
Akhirnya Logan kembali ke Brazil, dia di jemput oleh Dylla. Mereka berdua langsung menuju ke villa milik wanita itu. Seperti biasa mereka berdua melakukan hubungan itu berulang kali, Logan melampiaskan kekesalanya kepada Dylla.
Saat sedang melakukan penyatuan Logan sempat menampar Dylla karena merasakan wanita itu menyesap kuat leher Logan.
“Sudah aku katakan padamu, jangan pernah meninggalkan bekas di tubuhku. Untung saja istriku masih di Amerika,” ujar Logan dengan marah kepada.
“Aku minta maaf dan berjanji tidak akan pernah melakukan itu lagi padamu.” Logan memakai pakaiannya kemudian meminta Dylla untuk mengantarnya pulang.
Mereka berdua meninggalkan villa lalu Dylla mengantar Logan pulang ke rumahnya. Logan turun dari mobil dan menarik koper ke dalam, dia langsung menuju ke kamarnya. Logan menghempaskan tubuhnya dan memikirkan Cella. Dia merasa kesal karena saat dia akan pergi sang istri tidak mau menjawab teleponnya.
Logan bangun dan mengambil ponsel kemudian dia mencoba menghubungi Cella, panggilan terhubung lalu terdengar suara Sabrina.
“Hallo, Papi. Aku rindu.” Suara mungil Sabrina memanggil Logan di telepon.
“Hallo, Sayang. Papi juga rindu padamu, ajak mommy untuk pulang ya.”
“Iya, Papi. Tapi aku ingin lihat papi,” pinta Sabrina dengan manja.
“Baiklah, Sayang. Papi video call ya.” Logan mematikan ponsel kemudian mengganti dengan video Call.
Terlihat wajah Sabrina sedang tersenyum di layar ponsel, Logan berbaring di tempat tidur dan berbincang dengan putrinya.
“Kamu sedang apa, Sayang?” tanya Logan sambil memperhatikan layar ponsel, dia juga melihat Cella sedang berbaring di tempat tidur.
“Aku lagi bermain dengan mommy. Papi aku mau pulang.”
“Iya, bilang pada mommy ya,” ujar Logan dengan tersenyum. Terlihat Sabrina rebahan di samping Cella, Logan menyapa istrinya.
“Apakah kamu masih marah padaku?”
“Tidak, aku hanya kesal saja padamu,” sahut Cella sambil mengambil ponsel dari tangan Sabrina.
“Jangan bicara hal itu di depan Sabrina.”
“Baiklah, Sayang. Kapan kamu akan kembali? Kamu tahu aku tidak mau sendiri di sini.”
“Tiga hari lagi aku kembali ke Brazil, papa masih ingin bersama dengan Sabrina. Kamu tahukan dia jarang bertemu dengan putri kita,” sahut Cella sambil menahan tangan Sabrina yang mau turun dari tempat tidur.
“Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh,” kata Cella kepada Sabrina.
“Baiklah kalau begitu, aku mau istirahat. Aku merasa lelah, nanti malam aku telepon kamu lagi,”
“Ok, aku mencintaimu,” ucap Cella.
“Aku juga,” balas Logan dengan tersenyum.
Logan menutup teleponnya kemudian bangun dan pergi ke kamar mandi, dia berdiri di depan cermin lalu memperhatikan leher dan dadanya.
“Dasar perempuan bodoh, untung saja tidak ada,” umpat Logan kemudian keluar dari kamar mandi dan kembali berbaring di tempat tidur.
****
__ADS_1
Karena Cella dan kedua anaknya masih di Amerika, Logan banyak menghabiskan waktu di kantor. Tapi dia juga sering bertemu dengan Dylla, bahkan dia selalu melampiaskan amarahnya kepada wanita itu kalau dia sedang kesal kepada istrinya.
Logan merasa bosan berada di kantor dan rumah, dia merasa kesepian lalu memutuskan untuk pergi ke perkebunan. Malam itu juga Logan berangkat, dia tidak mengatakan kepada Dylla kemana dia pergi. Logan ingin menyendiri di sana, pria itu menggunakan mobil ke tempat pamannya.
Dia tiba pagi hari, Logan langsung menuju ke rumah pamannya. Sepanjang jalan dia memperhatikan perkebunan milik orang tuanya, lalu dia teringat ayah dan ibunya. Setiap sore hari mereka jalan-jalan di area perkebunan.
‘Daddy tidak usah khawatir, aku sudah menemukan orang yang membunuh kalian berdua dan aku akan membalaskan dendam kalian.’
Dia menyeka airmatanya lalu menghentikan mobil dan melihat bibinya sedang menyapu di halaman depan bersama asisten rumah tangga.
Logan turun dari mobil kemudian memeluk sang bibi dari belakang. Istri Miguel terkejut melihatnya, dia memeluk pria itu dengan erat kemudian berteriak memanggil suaminya.
Pria itu tertawa dan mengajak bibinya masuk ke dalam menemui sang paman, dan memeluk Miguel dengan erat.
Mereka saling berpelukan lalu Miguel melepaskan pelukkanya sambil matanya mencari sesuatu.
“Dimana Cella dan anak-anak?” Bibinya juga mencari istri dan anak-anak Logan.
“Mereka masih di Amerika, ayah Carlos meninggal.” Miguel terkejut dia membelalakan mata.
“Tuan Federico meninggal?” Logan menganggukkan kepala kemudian mereka duduk.
“Oh ya, Paman. Aku tanpa sengaja bertemu dengan orang yang membunuh kedua orang tuaku.” Miguel kembali terkejut, dia berdiri dan duduk dekat dengan Logan.
“Bagaimana kamu tahu orang yang membunuh kedua orang tuamu?” tanya Miguel dengan penasaran, karena dia berpikir Logan lupa dengan wajah pembunuhnya.
“Tidak mungkin aku melupakan wajah pembunuh itu, bahkan tato di tangannya masih ada di kepalaku.” Wajah Logan berubah, lalu Miguel menatap istrinya. Dia sudah berpikir Logan pasti akan balas dendam.
“Paman, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku bebas berkeliaran, aku akan membuat dia menyesal atas perbuatannya. Paman jangan khawatir soal istri dan anak-anakku.” Miguel ikut berdiri dan menghampiri keponakannya itu.
“Pikirkanlah baik-baik.” Logan hanya diam, dia sudah bertekad untuk membalaskan kematian kedua orang tuanya.
“Baik, Paman. Aku ingin pergi ke makam orang tuaku, sudah lama aku tidak berkunjung.” Miguel menganggukan kepala kemudian mengantar Logan sampai di depan rumah.
Logan masuk ke mobil kemudian meluncur ke makam kedua orang tuanya, sedangkan Miguel kembali ke dalam kemudian duduk dan berpikir tentang orang yang sudah membunuh kakak dan iparnya.
Logan tiba di makam kemudian dia duduk di sebua batu, dia mengelus nisan itu lalu airmata menetes di pipinya.
“Aku akan membalas dendam kepada orang yang sudah membunuh kalian, aku tidak akan pernah membiarkan dia bebas berkeliaran. Dia sudah mengambil mommy dan daddy dari hidupku, aku ingin ia mati.” Dia menyeka airmata kemudian mengecup batu nisan kedua orang tuanya lalu kembali ke mobil.
Logan pergi ke rumah orang tuanya dia melihat foto-foto mommy dan daddynya bersama dia saat dia berumur delapan tahun tergantung di dinding, dia duduk dan menatap figura itu.
Kalian pasti akan tenang di sana saat aku sudah membunuh laki-laki tua itu, gumamnya lalu sebuah pesan masuk. Dia melihat dari Dylla, Logan membacanya dan membalas pesan itu.
‘Aku sedang berada di rumah pamanku, aku akan berada di sini selama dua hari.’ Dia mengirim pesan itu kepada Dylla kemudian kembali menatap foto dia dan kedua orang tuanya.
Lalu sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya, dia melihat dari sang istri. ‘Logan aku masih akan tinggal empat hari lagi di rumah orang tuaku.’ Wajahnya terlihat kesal, dia tidak membalas pesan Cella.
“Dia lebih mementingkan keluarganya dari pada aku.” Logan menggerutu kemudian berdiri dan pergi ke kamar, pria itu merebahkan tubuhnya di kasur.
Dua hari di perkebunan akhirnya dia kembali ke Kota Rio de Janeiro, walaupun sudah sore dia tetap pergi ke kantor. Logan tidak tahu kalau sebenarnya sang istri sudah tiba di airport, Cella sengaja mengirim pesan seperti itu untuk membuat kejutan kepadanya.
__ADS_1
Cella tiba di kediamannya, dia bersama kedua anaknya masuk perlahan-lahan. Cella berpikir suaminya ada di rumah, mereka berjalan menuju ke kamar. Saat membuka pintu Cella melihat Logan tidak ada, wanita itu pergi memeriksa kamar mandi tapi Logan tidak disana.
Mungkin dia masih di kantor, gumamnya kemudian menyuruh Sabrina untuk mandi.
Cella masuk ke kamar dan pergi mandi, dia berencana untuk menyusul suaminya di kantor langkahnya terhenti saat ponsel berbunyi. Dia melihat panggilan dari Frank, Cella langsung menjawabnya.
“Hallo, Frank. Ada apa?” tanya Cella seraya mengambil handuk.
“Cella, bisa kita bertemu sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, ini sangat penting.” Cella membatalkan masuk ke kamar mandi kemudian duduk di sofa.
“Bagaimana kalau kita bertemu di kantor suamiku, kebetulan aku akan ke sana,” ujar Cella seraya berdiri kembali dan berjalan ke kamar mandi.
“Baiklah kalau begitu.” Cella menutup telepon kemudian mandi. Selesai, dia memakai pakaiannya dan pergi ke kantor suaminya.
Sementara itu Logan, saat dia tiba di kantor dia meminta Dylla untuk menemuinya, Dylla pun datang. Wanita itu terlihat sangat senang karena Logan yang memintanya. Kini mereka berdua bermesaraan di ruang kerja.
Logan berdiri kemudian mengajak Dylla pergi ke ruang meeting, mereka berdua kembali bermesraan di ruangan itu. Dia melepaskan pakaian Dylla kemudian membuka ikat pinggangnya dan mengikat tangan wanita itu di belakang.
Dylla menatap heran kepada Logan, dia tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan padanya. Jantungnya berdebar dia takut Logan melakukan hubungan yang tidak-tidak.
“Logan, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu mengikat tanganku?” Logan hanya diam dan melucuti celana wanita itu kemudian mendudukan wanita itu di meja.
Dia membuka resleting jeans dan menurunkan celananya kemudian melakukan penyatuan tanpa pemanasan seperti yang dia lakukan kepada Maurent. Dylla merasa lega karena pria itu melakukan dengan normal, wakau’pun sedikit sakit tapi masih bisa ditahan olehnya.
Logan melakukan dengan cepat sehingga Dylla mengalami beberapa kali pelepasan, dia membaringkannya di lantai dengan tengkurap kemudian menunggangi belakang wanita itu.
Dylla terkejut dan berteriak kesakitan, saat benda keras itu menerobos masuk ke area yang tidak semestinya di masuki. Sebenarnya Logan sudah sering melakukan itu tapi tetap saja dia merasakan sakit karena tidak menggunakan pelicin.
Dia meronta tapi Logan menahan tangan yang sudah terikat itu. Dia tidak perduli Dylla berteriak kesakitan, malah dia melakukan secara kasar dan cepat. Pria itu sengaja melakukan di ruang meeting supaya tidak ada yang mendengar teriakan wanita itu.
Sementara itu Cella tiba di parkiran kantor Logan, dia melihat kendaraan suaminya masih terparkir. Lalu mobil Frank masuk, Cella langsung turun dan menunggu Frank di depan kantor.
Cella tersenyum kepada Frank kemudian mengajak pria itu ikut bersama menemui Logan. Cella menyapa security lalu dia dan Frank masuk ke lift, Cella dan Frank berbincang-bincang di dalam lift.
Lift tiba di lantai delapan kemudian Cella dan Frank keluar, Cella menyapa Sarah asisten suaminya.
“Logan di dalam?” Sarah terkejut melihat Cella tapi dia cepat-cepat merubah raut wajahnya.
“Tuan sedang berada di ruang meeting bersama nyonya Dylla.” Cella mengerutkan dahi mendengar suaminya bersama wanita itu.
“Oh, baiklah aku langsung saja ke ruang meeting.” Beberapa karyawan saling pandang, wajah mereka terlihat khawatir, Frank memperhatikan Sarah. Dia mencurigai ada sesuatu yang terjadi.
Cella mengajak Frank ke ruang meeting, lalu pria itu berjalan di samping Cella. Sementara di ruang meeting masih terdengar tangisan wanita itu, Logan masih bekerja. Dia belum mendapatkan kepuasan.
“Cukup, Logan,” mohon wanita itu tapi Logan tidak berhenti. Dia malah lebih cepat bekerja dan menarik rambut wanita itu dengan kasar.
Dylla berteriak kesakitan saat Logan bekerja dengan cepat dan kasar. Area yang dimasuki milik Logan sangat sempit sehingga membuatnya lecet.
Dia membenamkan wajah wanita itu di lantai dan memacu gerakannya dengan kasar. Kembali wanita itu berteriak kesakitan dan menangis.
Dia tidak tahan dengan rasa sakit itu, Logan semakin bergairah mendengar teriakan wanita itu. Lalu pintu terbuka!
__ADS_1