
Malam itu Logan tidak kembali ke rumah padahal dia sudah berjanji akan tidur bersama putrinya, dia menyendiri di bungalow. Pria itu terus terbayang dengan desahaan-desahaan dari Cella dan Eduardo.
Dia tidak tahan lagi lalu pria itu meninggalkan bungalow dan pergi ke night club, Logan duduk di bar tender kemudian memesan minuman. Matanya memperhatikan orang-orang yang berjoget mengikuti irama musik yang dimainkan oleh seorang Dj.
Sementara di ujung bartender seorang wanita sedang memperhatikannya, dia menghampiri Logan kemudian tersenyum. Logan melihat wanita itu kemudian dia mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Wanita itu menyapa Logan dan duduk di dekat pria itu, dia juga memesan minuman kepada pelayan bartender.
“Hi apaka kamu sendiri?” tanya wanita itu lalu Logan menoleh kepadanya.
“Iya, aku sendiri,” jawabnya seraya tersenyum dan memainkan gelas yang ada di tangannya.
“Apakah aku mengganggumu?” tanya Wanita itu lagi, dia mengagumi ketampanan mantan suami Cella.
“Oh, tidak sama sekali.” jawab Logan lalu mereka berdua berbicang-bincang di bartender.
“Aku Laura.” Logan tersenyum dan menganggukan kepala.
“Panggil saja aku Logan.” Wanita itu sangat senang bisa berkenalan dengan Logan.
Logan dan Laura saling bercanda dan tidak terasa hari semakin larut malam, akhirnya wanita itu berpamitan. Logan pun ingin pulang, mereka meninggalkan night club dan pergi ke parkiran.
“Kamu pulang pakai apa?” tanya Logan seraya berdiri di samping wanita itu.
“Um … aku pakai taxi saja.” Pria itu melihat jam di tangannya kemudian dia menatap Laura.
“Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang, tidak baik jam begini wanita pulang sendiri.” Laura sangat senang dengan tawaran pria itu, tanpa pikir panjang dia langsung menerimanya.
Logan mengantar Laura pulang, saat tiba di depan rumah wanita itu dia menghentikan mobil kemudian mereka saling bertatap mata.
“Kamu tinggal sendiri?” tanya Logan seraya memperhatikan rumah wanita itu dari dalam mobil.
“Iya, kamu mau mampir?” Logan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Sudah larut malam, nanti aku mengganggumu.” Laura tersenyum mendengar Logan berkata begitu.
“Tidak apa-apa, aku tidak merasa terganggu. Ayo turun,” ajak wanita itu lalu Logan turun ikut bersama Laura
.
Mereka masuk lalu Laura menyuruh pria itu duduk dan pergi mengambil minum, dia kembali membawa dua gelas dan satu botol minuman kemudian diletakkan di meja.
Logan tersenyum melihat Laura membuka tutup botol itu kemudian dia ambil dan melepaskan tutupannya. Pria itu menuang di gelas kemudian dia berikan kepada Laura.
Logan dan Laura terlihat sudah akrab, pria itu memberanikan diri duduk dekat dengan wanita itu. Saat melihat keindahan tubuhnya, dia teringat mantan istri bersama sang sepupu.
Logan mengambil gelas dari tangan Laura kemudian diletakkan di meja, pria itu yakin Laura tidak akan menolak keinginannya karena di club dia memperhatikan Laura menyukainya.
__ADS_1
Laura menatap Logan yang semakin dekat dengannya, dia tidak menjauh saat pria itu menyentuh wajahnya. Sang wanita memejamkan mata saat bibir yang tertutup kumis dan jenggot menempel di bibir
.
Bahkan wanita itu tidak melarang saat Logan melepaskan satu persatu pakaian yang menutup tubuhnya. Logan membaringkan Laura di sofa kemudian mengecup leher jenjang itu.
Laura meremas rambut Logan saat merasakan tangan pria itu bermain di antara pahanya, dia mendesah dan membuka lebar kakinya dan membiarkan sang pria bekerja di sana.
Logan terus menjamah tubuh wanita itu, bayangan mantan sang istri bersama sepupunya semakin membuat dia bergairah. Kembali pria itu mencium bibir Laura kemudian berbisik.
“Kamu mau melayaniku di tempat lain?” tanya Logan seraya jari jemarinya terus bermain di antara paha wanita itu.
“Bermain di mana?” Laura tidak mengerti permintaan Logan, lalu pria itu menjelaskannya. Laura mengerti lalu dia tersenyum.
“Aku belum pernah merasakan di tempat itu.” Logan terlihat senang, karena dia yang pertama kali menyentuh area itu tentu saja akan terasa nikmat baginya.
“Kamu mau mencobanya?” Kembali wanita itu tersenyum.
“Apakah sakit?” Logan membelai dan merayu wanita itu.
“Sakitnya hanya sebentar, nanti kamu akan terbiasa.” Wanita itu seperti ragu tapi karena Logan terus merayu akhirnya dia mengikuti permintaan sang pria.
Logan sangat senang, dia membawa wanita itu berulangkali mencapai puncak kenikmatan. Sedangkan Laura dia sangat menikmati permainan sang pria, dia tidak berdaya karena beberapa kali pelepasan.
Sementara itu Logan belum mengalami pelepasan kemudian dia mengarahkan benda itu ke tempat lain dari bagian tubuh wanita itu.
Terdengar wanita itu meringis kesakitan, Logan terus berusaha mendorong dengan perlahan lalu Laura meremas punggung sofa, dia tidak tahan dengan rasa sakit itu.
“Iya aku mengerti, nanti kamu akan terbiasa.” Kembali dia mendorong pinggangnya dengan kasar lalu Luara berteriak kesakitan.
Logan terus melakukannya teriakan wanita itu semakin membuat dia bergairah, sang pria memindahkan Laura ke lantai dia membuat tubuh itu tengkurap dan menungganginya.
Kembali dia bekerja, pria itu tidak perduli dengan rintihan yang keluar dari bibir Laura. Dia mengecup punggung wanita itu kemudian berbisik.
“Aku suka tempatnya sangat sempit.” Laura hanya diam dan membiarkan pria itu terus melakukannya.
“Pelan-pelan,” pintanya pada pria itu.
Logan menuruti permintaan wanita itu, dia melakukan dengan perlahan-lahan dan akhirnya Laura mulai tidak merasakan sakit. Dia mulai menikmati permainan pria itu.
Sang pria merasa senang kemudian dia melakukan dengan cepat, dia ingin segera mencapai puncak kenikmatan. Sedangkan Laura dia hanya diam dan mendegar desahaan-desahaan keluar dari bibir Logan.
Lalu logan menghentakan pinggangnya berulang kali, dia mengalami pelepasan. Pria itu merasakan kenikmatan yang luar biasa, lalu dia berbaring di samping Laura.
Semenjak dia merasakan dengan Maurent, Logan menjadi ketagihan, dia selalu melakukan hubungan dengan wanita lain dan meminta untuk melakukan di tempat itu.
Wanita yang bertemu dengan dia awalnya tidak mau, tapi rayuan pria itu membuat mereka tak sanggup untuk menolak. Apalagi Logan selalu membayar mereka dengan bayaran tinggi.
__ADS_1
****
Satu hari lagi perkawinan Cella dan Eduardo akan dilangsungkan, terlihat di perkebunan orang-orang sibuk mengatur tempat yang akan digunakan untuk perkawinan pengantin itu
Eduardo melihat Logan sedang berada di perkebunan kemudian dia berlari menghampiri sepupunya itu.
“Hi, Logan. Ada yang ingin aku katakan padamu.” Logan menatap Eduardo kemudian dia tersenyum.
“Ada apa, Eduardo?” tanya Logan.
“Begini, aku ingin kamu mendampingi Cella besok. Kedua orang tuanya tidak bisa hadir jadi aku katakan kepada Cella biar kamu saja yang mendampinginya.” Mata Logan membulat, dia terkejut dengan permintaan sang sepupu.
“Tapi, Eduardo. Aku ….” Belum selesai Logan bicara Eduardo langsung menyelanya
“Ayolah, Logan. Hanya kamu yang bisa mendampingi Cella. Aku mohon padamu.” Eduardo terus memohon kepada Logan akhinya pria itu menganggukan kepala. Sang sepupu terlihat sangat senang kemudian dia memeluk Logan dengan erat.
“Terima kasih, kamu sangat baik padaku. Oh ya, apakah istrimu akan datang?” tanya Eduardo seraya melepaskan pelukkannya.
“Um, aku tidak tahu. Dia sedang berada di Amerika, mungkin dia tidak bisa hadir,” bohong Logan kepada Eduardo.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Cella dan mengatakan padanya kalau kamu bersedia mendampingi dia.” Eduardo langsung meninggalkan Logan sendiri dan pergi mencari calon istrinya.
Logan hanya termenung sendiri, dia meletakkan kedua tangan di pinggang lalu memandang perkebunan, pria itu mengerutkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Bagaimana bisa aku mendampingi orang yang ku cintai.” Hatinya begitu sakit, Logan berjalan kembali ke rumah.
Logan masuk kemudian dia berpapasan dengan Cella. Mereka berdua saling bertatap mata. Dia menghampiri wanita itu dan memegang pipinya. Logan menatap mata mantannya lalu air mata jatuh.
“Ini hukuman bagiku,” ujar Logan kemudian dia meninggalkan wanita itu.
Cella memandang Logan yang berlalu dari hadapannya, wajah wanita itu berubah sedih kemudian pergi ke kamar. Dia duduk di sisi tempat tidur dan menangis.
‘Kamu pikir aku juga tidak tersiksa akan menikah dengan orang yang tidak ku cintai. Tapi bagaimana lagi, tidak mungkin aku mengecewakan Eduardo. Dia sangat baik kepada anak-anakku.’
Cella menghapus air matanya kemudian berdiri di depan jendela kamar dan memandang keluar.
‘Biarlah dia menjadi masa lalu, mungkin Eduardo adalah masa depanku. Suatu waktu aku pasti akan mencintai Eduardo.’ Cella keluar dari kamar kemudian dia berpapasan dengan Lucio.
“Sayang, dari mana?” tanya Cella seraya menggendong Lucio.
“Main, Mommy,” jawab Lucio dengan menunjuk keluar.
“Oh, kamu lagi main mobil-mobilan? Main dengan siapa?” tanya Cella lagi dengan mencium kedua pipi putranya.
“Papi,” sahut Lucio dengan menunjuk Logan yang berdiri di depan pintu.
“Oh,” gumam Cella lalu dia tersenyum kepada Logan dan membawa Lucio ke kamar.
__ADS_1
Cella meletakkan Lucio di tempat tidur dan melepaskan semua pakaian anak itu kemudian memandikannya
Eduardo masuk ke kamar lalu dia tersenyum melihat Lucio yang sedang di keringkan badannya oleh Cella. Dia menghampiri Lucio kemudian mencium kedua pipi anak itu.