SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Kunjungan teman


__ADS_3

Akhirnya, Cella pindah ke rumah yang di sewa. Dia sangat senang akhirnya dia mendapatkan tempat yang bagus dan bertetangga dengan pria itu.


Setiap sore Eduardo mampir menemui Cella, dia sangat senang bermain bersama Lucio dan Sabrina.


Seperti sore ini terlihat mereka bermain di kolam renang, Cella memperhatikan Eduardo berserta kedua anaknya dari kamar. Dia tersenyum sendiri melihat Lucio yang begitu senang di ajarkan berenang oleh pria itu.


Cella pergi menemui mereka lalu dia duduk di kursi dan memperhatikan Eduardo sedang berenang dengan Lucio di punggung pria itu. Saat Lucio terjatuh di air dengan cepat Edurdo memegangnya, Sabrina tertawa dan menghampiri Eduardo juga Lucio.


Hari semakin sore, Cella meminta pengasuh untuk memakaikan pakaian kepada kedua anaknya. Sementara Eduardo dengan tubuh basah dia berlari dan memercikkan air ke wajah wanita itu.


Cella terkejut lalu dia mengusap wajah seraya tersenyum, pria itu tertawa dan pergi mengganti pakaiannya.


Eduardo kembali ke kediaman Cella, mereka berdua duduk di teras dan berbicang-bincang.


“Aku ingin membuka usaha di sini, bagaimana menurutmu.” Eduardo menatap wanita itu dan berpikir.


“Itu bagus, kamu ingin usaha apa?” tanya Eduardo lalu Cella mengerutkan dahi, dia juga tidak tahu bisnis apa yang bagus di Philipin.


“Menurutmu bisnis apa yang paling bagus di kota ini?” Eduardo memegang dagu, dia mencoba berpikir usaha apa yang bagus untuk wanita itu.


“Begini saja, bagaimana kalau besok kita ke Cebu, mungkin di sana kamu bisa mendapatkan inspirasi.” Cella kembali berpikir


.


“Baiklah, jam berapa?” tanya Cella, wajah Eduardo terlihat sangat senang.


“Bagaimana kalau kita pergi pagi.” Cella menganggukkan kepala, dia setuju dengan usul dari pria itu.


“Baiklah, besok kita pagi kesana.” Eduardo sangat senang, sebenarnya dia ingin mengenal lebih dekat lagi dengan wanita itu.


Dia sudah tertarik dengan Cella, sikap yang baik dan lemah lembut membuat pria itu menyukainya. Karena hari sudah malam Eduardo berdiri dan berpamitan kepada Cella.


Keesokan pagi Cella dan Eduardo pergi ke Cebu, sepanjang jalan wanita itu memperhatikan setiap daerah yang mereka lewati lalu dia menulis di sebuah buku.


Sambil menyetir Eduardo melirik wanita itu, dan mengagumi dalam hati. Dia merasa senang Cella menikmati perjalanan ke Cebu. Pria itu berpikir, tidak sia-sia dia mengajaknya.

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba, Cella memperhatikan tempat itu. Dia melihat banyak turis asing berkunjung di daera ini, Cella mengajak Eduardo pergi ke restoran. Mereka duduk dan memesan makan, dari dalam wanita itu mengamati sekitar wilayah Cebu.


“Menurutmu bagus aku membuka resort di sini? Atau pusat perbelanjaan?” tanya Cella seraya matanya memandang keluar.


“Um, menurutku lebih baik resot.” Cella menatap Eduardo dan berpikir, kemudian dia menganggukkan kepala.


“Aku akan diskusi dengan temanku di Brazil, aku juga melihat sepanjang jalan ke sini terlihat real estate tidak ada.” Dia kembali menulis di buku, Eduardo memperhatikan wanita itu kemudian dia tersenyum.


‘Dia cantik dan pintar, aku semakin menyukainya.’ Cella tidak tahu kalau Eduardo sedang memperhatikannya, wanita itu terlihat sibuk lalu pesanan mereka datang. Cella berhenti dan mengajak pria itu makan.


Cella dan Eduardo terlihat asik dalam perbincangan mereka, sesekali terdengar tawa wanita itu saat Eduardo bercanda. Dia merasa sangat terhibur, di dalam kesedihannya ada yang membuat dia tertawa.


Ya, sampai saat ini masih teringat perbuatan sang suami. Tidak mungkin secepat itu dilupakan, apalagi melihat dengan mata sendiri perselingkuhan itu.


Menjelang sore Cella dan Eduardo kembali ke rumah, nampak di depan kedua anak Cella sedang bermain. Eduardo turun kemudian  menggendong Lucio, dia mengajak Sabrina untuk ikut bersama ke rumahnya.


Sabrina dan Lucio pergi bermain di tempat pria itu sedangkan Cella dia masuk dan pergi mandi. Tidak lama kemudian wanita itu pergi ke ruang kerja, dia mengambil ponsel dan menghubungi Frank.


Cella ingin minta pendapat Frank mengenai rencana dia untuk membuka usaha di Cebu. Wanita itu mendapat dukungan dari Frank, bahkan Frank ingin berkunjung ke Philipin.


Cella berdiri kemudian  pergi ke depan, dia tersenyum melihat Eduardo memegang tangan Lucio dan mengajarkan putranya berjalan.


Eduardo semaki dekat dengan kedua anak Cella, setiap hari mereka bermain bersama. Bahkan tanpa sepengetahuan wanita itu, Eduardo mengajarkan Lucio untuk memanggilnya papi. Eduardo benar-benar sudah jatuh cinta kepada ibu dari kedua anak itu.


****


Akhirnya Frank dan Leo datang ke Philipin, mereka menginap di resort milik Eduardo. Saat melihat ke akrapan Cella dan kedua pria itu, Eduardo menjadi cemburu. Apalagi ketampanan Frank bisa membuat wanita pujaannya jatuh cinta kepada Frank.


Cella mengajak Frank dan Leo ke rumahnya, mereka berbincang-bincang di dekat kolam renang, lalu datang Eduardo bersama kedua anak wanita itu. Frank melihat Sabrina kemudian dia berdiri.


“Masih ingat denganku?” Sabrina tersenyum dan menganggukkan kepala.


“Iya, aku masih ingat, Paman.” Frank tertawa dan membelai rambut Sabrina kemudian dia memegang pipi Lucio. Saat dia ingin menggendongnya anak itu menolak, tangannya langsung melingkar di leher Eduardo.


Frank tertawa dan membelai rambut Lucio kemudian dia duduk kembali. Eduardo mengajak Sabrina dan Lucio bermain di kamar, dan meminta pengasuh untuk mengawasi mereka.

__ADS_1


Eduardo kembali ke kolam renang dan ikut berbincang bersama mereka, dia menawarkan bantuan untuk mendirikan perusahaan. Lamanya tinggal di Philipin pria itu tahu di mana tempat mengurus ijin dan apa saja yang harus mereka siapkan.


Frank dan Leo sangat senang atas bantuan Eduardo, keduanya kembali mengatur rencana-rencana mereka. Cella ingin mendirikan resort di Cebu sekaligus ingin menjadi developer real estate, kedua teman sangat mendukung rencana wanita itu.


Frank ingin Cella menjadi sibuk agar bisa melupakan suaminya, dia tidak ingin wanita itu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan.


Hari sudah malam akhirnya Frank dan Leo kembali ke resort, sedangkan Cella masih berbincang dengan Eduardo di dekat kolam. Eduardo belum ingin menunjukkan rasa suka kepada wanita itu, dia takut Cella menjauh darinya.


Seminggu di Philipin akhirnya Frank dan Leo kembali ke Brazil, Cella sangat senang atas kunjungan kedua temannya. Sementara Eduardo merasa cemburu kepada Frank, dia berpikir pria itu menyukai Cella.


Sementara di Brazil Logan masih berharap bisa menemukan istri dan kedua anaknya, dia kembali tinggal di Rio de Janeiro tapi tidak tinggal di rumah. Pria itu lebih memilih tinggal di apartemen.


Sambil menunggu kabar informasi istri dan anaknya dia melakukan aktifitas kembali di perusahaan, keadaan pria itu tidak seperti sediakala. Dia sering terlihat marah kalau ada yang salah dalam laporan yang diajukan oleh karyawan.


Terkadang kesalahan kecil menjadi masalah besar, dia sering melempar laporan yang di berikan asisten kepadanya. Sarah mulai tidak bertah bekerja bersama pria itu, beberapa karyawan sudah mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikap bos mereka.


Logan sedang duduk termenung di ruang kerja lalu pintu terbuka, dia melihat Dylla yang masuk. Sang pria menatapnya dan berdiri menghampiri wanita itu.


Dia menatap tajam dan memegang tengkuk wanita itu lalu di dekatkan ke wajahnya, Dylla hanya diam di perlakukan seperti itu oleh Logan. Rasa cinta begitu besar, sehingga di disakiti’pun dia tetap mencari pria itu.


“Apakah kamu sudah menemukan dimana istrimu berada?” Logan melepaskan tangannya dari tengkuk wanita itu kemudian  duduk kembali.


“Belum, aku tidak tahu dimana mereka.” Wanita itu berpura-pura sedih, padahal dia sangat senang Logan belum menemukan istri dan anaknya.


“Jangan menyerah, kamu harus mencari mereka.” Wanita itu tersenyum dan berkata dalam hati. ‘Mudah-mudahan kamu tidak menemukan istri dan anakmu.’ Dia membelai rambut logan dan mengecupnya.


“Iya, aku tidak akan pernah berhenti mencari mereka. Aku sudah sewa detektif untuk mencari keberadaan istri dan kedua anakku.” Dylla kembali tersenyum kemudian dia melingkarkan kedua tangan di leher pria itu.


“Itu bagus, Sayang.” Dia mulai mencium leher Logan tapi pria itu sedang tidak ingin melakukannya.


“Dylla, hentikan.” Wanita itu berhenti kemudian  duduk di sofa.


“Bagaimana kalau kita makan siang di luar?” tanya wanita itu lalu Logan menganggukkan kepala.


Mereka berdua meninggalkan kantor, Logan meminta wanita itu menyetir lalu dia dan Dylla pergi ke restoran.

__ADS_1


__ADS_2