SUAMI BAJINGAN

SUAMI BAJINGAN
Sangat sakit


__ADS_3

Maksud hati ingin membuat kejutan kepada pria itu, tapi malah dia yang mendapat kejutan dari sang suami. Cella membelalakan mata saat melihat adegan Logan dengan Dylla.


Dia melihat bagaimana sang suami menunggangi wanita itu, sementara yang di tunggangi berteriak kesakitan dan menangis. Cella tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia terpekun dan shok. Selama ini apa yang dia pikirkan ternyata benar.


Logan tidak tahu kalau istrinya sudah berada di depan pintu, dia terlihat menikmati permainannya. Sedangkan wanita itu terus berteriak kesakitan, dia mengangkat kepala dan terkejut melihat Cella sedang berdiri disana menyaksikan perbuatan mereka berdua.


“Cella?” Wanita itu menyebut nama istri Logan.


Logan terhenti kemudian melihat ke pintu, pria itu sangat terkejut melihat sang istri sudah berdiri di sana. Dia langsung berdiri dan memakain celananya.


Frank juga melihat adegan itu, dia sangat terkejut karena Logan sama sekali tidak perduli dengan teriakan kesakitan dari wanita itu. Saat Logan melihat mereka berdua di depan pintu, Frank langsung memeluk Cella dan membawanya pergi.


Tatapan Cella kepada suaminya penuh dengan kebencian, tanpa berkata apa-apa dia meninggalkan  mereka. Logan tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia duduk di lantai lalu menyandarkan tubuh di tembok sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


Di depan kantor, Cella tidak sanggup lagi. Dia memegang tangan Frank dengan kuat, lalu Frank berhenti dan menatap wajah temannya, dia melihat kesedihan yang mendalam di sana.


“Aku tidak kuat lagi.” Dengan cepat Frank menahan tubuh wanita itu lalu  membopongnya ke mobil.


Dia mendudukan Cella kemudian memberikan minum, tatapan wanita itu kosong. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Frank, apakah kamu melihatnya?” Frank memegang tangan Cella, dia ingin menenangkan wanita itu.


“Cella, selesaikan dengan baik-baik.” Cella menatap Frank kemudian airmatanya jatuh.


“Bawa aku pergi.” Frank menganggukkan kepala kemudian masuk ke mobil dan meninggalkan parkiran.


“Kamu ingin pulang?” tanya Frank tapi Cella menggelengkan kepala.


“Bawa aku ke tempat sepi.” Frank mengikuti permintaan temannya, dia membawa Cella ke villa  yang terletak di pinggir pantai


.


Saat tiba di villa Cella turun dari mobil dan melepaskan sepatu, dia langsung berlari ke pantai. Frank  ikut turun mengejar wanita itu, dia langsung memeluknya dari belakang. Tapi Cella meronta dan berteriak.


“Lepaskan aku, Frank. Aku ingin mati saja.” Berulang kali dia menyebut kalimat itu tapi  Frank tidak melepaskan pelukannya dia menahan wanita itu dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


“Cella … Cella … ingat Lucio dan Sabrina. Ingat mereka!” Wanita itu berteriak menangis saat mendengar Frank menyebut kedua anaknya. Dia membalikkan tubuh dan memeluk pria itu dengan erat.


“Frank, apa salahku. Mengapa dia tega berbuat seperti itu, aku kurang apa? Semua yang diinginkan selalu dituruti.” Frank memegang kedua pipi wanita itu dan menyeka airmatanya.


“Sebagai istri, tidak ada yang kurang darimu. Aku tahu kamu sangat memperhatikan suami dan anak-anakmu, dia saja yang tidak bersyukur memiliki wanita sepertimu.” Frank berusaha menenangkan Cella kemudian  memeluknya kembali.


“Aku ingin melihat kedua anakku.” Frank tersenyum kemudian memegang tangan Cella lalu mereka berdua masuk ke mobil, Frank langsung meluncur menuju ke rumah wanita itu.


Sepanjang jalan Cella hanya diam, dia terbayang apa yang dilakukan oleh suaminya. Kembali airmata mengalir di pipi, hati begitu sakit. Selama ini dia begitu percaya kepada pria itu tapi yang didapatkan malah pengkhianatan.


Mereka tiba di rumah, saat Cella akan turun dia menahan tangan wanita itu. Frank tidak yakin untuk meninggalkan Cella sendiri dengan masalah yang baru saja dialami.


“Kamu mau aku ikut turun?” Cella menatap Frank dan berusaha tersenyum.


“Tidak apa-apa Frank, kamu pulang saja.” Frank tersenyum kemudian turun dan membukakan pintu untuk wanita itu.


Cella turun kemudian memeluk pria itu dan berbisik. “Terima kasih, Frank. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.” Frank melepaskan pelukan wanita itu kemudian kembali tersenyum.


“Pikirkan dengan tenang, dan selesaikan dengan kepala dingin.” Cella mengangguk kemudian dia masuk.


Cella langsung menuju ke kamar Lucio, dia masuk dan menggendong sang putra. Air mata kembali menetes, rasa sakit atas pengkhianatan pria itu membuat dia bertekad ingin meninggalkannya. Cella mecium kedua pipi Lucio dan meletakkan kembali ke  box.


“Apakah kamu sudah makan?” tanya Cella sambil membelai rambut Sabrina.


“Belum, aku menunggu Mommy dan papi, Mommy tahu aku selalu makan bersama kalian.” Cella terdiam dan menatap Sabrina.


“Papi tidak bisa makan bersama kita, dia lagi sibuk. Ayo mommy temani kamu.” Cella memegang tangan putrinya kemudian mereka berdua pergi ke ruang makan.


Dia mengambilkan makanan untuk Sabrina lalu meletakkan piring itu di depan putrinya. Sabrina memperhatikan mommynya.


“Mommy tidak makan?” tanya Sabrina sambil memegang sendok dan garpu.


“Iya, Sayang. Tadi mommy makan bersama teman, ayo habiskan makananmu.” Cella berbohong kepada Sabrina dia menunggu sampai putrinya selesai.


Dadanya terasa sesak melihat Sabrina, dia memegang pipi sang putri dan membelai rambutnya. ‘Apakah aku harus memisahkan dia dengan mereka? Sabrina begitu manja kepadanya, kalau Lucio dia belum tahu apa-apa. Apakah aku harus memberi Logan kesempatan lagi? Cella bertanya dalam hati dan memperhatikan putrinya yang lagi makan.

__ADS_1


Selesai Sabrina makan Cella pergi ke kamar, dia masuk kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada suaminya.  “Aku tunggu kamu di rumah, kita selesaikan semua permasalahan yang sudah kamu buat!” Cella mengirim pesan itu.


Sementara di kantor, terlihat Logan masih di ruang meeting bersama wanita itu. Dia tertunduk dan menangis, Dylla melihat Logan lalu  menghampirnya. Logan mengangkat kepala dan menatap Dylla.


“Maafkan aku, tolong tinggalkanku sendiri.” Dylla menganggukan kepala kemudian  mengecup pipi pria itu lalu  pergi.


Perginya Dylla dia berdiri dan melempar kursi, Logan melampiaskan amarahnya dengan membalikkan meja dan melayangkan tinju ke tembok.


Dia tersungkur dan menangis, Logan teringat ancaman sang istri. Dia berdiri kemudian  kembali ke ruang kerja, semua pegawai tidak berani melihatnya.


Logan masuk lalu mengambil kunci mobil dan ponsel kemudian meninggalkan kantor. Logan tidak kembali ke rumah, dia takut bertemu dengan istrinya. Pria itu memutuskan pergi ke perkebunan.


Sepanjang jalan dia memikirkan istrinya. ‘Dia pasti akan meninggalkanku,’ batinnya. Logan melajukan mobil, beberapa jam kemudian dia tiba di perkebunan. Pria itu langsung menuju ke kediamannya dan pergi ke kamar. Logan menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan memejamkan mata.


Dia terbayang saat Cella berdiri di depan pintu dan menatap tajam ke arahnya. ‘Dia pasti sangat membenciku,’ gumamnya lalu bangun dan melempar kursi ke cermin.


“Aku tidak ingin berpisah darimu, aku memang salah. Aku sudah bersalah padamu.” Dia tersungkur di lantai dan menangis.


“Aku salah, Cella. Aku sudah bersalah, hukum aku tapi jangan tinggalkan aku.” Dia terus menangis, Logan berbaring di lantai dan memikirkan istri juga kedua anaknya.


  Logan mengambil ponsel dan melihat pesan dari istrinya, dia tidak berani membalas pesan wanita itu. Dia meletakkan gawai itu di meja kemudian  duduk di lantai.


Sementara itu, Cella masih menunggu balasan pesan dari Logan. Dia kembali mengetik  lalu mengirimnya, ‘Aku masih menunggumu, kita selesaikan semuanya. Dia melihat pesan itu sudah di baca tapi tidak di balas oleh Logan, Cella menjadi kesal.


“Jadi kamu lebih memilih perempuan itu dari pada aku dan anak-anakmu, baiklah aku akan pergi untuk selamanya dari kehidupanmu.” Dia duduk di tempat tidur dan memikirkan kemana dia dan anak-anaknya harus pergi.


Cella membuka laptop lalu mencari  informasi tentang Vietnam dan Philipin, dia memperlajari kedua negara itu lalu Cella memutuskan untuk pergi ke Philipin.


Cella mengambil ponselnya dan menulis pesan kembali untuk Logan, Aku kasih kesempatan padamu, pulang sekarang dan kita bicarakan semuanya. Dia kembali mengirimnya tapi  belum di baca dan hanya tercentang satu.


Dia semakin curiga kepada Logan, dia berpikir suaminya masih bersama dengan Dylla dan lebih memilih wanita itu. Cella berbaring dan kembali menangis, dia teringat akan perjuangannya mempertahankan hubungan mereka berdua.


“Semua pengorbananku sia-sia, kamu sama sekali tidak menganggap aku.” Dia memeluk bantal dan menangis. “Kamu tega sekali Logan.”


Sementara di perkebunan Logan masih berbaring di lantai, dia mengambil ponsel dan melihat benda itu sudah mati. Dia berdiri kemudian pergi ke mobil, dia mencari charger  tapi  tidak menemukannya.

__ADS_1


“Shit chargerku tertinggal di kantor,” umpatnya kemudian kembali masuk menuju ke kamar.


Logan duduk dan melihat ke lemari, dia berdiri lalu mencari charger. Logan menemukan satu charger kemudian mencoba menyambungkan di ponsel, tapi sayang tidak berfungsi lalu dia membantingnya di lantai.


__ADS_2