanku yang paling baik,’ gumam Jessica pada dirinya sendiri.’
Ya, kalau Jessica tidak masuk sekolah Andrew selalu duduk di depan dan meminta ijin pada guru untuk merekam setiap mata pelajaran yang diberikan guru lalu Andrew mengirimkan video itu kepada Jessica.
Jessica tidak ketinggalan pelajaran dan kalau ada tugas Andrew selalu memberitahukan padanya. Seperti dua hari lalu Andrew memberitahukan ada tugas, Jessica mengerjakannya dan mengirim via jasa aplikasi ke alamat sekolah dan di tujukan untuk Andrew, jaman semakin canggih ya.
Jessica berdiri dan mengambil handuk lalu pergi mandi, dia menyalakan shower, lagi membuat Jessica teringat akan Carlos. Mereka berdua selalu mandi bersama, Jessica jadi merindukannya. ‘Hm, dia sudah ada yang baru aku harus berusaha melupakannya.’
Selesai mandi Jessica memakai celana pendek dan t’shirt kemudian berbaring di tempat tidur sambil membaca buku. Dia menunggu jam istirahat agar bisa menghubungi Andrew, pertandingan akan di langsungkan pada jam tiga sore jadi ada waktu untuk istirahat.
Jessica melihat jam sudah menunjukkan pukul 9:30am tandanya sudah waktunya jam istirahat, dia mengambil ponsel dan menghubungi Andrew ada nada panggil.
“Jawab bocah.” Lalu terdengar suara disana
“Eh, manja lagi dimana kamu?” tanya Andrew, pria itu selalu memanggil Jessica dengan sebutan seperti itu karena dia sering bermanja kepada Andrew.
“Enak saja manja, Ndrew nanti sebentar kamu nonton voli ya,” ujar Jessica dengan suara manja yang membuat di seberang telepon tersenyum sendiri, benar apa kata pria itu kalau Jessica memang manja.
“Dimana pertandingannya?” tanya Andrew lagi.
“Di gelangggan olahraga, nanti kamu jemput aku ya,” sahut Jessica dengan merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Jam berapa bertanding?”
“Nanti jam tiga, tapi kamu jemput aku jam satuan ya. Hari ini’kan sekolah pulang cepat.” Jelas Andrew tidak akan menolak permintaan Jessica, baginya gadis itu segalanya.
“Ok akan aku jemput kamu.” Jessica tersenyum, dia sangat senang akan bertemu dengan sahabatnya itu, tiga hari tidak melihatnya membuat Jessica sangat rindu.
“Jangan jemput di apartemen, nanti aku share alamatku.” Pria di ujung telepon mengernyitkan dahi, dia heran kenapa Jessica tidak di apartemen.
“Memang kamu di mana sekarang?”
“Sudah nanti aku share lokasiku. Oh ya Ndrew ajak donk teman-teman ikut nonton biar aku semangat, aku juga rindu dengan mereka.” Kembli suara manja Jessica didengar Andrew dan membuat pria itu tidak sabar ingin bertemu dengan Jessica.
“Iya nanti aku beri tahu mereka,” sahut Andrew di ujung telepon.
“Ok sampai jumpa nanti ya.” Jesssica menutup telepon dan kembali berbaring, sambil mendengarkan musik Jessica tertidur.
Sementara di sekolah, nampak Carlos masih menunggu Jessica di dalam mobil sambil memperhatikan murid-murid sudah mulai pulang. Carlos berharap dia bertemu dengan Jessica.
Carlos terus mengawasi dari dalam mobil tapi dia masih belum melihat Jessica, dia dengan sabar terus menunggu, sampai sekolah sepi Carlos tidak melihat Jessica.
“Mungkin dia tidak sekolah, kamu sekarang dimana, Jess.” Carlos menjadi khawatir pada Jessica, dia curiga Glen menyembunyikan gadis itu,
Carlos menghidupkan mesin mobil lalu kembali ke apartemen. Begitu tiba dia kembali mengambil minuman di mini bar dan naik ke atas menuju kamar Jessica.
Dia membuka tutup botol minuman lalu meminumnya, Carlos terus memikirkan gadis itu. Dia sungguh tersiksa dan sangat menyesal. Sekarang dia tidak tahu Jessica dimana.
Carlos menghabiskan minuman di botol dan berbaring di tempat tidur Jessica sambil memeluk kemeja gadis itu. Lalu ponselnya berbunyi, dia melihat panggilan dari Olivia. Carlos tidak ingin menjawabnya, dia mengirimkan pesan kepada wanita itu. 'Maaf, jangan ganggu aku lagi karena aku tidak mencintaimu. Hanya Jessica yang aku cintai, aku sudah jelaskan padamu berulangkali tapi kamu tetap memaksa. Kali ini aku tegaskan tinggalkan aku!' Pesan terkirim lalu kembali pria itu memejamkan mata.
Sedangkan di tempat kos, Jessica terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia melihat pesan dari Andrew, pria itu meminta alamat tempat tinggal Jessica.
__ADS_1
Jessica mengirim alamatnya dan melihat jam sudah pukul dua belas, lalu dia bangun dan bersiap-siap. Jessica memasukkan pakaian voli, pelindung lutut, juga sepatu ke dalam tas.
Karena sudah Jessica langsung mengganti pakaiannya dengan traning dan kaos. Hari ini dia tidak ingin di jemput Glen, Jessica mau pergi dengan Andrew. Sudah lama dia tidak naik motor bersama sahabatnya itu, setelah selesai Jessica duduk di depan teras sambil menunggu Andrew.
Dia melihat motor Andrew masuk lalu Jessica melambaikan tangannya. Pria itu melihat Jessica kemudian dia memarkirkan motornya dan menghampiri gadis itu.
“Gampangkan alamatku,” ujar Jessica sambil berjalan menghampiri Andrew dan memeluk pria itu.
“Jadi kamu tinggal disini sekarang, Jess?” tanya Andrew sambil memperhatikan tempat tinggal Jessica.
“Iya, dekat dari sekolah lagi.” Sambil menjawab pertanyaan sahabatnya, Jessica menarik tangan Andrew dan menyuruhnya duduk.
“Kenapa kamu tidak tinggal di apartemen lagi?” Kembali Andrew bertanya seraya duduk.
“Panjang ceritanya, nanti selesai pertandingan aku ceritain ke kamu.” Andrew menatap Jessica sambil melengkungkan bibirnya.
“Oh begitu, sudah mau jalan?”
“Iya, kita jalan sekarang.” Jessica mengambil tasnya kemudian berjalan bersama Andrew menuju motor pria itu.
Andrew memberikan helm pada Jessica kemudian gadis itu naik ke atas motor. Andrew menjalankan kendaraan roda duanya menuju ke gedung pertandingan dan akhirnya mereka tiba, Jessica turuun sedangkan Andrew memarkirkan motornya.
Jessica dan Andrew saling perpegangan tangan seperti sepasang kekasih memasuki gedung pertandingan. Sementara di mobil Glen memperhatikan Jessica dan Andrew.
“Siapa pria yang bersama Jessica?” tanya Glen dalam hati. “Pantas saja dia tidak mau aku jemput, siapa pria yang bersamanya itu? apakah itu pacar baru jessica? mereka terlihat mesra.” Kembali Glen begumam.
Dia menjadi penasaran, Glen turun bersama Fanya dan memperhatikan Jessica dengan pria itu. Glen dan Fanya masuk ke dalam gedung, sampai di dalam dia mencari tempat duduk dan melihat Jessica dengan Andrew.
“Tampan dan masih sangat mudah mungkin seumuran dengan Jessica.” Glen melihat Andrew begitu dekat dengan Jessica, Glen menjadi cemburu melihat gadis itu bermanja pada Andrew.
Jessica dan Andrew masih duduk santai di kursi penonton, tangannya selalu di letakkan di bahu Andrew. Jessica melepaskan rindunya kepada sahabatnya itu.
Andrew selalu mencubit hidung Jessica, dia dan gadis itu bercanda dan tertawa kemudian teman temannya datang. Lia, Rani, Christy, Eric dan Antonio. Melihat sahabatnya Jessica langsung memeluk mereka.
“Aku kangen kalian semua,” ucap Jessica pada teman-temannya. Mereka duduk dan bercakap-cakap sambil becanda.
Jessica mengganti pakaiannya dengan pakaian voli, juga memakai pelindung lutut dan sepatu lalu coach datang.
“Kalian sudah selesai?” tanya coach sambil memperhatikan satu-persatu personilnya apakah sudah lengkap atau belum.
“Sudah, Coach,” jawab mereka serempak.
“Ingat lawan kalian itu tim yang tidak pernah terkalahkan, lawan kita kali sangat hebat. Jadi berusaha’lah untuk menang,” ujar coach kepada para pemain.
Ya iyalah bagaimana tidak kuat, mereka pakai pemain luar, masuk final saja tim Jessica sudah sangat bersyukur. Para pemain keluar menuju lapangan dan melakukan pemanasan.
Sebentar lagi pertandingan akan di mulai, wasit mulai masuk begitu juga tim lawan mulai masuk ke lapangan.
Lawan mereka semuanya tinggi-tinggi, suatu keberuntungan kalau tim Jessica menang. Pertandingan akan segera di mulai, coach memberi briefing setelah itu tim masuk ke lapangan. Wasit melemparkan koin dan tim lawan melakukan service.
Service di mulai, Aulia menerima bola dan memberikan pada Tini, Tini mengumpan bola kepada Fanya lalu Fanya melakukan smash dan berhasil di block oleh tim lawan.
Mereka saling berbalasan-balasan. Babak pertama tim Jessica kalah dengan skor 25-22 dan babak kedua mereka menang 25-14.
Babak ketiga terjadi rally point tapi tim Jessica kalah. Gadis itu tidak melanjutkan permainan di babak ketiga karena tangannya terkilir padahal point lawan sudah tertinggal jauh.
Pertandingan kali ini tim Jessica mengalami kekalahan, tapi coach memberi mereka semangat.
“Kalian sudah berusaha, permainannya sangat bagus dari babak pertama dan babak ke tiga skor kita tidak tertinggal jauh 24 - 26, malah babak ke dua mereka kalah dengan skor yang berbeda jauh. Kalian hebat hanya keberuntungannya saja belum di pihak kita” ujar coach.
“Iya keberuntungan belum di pihak kita. “Sayang saja tanganku terkilir jadi tidak bisa melanjutkan permainan.” Padahal skor mereka di babak ke tiga sudah tertinggal jauh.
“Jess, bagaimana dengan tanganmu, semestinya kamu tidak perlu mengejar bola itu.” Tadi kalau saja Jessica tidak mengejar bola, dia tidak akan terjatuh.
“Iya, Coach. Aku juga tidak sempat melihat kalau ada papan iklan disitu,” tutur Jessica dengan memperhatikan sikunya yang terluka.
__ADS_1
“Obati juga luka mu itu.” Jessica hanya tersenyum dan menganggukan kepala.
“Hanya luka kecil, Coach.” Mereka meninggalkan ruang ganti, Jessica langsung menuju ke tempat Andrew dan teman-teman lainnya duduk.
“Kamu sama Tini hebat, Jess. Sayang saja tanganmu terkilir. Coba kalau tidak, kalian pasti yang menang,” puji Andrew sambil menarik tangan Jessica untuk duduk di dekatnya.
“Belum beruntung aja, Ndrew,” sahut Jessica dengan tersenyum lalu duduk di samping Andrew.
Teman temannya juga memuji kehebatan Jessica dan Tini. Sementara berbincang-bincang tiba-tiba ada yang menyapa Jessica.
“Mba Jessica, bisa bicara sebentar? Aku Franki dari EO ingin menawarkan pada mba Jessica untuk menjadi bintang iklan shampoo.” Jessica mengeryitkan dahi menatap pria itu
“Oh ... aku pikir-pikir dulu ya.” Semenjak ikut pertandingan voli Jessica mendapatkan beberapa tawaran untuk menjadi bintang iklan.
“Iya, Mba. Kalau Anda berminat ini kartu namaku.” Franki mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan memberikannya kepada Jessica.
“Ok, nanti aku kabari secepatnya.” Jessica mengambil kartu nama itu dan memasukan ke dalam tas.
“Baik, Mba. Aku permisi dulu.” Franki langsung meninggalkan Jessica dan teman-temannya lalu Andrew menatap sahabatnya itu dengan mengerutkan dahi.
“Jangan ditolak, ini kesempatanmu,” saran Andrew, dia ingin Jessica berhasil di Jakarta.
“Ndrew, ada lagi yang menawarkan aku untuk main iklan tapi belum aku hubungi.” Andrew menatap heran kepada gadis itu.
“Kenapa kamu belum hubungi?”
“Aku lupa, Ndrew. Udah ah, ayo kita pulang, aku capek.” Jessica dan Andrew berpisah dengan teman-temannya, mereka berdua menuju parkiran lalu Jessica naik ke motor dan Andrew mengantarnya pulang.
Tiba di kos Jessica membuka kamarnya dan meletakkan tas di lantai kemudian kembali ke teras lalu duduk bersama Andrew.
“Jess, kenapa kamu tidak tinggal lagi diapartemen?” tanya Andrew dengan menatap mata Jessica.
“Panjang ceritanya, Ndrew. Kalau aku cerita pasti kamu akan menjauh dariku.” Jessica berucap sambil menundukkan kepala, dia merasa malu kepada Andrew.
“Ceritakan saja, Jess. Kita itu sahabat, tidak mungkin aku akan menjauh darimu,” ujar Andrew sambil memegang tangan Jessica.
Akhirnya Jessica menceritakan pada Andrew tentang dia dan Carlos dari pertama bertemu sampai dia di bawah ke Jakarta. Bahkan Jessica menceritakan pada Andrew tentang di malam dia kehilangan perawannya, tidak ada satu’pun yang disembunyikan Jessica kepada pria itu, baginya Andrew adalah sahabat yang baik.
“Jess, kamu itu sahabat terbaikku, seorang sahabat tidak akan meninggalkan temannya yang lagi dalam kesulitan, lagi ada masalah. Tetapi dia akan selalu ada dan mendampinginya. aku akan selalu ada untukmu, Jess.” Sambil bercupa Andrew memegang tangan Jessica dan membelai rambut gadis itu. Jessica berpikir setelah mendengar kisahnya Andrew akan menjauh.
“Terima kasih ya, Ndrew. Kamu baik sekali,” ucap Jessica sambil memeluk sahabatnya itu. “Ndrew aku pikir kamu tidak mau berteman denganku lagi.” Andrew melepaskan pelukan Jessica dan kembali memegang tangan gadis itu.
“Jangan bicara seperti itu, sebenarnya aku sudah curiga padamu. Aku sering melihatmu berjalan bersama Carlos dari apartemen menuju mall, kalian berdua berjalan kaki dan Carlos selalu memegang tangan kamu.” Mata Jessica membulat sempurna menatap Andrew, dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu pernah melihat dia dan Carlos.
“Oh ya?” Hanya dua kalimat itu yang keluar dari bibir Jessica, dia menjadi malu sendiri kepada Andrew.
“Iya, saat itu aku berpikir itu tidak mungkin suami kakak kamu, itu pasti pacar kamu. Tapi aku tidak mau bertanya padamu, aku berpikir suatu waktu kamu akan mengatakannya padaku.” Kembali Jessica memeluk Andrew, dia merasa terharu memiliki sahabat seperti pria itu.
“Terima kasih, Ndrew. Kamu baik sekali.”
“Jess kita’kan berteman, dan sampai kapan’pun kamu akan selalu menjadi teman baikku. Aku tidak peduli dengan latar belakangmu yang aku tau Jessica adalah sahabatku yang terbaik. Ok!” Jessica tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ok, Jess. Aku pulang dulu ya, besok kamu sekolah’kan?” tanya Andrew seraya berdiri.
“Belum tau, Ndrew. Kalau tidak lelah, aku ke sekolah.” Jessica ikut berdiri dan berjalan di samping Andrew.
“Baiklah, kalau kamu mau kesekolah kabari aku ya, nanti aku jemput.” Kembali Jessica tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ok, hati-hati ya!”
“Sip.” Akhirnya Andrew pulang lalu Jessica langsung masuk ke dalam dan mandi.
Dan akhirnya Author lapar aku makan dulu ya
Tunggu episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan bosan membaca ya. Jangan lupa juga like dan komentarnya.
Selamat membaca