
Empat bulan sudah Logan bekerja kepada Maurent, kemanapun wanita itu pergi, kekasih Cella harus ikut karena sudah menjadi tugasnya. Tapi Logan selalu memberikan waktu untuk Cella.
Hari ini Logan dan Maurent baru saja kembali dari luar kota, mereka tiba di rumah lalu Maurent masuk ke dalam kamarnya. Nampak wajah letih di wajah pria itu, dia pergi ke dapur dan mengambil minum.
Selesai minum Logan pergi ke ruang tengah, dia menunggu wanita itu keluar dari kamar. Logan ingin berpamitan kepada Maurent.
Pria itu mondar-mandir di ruang tengah lalu dia melihat Maurent keluar dari kamar dengan menggunakan gaun tidur yang sangat seksi.
Gaun yang sedikit transparan sehingga terlihat tubuh seksi itu. Belahan dada yang menonjol lewat gaun itu membuat pria itu menarik napas panjang. Logan memalingkan wajahnya, dia tidak ingin menatap tubuh yang indah itu.
“Oh ya, aku mau pulang. Besok aku kesini lagi,” pamit pria itu tanpa melihat wajah Maurent.
Wanita itu menghampiri Logan dan meletakkan tangannya di dada bidang itu, dia ingin merayu kekasih Cella. Maurent sangat mengagumi ketampanan dan keindahan tubuh dari Logan.
Logan tersenyum dan mencoba menghindar, tapi wanita itu tetap meletakkan tangannya di dada Logan. Dia tidak ingin menyerah, dalam hatinya dia akan terus berusaha untuk mendapatkan pria itu.
“Aku ingin berbincang denganmu,” bisik Maurent dengan menghembuskan napasnya di telinga pria itu. Terlihat jakunnya bergerak menelan saliva, Logan menjadi gugup.
“Em, bagaimana kalau besok saja. Ini sudah malam,” ujar Logan sambil melepaskan tangan wanita itu dari dadanya dan melangkah mundur.
Tapi Maurent terus mendekati Logan dan berusaha merayunya, bahkan dia berani menyentuh milik pria itu yang masih terbungkus dengan celana slim.
Logan kembali melangkah mundur mencoba menghindar dari godaan Maurent, tapi dia tersandar di dinding lalu wanita itu membelai wajah Logan.
Mata Logan tertuju ke kedua bukit yang berukuran 34c itu, dia menarik napas panjang dan melepaskan tangan Maurent dari pipinya.
“Jangan seperti ini, Maurent,” ujar Logan. Dia tidak ingin menatap wanita, dia terus berusaha menghindar. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Logan mengeluarkan ponsel dari saku celana dan melihat panggilan dari Cella. Pria itu merasa lega karena sang kekasih meneleponnya. Dia melepaskan tangan Maurent kemudian langsung menjawab telepon dari Cella.
“Hallo, Sayang. Kamu belum tidur?” tanya Logan sambil menghindar dari Maurent. Logan sengaja mendengarkan kata ‘sayang’ kepada Maurent agar wanita itu berhenti menggodanya.
__ADS_1
Mendengar kata sayang dari Logan wanita itu langsung meninggalkan pria itu. Nampak raut wajahnya berubah kecewa karena apa yang dia inginkan tidak tercapai.
“Iya, aku belum tidur. Aku memikirkanmu,” jawab Cella dari seberang telepon.
“Aku juga memikirkanmu,” ujar Logan sambil berjalan keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Dia sangat senang terlepas dari rayuan bosnya.
“Kamu lagi dimana?” tanya Cella dengan suara manjanya.
“Aku baru saja mau pulang, aku lelah sekali.” Logan menghidupkan mesin mobil dan keluar dari kediaman Maurent. “Tadi kami dari Luar Kota,” sahut Logan dengan memindahkan ponsel ke telinga sebelah.
“Kamu lagi di mobil?” tanya gadis itu lagi.
“Iya, aku lagi menyetir. Nanti kalau sudah tiba aku telepon kamu.” Walaupun sedang berbincang di telepon dengan sang kekasih tapi mata Logan tetap fokus menatap ke depan.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati ya,” pesan Cella, dia juga tidak ingin sang kekasih menerima telepon darinya sambil menyetir.
“Iya, Terimak kasih ya,” ucap Logan kemudian dia menutup teleponnya.
Logan langsung melajukan mobil ke tempat tinggalnya. Begitu tiba, dia masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh di kasur. Logan teringat akan rayuan wanita itu lalu dia duduk di tempat tidur dan menggeleng-gelengkan kepala.
****
Mendapat perlakuan seperti itu dari atasannya, Logan selalu menghindar dari Maurent. Selesai bekerja dia tidak berlama-lama di rumah Maurent, dia langsung kembali ke kediamannya. Dia tidak ingin sesuatu terjadi antara dia dan wanita itu, Logan tidak ingin mengkhianati kekasihnya.
Keesokan hari Logan pergi ke rumah Maurent, baru saja turun dari mobil pelayan datang menghampirinya. Dia memberitahukan kepada Logan kalau Maurent menunggu di ruang kerja.
Logan masuk dan menuju ke ruang kerja. Dia mengetuk pintu lalu terdengar suara Maurent menyuruhnya masuk. Logan membuka benda berbahan kayu berwarna coklat itu dan melihat Maurent masih menggunakan gaun tidur.
Dia ingin kembali tapi Maurent memanggilnya. Langkah Logan terhenti kemudian kembali masuk tapi dia tidak menutup pintu, Logan membiarkan ruang kerja itu terbuka.
“Silahkan duduk, Logan.” Logan menganggukan kepala kemudian dia duduk di sofa.
__ADS_1
Dia tidak ingin melihat wanita itu lalu pelayan masuk dan membawakan juice buat Mereka berdua. Pelayan keluar kembali dan menutup pintu, Maurent tersenyum kepada Logan kemudian dia duduk dekat dengan pria itu.
Maurent mengambil juice dan memberikan kepada Logan sambil tersenyum kepada pria itu dan memperhatikan jakun kekasih Cella bergerak menelan juice.
“Oh ya, Logan. Hari ini aku tidak kemana-mana,” ujar Maurent sambil meletakkan gelas yang berisikan juice di meja kemudian dia memegang pipi Logan tapi pria itu melepaskan tangan Maurent dari pipinya.
“Oh, kalau begitu aku pulang saja,” ujar Logan. Saat dia akan berdiri Maurent menarik tangannya sehingga pria itu terduduk kembali di sofa. Maurent langsung duduk di paha Logan dan membelai pipi Logan yang berjenggot itu.
“Maurent, jangan seperti ini,” kata Logan sambil menghindar dari dua bukit yang hampir dekat dengan wajahnya tapi Maurent tidak menghiraukannya, dia berusaha mencium leher Logan dan tangannya mulia mengelus milik pria itu yang masih terbungkus dengan celana slim.
Logan berusaha meraih tangan Maurent, dia memegangnya tapi wanita itu mengelusnya dengan tangan satunya sambil menghembuskan napas di leher pria itu. Maurent terus berusaha merayu Logan.
Maurent tidak menyerah saat Logan terus menghindar darinya. Dia ingin merasakan kenikmatan dari pria yang di kaguminya.
Logan memejamkan mata, dia mengkerutkan dahi saat tangan wanita itu mengelus benda miliknya yang masih tersimpan. Bahkan dia merasakan panas di tubuhnya, pria itu tidak menyadari kalau juice yang dia minum sudah di campur dengan obat perangsang.
Sementara di Torrance terlihat Cella berlari turun pergi ke ruang makan, dia mencium pipi Jessica dan menarik kursi kemudian dia duduk. Cella membuka piring dan mengambil makanan. Wajahnya terlihat sangat ceria, lancarnya pertemuan dia dengan sang kekasih membuat gadis itu terlihat sangat bahagia.
Jessica tersenyum melihat putrinya, sedangkan Carlos hanya diam saja memandang Cella. Sampai saat ini putrinya masih diam kepadanya.
Cella memang masih tidak bicara kepada Carlos karena merasa kesal Carlos dan Acel menentang hubungannya dengan Logan. Acel dan Sheren juga datang dan duduk. Dia dan Cella masih juga saling diam.
“Kamu akan pergi kuliah, Sayang?" tanya Jessica kepada Cella sambil memperhatikan wajah putrinya.
"Iya, Mam. Selesai sarapan aku akan ke kampus," jawab Cella kemudian dia menyuap makanan ke dalam mulutnya. “Aku ingin pergi sendiri ke kampus,”
“Baiklah, Sayang,” sahut Jessica seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya. Sedangkan Carlos dan Acel hanya diam mendengar percakapan Jessica dan Cella.
Selesai sarapan Cella kembali ke kamar dan mengambil tas. Dia kembali keluar dan berpamitan kepada Jessica kemudian dia pergi ke kampus dengan menggunakan mobilnya.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya
Terima kasih