
Beberapa hari ini Jessica sering pergi ke kantor Carlos, tentu saja atas permintaan pria itu. Carlos ingin sang kekasih selalu berada di sampingnya. Dengan adanya Jessica di kantor membuaty dia semakin bersemangat bekerja.
Hari ini juga Jessica akan pergi kekantornya, sebenarnya dia lebih memilih tinggal di apartemen tapi sang kekasih selalu memintanya datang. Karena sekolah mereka masih mengadakan ujian gadis itu selalu pulang cepat. Jessica turun ke lobby dan memesan taxi.
Tidak lama kemudian taxi datang Jessica masuk dan memberitahukan kepada sopir alamat kantor Carlos, lalu kendaraan berbayar itu’pun meluncur ke tempat tujuan Jessica.
Jessica tiba di kantor lalu membayar taxi dia turun dan langsung menuju ke ruang kerja sang kekasih. Jessica berpapasan denga Tiara kemudian menyapanya.
”Hi, Mba Tiara. Carlos di dalam.” Tiara terhenti mendengar suara Jessica lalu menatap gadis itu.
“Iya, dia di dalam,” jawab Tiara dengan tersenyum kepada Jessica.
”Um … lagi ada tamu?” Kembali Jessica bertanya sambil memperhatikan ruangan Carlos.
”Tidak, dia sendiri di ruangan,” sahut Tiara
“Ok, makasi ya, Mba.” Jessica membuka pintu dan melihat sang kekasih sedang di depan komputer kemudian dia tersenyum dan berjalan menghampiri Carlos.
“Halo, Sayang, baru tiba?” tanya Carlos saat melihat sang kekasih berjalan menghampirinya.
“Iya, kamu sibuk?”
“Tidak, Sayang. Aku tidak sibuk, sini duduk di pangkuanku.” Carlos terlihat sangat senang dengan kehadiran Jessica.
“Bagaimana ujian di sekolah, kamu bisa?” Kembali Carlos bertanya sambil membelai rambut Jessica.
“Tentu saja, semua soal bisa kuisi,” jawab Jessica dengan melingkaran tangannya di punggung Carlos.
“Berarti kamu bisa juara?” Jessica mengedikan bahu, tidak tahu apakah dia bisa mendapatkan juara.
“Hm … aku tidak tau, di kelasku banyak yang pintar pintar.” Kembali Jessica menjawab dengan mata tertuju ke layar komputer.
“Oh ... begitu,” gumam Carlos, tiba-tiba pintu nampak seorang perempuan masuk dan itu adalah Olivia.
Jessica ingin berdiri tapi Carlos menahannya lalu berbisik. “Tetap duduk di pangkuanku.” Jessica mengikuti perintah Carlos.
“Kenapa kamu kesini?” tanya Carlos dengan ketus, sungguh dia tidak suka akan kehadiran Olivia di kantornya.
Sementara Jessica hanya menyandarkan kepalanya di dada Carlos sambil melihat ponselnya. Tapi telinga tetap tajam mendengar pembicaraan Carlos dan Olivia.
“Aku ingin bicara denganmu,” sahut Olivia dengan wajah memohon. Nampak wanita ini belum rela berpisah dari Carlos.
“Bicara apa lagi, bukankah aku sudah jelaskan padamu kalau aku tidak mencintaimu. Sudah berapa kali aku beri tahu kamu, kalau aku sudah punya pacar tapi kamu tidak percaya dan sekarang kamu lihat sendiri, yang ada di depanmu ini dia itu pacarku sekaligus Calon istriku.” Olivia menggelengkan kepala, dia sangat mencintai Carlos.
“Tapi Carlos ….”
“Sudahlah Olivia tolong jangan ganggu aku lagi, tinggalkan aku,” sela Carlos dengan tegas.
Jessica hanya diam melihat Carlos dan olivia, dia tidak ingin masuk campur. Jessica malah hanya bermain ponsel dan tetap duduk di pangkuan Carlos.
Olivia menatap marah pada Carlos dan pergi meninggalkan ruangan, Begitu Olvia pergi Jessica langsung menatap Carlos. Melihat tatapan sang kekasih seperti itu Carlos mengangkat kedua alisnya.
“Kenapa kamu menatapku begitu,” tanya Carlos dengan memegang wajah Jessica.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala, dia berdiri dan berjalan menuju sofa kemudian duduk. Carlos iku berdiri dan menghampiri sang kekasih.
“Kamu kenapa, Sayang?” Kembali Carlos bertanya karena tidak ada jawaban dari gadis itu.
“Apa kamu tidak terlalu keras padanya?” sahut Jessica dengan menatap mata Carlos.
“Lalu aku harus bagaimana, Sayang. Sudah berkali-kali aku menjelaskan padanya tapi dia tetap saja mengejarku,” tutu Carlos dengan kesal.
“Makanya jangan pernah mencoba hubungan yang tidak didasari oleh rasa cinta. Lihat, akhirnya kamu juga yang pusingkan.” Carlos tersenyum dan membelai rambut Jessica.
__ADS_1
“Iya, aku salah. Kamu jangan marah ya, Sayang.” Carlos memeluk Jessica dengan erat dan mengecup ubun kepada gadis itu.
“Aku tidak marah Babe, sudah kembali kerja.” Carlos berdiri dan kembali ke meja kerjanya
Sementara Jessica mengambil buku dan membacanya. Pasangan kekasih itu tidak lama di kantor karena pria itu melihat Jessica sudah mulai bosan dan akhirnya Carlos mengajaknya pulang.
****
Keesokan harinya Jessica pulang sekolah, dia masih dengan seragam olahraganya ingin pergi ke kantor Carlos. Gadis itu menelepon Carlos dan memberitahukan kalau dia akan segera menuju ke sana.
Jessica menunggu taxi di depan sekolah, dari kejauhan Andrew melihat Jessica. Baru saja Andrew mau menghampiri sahabatnya tiba-tiba datang sebuah mini bus lalu dua orang turun dari membius Jessica dan memasukan gadis itu ke dalam mobil.
Andrew melihatnya dan belari keluar sekolah dia ingin mengejar mobil itu tapi sayang kendaraan yang membawa Jessica cepat menghilang.
Andrew menjadi khawatir, dia mencoba menghubungi Carlos untuk memberitahukan kalau Jessica di culik. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menelpon kekasih Jessica.
Terdengar nada panggil tapi tidak di jawab oleh Carlos. Andrew mencoba kembali tapi tetap sama telpon tidak dijawab oleh Carlos.
Andrew berlari keparkiran, dia mengambil motornya dan langsung ngebut pergi ke kantor Carlos. Tiba di kantor dia langsung berlari ke dalam menuju ruangan Carlos tapi kekasih Jessica tidak ada di ruangannya, dia keluar dan bertemu dengan Tiara.
“Mba, dimana Carlos?” tanya Andrew dengan napas yang belum teratur.
“Ada di ruang meeting, ada apa andrew kamu keliatan seperti khawatir?” tanya Tiara dengan cemas.
“Ini penting sekali, Mba. Aku harus bertemu Carlos sekarang, ini mengenai Jessica,” tutur Andrew.
“Ada apa dengan Jessica?” Kembali Tiara bertanya tapi tidak mendapat jawaban dari Andrew.
“Mba, di mana ruangan meetingnya?” Karena melihat kepanikan Andrew akhirnya Tiara mengantar pria itu.
“Sini ikut aku.” Tiara mengantar Andrew ke ruang meeting, Andrew masuk dan langusng menghampiri Carlos lalu berbisik.
“Carlos, Jessica di culik.” Bisikan Andrew membuat Carlos menjadi tegang, wajahnya berubah menjadi khawatir. Carlos langsung mengakhiri meetingnya.
“Kamu serius Jessica di culik?” tanya Carlos dengan cemas.
“Iya, Carlos. Aku melihat dari jauh Jessica sedang menunggu taxi, tiba-tiba ada mini bus berhenti dan dua orang turun dari mobil lalu membius Jessica kemudian mereka memasukkannya ke dalam mobil. Aku berlari mengejar tapi mereka sudah menghilang, aku tidak sempat melihat siapa mereka, Carlos,” tutur Andrew menceritakan kronologi kekasih Carlos di culik.
“Kira kira siapa yang menculik Jessica.” Carlos jadi begitu khawatir, dia langsung terpikirkan Glen. “Ndrew jangan-jangan Glen yang menculik Jessica.” Andrew tertegun sejenak dan berpikir.
“Iya mungkin saja Glen,” celetuk Andrew sambil menganggukkan kepala.
“Ayo kita ke kantor Glen.” Andrew dan Carlos langsung menuju parkiran dan masuk kedalam mobil, mereka langsung menuju ke kantor Glen, Begitu tiba Carlos langsung masuk keruangan Glen.
“Glen, dimana Jessica? Kamu yang menculiknya’kan?” Tanpa basa-basi lagi Carlos langsung menuduh Glen.
“Carlos apa-apaan ini, siapa yang menculik Jessica,” ujar Glen dengan bingung. “Aku sudah berjanji padamu tidak akan mengganggu Jessica lagi.” Dituduh langsung seperti itu Glen langsung terlihat sangat kesal.
“Benar kamu tidak menculik Jessica?” Tanya Carlos lagi dengan memicingkan mata penuh selidik.
“Sumpah, Carlos. Aku tidak menculik Jessica, memangnya dia hilang?” Glen bertanya kembali pada Carlos dengan wajah kebingungan.
“Iya dia di culik di depan mataku, tapi aku tidak tau siapa yang menculiknya.” Kali ini Andrew yang menjawab pertanyaan Glen.
Carlos duduk dan memegang kepala dengan kedua tangannya sambil menunduk.
“Siapa yang menculik Jessica.” Nampak kekhawatiran di wajah Carlos, dia terus berpikir siapa kira-kira yang telah menculik kekasihnya. Suasana menjadi hening, Andrew juga sedang memikirkan sahabatnya itu.
“Kalian sudah melapor kepada polisi?” Suara Glen membuat Carlos dan Andrew saling tatap.
“Belum,” sahut Carlos diikuti gelengan kepala.
“Lebih baik kita ke kantor polisi dan melaporkan kejadian ini supaya mereka cepat bertindak.” Glen mencoba memberikan saran kepada Carlos karena melihat pria itu tidak ada pergerakan.
__ADS_1
“Aku akan coba menelepon nomor Jessica.” Carlos mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor Jessica, tapi sayang sudah tidak aktif lagi.
“Ponselnya tidak aktif, Ndrew, aku khawatir mereka melukainya.” Carlos menjadi pusing, rasa marah takut menjadi satu.
“Carlos kita ke kantor polisi saja dan buat laporan supaya cepat.” Glen terus mendesak kekasih Jessica karena tidak ada pergerakan dari pria itu.
“Iya kita ke kantor polisi sekarang.” Sambil berucap dia berdiri dan menarik napas panjang. Mereka bertiga berjalan keluar menuju parkiran Andrew menyetir mobil.
“Carlos aku akan menghubungi papaku, dia punya teman berpangkat mungkin saja dia bisa menolong kita.” Andrew langsung terpikir papanya, dan ingin meminta bantuannya.
“Iya, Ndrew. Terima kasih,” ucap Carlos dengan suara lemas.
“Ndrew telpon saja sekarang supaya begitu kita sampai di kantor polisi sudah bisa langsung dilayani,” saran Glen. Dia juga nampak khawatir.
“Iya, Glen.” Andrew kemudian menelpon papanya dan menceritakan semua masalah.
Papa Andrew meminta untuk bertemu dengan pak Hendrik dia adalah Kabareskrim. Mereka menuju ke kantor polisi, begitu tiba ketiganya langsung mencari Pak Henrik lalu petugas jaga mengantar mereka keruangan teman papa Andrew.
.
Sampai di ruangan, mereka di sambut oleh Pak Henrik. Ketiga pria itu duduk dan langsung menceritakan soal penculikan itu.
Pak Henrik mengerti, dia memanggil anak buahnya dan menyuruh meminta keterangan kepada Andrew tentang ciri-ciri orang yang melakukan penculikan tersebut.
Andrew menjelaskan semuanya lalu Polisi meminta nomor telepon Carlos dan Andrew, setelah itu Pak Henrik menyuruh mereka pulang.
“Kami akan segera mencari Jessica dan lebih baik kalian pulang nanti kalau sudah ada kabar pasti akan dihubungi,” turu pak Henry dengan ramah kepada Carlos.
“Baik, Pak. kalau begitu kami permisi.” Mereka bersalaman dan meninggalkan kantor polisi. Carlos semakin gelisah, dia sangat khawatir pada Jessica.
“Carlos tenanglah mereka pasti akan menemukan Jessica,” ujar Glen karena melihat Carlos tidak tenang.
“Aku takut mereka melukai Jessica,” sahut Carlos dengan suara memelas dan memejamkan mata.
Andrew dan Carlos mengantar kembali Glen ke kantornya setelah itu mereka kembali ke perusahan Carlos. Andrew mengambil motornya dan pulang. Begitu juga dengan Carlos, dia juga kembali ke apartemennya
Carlos duduk di ruang tamu sambil berpikir siapa yang menculik Jessica, dia begitu sangat khawatir. Saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia hanya orang asing disini, Carlos hanya bisa menunggu kabar dari polisi. Mudah-mudahan mereka cepat menemukan Jessica.
****
Oleh penculik Jessica di bawah ke rumah kosong, kaki dan tangannya diikat mulutnya di tutup pakai kain. Saat ini gadis itu belum sadar, dia terbaring di lantai.
Mereka meninggalkan Jessica di ruangan kosong berdebu dan saat dia sadar gadis itu terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. ‘Dimana aku, kenapa kepalaku terasa pusing?’ Jessica melihat kaki dan tangannya diikat,
Jessica mulai mengingat-ingat kejadian saat dia menunggu taxi dan ada mobil berhenti di depannya lalu tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.
Jessica mencari tapi tidak ada, dia melihat tas jauh darinya. ‘Siapa yang menculikku dan apa tujuan mereka? Carlos, andrew kalian di mana. tolong aku Carlos. Jessica mendengar langkah orang mondar mandir di luar. ‘Itu pasti orang yang menculikku.’ katanya dalam hati.
Di luar sudah gelap, perut Jessica berbunyi. Gadis itu mulai lapar tapi tidak ada makanan. ‘Aku lapar kenapa mereka tidak memberiku makan, dasar penculik pelit. Kalau di film-film yang di culik di kasih makan, tapi di dunia nyata penculiknya sangat pelit. Sudah jam begini aku tidak di kasih makan, aku tidak bisa menahan lapar takut lambungku sakit’
Tiba tiba Jessica mendengar percakapan orang orang yang menculiknya.
‘Anak itu tidak di kasih makan?’ Lalu jawab yang lainnya. ‘Kata bos jangan di kasih makan, biar saja anak itu mati kelaparan. Lagi pula siapa yang mau menanggung makanannya. Bayaran ke kita saja cuma sedikit.’
Malam ini Jessica menahan lapar dan haus, dia terbaring lemah di lantai.
Sementara Carlos di apartemen tidak bisa tidur dia memikirkan Jessica, pria itu tidak tenang sedikit-sedikit dia menyalakan rokok dan mondar mandir. Carlos begitu gelisah, polisi juga belum mengabarkan apa’pun padanya.
Dia berdiri dan bersandar di jendela kaca, matanya memandang keluar. Dalam hatinya. ‘Di kota sebesar ini kemana aku harus mencarinya, baru saja kami di pertemukan dan sekarang ada yang ingin memisahkan kami dan aku hanya bisa menunggu dan menunggu.’
Nantikan episode selanjutnya dengan hal-hal yang mengejutkan.
Terima kasih bagi yang masih setia
__ADS_1